Another Chance

Another Chance
Bab 13



Pagi hari pun datang. Semua penghuni rumah kini duduk di meja makan untuk sarapan. Samantha menatap sinis menantunya yang kini fokus menyuapi sang cucu. Sedangkan Nio tampak diam melahap sarapannya.


"Anak Mama pinter makannya habis," puji Zoya pada Rasya yang telah menghabiskan buburnya.


"Silahkan, Nyonya." Jessica pun menyiapkan sarapan sang nyonya di meja.


"Terima kasih, Jessy. Aku titip Rasya sebentar," ujar Zoya beranjak untuk mencuci tangannya. Setelah itu ia kembali duduk dan melahap sarapannya dengan menu sehat andalan seperti biasa.


Ketiga orang di meja tampak hening melahap sarapannya. Hingga tiba-tiba wanita paruh baya itu memulai menabuh genderang perang.


"Aktingmu sungguh hebat, ya. Jika orang tidak tahu kamu adalah seorang artis pasti akan menyangka bahwa kamu adalah ibu luar biasa untuk Rasya."


Zoya menghela napas mendengarnya. Kembali sang mertua mulai berceloteh menyerangnya.


"Mom, jangan mulai," tegur Nio menatap sang mama.


"Apa? Memang Mommy melakukan apa? Memang betul, 'kan, dia bersikap baik hanya akting. Bisa saja dia memanfaatkan Rasya untuk menguasaimu dan setelah itu dia ambil hartamu dan meninggalkanmu bersama kekasih sialannya itu!" cecar Samantha.


"Mom!" Nio sungguh kesal dengan ibunya yang selalu memojokkan Zoya.


Zoya sendiri tersenyum menatap ibu mertuanya. Ia usap bibirnya dengan lap setelah menghabiskan sarapannya. "Mommy ini seorang cenayang, ya? Kenapa bisa tahu rencanaku?" tanya Zoya dengan tatapan seakan terkejut. "Ah, sepertinya aku harus membuat rencana baru supaya Mommy tidak tahu." Wanita muda itu tersenyum, lalu beranjak meninggalkan ruang makan.


"Lihatlah, keangkuhannya masih saja ada. Jangan terlalu melunak padanya, Nio. Kamu bisa diinjak-injak," cecar Samantha dengan perasaan jengkel.


"Sudahlah, Mom. Orang itu berubah bertahap. Tidak bisa langsung baik dalam satu hari. Apa Mommy tidak bahagia melihat Rasya disayangi ibunya? Ini adalah kemajuan luar biasa, Mom. Mommy bisa lihat betapa Rasya bahagia bisa terus bersama dan diberi banyak cinta oleh Zoya. Mommy jangan merusaknya. Kata-kata Mommy sungguh keterlaluan. Jika Zoya kembali membenci kami, bagaimana?" tanya Nio dengan lirih.


"Mommy sudah bilang, 'kan, ceraikan dia, Nio. Kamu bisa mencari wanita yang jauh lebih baik darinya. Untuk apa kamu memelihara wanita bertaring itu? Membiarkan dia di sini sama saja kita memelihara harimau atau ular yang sewaktu-waktu menyerang kita. Kamu tidak boleh percayakan Rasya seutuhnya pada dia!" seru Samantha menggebu-gebu.


"Mom, bicaramu sudah melantur ke mana-mana. Yang perlu Mommy ingat, aku tidak akan pernah mau bercerai dengannya. Selamanya Zoya akan menjadi istriku juga ibu dari Rasya. Buang jauh-jauh pikiran Mommy yang ingin memisahkan kita." Nio beranjak dari duduknya, lalu menghampiri sang mama. "Aku berangkat ke kantor dulu. Jangan berulah, Mom. Jika tidak, aku akan menghubungi Papa untuk menjemput Mommy," ujarnya lalu mengecup kening sang mama juga mencium tangannya.


"Ck! Gak perlu kamu sebut-sebut lelaki tua menyebalkan itu," gerutu Samantha kesal.


"Biarkan saja adikmu itu menjadi bulan-bulanan papanya, biar tidak jadi pergi ke Amerika," sahut Samantha.


Nio hanya bisa tersenyum dan menggeleng. Setelah mendengar keluh kesah sang mama, ia pamit untuk pergi ke kantor. Sebelum pergi, ia menghampiri istri juga anaknya yang kini di halaman belakang sedang berjemur sekaligus bermain.


"Rasya, sini." Nio tersenyum melihat anaknya yang tampak aktif berjalan meski perlahan. Dengan riang, bocah itu melangkah pada sang papa. "Ah, Jagoan Papa jalannya sudah banyak. Hebat." Lelaki berjas biru tua itu mencium gemas pipi sang anak setelah menggendongnya.


"Mas, mau berangkat?" tanya Zoya menghampiri suaminya.


"Iya. Aku titip Rasya, ya."


"Ih, Mas seperti ke siapa saja. Aku kan mamanya," gerutu Zoya.


"Iya, mamanya Rasya." Nio mengusap kepala Zoya, membuat wanita itu merona.


"Hari ini main sama Mama dulu, ya. Jangan rewel dan jadi anak baik. Papa berangkat kerja dulu." Nio menciumi wajah juga leher sang anak hingga bocah itu tertawa kegelian. Zoya sendiri begitu bahagia melihat bagaimana keakraban ayah-anak tersebut.


"Maafkan perkataan Mommy, ya. Aku harap kamu tidak sakit hati," lirih Nio menatap istrinya.


"Aku baik-baik saja. Mas tidak perlu khawatir," jawab Zoya tersenyum.


Nio pun ikut tersenyum dengan mengangguk. "Kalau ada apa-apa harus langsung hubungi aku. Apalagi jika Mommy berulah lagi," ujar Nio menyerahkan sang anak pada istrinya yang mengangguk. "Aku jalan dulu."


"Mas ...."


Tubuh Nio menegang saat tiba-tiba Zoya meraih tangannya lalu mengecupnya. "Hati-hati di jalan," ujar wanita itu tersenyum yang membuat jantung Nio berdebar brutal.


"Ah, i-iya. Aku jalan dulu." Dengan wajah salah tingkah Nio melangkahkan kakinya ke pintu utama meninggalkan anak juga istrinya. "Semoga jantungku aman." Ia terus mengusap dadanya yang berdebar dengan hebat.