Another Chance

Another Chance
Bab 34



Nio mondar mandir di depan pintu kedatangan VIP bandara Changi. Lelaki itu mendapat kabar dari sang asisten bahwa istri juga anaknya terbang ke Singapura menyusul dirinya. Lelaki itu tak menyangka bahwa candaan Aurora membangkitkan sisi menyeramkan Zoya lagi.


Nio juga khawatir akan keadaan sang anak yang baru saja membaik dari demamnya. Ah, andai Aurora bukan sahabat karib, sudah pasti wanita itu akan habis olehnya karena berani membuat sang istri marah besar.


Pemilik rumah produksi film itu bernapas lega saat pesawat jet yang ditumpangi Zoya dan Rasya mendarat dengan aman. Buru-buru lelaki tampan itu berjalan mendekat pada peswat setelah petugas menyiapkan tangga. Dengan wajah harap-harap cemas Nio menunggu istri dan anaknya di bawah.


Lelaki dengan jas cokelat itu melambaikan tangan pada istrinya yang menggendong sang anak. Di belakang ada tiga pengawal yang siap menjaga sang nyonya.


"Cheriè ...." Nio hendak memeluk tubuh sang istri tetapi tiba-tiba ditahan oleh para pengawal. Nio seperti seorang fans yang ingin bertemu idola tetapi dihalangi bodyguard. Dengan angkuhnya juga Zoya berjalan meninggalkan sang suami.


"Sayang, jangan marah. Aku sudah mengatakan pada Aurora untuk tidak melakukan hal aneh-aneh. Ayolah sini peluk aku," ujar Nio memohon.


Zoya menghentikan langkahnya, ia berbalik melepas kacamata hitamnya lalu menatap sang suami. "Sudah mandi?" tanya Zoya yang dijawab gelengan oleh suaminya.


"Dari hotel aku langsung ke sini, belum sempat mandi. Lagipula badanku masih wangi." Nio mengendus tubuhnya.


"Aku tidak mau disentuh oleh laki-laki bekas dipeluk wanita lain." Dengan gaya angkuhnya Zoya menggunakan kacamata hitamnya lagi dan masuk mobil sedan yang di sediakan Nio.


"Eh, mau ngapain?" tanya Zoya pada suaminya yang mau masuk mobil juga.


"Masuk lah, masa aku ditinggal di sini," sahut Nio.


"No! Pindah ke mobil lain. Aku tidak sudi duduk di samping laki-laki bekas disentuh wanita lain," seru Zoya dengan wajah cemberut.


"Ya Tuhan, Aurora hanya memelukku, Zoya. Segitu tidak maunya kamu dekat denganku? Apa kabar kamu yang sudah disentuh oleh laki-laki Bajingan itu." Nio menutup mulutnya. Sial! Sial! Sial! umpat Nio menyesali kata yang terucap di bibirnya.


Zoya sendiri terkejut dengan ucapan sang suami. Ia kembali teringat masalalu bodohnya bersama laki-laki lain. Wanita itu tersenyum miris menatap suaminya. "Kamu benar, Mas. Bahkan aku sudah dijamah laki-laki lain. Maafkan aku." Zoya menunduk dengan setetes air mata terjatuh.


"Cheriè—"


"Masuklah, kita pergi dari bandara." Zoya menghapus air matanya dan mencoba menetralkan perasaan yang cukup sakit ia rasakan.


Nio sendiri merasa bersalah harus berkata seperti itu. Susah payah ia meyakinkan Zoya bahwa ia harus melupakan masalalu kelam itu. Namun kini apa yang ia katakan justru membuat Zoya semakin tak percaya diri menjadi seorang istri.


Mobil pun melaju menuju salah satu hotel terbaik di Singapura. Tak membutuhkan waktu lama, mereka sampai di Marina Bay Sands hanya dalam lima belas menit. Pengawal pun membukakan pintu untuk Zoya dan Nio. Lelaki itu mencoba menggendong Rasya dan Zoya memberikan sebab sejak tadi bocah itu merengek ingin digendong sang papa.


Nio membawa istrinya menuju kamar. Lelaki itu sendiri memesan kamar presidential suit untuk kenyamanan Zoya dan Rasya. Sampai di ruangan, Zoya langsung mencari kamar entah yang mana saja, lalu masuk dan menguncinya tanpa peduli Nio yang sejak tadi berusaha berbicara. Akhirnya lelaki itu pun mencoba memberi waktu untuk sang istri dan menghabiskan waktu bersama Rasya.


Dalam kamar, Zoya berbaring dengan air mata yang menggenang. Kenyataan akan ucapan Nio benar-benar menyakiti hatinya. Dia benci pada dirinya sendiri sebab dengan begitu mudah memberikan tubuhnya pada laki-laki lain. Kini, ia tahu bahwa Nio pun mempermasalahkan itu. Zoya sakit sebab percaya bahwa suaminya bisa menerima masalalunya.


Nio tampak khawatir melihat istrinya yang tak kunjung keluar. Sudah hampir tujuh jam wanita itu menyendiri di kamar. Bahkan saat makan malam pun Zoya tak keluar. Akhirnya Nio mengetuk kembali kamar yang ditempati sang istri. Berulang kali, tetapi tak ada respon dari ibu Rasya itu.


"Cheriè, buka pintunya. Aku mohon jangan seperti ini. Maafkan atas ucapanku. Aku tidak sengaja," ujar Nio benar-benar merasa bersalah.


Wajah Nio memucat. Lelaki itu panik dengan berlari mencari keberadaan istrinya.


"Zoya!" Nio berlari ke segala sudut kamar yang memiliki banyak ruangan tersebut. "Ya Tuhan, di mana kamu, Zoya?" Ia sangat frustasi sebab tak bisa menemukan istrinya.


"Angga! Dion! Rayen!" teriak Nio hingga para pengawal yang dibawa Zoya itu menghampiri. "Di mana istriku?" tanyanya pada dua pengawal yang berdiri menghadap.


"Angga berkata bahwa Nyonya sedang di Marlion Park, Tuan," jawab Rayen pada atasannya.


"Jaga putraku." Tanpa basa-basi Nio berlari menuju Taman Marlion. Wajahnya sangat panik bercampur khawatir. Ia sungguh takut Zoya meninggalkannya dengan Rasya seperti dulu lagi.


Tubuh Nio berkeringat hebat. Ia terus berlari mencari istrinya yang pergi tanpa bicara padanya. Beruntung salah satu pengawal mengikuti sehingga Nio bisa tahu di mana istrinya berada.


"Tuan." Angga—salah satu pengawal—menyapa sang atasan.


"Kamu boleh pergi," ujar Nio pada pengawal dan tak lama Angga pergi.


Nio mengatur napasnya yang hampir kehabisan karena berlari. Setelah dirasa lebih tenang, ia berjalan mendekati Zoya yang tengah berdiri di pagar pembatas sungai dengan menatap pemandangan di depannya.


Wanita itu terlonjak kaget saat tiba-tiba seseorang memeluknya dari belakang.


"Jangan buat aku takut, Zoya. Aku sungguh gila mencarimu yang tak ada di kamar," bisik Nio yang tak direspon oleh istrinya.


"Aku minta maaf. Mulutku jahat sekali mengatakan hal buruk pada istriku sendiri," ujar Nio dengan rasa sesal yang mendalam.


"Apa yang kamu katakan adalah kenyataan," jawab Zoya dengan suara paraunya. "Aku memang wanita murahan yang—"


"Ssssttt tidak. Kamu adalah wanita berharga dalam hidupku. Kamu sangat berarti untukku, Cheriè. Jangan katakan itu lagi. Aku mohon, maafkan atas ucapanku itu."


Bahu Zoya bergetar. Kembali ia terisak tanpa bisa ditahan lagi. Nio pun semakin mengeratkan pelukannya tanpa berkata apa-apa. Ia ingin memberi waktu untuk sang istri menumpahkan kesedihannya.


"Aku cinta banget sama kamu, Zoya. Kamu bisa menghukummu atas ucapan bodoh yang keluar dari mulutku ini. Tapi, jangan diam seperti ini. Kamu boleh memukulku, memakiku sesuka hatimu. Jangan siksa dirimu sendiri, Sayang. Hatiku sakit melihat air mata kesedihanmu." Nio mengecup pipi Zoya dengan tangan menghapus air mata yang terjatuh di pipi istrinya.


Keduanya terdiam dengan Zoya menangis tersedu-sedu. Sedangkan Nionyerus memeluknya tanpa mau melepaskan. Hingga seketika Zoya terkejut saat tiba-tiba tubuhnya tertarik ke belakang.


"Mas Nio!" teriak Zoya ketika melihat suaminya dihajar oleh seseorang dengan membabi buta.


____


Wah, siapa ya yang menyerang Nio? Jangan lupa komen dan beri ulasan ❤️