
"Aku bahagia menjadi seorang artis. Banyak orang yang mencintaiku, memberiku perhatian yang tak pernah aku rasakan sejak Mama Papa pergi. Aku ini memiliki inner child, jadi seperti haus akan kasih sayang dan sangat takut jika orang berkata buruk tentangku."
Nio berusaha menahan isakannya. Ia kecupi ujung kepala sang istri tanpa berkata apa pun. Ia sungguh kehabisan kata mendengar penderita Zoya.
"Malam kejadian kita itu menjadi neraka untukku, Mas. Semua keluargaku menyerangku tanpa peduli keadaan mentalku yang hancur. Aku kehilangan mahkotaku, lalu di usia belia aku harus hamil. Tak ada yang memberi semangat untukku.
Manager yang aku anggap kakak meninggalkanku. Para fans yang aku sayangi pun menyerangku apalagi para haters yang semakin memojokkanku. Saat itu aku hampir gila bahkan ingin mengakhiri hidup. Apalagi saat itu aku dipaksa menikah dengan lelaki yang aku anggap menghancurkan hidupku. Aku tidak terima, Mas."
Zoya terisak mengingat itu. "Bahkan setelah menikah aku merasa sunyi. Di kehamilanku, aku bertahan sekuat tenaga. Mas dulu tak pernah mau mendekatiku. Aku selalu berpikir bahwa Mas menikahiku terpaksa karena hamil dan tak pernah peduli denganku."
Nio menggeleng mendengarnya. Ia tak pernah berpikir seperti itu, tetapi bibirnya tak bisa bersuara untuk meralat ucapan sang istri.
"Awalnya aku berusaha menerima pernikahan kita. Tapi, suatu hari aku mendengar obrolan Mas dan Mama Samantha yang berkata bahwa Mas harus menceraikanku dan menikah dengan Aurora. Saat itu rasa benciku semakin besar," ujarnya.
"Hingga akhirnya aku bertemu Jordan. Ia memberiku lautan perhatian dan cinta hingga aku terbuai dan ketergantungan padanya. Aku tahu aku salah, tapi saat itu aku tidak punya siapa-siapa bahkan suamiku sendiri."
Nio akhirnya terisak mendengar itu. Ia sungguh tak bisa membayangkan sehancur apa Zoya saat itu. Kini ia paham kenapa dulu Zoya sangat mmebencinya dan justru memilih Jordan. Lelaki itu melepas pelukannya. Ia tatap istri yang sangat ia cintai.
"Kamu hebat. Aku bangga padamu." Dengan dada tersegal Nio kembali memeluknya. "Maafkan aku. Kamu pantas membenciku atas semua yang terjadi. Maafkan aku yang tak ada bersamamu di saat masa sulitmu. Maafkan aku yang sangat bodoh ini," ujar Nio dengan suara seraknya.
"Tapi perlu kamu tahu, Zoya. Menikahimu adalah hadiah terbaik yang Tuhan berikan. Aku sangat beruntung bisa menikahi wanita yang sangat aku cintai."
"Tapi kenapa dulu Mas sangat jauh? Bahkan Mas tidak mau satu ranjang denganku," sahut Zoya. "Aku ingat sekali malam pertama setelah menikah Mas lebih memilih tidur di sofa daripada satu ranjang denganku. Hatiku sakit Mas memperlakukanku begitu. Aku bahkan berpikir Mas sangat membenciku!" Zoya memukul dada suaminya dengan wajah kesal. "Karena penolakan Mas itu aku menjauh. Jujur, saat aku melihat Mas yang berusaha tanggung jawab aku merasa terharu dan berusaha menerima Mas. Tapi, saat melihat Mas menolakku, aku mundur."
Nio melepas pelukannya. Ia tatap istrinya. "Sayang, saat itu aku menjauh bukan karena tak suka padamu atau terpaksa. Aku hanya tak ingin kamu merasa tak nyaman. Apalagi saat setelah pernikahan kita kamu menangis begitu menyayat hatiku. Aku pikir kamu tak nyaman dekat denganku, karena itu aku memberi jarak. Demi Tuhan, aku sangat tergila-gila padamu sejak lama.
"Astaga, jadi selama ini kita hanya salah paham?" tanya Zoya dengan tawa di sisa air matanya.
"Maafkan aku, pasti kamu merasa sakit selama ini," kata Nio kembali dengan wajah sedihnya menatap sang istri.
Zoya tersenyum menggenggam tangan Nio dan mengecupnya. "Semua rasa sakit sudah aku rasakan. Bahkan rasa sakit sebuah kematian," ujar Zoya yang membuat Nio menatap sedih. Nio pikir Zoya bicara seperti itu karena merasa hampir mati dengan apa yang terjadi. Padahal Zoya memang sudah merasakan bagaimana rasanya dicabut nyawa.
"Sungguh, kini aku hanya ingin merasakan kebahagiaan setelah penderitaan yang aku lalui," ujar wanita cantik itu lagi.
Nio menggenggam tangan istrinya, lalu dikecup dengan begitu lembut. "Tidak akan. Aku tidak akan membiarkanmu meneteskan air mata kesedihan lagi selain air mata kebahagiaan. Demi Tuhan, akan aku lawan semua yang berniat jahat padamu. Itu janjiku," ujarnya dengan serius.
Zoya tersenyum mengusap dada suaminya. "Terima kasih karena sudah menerimaku yang tidak sempurna ini, Mas. Aku benar-benar beruntung mendapat kesempatan ini. Aku bahagia memiliki Mas juga Rasya. Kalian berdua cukup untukku," ujarnya dengan berkaca-kaca. "Maafkan aku yang sudah menyakiti Mas. Bahkan mengkhianati pernikahan kita. Tapi Mas begitu baik dan lapang menerimaku kembali. Terima kasih, Mas."
Nio merengkuh kedua pipi Zoya. Ia satukan hidung mereka. "Semua yang terjadi bukan sepenuhnya kesalahanmu. Aku yang paling bersalah di situasi ini. Andai aku dulu tak memberi jarak dan mengerti perasaanmu, pasti kamu tidak akan menerima laki-laki lain dan keluarga kecil kita hancur. Aku percaya bahwa seorang Zoya Maharani Lavani adalah wanita baik. Dan itu terbukti," ujar lelaki itu.
"Aku juga berterima kasih karena telah memberiku kesempatan untuk menjadi suamimu, ayah dari anakmu. Kini, mari kita buat cerita baru tentang kita. Kisah manis yang akan kita ceritakan pada anak-cucu kita kelak. Kita tunjukkan pada dunia bahwa Arsenio dan Zoya saling mencintai, tak peduli seberat apa masalahnya, kita akan selalu bersama." Nio mengecup lembut bibir istrinya.
"Promise?" tanya Zoya.
"Promise." Nio kembali mengulum bibir sensual istrinya dengan penuh perasaan.
Cinta adalah anugerah terindah yang Tuhan berikan. Cinta juga adalah sebuah kekuatan untuk yang merasakannya. Cinta itu tak memiliki mata sehingga ia bisa berlabuh di mana pun, entah kepada siapa atau untuk siapa. Sama seperti Zoya dan Arsenio. Karena kejadian tak terduga mengantarkan Arsenio pada cintanya, Zoya Maharahi Lavani. Meski cinta mereka harus diuji bahkan dengan kematian untuk membuat cinta itu semakin kuat dan kokoh.
Kisah cinta Zoya dan Nio baru dimulai. Perjalanan mereka pun masih jauh dan yang pasti akan menemukan jalan yang terjal dan tak selalu mulus. Akankah mereka bisa menepati janji untuk selalu bersama dalam keadaan apa pun? Pantengin terus novelnya yang pasti.