
Zoya tengah berenang setelah menidurkan sang anak. Wanita cantik itu ingin menenangkan dirinya setelah mendengar ocehan sang ibu mertua. Masih saja wanita paruh baya itu mengungkit masa lalu menantunya. Bahkan kuping Zoya terasa gatal setiap berpapasan dengan ibu dua anak yang selalu memojokkannya. Sesekali Zoya balas, tetapi ia juga berusaha untuk mengabaikan agar kepalanya tak pusing dan otaknya tetap waras.
Wanita muda itu meliukkan badannya di dalam kolam. Berbagai gaya renang ia tunjukkan dengan begitu lihai. Ah, Zoya sungguh tenang setelah meluapkan emosi dengan olahraga air tersebut.
Setelah puas, Zoya pun naik dari kolam. Saat itu ia menggunakan baju renang ketat yang membuat lekuk tubuhnya tercetak sempurna. Meski telah melahirkan dan melalui masa ngidam juga kelonjakan nafsu makan, Zoya tetap memperhatikan tubuhnya agar terlihat seksi. Walaupun usianya masih terbilang muda, mantan pemain film itu memiliki tubuh ideal impian para wanita.
Selama berenang, tak seorang pun pekerja yang diizinkan ke area kolam, kecuali Jessica. Karena itulah ia bebas menggunakan pakaian sesuka hati. Bahkan sering ia hanya menggunakan bikini saja.
"Mas!" pekik Zoya panik saat tiba-tiba ada Nio di belakang tubunya dengan wajah yang memerah. Buru-buru ia menggunakan bathrobe untuk menutupi tubuhnya yang terbilang terbuka itu.
"Ma-maaf." Nio sendiri jadi salah tingkah melihat tubuh istrinya yang bisa membuat sisi kelelakiannya memberontak. "Tadi Jessica bilang kamu sedang berenang. Jadi aku ke mari," katanya lagi dengan mencoba menetralkan gejolak di tubuhnya. 'damn! She's so hot!' batin Nio yang masih normal sebagai laki-laki memuja tubuh wanita di depannya.
"A-ada apa, Mas?" tanya Zoya yang sama-sama salah tingkah. Ia tak menyangka bahwa Nio akan pulang lebih awal dari jadwal biasanya.
"Kamu bisa membersihkan diri dulu, aku akan menunggu di ruang keluarga. Jika Rasya bangun, sekalian bawa, ya." Setelah mengatakan itu, buru-buru Nio berlalu. Melihat keindahan milik sang istri sepertinya ia butuh mendinginkan tubuhnya yang terasa panas.
"Ambilkan kola dan antar ke ruang keluarga," ujar Nio pada Jessica.
Wanita itu hanya menautkan alis. Tak biasanya sang tuan meminta kola. Namun akhirnya ia mengambil di ruang stok sebab Nio tak suka minuman dingin apalagi kola. Entah kenapa hari ini ia memintanya.
"Ini, Tuan." Jessica memberikan satu kaleng kola serta gelasnya sekalian.
"Esnya mana?" tanya Nio.
"Eh? Tuan butuh es juga?" tanya Jessica kaget.
"Kamu pikir enak minum kola hangat begini? Ambil cepat!"
"Ba-baik, Tuan." Buru-buru Jessica meminta pelayan mengambil es untuk sang tuan.
Dengan menyambar gelas berisi kola dingin, Nio meminumnya. Namun raut wajahnya terlihat masam, merasakan rasa tak sedap saat meneguk minuman soda itu. Nio memang bukan tipikal lelaki yang suka minuman seperti itu. Jangankan minuman beralkohol, minuman soda saja dia tak kuat. Karena itulah tragedi itu terjadi. Jika Nio kuat minuman keras sudah pasti Nio dan Zoya tak akan bersatu dalam kesedihan seperti sekarang.
"Astaga minuman apa ini!" Nio menepuk-nepuk dadanya yang terasa nyelekit saat soda itu masuk ke tubuhnya.
"Apa Anda baik-baik saja, Tuan?" tanya Jessica khawatir.
"Ada apa?" tanya Zoya tiba-tiba saat dirinya menghampiri.
"Tuan merasa—"
"Tidak apa-apa," jawab Nio sebelum Jessica melanjutkan ucapannya. Tengsin, dong, jika Zoya tahu bahwa dirinya tak kuat minum kola. "Kamu boleh pergi, Jessy. Oh ya, tak perlu menyiapkan makan malam karena kami akan makan di luar. Mommy juga tidak pulang hari," ujar lelaki itu.
"satu lagi, panggil MUA juga telepon butik langganan sekarang juga. Dandani Zoya karena kami akan pergi ke sebuah pesta."
Mendengar itu Zoya menatap suaminya.
"Baik, Tuan."
"Kamu boleh pergi."
Setelah itu Jessica undur diri menyiapkan segala keperluan yang diperintahkan.
"Pesta?" tanya Zoya duduk di samping suaminya dengan memberikan Rasya yang terus memberontak ingin digendong papanya.
"Iya, ini yang ingin aku katakan padamu. Nanti malam ulang tahun pernikahan Pak Regan juga istrinya, Kita diundang secara khusus," jawab Nio yang mengangkat Rasya tinggi-tinggi membuat bocah itu tertawa riang.
"Kok Mas baru bilang?" protes Zoya.
"Maaf, aku lupa. Ini saja tadi Langit yang mengingatkan. Makanya aku suruh Jessica untuk menyiapkan segalanya untukmu."
Zoya hanya berdecak. Untung saja suaminya salah satu konglomerat yang bisa mudah mendapatkan gaun terbaik juga make up artist. Jika tidak, pasti penampilannya akan buruk.
"Rasya gak rewel, 'kan?" tanya Nio.
"Nggak, Mas. Anakku anteng," ujar Zoya tersenyum.
"Dia anakku juga, Zoya. Kita membuatnya bersama."
Mendengar itu wajah Zoya bersemu merah. Nio sendiri merutuki diri mengatakan hal sebodoh itu.
"Zoya, ma—"
"Aku titip Rasya dulu. Aku mau ke kamar." Buru-buru Zoya pergi meninggalkan ayah-anak itu, membuat Nio tak enak hati.
"Nio bodoh! Kenapa juga harus berkata seperti itu. Pasti dia mengingat malam sialan itu lagi," gumamnya dengan menggerutu. "Boy, mamamu pasti marah. Papa harus apa?" tanya Nio pada sang anak yang hanya bergumam tak jelas dengan memukul wajah papanya.
Di kamar, Zoya duduk menatap dirinya di cermin. Ia kembali teringat malam di mana semua kejadian buruk itu terjadi. Dengan begitu jahatnya Nio merengguh kehormatan yang ia jaga selama ini. Bukan hanya itu, semua hal yang ia banggakan musnah karena kesalahan yang tak ia buat bahkan saat dirinya sandiri adalah korban, tak seorang pun yang membela. Jika mengingat itu semua sungguh Zoya membenci suaminya.
'Tenangkan dirimu.' Suara Zoya dewasa terdengar yang membuat Zoya teringat hal buruk yang Nio terima juga karenanya.
"Tenang, Zoya. Itu hanya masalalu. Fokuslah pada Rasya sekarang. Lupakan hal buruk itu," ujarnya menenangkan diri.