
"Iya. Aku sebenarnya tidak bisa masak, Mas. Tapi, aku ingin masak untukmu. Jadi, aku mencoba dan ternyata lumayan sulit," jawab Zoya tertawa kecil. "Ini sebagai tanda maafku sebab tadi pagi reflek menendang Mas Nio. Aku minta maaf, ya. Aku cuma kaget dan reflek melakukan itu. Mas jangan marah lagi," katanya dengan wajah sedih. "Maaf juga ya, Mas, kalau makanannya gak enak ini pertam—"
Perasaan bahagia yang membucah mendengar kata-kata manis Zoya sungguh membuat Nio tak tahan untuk mencium bibir ranum itu, Nio membenamkan bibirnya menyatu dengan bibir sang istri. Bukan hanya menempelkan, Nio bahkan berani menghisap bibir bawah istrinya begitu lembut seakan ia menunjukkan perasaannya yang bahagia.
Zoya sendiri jangan ditanya seberapa terkejutnya dia. Bahkan tangannya sampai gemetar karena ciuman dadakan yang diberikan suaminya.
Cukup lama lelaki itu menciumnya, hingga Nio pun tersadar. Buru-buru ia lepas pungutannya dengan napas keduanya yang terengah. Nio tatap mata Zoya yang berkaca-kaca. Entah apa yang dirasakan wanita itu, membuat Nio salah paham menafsirkannya lagi. Ia berdiri mengacak rambutnya frustasi. Zoya pasti kecewa dan merasa dilecehkan kembali.
"Maafkan aku, Zoya. Aku sungguh tak sengaja," ujar Nio menatap istrinya yang masih diam menunduk. Lelaki itu sungguh merasa bersalah karena seenaknya mencium tanpa izin.
Nio berjongkok di depan istrinya. Ia raih tangan wanita itu dan menggenggam dengan erat. "Maaf," lirih Nio kembali. "Maaf karena seenaknya menciummu tanpa izin. Aku ... aku terbawa suasana. Kata-katamu, perbuatanmu hari ini sungguh membuatku tak tahan dengan perasaan yang membuncah ini."
Zoya menangis rersedu-sedu mendengarnya. Nio pun panik. "Zoya, maafkan aku. Aku janji akan menjaga diriku untuk tidak menyentuhmu lagi. Jangan menangis."
Zoya menatap suaminya. Terlihat guratan kekhawatiran di wajah tampannya.
"Mas gak jijik sama aku?" tanya Zoya dengan sesegukkan.
Mendengar itu wajah khawatir Nio justru berubah bingung. "Maksudmu apa?" tanya Nio.
"Aku wanita bekas, Mas. Bagaimana bisa Mas menyentuhku. Tubuh ini sudah dijamah laki-laki sialan itu," ujar Zoya dengan sesegukkan. "Bahkan aku sendiri jijik dengan tubuh ini. Andai bisa aku tukar, ingin sekali aku menukarnya." Wanita itu semakin tersedu-sedu setelah mengatakan itu.
"Aku gak layak untuk Mas yang menjaga diri. Aku gak pantas disentuh Mas." Zoya menutup wajahnya dengan rasa yang begitu sakit.
"Lihat aku, Zoya." Nio mengangkat dagu ibu satu anak itu hingga mata keduanya bertemu. "Jangan bicara seperti itu, kamu sangat berharga. Entah itu tubuhmu atau yang ada pada dirimu. Aku sama sekali tidak berpikir buruk tentangmu," ujarnya dengan lembut.
"Ta-tapi aku sudah menyakiti Mas sejak lama. Aku bahkan selalu berlaku kasar pada Mas dan Rasya. Kenapa Mas tetap mempertahankanku? Mas bisa dapat yang jauh lebih baik dariku," isak Zoya dengan tatapan sedihnya.
"Jika aku berkata bahwa aku mencintaimu apa kamu percaya?"
Zoya tertegun mendengarnya. Meski di kehidupan sebelumnya ia sempat mendengar bahwa lelaki itu mencintainya, tetapi ia merasakan hal Yang berbeda. Jika di kehidupan lalu Nio mengatakan dengan penuh amarah, kini lelaki itu mengatakan dengan begitu lembut.
Nio tersenyum mengusap air mata sang istri. "Ya, aku mencintaimu, Zoya. Bahkan sebelum kejadian malam itu terjadi."
Mendengar itu, Zoya terkejut. Sebelum kejadian naas itu?
"Boleh aku menceritakan kejadian yang sebenarnya? Alasan yang membuat kita menjadi seperti sekarang? Penjelasan yang tak pernah kamu mau dengar hingga kebencianmu padaku juga Rasya begitu besar?" tanya Nio menatap istrinya.
"Maksud Mas apa? Mas melakukan itu karena memang mau, 'kan? Mas juga bilang Mas mencintaiku sehingga pasti ingin memilikiku meski dengan cara menjijikan itu!" cecar Zoya.
Jika ingat kembali kejadian malam itu, sungguh ia sangat membenci Nio. Gara-gara lelaki itu hidupnya hancur berantakan.
"Tidak begitu, Zoya. Kamu harus mendengarnya dulu, agar kamu tahu semuanya dan tak terus salah paham padaku."
Akhirnya dengan pasrah Zoya mengangguk, mencoba dengan lapang mendengar kejadian naas itu dari mulut si pelaku langsung.