Another Chance

Another Chance
Bab 47



"Ka-kapal yang ditumpangi Nyonya tenggelam, Tuan."


Jantung Nio seakan berhenti mendengarnya. Lelaki mundur dengan raut wajah terkejut menatap Langit.


"Jangan bercanda, Langit!" Sekali hentakan ia cengkram jas milik asistennya.


"Petugas bilang, kapal terakhir yang berlayar pukul dua siang menuju Batam. Saya sudah cek juga bahwa ... Nyonya memang salah satu penumpang di kapal itu bersama Jordan. Kini, kapal tersebut tengah dievakuasi dan nama Nyonya adalah salah satu korban yang hilang," ujar Langit menjelaskan.


Mendengar itu Nio kembali mundur dan tiba-tiba tubuhnya ambruk. Ia usap dahinya dengan wajah yang sangat terkejut. Ia tak percaya bahwa istrinya akan mengalami hal buruk.


"Aku harus mencari Zoya! Dia pasti kedinginan jatuh ke air. Iya, aku harus menyelamatkannya." Nio beranjak lalu menghampiri Langit kembali. "Sewa kapal untuk ke lokasi kapan tenggelam sekarang juga! Saya harus menolong istri saya."


"Tuan, ini sudah senja. Lagi pula sudah ada tim SAR yang mencari. Lebih baik kita tunggu ka—"


Tubuh Langit terpental saat mendapatkan bogem mentah dari Nio. "Kau pikir istriku akan tahan bermalam dalam air, hah!" bentak Nio penuh amarah. Bisa-bisanya Langit berkata harus menunggu di saat nyawa istrinya terancam.


Mendengar keributan tersebut orang-orang di sana menatap Nio yang terlihat begitu marah.


Langit berdiri, lalu meminta maaf atas kelancangannya untuk ikut campur. Setelah itu ia menghubungi pengusaha penyewa kapal untuk dipakai sore ini juga. Beruntung Nio memiliki banyak kolega sehingga mudah mendapatkan apa yang dimau.


Tak membutuhkan lama, sebuah speed boat cukup besar telah terparkir. Kapal luxury itu dapat menampung sepuluh orang lebih dan sudah disediakan segala kebutuhannya. Pemilik rumah produksi film itu naik ke kapal beserta pengawal serta tim SAR yang menemaninya. Setelah itu tak lama kapal mewah itu melaju menuju lokasi di mana kapal feri yg membawa Zoya tenggelam.


Hati Nio sangat gelisah. Ia hanya bisa berdoa semoga istrinya selamat dan baik-baik saja. Lelaki tampan itu menatap langit yang berwarna jingga. Dadanya sangat sesak mengingat tadi pagi mereka masih saling tatap dan saling menunjukkan rasa cinta. Namun kini, ia harus kehilangan jejak istrinya.


Hanya dibekali jejak GPS dari kalung Zoya, mereka mencari keberadaan wanita itu. Nio berharap istrinya selamat dan kini berada di tempat yang aman.


Dada lelaki seakan berhenti saat melihat bangkai kapal yang terbalik. Ia sungguh panik dan memikirkan keadaan istrinya. Ia mondar mandir dengan gelisah ketika speed boatnya memutar mencari sinyal yang diberikan dari kalung berlian itu.


"Kalungnya ada di dasar laut," ujar Langit dengan tubuh mendingin. Ia merasa takut seketika sebab dari kalung itu tak ada pergerakan.


"Apa?!" sentak Nio. "Zoya tenggelam? Aku harus menyelamatkannya." Lelaki itu hendak meloncat, tetapi tubuhnya ditahan oleh Langit.


"Jangan gegabah, Tuan. Langit sudah akan mulai gelap. Biarkan tim SAR yang masuk ke dasar laut," ujar Langit mencoba menenangkan sang atasan yang terserang panik.


"Lepaskan saya! Saya tidak mungkin membiarkan Zoya tenggelam di sana!" teriak Nio dengan air mata yang luruh. Kepalanya benar-benar tak bisa berpikir jernih. Yang ia pikirkan hanyalah bagaimana bisa menyelamatkan Zoya. Ia tak ingin terjadi sesuatu hal yang buruk pada istrinya.


Mereka pun bersiap untuk menyelam. Mengganti pakaian, lalu mengenakan alat khusus menyelam, terutama tabung oksigen. Setelah siap, lima anggota tim SAR itu melompat ke laut dan menyelam. Nio sendiri akhirnya menunggu dengan harap-harap cemas. Ia berharap bahwa istrinya kuat dan bisa naik ke permukaan dengan selamat.


Cukup lama mereka menunggu, membuat Nio tak sabaran. Namun, Langit kembali menenangkan sang tuan dengan mengatasnamakan Rasya.


"Jika Tuan menyelam dan sakit bagaimana? Anda harus selalu kuat, Tuan. Ini demi Tuan Muda. Jika Anda sakit, Anda juga tak bisa mencari Nyonya," ujar Langit yang melihat tuannya akan melompat dengan tak sabarannya.


"Bagaimana aku bisa diam, Langit! Saat istriku tenggelam! Dia pasti kedinginan sekarang," sahut Nio dengan dilanda kekhawatiran. Seumur hidupnya, ia tak pernah sepanik ini kecuali saat Zoya mengalami pendarahan pasca melahirkan. Itu saja membuat Nio mendapat serangan panik. Apalagi kini wanita kesayangannya hilang dan dalam keadaan bertaruh nyawa antara hidup dan mati. Ia tak mungkin hanya menatap seperti sekarang.


"Saya paham sepanik apa Tuan. Tapi, pikirkan Tuan Muda jika Tuan kenapa-kenapa. Kita harus berpikir jernih," sahut Langit yang masih memegangi tubuh tuannya yang terus berontak ingin terjun ke dalam lautan.


Hingga tiba-tiba para tim SAR yang menyelam kembali naik. Namun, mereka tak membawa tubuh Zoya, membuat Nio semakin panik dan gelisah. Ketika lima orang itu naik, Nio langsung menghampiri.


"Bagaimana? Kalian menemukan istri saya?" tanya Nio dengan wajah pucatnya.


Salah seorang penyelam menunjukkan sebuah kalung. Itu kalung yang dipakai Zoya. Buru-buru Nio ambil.


"Kami hanya menemukan kalung ini tersangkut di salah satu besi. Setelah kami cari, kami tidak menemukan istri Anda, Tuan. Kemungkinan Nyonya Zoya tenggelam sebab beliau tak ada dalam sekoci yang sampai di dermaga," ujar salah satu tim SAR.


Mendengar itu dada Nio semakin sesak. Emosinya memuncak. Lelaki itu mencengkram pakaian petugas dengan mata memerah berlinang air mata. "Kalian harus cari istriku! Aku akan memberikan apa pun jika kalian menemukannya."


"Tuan, tenanglah." Langit mencoba melepas sang atasan yang di luar kendali.


Nio pun memberontak hingga cekalan Langit terlepas. Ia teriak dengan perasaan hancur lebur. Tubuhnya terduduk dengan lemah. Bahunya berguncang menandakan air mata berjatuhan dengan begitu deras hingga napasnya tersegal. Ia menangis. Membayangkan istrinya tenggelam di laut yang luas dan dalam ia tak sanggup.


"Cheriè ...." Nio terisak mencengkram kalung milik istrinya. "Tuhan, selamatkan istriku. Aku tidak sanggup kehilangan dia."


Langit sendiri merasa sangat sedih melihat atasannya yang biasa berwibawa dan ceria tampak begitu lemah. Ia usap air mata yang terjatuh di pipinya. Hatinya terasa sesak membayangkan tuannya yang hancur apalagi tuan mudanya. Baru saja bocah itu mendapatkan kasih sayang ibunya, kini justru harus kehilangan lagi.


Langit melangkahkan kakinya mendekat pada sang atasan. Ia jongkok menyentuh bahu lelaki yang kini begitu hancur. Ia angkat tubuh tegap itu untuk berdiri. "Tuan, saya janji akan mencari Nyonya sampai ketemu. Anda jangan khawatir, saya percaya bahwa Nyonya akan baik-baik saja. Kuatlah, Tuan. Kita harus tetap berdiri tegap mencari keberadaan Nyonya dan menguatkan Tuan Muda."


Nio masih bergeming memeluk kalung itu. Ia teringat pagi tadi masih melihat istrinya tersenyum, memeluknya dan menciumnya. Wajah ceria Zoya sebelum pergi tadi pagi masih tercetak jelas di ingatannya. Namun, kini ia kehilangan wajah cantik yang selalu ia rindukan itu. Ia kehilangan pelukan hangat yang diberikan wanita itu. Apa ia sanggup hidup tanpa Zoya?


"Cheriè, kembalilah ... aku tak sanggup tanpamu. Bagaimana hari-hariku tanpa senyumanmu? Kembalilah, Sayang ...."