
Nio membantu Zoya berbaring di tempat tidurnya. Setelah makan malam, keduanya pamit untuk masuk kamar, begitu juga Rasya yang malam ini tidur bersama Samantha. Wanita paruh baya itu ingin memberi waktu untuk mereka berduaan. Keluarga Angkasa pun diberikan kamar, sedangkan Lily tidur bersama Saira.
Setelah dirasa Zoya berbaring dengan nyaman, Nio pun ikut berbaring di di samping istrinya. Wanita cantik itu pun menggeser tubuhnya agar bisa merebahkan kepalanya di dada sang suami, mendengar detak jantung yang selalu membuatnya tenang.
Nio sendiri menciumi ujung kepala istrinya dengan usapan di punggung sang istri.
"Ini seperti mimpi. Kemarin malam aku masih tidur sendirian, tetapi sekarang aku bisa memelukmu lagi, Cheriè. Aku sangat bahagia." Lelaki itu masih saja terus menggumamkan kebahagiaannya.
"Aku juga. Kemarin malam masih begitu khawatir memikirkan Mas juga Rasya yang pasti begitu khawatir atas apa yang terjadi padaku," sahut Zoya dengan memainkan jarinya di dada sang suami, meski rasanya masih ngilu.
Lelaki itu menahan tangan istrinya hingga keduanya kini saling tatap. Nio mendekatkan wajahnya dan kini napas mereka saling menyatu. Bibir lembut dan kenyal milik Zoya begitu membuat Nio melayang. Begitu juga Zoya yang membalas ciuman sang suami dengan sama mendambanya.
Ciuman Nio turun ke leher, membuat istrinya mencengkram piyama sang suami. "Mmass," ucapnya lirih membuat Nio semakin menggelora. Tubuh ayah satu anak itu terus turun sampai tiba-tiba Zoya memekik. Tanpa sengaja, Nio menekan kaki istrinya yang masih luka.
"Astaga, maaf Sayang." Nio begitu panik melihat istrinya menangis karena kesakitan.
Buru-buru Nio memanggil paman Zoya yang seorang dokter ortopedi. Angkasa pun pergi menuju kamar keponakannya dengan wajah sedikit khawatir. Sampai di kamar, terlihat Zoya masih sesegukkan dengan posisi terlentang.
"Mana yang sakit?" tanya Angkasa pada keponakan kesayangannya.
"Yang ini, Om," jawab Zoya sesegukkan menunjuk yang sakit. "Sshhh aw!" pekiknya saat sang paman menyentuh area yang terlihat bengkak.
"Kenapa jadi bengkak gini? Tadi masih baik-baik saja," sahut Angkasa.
"Ada apa?" tanya Samantha yang ikut masuk beserta yang lainnya.
"Kaki Zoya bengkak lagi. Apa kakimu tertekan sesuatu?" tanya Angkasa. "Om kan bilang kamu harus menaruhnya sampai tinggi melebihi dadamu agar tak tertekan atau tersentuh."
Nio yang mendengar itu menunduk merasa bersalah. Andai ia tadi tak kebablasan, pasti istrinya baik-baik saja.
Melihat sang anak yang salah tingkah, Samantha menyikut pinggang Nio. "Sabar kenapa! Istrimu masih sakit juga," bisik Samantha mengomel.
Nio hanya meringis menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Nio, tolong belikan obat ini. Ini obat anti nyeri dan plester untuk meredakan bengkak." Angkasa memberikan secarik kertas yang telah ia tuliskan resep. Setelah itu lelaki tersebut menatap keponakannya. "Setelah ini jangan banyak gerak dulu. Ingat, kamu masih sakit. Ditahan dulu rindunya."
Zoya merona mendengar ucapan sang om. Ia memalingkan wajahnya menatap sang suami yang berkata maaf dengan hanya gerakan bibir.
**
Pagi ini terasa ramai di kediaman Nio juga Zoya. Kehadiran Samantha, Saira juga keluarga Angkasa membuat rumah itu terasa hangat. Ditambah Qalas—Papa Nio pun telah sampai. Semalam setelah Samantha mengatakan bahwa Zoya telah kembali, lelaki itu langsung memesan tiket pesawat dari Jepang hingga pagi-pagi sekali sampai di kediaman anak sulungnya.
Qalas sendiri adalah lelaki sehangat mentari. Jika kalian bertanya dari mana Nio memiliki sifat yang hangat juga romantis, itu semua dari Qalas. Lelaki itu juga salah satu lelaki bucin yang rela melakukan apa pun untuk wanita yang dicintainya. Siapa lagi kalau bukan Samantha Claes Bagaskara. Karena itu juga lihatlah bagaimana Nio begitu bucin pada istri kesayangannya.
Sarapan dimulai pukul tujuh pagi. Begitu banyak menu makanan yang dihidangkan pelayan atas perintah Jessica. Ada nasi goreng, waffle, pancake, sandwich, salad buah dan sayur. Lalu ada juga kopi, susu, juga jus buah. Semua orang begitu santai melahap makanannya dengan saling berbincang.
"Saya tidak menyangka bahwa paman Zoya adalah dokter ortopedi terbaik yang dimiliki negara ini," sahut Qalas yang terkejut saat tahu bahwa paman Zoya adalah dokter Angla, itulah yang orang-orang tahu. Angkasa sendiri jarang sekali menunjukkan bahwa dirinya adalah salah satu anggota keluarga Lavani.
"Kami memang sempat terpisah setelah kepergian kakak saya. Bersyukur kini kami bertemu kembali," jawab Angkasa menatap keponakannya yang mengangguk riang.
"Gak nyangka Tante sudah punya cucu yang menggemaskan ini," ujar Seena yang begitu bahagia menggendong Rasya. Semalam ia belum sempat menggendong bocah gembul itu.
"Rasya memang sangat menggemaskan," sahut Samantha yang tersenyum. "Hanya orang bodoh yang menyia-nyiakan bayi menggemaskan ini."
Perkataan sang ibu mertua membuat hati Zoya tercubit. Ia sungguh merasa bersalah sebab dulu telah menyia-nyiakan Rasya.
"Nyu-nyu." Rasya merentangkan tangan menunjuk kandang Niu-Niu.
"Rasya mau apa, Nak?" tanya Seena yang gemas.
"Nyu-nyu."
"Ah, sepertinya dia ingin ke kandang Niu-Niu," sahut Zoya.
"Begitu?" tanya Seena. "Rasya mau ke kandang Niu-Niu, iya?" tanya wanita itu mengangkat tubuh gembul Rasya yang tertawa riang. "Baiklah, Oma ajak Rasya ke sana. Ayo." Seena beranjak dan pamit pada Samantha juga Zoya membawa Rasya ke kandang harimau putih itu.
Tinggallah menantu dan mertua yang masih duduk di sana. Keduanya hanya diam tanpa ada yang mulai pembicaraan. Kita tahu betul hubungan keduanya memang tak pernah akrab sejak dulu.
"Kkkhhhmm." Akhirnya Samantha yang berdeham. Zoya sendiri hanya melirik sekilas. Ia masih merasa sungkan pada ibu mertuanya.
"Apa keadaan kakimu sudah membaik?" tanya Samantha yang langsung membuat Zoya menoleh menatap ibu mertuanya.
"Su-sudah membaik, Ma," jawab Zoya dengan gugup.
"Baguslah," sahut Samantha mengangguk. "Kau harus sehat dan baik-baik saja, karena ada dua laki-laki yang begitu membutuhkanmu. Jagalah kepercayaan mereka yang sangat tergantung padamu," ujarnya menatap sang menantu yang kini mengangguk. Wanita paruh baya itu duduk mendekat pada menantunya.
Tubuh Zoya mematung saat tiba-tiba Samantha memeluknya. Bahkan ibu dua anak itu mengecup lembut kening menantunya. "Kamu wanita yang kuat. Mama bangga padamu."
"Mma—" Suara Zoya tercekat mendengarnya.
"Nio telah menceritakan segalanya tentangmu. Maafkan Mama yang tak mengerti posisimu saat itu. Mama terlalu fokus pada anak dan cucu Mama, tanpa memikirkan perasaanmu yang diserang dari berbagai sudut bahkan tak memedulikan penderitaanmu yang hamil tanpa mendapatkan kasih sayang siapapun. Maafkan Mama," ujar Samantha yang mengusap air mata yang terjatuh di pipi menantunya yang menggeleng.
"Semua salah Zoya. Andai Zoya memberi kesempatan pada Mas Nio dan menerima Rasya pasti—" Samantha menutup bibir sang menantu dengan telunjuknya.
"Lupakan itu semua. Kini, fokuslah ke masa depan kalian." Samantha menangkup kedua pipi menantunya dengan senyuman hangat. "Sudah, jangan menangis lagi." Diusapnya air mata yang terjatuh di pipi Zoya.
"Ma, boleh aku memeluk Mama?" tanya Zoya dengan air mata yang terjatuh bak air terjun.
"Of course."
"Mama ...." Zoya menangis memeluk ibu mertuanya. Ia tak menyangka bahwa banyak hal baik yang ia terima. Zoya sungguh tak merasa keberatan harus kembali ke masalalu dan merasakan sakit atas kematian jika apa yang ia terima sebesar ini.
Hanya satu hal yang ia lakukan, menerima Nio sebagai suami, tetapi justru banyak hal yang berubah begitu besar dalam hidupnya. Kini, ia sungguh menyesal kenapa dulu begitu bodoh menyia-nyiakan segalanya. Namun, inilah takdir, kadang apa yang kita putuskan cukup mampu merubah banyak hal dalam hidup kita, seperti apa yang Zoya rasakan.
Tanp keduanya sadari, seseorang memperhatikan mereka. Nio begitu terharu melihat pemandangan di depannya. Awalnya ia ingin mengambil Rasya, tetapi justru pemandangan indah itu yang didapatnya.
"Tuhan, aku tidak keberatan harus mengulang hidupku berkali-kali untuk melihat ini semua. Terima kasih, karena sudah mengembalikan Zoya-ku." Nio tersenyum menatap sang istri yang menangis dalam pelukan ibunya.