
...2 tahun lalu .......
Di sebuah hotel bintang lima, pesta besar digelar. Seorang pemilik stasiun televisi mengundang orang-orang penting dalam bidang entertainment merayakan keberhasilan award yang mereka adakan terlaksana dengan sukses. Banyak Artis ternama, produser film, dan orang-orang terkenal di setiap bidang datang. Tak terkecuali Zoya Maharani Lavani yang menjadi Bintang pada malam itu. Gadis berusia 19 tahun itu mendapat penghargaan sebagai pemeran utama wanita terbaik dengan film terakhirnya yang sukses. Sudah tiga tahun ini ia mendapatkan gelar peraih award tersebut. Bukan hanya mendapat sebagai pemeran utama wanita terbaik, ia juga mendapat award kategori lagu soundtrack terbaik yang kala itu memang dirinyalah yang menyanyikan lagu dalam filmnya.
Semua orang saling mengucapkan selamat kepada gadis berprestasi itu. Tak lupa memuji aktingnya yang luar biasa menjadi seorang pecandu narkoba yang berjuang untuk kembali hidup normal. Bahkan, untuk peran itu Zoya sampai rela menguruskan badannya, lalu membuat kulit putih seperti susunya menjadi gelap seakan tak terurus. Bukan hanya itu, untuk mendalami peran, gadis cantik pemilik mata bulat tersebut tinggal selama satu bulan di yayasan rehabilitas narkotika.
Semua orang selalu takjub dengan apa yang disuguhkan Zoya di layar besar bioskop maupun Layar kaca atau series online. Penggemarnya pun bukan hanya anak seusianya, melainkan dari berbagai umur, bahkan banyak orang tua yang menjadikan Zoya sebagai role model untuk anak-anak mereka.
Saking dicintai banyak orang, Zoya mendapat sebutan artis sejuta cinta sebab ia memang sangat digandrungi berbagai kalangan juga gender.
"Selamat Zoya atas awardmu," ujar salah seorang produser ternama pada gadis cantik dengan gaun berwarna emasnya.
"Terima kasih, Pak," jawab Zoya sopan dengan senyuman hangat.
"Kapan kamu bermain di film saya, Zoya? Saya begitu sulit untuk mengajakmu bermain di film-film saya," sahut lelaki itu lagi.
"Bapak bisa bicara dengan manager saya terlebih dahulu, karena semua proses melalui beliau," jawab Zoya kembali dengan sopan.
"Baiklah, memang sepertinya harus mengantre untuk bisa mengajakmu bermain di film saya. Kalau begitu, saya permisi." Lelaki paruh baya itu pun berdecak kesal dengan jawaban Zoya. Rahangnya mengeras merasa jengkel sebab selalu ditolak aktris tersebut. Bukan kali ini saja ia mengajak Zoya bermain dalam filmnya, tetapi sudah sering bahkan melalui managernya. Namun, hanya ada penolakan yang ia terima selama satu tahun ini. "Dasar artis sok suci! Lihat saja, kariermu akan habis," ujarnya tersenyum sinis.
Zoya sendiri hanya menggeleng setelah kepergiannya. Siapa yang tak kenal dengan Reynold Adamson. Produser film yang selalu menyuguhkan film-film vulgar yang membuat Zoya meringis. Ia mana mau bermain di film yang bukan di ranah usianya apalagi jika film itu merusak mental yang menonton.
"Kenapa?" tanya Jingga—manager Zoya.
"Lelaki Tua Bangka itu nawarin lagi buat main di filmnya. Mbak awas aja berani ambil. Aku gak mau," tolak Zoya.
"Ih, siapa juga yang mau jerumusin kamu ke jurang? Bisa didemo Zoyamour Mbak kalau ngasih kamu film begituan," seru Jingga pada artis kesayangannya itu.
ZoyAmour adalah sebutan penggemar Zoya. Mereka bahkan memiliki officialnya dan Zoya sendiri sering mengadakan fanmeeting hingga para penggemarnya itu semakin mencintainya, apalagi ia memiliki sifat yang hangat juga mudah berbaur.
Jika banyak produser yang mencoba mendekati Zoya untuk menjadikannya artis dalam film-film mereka, berbeda dengan satu eksekutif produser muda yang kini justru menatap sang artis dari kejauhan. Arsenio Bagaskara, seorang produser muda yang terkenal tertutup itu tersenyum menatap gadis cantik yang usianya jauh berbeda tujuh tahun darinya. Lelaki berkacamata itu menatap penuh kekaguman aktris muda yang sedang bersinar itu. Apalagi yang ia dengar bahwa Zoya mendapatkan tawaran film di Hollywood sebagai perwakilan negara dalam film action yang melibatkan banyak aktris terkenal di berbagai belahan dunia.
Bukan tak mau Nio menjadikan Zoya sebagai aktris dalam film-filmnya. Ia hanya tak berani sebab rumah produksinya kala itu masih dalam jajaran PH kecil. Nio sendiri adalah salah satu penggemar Zoya sejak pertama kali gadis cantik itu terjun di dunia hiburan. Apalagi saat mereka tak sengaja bertemu dan Nio merasa bahwa Zoya benar-benar gadis sempurna yang membuatnya jatuh cinta. Karena Zoya juga dia memiliki sebuah rumah produksi film dan berharap Zoya bisa bermain di film yang naskahnya ia buat khusus untuk aktris cantik itu.
"Kamu nanti datang setelah saya bersama Zoya. Ingat, jus jeruk ini yang harus kamu berikan obat itu. Cukup bawa dua minuman agar tak tertukar," ujar laki-laki itu pada si pelayan.
"Baik, Mas."
"Good! Kalau gitu kamu segera siapkan segalanya. Aku akan ke sana sebentar lagi."
Pelayan laki-laki itu pergi meninggalkan si lelaki berjas tersebut. Tak lama, pria itu menelepon seseorang.
"Sebentar lagi Zoya akan kehilangan dunianya. Anda harus segera memberikan uang itu padaku," ujarnya dengan tersenyum sinis.
"Ok, jangan lupa siapkan juga segala sesuatu untuk kepergianku. Setelah melakukan itu, aku akan segera pergi dan tak akan membiarkan Zoya melihatku." Setelah selesai berbicara, ia menutup panggilan. Lelaki itu tersenyum ketika pelayan sudah memberinya kode.
Nio sendiri terkejut mendengar obrolan mereka. Ia sungguh panik karena korbannya adalah wanita yang sangat ia cintai.
"Tidak! Tidak boleh terjadi apa-apa padamu, Zoya!" ujar Nio akan pergi menyusul laki-laki tersebut.
Ketika hendak melangkah, segerembolan produser film datang menyapa Nio. Mereka mengajak Nio berbincang mengenai film yang kini sangat digandrungi para remaja.
"Film-film kisah cinta SMU atau cinta beda negara sekarang sedang tinggi-tingginya. Makanya aku ingin sekali menggaet Zoya untuk bermain di filmku. Sayangnya jadwal dia sudah penuh sampai akhir tahun nanti," ujar salah satu produser film turunan India itu.
"Ya, banyak sekali yang berminat mengejar Zoya dan Shailen untuk untuk film mereka. Dua artis itu jika disatukan pasti filmnya akan meledak," sahut yang lainnya.
Nio sendiri hanya menimpali dengan anggukan. Ia tampak khawatir dengan keadaan Zoya apalagi saat lelaki itu kini tengah berbincang dengan si gadis.
'Bagaimana aku menolongnya,' batin Nio dengan wajah yang resah.
Mata Nio membelalak saat tubuh Zoya dipeluk lelaki itu dan dibawa pergi entah ke mana.
"Saya permisi," ujar Nio tanpa peduli pada kumpulan produser itu. Ia tampak panik mencoba mengejar Zoya dengan laki-laki tersebut. Nio menyusuri setiap lorong hotel dengan wajah paniknya. "Sial!" umpat Nio saat kedua orang itu masuk ke lift dan meninggalkannya.
"Ya Tuhan, jaga Zoya," ujarnya risau dan langsung berlari menuju tangga darurat. Ia tak akan membiarkan lelaki itu menghancurkan hidup Zoya.