Another Chance

Another Chance
Bab 31



Zoya menatap Nio yang tengah bersiap. Hari ini lelaki itu akan pergi menuju Singapura untuk melihat jalannya syuting film yang dimainkan oleh Aurora. Zoya tampak cemberut sebab ia tak bisa ikut dengan suaminya.


"Jangan cemberut gitu, dong. Aku hanya tiga hari, Cheriè." Nio merangkum kedua pipi Zoya. "Jika Rasya sehat pasti aku ajak kamu juga dia, Sekalian kita jalan-jalan. Tapi, sepertinya semesta tak mengizinkan kita pergi sekarang. Aku janji, kalau film ini sudah selesai, kita pergi bertiga, ya. Ke manapun kamu mau, aku akan kabulkan meski itu ke Mars."


Mendengar itu Zoya memukul perut suaminya yang kini berdiri di hadapannya. Wanita cantik itu pun memeluk pinggang sang suami. Tak ada kata yang bisa ia ucapkan. Entah mengapa ia tak rela suaminya pergi. Nio sendiri mengusap lembut kepala sang istri.


"Bangun, yuk, peluk aku. Aku bakalan kangen kamu ini, gak bisa peluk kamu saat tidur." Nio mengangkat tubuh Zoya untuk berdiri, lalu ia peluk. Nio menghirup dalam-dalam aroma manis yang menyeruak dari tubuh istrinya.


"I'll miss you, Cheriè. Jaga diri dan aku titip anak kita, ya. Semoga dia segera sembuh." Nio mengeratkan pelukannya.


Memang sejak dua hari Rasya demam. Dua hari lalu bocah itu dibawa mertuanya ke tempat dingin, karena itulah saat pulang justru terkena demam, padahal seharusnya hari ini mereka ikut ke Singapura bersama Nio.


"Jangan sedih lagi, kamu bisa minta oleh-oleh untuk mengganti kekecewaanmu. Atau mau ditukar dengan tiket konser Blackpink di Korea? Kamu bisa pergi ke sana, aku izinkan," ujar Nio melihat istrinya yang masih cemberut. Tapi, mendengar ucapan sang suami matanya berbinar.


"Boleh?" tanya Zoya.


"Boleh. Mau? Kalau mau aku akan suruh Langit mempersiapkan," jawab lelaki berjas itu tersenyum gemas.


"Mau!" seru Zoya gembira. "Eh, gak jadi deh," jawabnya dengan wajah murung tiba-tiba.


"Loh, kenapa? Hey, ada apa? Bukannya kamu suka dengan mereka? Aku tidak masalah jika kamu ingin menonton sesekali. Kamu harus punya me time supaya tetap fresh saat mengasuh anak kita. Kalau kamu tidak mau nonton konser, kamu bisa katakan apa pun yang kamu mau." Nio mengusap pipi istrinya.


Ia paham usia istrinya yang masih di awal kepala dua seharusnya menikmati masa mudanya, tetapi Zoya justru harus mengalami banyak hal yang berat. Karena itulah Nio berusaha memberi akses untuk sang istri menikmati masa muda tanpa harus tersiksa menjadi seorang ibu rumah tangga yang harus berdiam diri di rumah mengurus anaknya tanpa hiburan.


"Aku gak mau ninggalin Mas dan Rasya," jawab Zoya menunduk. "Pasti Mama akan bilang macem-macem lagi. Bilang aku ninggalin anak lah, buang-buang uang suami lah, banyak lagi."


"Soal Mama jangan didengerin. Aku cari uang kan memang untuk istri aku, jadi ya gak masalah mau kamu hambur-hamburkan. Lagipula Mama juga suka menghamburkan uang Papa. Dia selalu traveling sendiri untuk me time. Jadi, kamu juga berhak memiliki itu," ujar Nio dengan gemas.


"Soal Mama biar aku yang menghandle. Aku mau kamu bahagia agar rumah tangga kita juga bahagia sebab keadaan rumah itu tergantung sang nyonya. Kalau Nyonya bahagia, rumah akan hangat. Sebaliknya, jika Nyonya sedih rumah pun akan suram. So, be happy for our home." Dengan lembut Nio mengecup kening istrinya.


"Beneran gak apa-apa aku pergi?" tanya Zoya dengan mata kecilnya yang bersinar.


"Of course. Nanti kita bahas lagi setelah aku pulang, ya. Sekarang sudah mepet waktunya. Dua jam lagi pesawatku take off." Nio menatap pergelangan tangannya. "Ayo, antar aku ke depan."


"Mama gak ke sini 'kan, selama Mas ke Singapura?" tanya Zoya.


Mendengar itu Nio tertawa. "Takut sekali sama mertuanya. Enggak, kok. Mama lagi ke Thailand sama teman arisannya."


Zoya bernapas lega. Setidaknya tidak ada orang yang mengganggu selama suaminya pergi.


"Kamu baik-baik, ya, di rumah. Kalau ada apa-apa langsung hubungi aku." Nio mengusap pipi istrinya dengan tatapan penuh cinta.


"Mas hati-hati. Semoga selamat sampai tujuan. Jangan lupa hubungi aku setelah sampai." Zoya memeluk suaminya. Ia hirup aroma maskulin yang menyeruak di tubuh sang suami.


"Huft, berat sekali langkahku. Kalau bukan karena ada masalah pasti aku gak pergi. Baiklah, aku pergi sekarang. Aku pamit, ya." Kembali Nio mencium kening istrinya cukup lama hingga ia lepaskan dan masuk mobil.


Tak lama kendaraan roda empat itu pergi meninggalkan kediamannya. Selama perjalanan pun Nio mewanti-wanti Langit untuk menjaga anak dan istrinya.


"Langit, selama saya pergi kamu siapkan pengawal bayangan untuk menjaga istri saya. Saya tidak ingin terjadi sesuatu padanya," ujar Nio pada asistennya.


"Baik, Tuan," jawab Langit.


Nio memang tak membawa Langit sebab ia harus menangani kantor selama atasannya pergi.


Nio merasa kepergiannya akan membuat Jorda kembali mendekati sang istri. Beberapa kali penjaga rumah berkata bahwa lelaki itu datang ke kediamannya, tetapi Zoya selalu menolak bertemu. Karena itulah selama ia pergi, ia akan semakin memperketat penjagaan untuk istri dan anaknya.


Tak akan aku biarkan kamu merebut istriku lagi. Jika berani merebutnya lagi, akan aku habisi kamu, ujar Nio dalam hati dengan mengepalkan tangannya.


_______


Wah hari ini up 3 Bab. pada suka gak nih? Kasih Komen, ya. kalau rajin Komen, like, vote dan beri ulasan, Author pun akan rajin up.


Terima kasih untuk yang setia membaca kisah cinta Zoya dan Nio. ❤️