
Saira tengah membaca novel digital di tabletnya. Gadis itu memang sangat hobi membaca kisah cinta yang membuatnya suka berhalu ria. Ya, namanya juga anak rumahan, selain makan, tidur dan buang air, ia harus pintar-pintar mencari aktivitas untuk melewati hari agar tak stres. Beruntung, liburan semester kali ini ia bisa tinggal di kediaman kakaknya. Jika tidak, pasti ia akan bosan hanya mengikuti kegiatan orang tuanya yang membosankan.
Saat tengah seru berhalu, tiba-tiba pintunya diketuk. Dengan malas, Saira membuka pintu dan terlihat kakak iparnya tersenyum padanya.
"Lagi apa, Ra?" tanya Zoya.
"Baca novel. Kenapa, Kak?" tanya Saira balik.
"Antar aku ke mall, yuk. Aku mau beli sesuatu untuk kakakmu. Besok kan dia ulang tahun. Aku mau beli kado juga kue," jawab Zoya antusias. Ini adalah kali pertama ia merayakan ulang tahun suaminya. Jadi, ia harus memberikan yang terbaik.
"Ah, iya, besok ulang tahunnya. Mau buat pesta?" tanya gadis itu ikut antusias.
"Kejutan kecil saja. Kamu tahu sendiri kakakmu itu tak suka pesta," sahut Zoya.
"Ya sudah, aku siap-siap dulu."
"Oke. Aku juga siap-siap."
Dua wanita muda itu antusias untuk menyambut hari lahir lelaki yang mereka sayangi itu. Tak butuh waktu lama, keduanya bertemu di lantai bawah. Seperti biasa, Zoya akan berpenampilan paripurna, sedangkan adik iparnya, tampak natural.
"Rasya tidak ikut?" tanya Saira.
"Tidak, aku takut dia bosan dan agak susah pasti memilih jika bawa anak kecil," jawab Zoya.
"Baiklah, terserah Kakak saja. Kita naik mobil yang mana? Biarkan aku yang menyetir," ujar gadis itu melompat gembira.
"Terserah padamu saja," jawab Zoya yang mencari sesuatu di tasnya. "Ah, dompetku ketinggalan. Kamu pilih saja mobil yang mana mau dipakai. Aku mau ambil dompetku dulu."
Wanita cantik itu kembali melangkahkan kakinya menuju kamar. Sedangkan Saira berjalan riang menuju garasi, memilih mobil yang akan ia kendarai. Beberapa hari lalu gadis itu membuat surat izin mengemudi. Karena itulah sekarang Zoya mengizinkan adik iparnya mengendarai transportasi roda empat itu.
Saira menatap bagasi yang dipenuhi mobil mewah milik kakaknya. Ia menunjuk satu persatu. Hingga ia penasaran dengan satu mobil baru yang tak pernah digunakan. Sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam itu sama sekali tak pernah dikeluarkan. Ia sendiri bingung, padahal kendaraan itu salah satu barang limit yang hanya dijual beberapa saja di dunia.
"Sepertinya aku bisa menggunakan mobil itu. Sayang sekali jika disimpan bagai pajangan saja, 'kan?" Dengan riang, ia meraih kunci mobil tersebut dan mengeluarkannya.
"Kak, mobilnya sudah siap," ujar Saira menatap kakaknya.
"Ya sudah, ayo." Zoya pun melangkahkan kaki menuju pintu utama. Namun, tiba-tiba langkahnya terhenti. Tubuhnya bergetar hebat melihat mobil sedan yang membawanya pada kematian. Tubuh Zoya ambruk, hingga membuat Saira panik.
"Kak Zoya!" teriak Saira hingga para pelayan juga Jessica datang.
***
Langit berjalan tergesa menuju ruang rapat. Ia sedikit panik sebab mendapat telepon dari kediaman sang atasan bahwa nyonyanya pingsan. Sampai di ruang rapat, ia mengetuk pintu dan menghampiri Nio. Lelaki itu berbisik, hingga mata Nio membulat sempurna saat sang asisten berkata bahwa istrinya tak sadarkan diri.
Tanpa berkata apa pun, Nio beranjak dan berlari keluar ruang rapat, meninggalkan rekan bisnisnya.
"Maaf, atas kepergian Tuan Nio yang tanpa pamit. Ada masalah keluarga sehingga Tuan harus pergi buru-buru. Untuk rapat lanjutan, saya akan menghubungi kembali. Saya harap, bapak-bapak bisa memaklumi karena ini keadaan mendesak," ujar Langit yang menggantikan atasannya.
Nio berjalan tergesa masuk rumah. Ia sungguh panik menuju kamarnya bersama Zoya.
"Sayang ...." Nio panik melihat Zoya menangis menutup tubuhnya dengan selimut. Terlihat juga Saira dan Jessica di sana. "Cheriè, ini aku." Lelaki itu jongkok mengusap lengan istrinya.
Selimut pun terbuka. Terlihat Zoya menangis dengan wajah ketakutan. Dengan cepat lelaki itu memeluk istrinya.
"A-aku takut," ujar Zoya terbata.
"Mo-mobil itu. Aku tidak mau melihatnya, Mas. Aku takut."
Nio teringat akan satu hal. Sebelum ia masuk rumah, ia melihat mobil sedan hitam yang pernah membuat Zoya ketakutan juga sebelumnya. Ia melepas pelukannya, lalu menatap Jessica dengan penuh amarah.
"Sudah saya katakan, jangan pernah menunjukkan mobil itu di depan Zoya! Siapa yang mengeluarkannya!" bentak Nio yang membuat Jessica juga Saira terjengit kaget.
"Ma-maaf, Tuan. Saya ceroboh," ujar Jessica menunduk.
"Maafmu tidak membuat istri saya baik-baik saja, Jessy!" bentak Nio kembali.
Melihat Jessica yang dibentak, Saira merasa tak tega.
"Jangan mengomeli Jessy, Kak! Aku yang membawa mobil itu," jawab Saira.
"Kamu!" Nio menatap tajam adiknya.
"Ma-maaf, Kak. A-aku tidak tahu kalau mobil itu tidak boleh digunakan. A-aku hanya merasa sayang karena mobil baru itu tidak dipakai," ujar Saira takut-takut. Baru kali ini ia melihat kakaknya semarah itu.
Nio menghela napas dengan kasar. "Kalian keluarlah," ujarnya memijat pelipis.
"Ta-tapi, Kak ...."
"Keluar!" bentak Nio menatap tajam adik satu-satunya.
Saira sendiri benar-benar terkejut saat sang kakak membentaknya. Hati gadis itu sungguh sakit. Seumur hidupnya, ia tak pernah dikasari seperti itu, bagaimana pun ia berbuat salah. Kini, sang kakak justru berbuat kasar hanya karena kesalahan yang tak sengaja ia buat.
Dengan dada yang sesak dan air mata terjatuh, Saira berlari keluar. Hatinya sungguh sakit mendapat perlakuan kasar seperti itu dari kakaknya. Tanpa kata, gadis itu berlari keluar rumah. Entah ke mana ia pergi, ia tak peduli. Ia sungguh marah dan kesal atas apa yang dilakukan Nio.
Saira terduduk di bawah pohon sebuah taman yang tampak sepi. Ia menutup wajahnya dengan air mata yang terjatuh. Bahunya naik turun dengan dada yang terasa sesak.
"Aku benci kamu, Kak!" geram Saira dengan kesal. Ia sungguh tak terima dibentak seperti itu. Kenapa Nio tak bicara baik-baik saja? Ia juga sangat khawatir, panik dan merasa bersalah melihat kakak iparnya yang tiba-tiba ketakutan seperti itu. Tapi, kenapa kakaknya itu tak mau mendengarkan penjelasannya?
Cukup lama ia duduk di sana. Dengan wajah sedih, ia menatap matahari tenggelam yang tampak begitu indah. Gadis cantik itu menatap jam tangannya. Sudah lima jam dia di sana, tetapi tak seorang pun yang mencarinya. Ia tersenyum kecut. Apa ia tak berharga untuk Kakak laki-lakinya?
"Hey, kita ketemu lagi."
Saira menoleh. Ia terkejut melihat Clay yang tersenyum menyapanya.
"Loh, kamu kenapa? matamu bengkak sekali," ujar lelaki itu duduk di samping Saira.
Mendengar orang bertanya kenapa, kembali tangis Saira keluar. Ia tutup wajahnya dengan bahu yang kembali bergetar.
"Hey, tenanglah." Clayton mengusap bahu Saira. Lelaki itu terkejut saat tiba-tiba Saira menyandarkan kepala di bahunya.
"I hate my life!" ujar Saira dengan pekikan yang tertahan.
Clayton tersenyum miring mendengarnya.
Visual Saira