Another Chance

Another Chance
Bab 25



Zoya duduk dengan gelisah. Bagaimana tidak? Sekarang Nio tengah menatapnya dengan tatapan yang sulit dijabarkan. Kini Zoya tahu bahwa apa yang dianggapnya mimpi adalah kenyataan. Ya, wajah wanita cantik itu benar-benar merah saat Nio mengatakan bahwa apa yang diingatnya adalah nyata, bukan mimpi.


Zoya sungguh malu dengan apa yang diucapkan dan dilakukannya saat tertidur. Saking lelahnya, ia tak sadar antara kenyataan dan mimpi hingga melakukan hal bodoh.


"Jadi apa itu semua benar-benar dari lubuk hatimu?" tanya Nio pada istrinya.


Zoya masih diam. Ia bingung harus menjawab apa.


"Zoya," panggil Nio. Sedangkan si wanita masih diam menunduk. Dengan menghela napas, lelaki tampan itu menghampiri sang istri. Memang kini keduanya tengah berada dalam kamar Zoya dan Rasya bersama Jessica. Keduanya harus bicara secara langsung dengan kesadaran penuh.


Nio duduk di samping istrinya. Ia genggam tangan Zoya dengan begitu erat, lalu meraih dagu si wanita dan mengangkatnya hingga keduanya saling pandang.


" I-itu aku mengatakan tidak sadar, jadi lupakan saja." Hanya itu yang bisa ia katakan sekarang. Ia tak ingin Nio merasa tak enak padanya jika harus bertahan karena paksaan.


"Zoya, jangan bercanda. Dan tolong, jangan berpikir bahwa aku tidak menerima karena masalalumu. Tidak, Zoya. Semua yang aku lakukan demi kebahagiaanmu," ujar Nio lirih.


"Dengan cara meninggalkanku dan memberikan pada laki-laki sialan itu?" tanya Zoya berkaca-kaca. "Kamu sungguh ingin memisahkanku dengan Rasya?" Setetes air mata terjatuh di pipi Zoya. Apakah ia harus kehilangan lagi setelah kehilangan kedua orang tuanya bahkan keluarganya yang lain sudah tak ingin menganggapnya?


"Hanya Rasya keluargaku yang menginginkanku. Hanya dia. Lalu sekarang, kamu ingin memisahkanku darinya?" tanya Zoya dengan lirih.


"Hey, tidak ada yang mau memisahkanmu dengan Rasya. Jangan menangis." Dengan lembut Nio mengusap air mata Zoya.


"Kamu sangat tahu bahwa setelah kejadian itu keluargaku membuangku. Hanya Rasya yang aku punya sekarang. Aku tidak punya siap-siap lagi." Air mata terus berjatuhan di pipi Zoya. "Aku sendiri, aku tidak punya siapa-siapa lagi jika kamu meninggalkanku. Aku pikir, kamu akan menerimaku juga, tapi aku salah, aku memang tak bararti untuk siapa pun."


"Zoya ...." Dengan hati yang merasa sakit Nio memeluk istrinya. "Kamu sangat berarti untukku, Zoya. Kamu pikir kenapa aku mempertahankanmu sampai sekarang? Karena aku sangat mencintaimu. Aku tidak sanggup melepaskanmu setelah kekacauan itu. Aku ingin melindungimu, memberikan segala yang aku punya untukmu bahkan menyerahkan kebahagiaanku dengan melihatmu bersama laki-laki lain," ujar Nio dengan suara parau.


"Sakit melihatmu bahagia bersama laki-laki lain. Bahkan hatiku sudah hancur berkeping-keping. Tapi, aku berusaha menerima saat kamu terlihat bahagia dengannya. Aku tidak pernah mau berpisah denganmu, Zoya. Tapi, jika kamu merasa terikat dengan pernikahan kita dan merasa terpenjara, aku merasa bersalah. Aku hanya ingin melihatmu bahagia, apa pun akan aku lakukan untuk memberikan kebahagiaan, termasuk menghancurkan hatiku." Nio terdiam dengan menghela napas dengan sangat berat.


"Aku tidak pernah mau berpisah denganmu." Kembali Nio berkata. "Aku sangat mencintaimu, Zoya. Dari dulu sampai sekarang. Dari saat aku menjadi ZoyAmour," katanya dengan tawa kecil.


"Bujuk aku, bujuk aku untuk bersamamu," ucap Zoya membenamkan wajahnya di dada bidang Nio.


Nio tersenyum dengan air mata yang menetes. Apakah ini balasan atas kesabarannya selama ini menunggu cintanya yang dibalas Zoya?


"Zoya Maharani Lavani, aku mohon, tetaplah menjadi istriku. Bukan untuk Rasya, tapi untukku. Menjadi sahabat, belahan jiwa, separuh hidupku dan menjadi ratu di hatiku. Aku mohon ...."


Dengan isakannya Zoya mengangguk, membuat Nio tersenyum dan memeluk erat sang istri. "Aku mencintaimu, Zoya. Ini seperti mimpi untukku."


"Jangan tinggalkan aku," lirih Zoya.


"Bahkan kematian tidak akan memisahkan kita, Zoya. Semua yang aku punya kini milikmu. Hati, jiwa, pikiran, tubuh, harta, segalanya milikmu sekarang. Aku bergantung padamu," ujar Nio dengan perasaan yang begitu membuncah. Rasa cinta itu akhirnya berlabuh di dermaga hati Zoya. Akhirnya penantian itu kini terbalaskan.


Nio melepas pelukannya. Ia sentuh kedua pipi istrinya, dengan ibu jari menghapus air mata Zoya. Kecupan mendarat di kening wanita cantik itu. Lalu berpindah ke kedua matanya, setelah itu turun ke kedua pipi juga hidung. Dan terakhir berlabuh di bibir Zoya yang ranum. Nio menciumnya dengan begitu lembut. Hanya menempel, tetapi dapat terasa begitu besar perasaannya untuk sang istri.


"You're the one and only one in my heart, my mind, and my feelings. I love you, Zoya Arsenio Bagaskara," bisik Nio tersenyum menatap istrinya yang merona dengan perlakuan lembut sang suami.


Zoya kembali memeluk Nio. Entah apa yang ia rasakan untuk suaminya saat ini. Apakah cinta atau tidak. Namun, bersama Nio ia merasa begitu nyaman, bersama ayah dari anaknya ia merasa dilindungi dan dicintai. Ia tak mau gegabah membalas ucapan Nio dengan terburu-buru. Ia ingin menyelam ke dasar hatinya untuk mencari jawaban terbaik untuk Arsenio Bagaskara.


"Sudah, jangan menangis lagi. Lihat, hidungmu merah, pipimu juga. Kamu terlihat menggemaskan seperti ini." Nio menyentil hidung bangir istrinya.


Dengan wajah cemberut Zoya menghapus air matanya. ia raih sapu tangan di saku kemeja sang suami dan mengeluarkan cairan di hidungnya.


"Nih, aku kembalikan." Zoya menaruh sapu tangan itu lagi ke kemeja suaminya yang membuat Nio tertawa. Ia sama sekali tak jijik dengan perlakuan wanita muda di hadapannya itu.


"Jangan buat aku semakin mencintaimu, Zoya. Apa pun yang kamu lakukan membuat dadaku berdebar."


"Cukup! Mas tidak cocok terus menggombal." Zoya menutup mulut suaminya yang justru mencium telapak tangannya.


"Aku tidak akan menahan segala perasaanku lagi, Zoya. Akan aku utarakan segalanya. Bersiaplah menerima segala yang akan tercurahkan untukmu." Kembali Nio memeluk tubuh semapai sang mantan artis itu.


Saat keduanya tengah saling menunjukkan rasa bahagia, tiba-tiba pintu kamarnya diketuk. Keduanya pun melepas pelukan, lalu Zoya berjalan untuk membuka pintu.


"Ada apa, Jessy? Apa Rasya menangis?" tanya Zoya dengan suara seraknya.


"Tidak, Nyonya. Apakah Nyonya bisa memanggil Tuan?" tanya Jessica dengan wajah resah.


"Ada apa?" tanya Nio yang datang.


"Di ruang tamu ada Nyonya Samantha," jawab Jessica.


"Lalu? Biarkan saja. Kamu seperti tidak tahu ibuku saja."


"Masalahnya Nyonya Besar tidak datang sendiri. Beliau membawa seseorang dan meminta Tuan untuk bertemu."


"Ck! Siapa yang mama bawa?" tanya Nio malas.


"Eeuummm, Nona Aurora."


Mata Nio membulat mendengar nama itu. Sedangkan jantung Zoya berdebar hebat mendengar nama tersebut.


"Aurora?" tanya Zoya dengan perasaan resahnya.