
Zoya terdiam menatap langit-langit kamar. Ia kembali teringat kejadian naas yang menimpa dirinya. Wanita cantik itu memikirkan keadaan suami dan anaknya yang pasti sekarang tengah panik mencarinya. Wanita cantik itu menoleh ke arah kanan yang kini ada seorang gadis duduk tersenyum menatapnya dengan menopang dagu.
"Lily ... nama kamu Lily?" tanya Zoya dengan pelan. Ia masih tak memiliki tenaga bahkan untuk berbicara.
"Iya. Namaku Lily. Kakak kenapa? Butuh sesuatu?" tanya gadis cantik itu.
"Eemmm, sudah berapa lama aku tidak sadarkan diri?" tanya Zoya.
"Sembilan hari, Kak. Kalau besok masih belum sadar genap sepuluh hari," jawab Lily yang membuat mata Zoya membulat sempurna.
"Se-sembilan hari? Astaga," gumam Zoya terkejut. Bagaimana bisa dirinya tak sadarkan diri selama itu? Lalu, bagaimana keadaan Nio dan Rasya tanpanya?
Ia ingin sekali menghubungi sang suami, tetapi ia bahkan tak hapal nomer ponsel Nio. Ah, ini menjadi kelemahan Zoya. Ia sangat sulit menghapal nomer telepon, bahkan nomernya sendiri ia tak ingat. Ia sentuh lehernya dan terkejut ketika tahu bahwa kalungnya hilang.
"Lily, apa kamu melihat kalungku? Kenapa tidak ada, ya?" tanya Zoya.
"Kalung? Setahuku kakak tidak pakai kalung. Tapi, aku coba tanya mama dan papa, ya. Mungkin mereka menaruhnya saat menolong kakak," sahut Lily yang diangguk Zoya.
Tak lama, Seena datang. Wanita empat puluh lima tahun itu masuk dengan membawa nampan. Ia membuatkan makanan untuk Zoya.
"Makan dulu, ya," ujar wanita cantik bermata bulat itu duduk di samping kiri Zoya.
"Maaf merepotkan, Tante," ujar Zoya tak enak.
Seena pun hanya mengibaskan tangannya. "Kita harus saling tolong. Apalagi kamu dalam keadaan memprihatinkan saat ditemukan," sahutnya dengan menyuapi Zoya. "Apa kamu salah satu korban kapal yang tenggelam?" tanya Seena.
"Iya, Tante."
"Maaf sebelumnya, apa kamu punya keluarga?" tanya Seena. "Sebenarnya kami ingin menghubungi keluargamu, tetapi kami tak menemukan apa pun yang kamu bawa, jadi kami bingung harus menghubungi siapa. Kami juga sudah menghubungi tim SAR dan sudah beberapa keluarga yang melihat ke sini, tetapi mereka bukan keluargamu," ujarnya.
"Aku punya keluarga, Tante. Aku memiliki suami dan satu orang anak berusia satu tahu," jawab Zoya.
"Apa mereka selamat dalam kecelakaan? Kami tidak menemukan mereka bersamamu," sahut Seena khawatir.
Zoya menggeleng. "Saat kejadian, saya tidak dengan mereka. Mereka ada di rumah," jawabnya.
"Ah, syukurlah." Dokter itu mengusap dadanya lega.
"Kakak sudah menikah?" tanya Lily. "Sayang sekali, padahal kemarin ada laki-laki tampan yang sangat cocok dengan Kakak."
"Hush! Kamu ini." Seena menatap tajam anaknya yang terkekeh geli.
"Suamiku juga sangat tampan. Jadi maaf, tawaranmu tidak menggiurkan," ujar Zoya yang membuat Lily tertawa geli.
"Apa kamu ingat nomer ponsel suamimu? Biar kami hubungi dia," ujar Seena kembali.
"Itu dia, aku tidak hapal. Tapi aku ingat alamat rumah kami," ujar Zoya lalu terdiam menatap Seena. "Tante, apakah aku boleh minta tolong?" tanyanya.
"Mau minta tolong apa, Sayang?" tanya Seena mengusap kepala Zoya.
"Apa Om dan Tante bisa mengantarku pulang? Aku sangat khawatir pada suami dan anakku. Pasti mereka sekarang sangat sedih aku hilang." Tiba-tiba air mata Zoya terjatuh. Ia sungguh merindukan Nio dan Rasya. Ia ingin sekali memeluk ayah dan anak itu.
"Sudah, jangan menangis." Seena mengusap air mata Zoya. "Setelah keadaanmu membaik, kami janji akan mengantarkanmu. Cepatlah membaik jadi kamu bisa pulang segera."
Zoya pun hanya mengangguk. Ia juga berharap cepat sehat dan tak ingin keluarganya melihat keadaan dirinya yang begini.
**
Hampir satu minggu setelah sadar, keadaan Zoya sudah semakin membaik. Ia juga sudah mulai jalan meski dibantu dengan kruk, begitu juga dengan tangannya yang mulai membaik, meski Masih harus menggukan penyanggah. Wanita itu kini tengah duduk di halaman depan, menatap laut yang begitu menenangkan. Hingga tiba-tiba Angla duduk di samping wanita itu.
"Pemandangan di sini indah sekali," ujar Zoya pada lelaki itu.
"Iya, karena itulah kami betah tinggal di sini daripada di kota," sahut Angla yang sama menatap ke arah laut yang sedikit berombak.
"Bahkan sampai lupa dengan keponakan, 'kan? Melupakan Vani-mu yang ditinggal sendirian?" tanya Zoya yang membuat Angla menoleh dengan tatapan terkejut.
"Va-ni?" tanya Angla terkejut.
"Va-Vani? Kamu benar-benar Vani?" tanya Angla dengan wajah masih terkejut.
"Zoya Maharani Lavani. Itu namaku. Bukankah nama Zoya itu Om yang berikan? Kenapa Om lupa akan hal itu? Bukankah Om berkata bahwa aku adalah cinta, kehidupan dan keberkahan?" tanya Zoya kembali.
"Ka-kamu benar-benar Vani? Ya Tuhan, Zoya-ku." Angla memeluk keponakannya yang telah lama tak berjumpa.
"Kenapa Om meninggalkanku? Apakah Om tidak tahu bahwa aku dibuang oleh keluarga Lavani karena mereka bilang aku bukan anak papa." Adu Zoya yang sejak lama ingin sekali mengatakan itu pada omnya.
"Ya Tuhan, kamu benar-benar Vani." Angla menangis memeluk keponakannya. "Kamu anak papamu, Sayang. kamu anak kandungnya. Jangan percaya kata-kata orang itu."
Zoya memeluk erat omnya. Ia menangis cukup keras sebab merasakan perasaan yang campur aduk. Akhirnya, om satu-satunya yang sayang apdanya telah ditemukan.
Ya, dia Angkasa Lavani, adik dari Samudera Lavani yang adalah paman satu-satunya Zoya dari pihak sang papa. Angkasa atau biasa dipanggil Angla itu dulu ikut kecelakaan dengan sang kakak juga kakak iparnya, lalu ia menghilang tanpa Zoya tahu di mana selama enam belas tahun lamanya. Namun kini, ia menemukan sosok pengganti ayahnya itu.
Sejak awal, Zoya merasa bahwa laki-laki adalah pamannya. Meski dulu usianya masih lima tahun, Zoya tetap ingat bagaimana indah bola mata sang paman yang berwarna abu-abu. Belum lagi, saat memperkenalkan diri ia mengatakan bahwa namanya Angla, bukan Angkasa. Angla adalah panggilan keluarga, begitu juga Zoya yang dipanggil Vani oleh kakeknya, Lavani Dirgantara. Vani adalah panggilan spesial dari nama Lavani, sebab Zoya adalah cucu pertama di keluarga Lavani saat itu.
Zoya juga tanpa sengaja menemukan foto dirinya saat kecil di ruang keluarga. Saat itu ia ingin sekali mengatakan langsung, tetapi ia merasa waktunya belum tepat.
Mendengar suara tangis, Seena dan Lily buru-buru keluar. Mereka terkejut melihat Angla memeluk Zoya dengan begitu erat.
"Angkasa Lavani! Bisa-bisanya kau mengkhianati cintaku di depan mataku sendiri!" Dengan emosi Seena menarik rambut belakang Angla hingga lelaki itu memekik melepas pelukannya. "Dasar laki-laki kurang ajar! Berani sekali kamu menduakanku dengan dia! Kurang apa aku sebagai istri, Angkasa!" teriak Seena dengan terus memukul tubuh suaminya.
"Sayang, aku bisa menjelaskan." Angkasa terus mencoba menjelaskan pada istri kesayangannya itu.
"Mau menjelaskan apa, hah?! Kau ingin menikah lagi? Ceraikan aku!" teriak Seena dengan terisak.
"Tante, jangan pukul Om." Zoya mencoba melerai begitu juga Lily yang kini menatap tajam Zoya.
"Kamu lagi! Sudah ditolongin justru ini balasanmu? Kau benar-benar jahat, Zoya! Aku sudah menemani dia selama enam belas tahun, dengan mudahnya kamu memisahkan kita." Seena menangis dengan terduduk di lantai. Melihat itu, Angkasa menghela napasnya. Ia Dekati sang istri, lalu ia peluk. "Lepaskan aku, Angla! Aku jijik dipeluk olehmu!"
"Astaga, aku memeluk keponakanku sendiri, Seena. Kenapa kamu berlebihan gini?" tanya Angkasa mengusap punggung istrinya. "Dia Vani, keponakan yang sering aku ceritakan padamu."
Mendengar itu Seena menghentikan isakannya. Ia mencoba melepas pelukan sang suami dan menatap laki-laki itu. "Vani? Keponakanmu? Jangan bohong!" Wanita itu memukul dada suaminya hingga ia meringis. "Kita tahu bahwa Vani telah meninggal!"
"Eh, siapa yang bilang aku sudah meninggal? Astaga, ini aku masih hidup," protes Zoya mendengar itu.
Angkasa menghela napas dengan berat. Ia mengajak semua untuk masuk dan duduk di ruang keluarga. Lelaki itu mulai bercerita kisah yang tak diketahui oleh Zoya.
"Satu tahun setelah kecelakaan itu, Om kembali ke kediaman Lavani. Om bertanya pada Paman Regi tentang keberadaan kalian. Mereka berkata bahwa keluarga Mas Samudera telah meninggal, termasuk kamu yang katanya sakit-sakitan setelah kepergian orang tuamu lalu kamu ikut menyusul mereka," ujar Angkasa yang membuat Zoya terkejut. "Mereka membawa kami ke makam orang tuamu bahkan ada makammu di sana," sahutnya lagi.
"Ya Tuhan, jahat sekali Opa Regi," omel Zoya dengan air mata terjatuh.
Angkasa mengusap kepala Zoya dengan lembut, juga menghapus air mata sang keponakan. "Sejak tahu kalian telah meninggal, Om memutuskan untuk pergi dari kota dan menepi ke sini bersama Seena. Dia juga yang telah menyelamatkan Om dari maut. Andai Om tak ditolong tantemu ini, mungkin Om benar-benar menyusul orang tuamu," ujarnya.
"Mereka tak pernah bilang bahwa Om pernah datang. Bahkan mereka membuangku dan berkata bahwa aku bukan anak Papa. Sampai akhirnya aku dititipkan di rumah Om Deon." Zoya pun menceritakan kisah hidupnya selama ini.
Sesekali wajah mereka terkejut dengan apa yang terjadi pada Zoya. Bahkan Seena juga Lily menangis sesegukkan seakan mereka membaca novel yang menyedihkan. Tangan Angkasa pun mengepal dengan kuat mendengar bahwa keponakan kesayangannya diperlakukan tak adil seperti itu. Ia berkata bahwa ia akan membalas orang-orang yang telah menjahati keponakan kesayangannya itu.
"Apa kalian tidak tahu bahwa aku ini seorang artis ternama? Bahkan wajahku selalu muncul di internet dan televisi," ujar Zoya heran.
"Kami memang tak menggunakan smartphone atau televisi. Karena menurut kami tak banyak manfaatnya. Jadi, kami tidak tahu bahwa keponakan kami ini ternyata seorang artis ternama," ujar Seena yang tertawa kecil. Ia tersenyum memeluk Zoya dengan penuh kasih sayang. "Kami sangat bahagia setelah tahu kamu masih hidup dan baik-baik saja."
"Iya, Om sangat bahagia karena Vani-nya Om tumbuh dengan begitu kuat dan sangat cantik." Angkasa pun memeluk Zoya juga Seena berbarengan.
"Hey, aku dicuekin," omel Lily yang membuat ketiga orang dewasa itu tertawa.
"Ke marilah, adikku." Zoya merentangkan tangannya yang langsung dipeluk Lily.
"Akhirnya aku punya kakak perempuan! Mama dan Papa tidak mau memberiku adik!" pekik gadis itu yang membuat yang lain tertawa.
Takdir memang segitu misteriusnya. Zoya sungguh tak mengira bahwa perubahan atas dirinya bisa merubah begitu banyak takdir. Andai di kehidupan lalu ia melakukan ini, pasti ia juga akan bertemu omnya sebelum kematian datang.
Zoya tersenyum seraya mengucap terima kasih pada Tuhan. Karena-Nya, ia bisa bertemu satu-satunya keluarga yang mencintainya. Ia sangat bersyukur atas apa yang terjadi, meski harus mendapat luka seperti sekarang dan harus berpisah cukup lama dengan Nio dan Rasya.
Semoga kalian baik-baik saja. Tunggu aku pulang, Sayang-sayangku.