
"Zoya Maharani Lavani! Berani sekali ya mengabaikan suamimu!" teriak Nio yang membuat istrinya terkejut setengah mati.
Wanita cantik itu berbalik dan tersenyum malu melihat wajah suaminya yang kesal di ponsel milik Jessica. Buru-buru Zoya meraih benda pipih tersebut dan berlari kecil menuju dekat kolam renang. Ia juga mengusir tukang kebun yang tengah bersih-bersih di sana.
"Mas Nio," sapa Zoya tersenyum.
"Punya peliharaan baru sampai lupa pada suamimu, ya?" tanya dengan wajah kesal.
"Hehehe, maaf Mas. Aku hanya sedang melihat harimau putihku. Dia sangat lucu. Kamu harus melihatnya! Rasya saja sangat gemas!" seru Zoya dengan antusias.
"Ck! Kamu tidak pernah seantusias ini jika bersamaku. Kamu lebih mencintai kucing putih itu?" tanya Nio tak terima.
"Cemburu kok sama bayi harimau," cibir Zoya.
"Zoya Maharani Lavani!" Lelaki itu merajuk.
"Iya, iya, maaf Mas. Jangan ngambek dong. Jelek Mas kalau marah," ujar Zoya tertawa kecil. "Sebelum Jessica datang tadi aku rencana mau ke kamar ambil ponsel dan ingin menghubungi Mas. Beneran deh. Lagipula Rasya baru tidur jadi aku minta ajari Shenna untuk dekat dengan harimau putih itu."
"Shenna? Siapa dia?" tanya Nio.
"Ah, dia dokter hewan yang akan merawat si Putih. Aduh, aku belum kasih nama. Kira-kira siapa ya?" tanya wanita muda itu yang masih tak menyadari suaminya sudah sangat kesal.
"Lama-lama aku buang ya harimau putih itu!" ucap Nio kesal.
"Ih, Mas kok gitu? Dapetin dia susah loh. Giliran sudah dapat mau dibuang." Zoya pun sama kesalnya.
"Haish! Buaya Darat pergi, sekarang anak raja hutan yang jadi sainganku," gumam Nio yang menggeleng. "Oke, lupakan kucing itu. Bagaimana keadaan Rasya? Apa baik-baik saja?" tanyanya pada sang istri.
"Rasya sudah tidak demam. Tapi masih rewel dan tidak mau ditinggal. Mas gak perlu khawatir," jawab Zoya.
"Syukurlah. Bagaimana denganmu? Aku sangat khawatir sejak pagi tak ada kabar darimu," sahut ayah satu anak itu.
"Seperti yang Mas lihat, aku bahagia dan sehat," jawab Zoya antusias. "By the way, terima kasih atas hadiah mustahil ini, Mas. Aku sangat bahagia. Salah satu impian konyolku terwujud. Semoga saja impian konyolku yang lain menyusul," kekeh Zoya.
Nio tersenyum menatap wajah istrinya yang berbinar. "Aku bahagia melihatmu tersenyum, Cheriè. And I really miss you so much."
"I miss you too Mas. Semua baik-baik saja 'kan, di sana?" tanya Zoya dengan mata yang berkedip-kedip lucu membuat Nio gemas.
"Nio! Tehmu dingin ini," teriak Aurora yang membuat alis Zoya terangkat satu.
"Mas lagi sama Aurora?" tanya Zoya, padahal jika dilihat kini suaminya sedang di kamar hotelnya.
"Ah, iya. Ada urusan dengannya," jawab Nio salah tingkah.
"Berduaan di kamar?" tanya wanita muda itu lagi dengan wajah horornya.
"Nio! What are you doing?" terdengar kembali suara Aurora hingga akhirnya wanita itu terlihat di kamera. "Ah, ternyata lagi video call dengan Zoya Lavani. Apa kabar ibu satu anak?" Dengan tanpa bersalahnya Aurora memeluk Nio dari belakang.
"Rora!" Nio mencoba melepaskan gadis itu tapi justru si wanita semakin mengeratkan pelukannya.
"Kita belum selesai loh, Sayang. Kamu ngapain menghubungi istrimu itu. Ayo, kita lanjutkan urusan kita lagi." Aurora mengerlingkan satu matanya pada Zoya yang kini wajahnya memerah.
"Hey! Lepaskan suamiku, Sialan!" teriak Zoya penuh emosi.
"Berisik sekali kamu ini," omel Aurora pada Zoya. "Kau mengganggu acara kami berdua, tahu tidak!"
"Mas Nio!" teriak Zoya dengan mata berkaca-kaca.
"Mas jahat!" Dengan kesal Zoya mematikan panggilan yang membuat Nio panik tak terkira.
"Naomi Aurora!" Nio menatap nyalang sahabatnya itu.
"Apa, Sayang?" Aurora mendekat dengan menyentuh dada sahabat dan ia usap seduktif.
"Jangan seperti ini. Aku menghargaimu sebagai sahabatku. Jangan melewati batasmu!" Nio meraih tangan Aurora dan menghempaskannya.
"Aku mencintaimu, Nio. Tinggalkan wanita itu dan kita bersama. Aku juga tidak masalah menjadi ibu Rasya," ujar Aurora.
"Berhenti bicara omong kosong, Rora! Aku sudah katakan, lupakan perasaanmu itu karena aku tidak akan bisa membalasnya. Aku mencintai istriku!" seru Nio dengan tatapan penuh amarah.
**
Zoya berkaca-kaca. Hatinya sangat panas melihat bagaimana Aurora memeluk suaminya. Napasnya memburu dengan tangan gemetar. Setitik air mata terjatuh di pipinya. Ia tak suka ada wanita yang dekat dengan Nio apalagi Aurora. Hatinya sakit dan ingin sekali mencingcangnya.
"Jessy!" teriak Zoya dengan menghapus air matanya.
"Ada apa, Nyonya?" tanya Jessica menghampiri Zoya.
"Hubungi Langit. Katakan padanya untuk memesan tiket pesawat untukku dan Rasya. Cari penerbangan yang paling awal jadwalnya," ujar Zoya.
"Hah? Tiket pesawat?" tanya Jessica bingung.
"Iya. Apa kamu tuli!" seru Zoya dengan amarah meledak.
Jessica bahkan sampai menelan salivanya dengan susah melihat bagaimana marahnya Zoya. Sejak beberapa bulan melihat sang nyonya tenang, kini ia melihat sisi mengerikannya lagi.
"Kenapa bengong? Cepat hubungi Langit!" omel Zoya kembali.
"Ba-baik, Nyonya," jawab Jessica tetapi dia justru masih diam di tempat.
"Kenapa diam?" tanya Zoya dengan kesal.
"I-itu, ponsel saya di pegang Nyonya."
Zoya menatap benda pipih yang ia cengkram dari tadi. Dengan berdecak wanita itu memberikan alat komunikasi itu.
"Katakan pada pelayan untuk menyiapkan keperluan kita berdua. Dan katakan pada Langit untuk menyiapkan 3 pengawal," ucap Zoya sambil berlalu.
"Baik, Nyonya." Jessica pun menghubungi Langit dan menjelaskan semua keinginan sang nyonya.
"Ada apa, Jess? Kenapa Nyonya tiba-tiba Minta terbang ke Singapura?" tanya Langit.
"Aku juga tidak tahu, Langit. Sudahlah cepat cari tiket untuk Nyonya dan Tuan Kecil. Nyonya juga bilang siapkan tiga pengawal untuk menjaganya," sahut Jessica.
"Baiklah, kalian siapkan keperluan Nyonya. Aku akan menyiapkan jet pribadi milik Tuan. Sepertinya menggunakan pesawat komersil agak risk."
"Terserah padamu saja bagaimana, asal jangan lama-lama. Nyonya pasti ngamuk lagi."
Setelah selesai menghubungi Langit, Jessica meminta pelayan untuk menyiapkan keperluan sang nyonya dan tuan kecilnya.
"Ada-ada saja Nyonya Muda ini." Jessica memijat dahinya. Setelah riuh dengan kedatangan harimau putih, kini dengan gampangnya meminta terbang ke Singapura. Untung saja tak perlu menggunakan visa, jika tidak kerjaan Langit akan sangat berat.
"Rasya, ayo siap-siap. Kita harus melindungi Papa dari pelakor kelas paus. Kamu tidak boleh punya ibu tiri! mamamu cuma Mama Zoya saja!" Bocah yang diajak bicara justru hanya mengedip-ngedip lucu merasa bingung apa yang dikatakan ibunya.