
"Sssshhhh, pelan-pelan, Om." Zoya sedikit meringis saat Angkasa memeriksa kakinya. Lelaki itu memang sudah menjadwalkan pemeriksaan untuk sang keponakan. Hari ini memang sudah waktunya melepas perban di kaki mantan aktris itu.
Tangan Zoya pun sudah sembuh, tinggal kakinya yang masih sedikit nyeri karena memang tulang kaki wanita itu patah dan bergeser, sehingga cukup lama penyembuhannya.
"Udah membaik, kok. Cuma memang masih ngilu karena harus beradaptasi lagi. Setelah beberapa hari pasti akan normal kembali," sahut Angkasa saat melihat raut wajah khawatir suami dari keponakannya itu.
"Terima kasih, Om. Sudah rela jauh-jauh ke sini cuma mau memeriksaku. Harusnya aku yang datang ke pulau," ujar Zoya.
"Haish, kamu ini. Jangan dipikirkan soal itu. Lagipula Om ingin menengok keponakan Om ini." Angkasa mengusap ujung kepala wanita muda itu. "Untuk tangan apa masih ngilu?" tanyanya.
"Kalau tangan sudah baik, Om." Dengan wajah cerianya, Zoya menunjukkan tangannya yang luka kini sudah sehat.
"Syukurlah. Kamu harus hati-hati ya, karena bekas cidera, jadi tidak boleh mengangkat benda berat," ujar Angkasa. "Nio, jaga istrimu dengan baik. Dia masih tahap penyembuhan."
"Tentu, Om. Aku akan menjaga Zoya dengan baik," jawab Nio mengusap bahu istrinya.
"Baiklah, kalau begitu Om pamit dulu. Om harus ke salah satu rumah sakit untuk bertemu kawan lama. Jaga diri baik-baik, Vani." Kembali Angkasa mengusap kepala Zoya dengan begitu lembut, lalu mengecupnya.
Wanita itu juga meraih tangan sang paman, lalu mengecupnya dengan lembut. "Kenapa buru-buru sekali, Om? Aku masih kangen," rengek Zoya.
"Minggu depan Om datang lagi dengan tantemu juga Lily. Hari ini Om hanya di kota setengah hari, sore harus sudah sampai di pulau lagi karena ada pasien yang menunggu, Vani," ujar Angkasa menjelaskan pada keponakannya.
"Hhmmmm baiklah," jawab Zoya akhirnya dengan wajah lesu.
Melihat itu, Nio hanya tersenyum. Ia tahu sekali bahwa Zoya begitu merindukan keluarganya.
"Nanti aku ajak lihat sunset," bisik Nio yang membuat Zoya tersenyum.
"Kalau pawangnya sudah berbicara pasti luluh," ejek Angkasa yang membuat Zoya tersenyum malu. "Baiklah, Om pergi dulu. Jaga diri dan salam pada Nyonya Samantha." Lelaki tampan itu beranjak, dengan sepasang suami-istri itu mengantar sampai pintu utama.
"Hati-hati di jalan, Om." Zoya juga Nio melambaikan tangan saat mobil milik dokter ortopedi itu melaju meninggalkan hunian mewah keponakannya.
Setelah Angkasa pergi, Nio mengajak Zoya untuk masuk kembali. Ia meminta sang istri untuk bersiap-siap sebab lelaki itu ingin mengajak wanita kesayangannya kencan.
"Kita mau ke mana, Mas?" tanya Zoya yang sudah tampak begitu cantik dengan balutan kasualnya. Begitu juga Nio yang kini menggunakan pakaian kasualnya.
"Kita akan bersenang-senang, mumpung Rasya dibawa Mama juga Saira ke rumah Tante Clara," sahut Nio yang mendekat pada istrinya. Ia peluk kedua pinggan ramping wanita muda itu dengan tatapan penuh damba. "You're so gorgeous, Cheriè," pujinya yang membuat Zoya tersenyum.
Wanita cantik itu mengalungkan tangannya di leher sang suami dengan senyuman manis terbingkai di wajahnya. "And I know it," sahutnya jumawa
Nio semakin mengeratkan pelukannya, sehingga tubuh keduanya kini saling menempel satu sama lain. "Jadi malas keluar rumah. Maunya di atas ranjang saja denganmu, bagaimana?"
"No! Aku mau keluar. Aku bosan di rumah terus," rengek Zoya yang membuat Nio terkekeh.
"Selamat bersenang-senang, Tuan dan Nyonya," ucap Jessica tersenyum.
"Aku jalan dulu." Zoya melambaikan tangan pada kepala pelayan yang sudah ia anggap kakak itu.
Mobil Eropa dengan lambang T itu pun melaju meninggalkan rumah berlantai dua tersebut. Sepanjang jalan, Zoya menceritakan kegiatannya bersama sang anak ketika Nio tidak ada di rumah. Meski kegiatan sama yang mereka lakukan, lelaki itu tetap bahagia saat istrinya bercerita dengan begitu berbinar.
"Rasya benar-benar anak yang baik. Dia jarang sekali menangis. Ia selalu tertawa dan begitu aktif memainkan mainannya. Dia juga tidak pernah membanting atau merusak. Sungguh, Rasya adalah bayi paling menggemaskan." Zoya menangkupkan tangan di pipinya sendiri karena gemas membayangkan betapa lucunya anak yang ia lahirkan itu.
"Tentu saja Rasya manis. Lihat dulu siapa papanya," puji Nio pada dirinya sendiri yang pada akhirnya justru dicibir Zoya.
Sepanjang jalan itu mereka mengobrol banyak hal, sambil menatap gedung-gedung pencakar langit yang tampak indah dan modern. Zoya sangat suka melihat betapa indahnya ibukota kini. Banyak fasilitas umum yang terlihat begitu indah, apalagi sudah banyak juga taman-tsman yang diabngun sekadar untuk menikmati pagi atau sore bersama keluarga.
Alis Zoya terangkat saat melihat di mana sang suami memarkirkan mobil sportnya, yaitu di salah satu hotel bintang lima. Wanita itu mendengkus kesal. Ia pikir mereka akan berkencan ke mall atau tempat hiburan lain selayaknya pasangan yang berkencan, tetapi ini justru dibawa ke hotel. Untuk apa keluar rumah jika ujung-ujungnya 'ngamar' lagi?
"Loh, kenapa cemberut?" tanya Nio menatap istrinya.
"Mas yang benar saja, masa ngajak kencan check in. Kalau mau ngamar ya gak perlu ke hotel. Di rumah juga bisa!" omel Zoya dengan bibir yang maju, membuat Nio gemas. "Minimal nonton film gitu di bioskop seperti pasangan lainnya."
Mendengar itu Nio tertawa. "Ya lagian aku selalu tidak tahan jika berduaan denganmu. Jadi, aku selalu ingin 'ngamar'," kekeh Nio yang akhirnya mendapat tatapan tak suka istrinya.
"Males ah sama Mas Nio." Zoya melipat tangannya di dada. Ia sungguh bad mood jika begini caranya.
Nio yang melihat istrinya cemberut hanya tertawa kecil. Ia keluar dari mobil, berjalan ke sisi lain, hingga tak lama pintu mobil terbuka. Nio mengulurkan tangan tetapi tak ada respon dari Zoya. Wanita muda itu masih kesal dengan kejutan yang suaminya berikan.
"Ayo, Sayang. Aku jamin kamu pasti suka."
Akhirnya, mau tak mau Zoya menerima uluran tangan sang suami. Keduanya berjalan masuk hotel. Sejak diajak masuk, wajah wanita itu ditekuk saja karena bete. Sedangkan Nio hanya tersenyum gemas melihatnya.
Keduanya masuk lift, lalu Nio meminta petugas menekan tombol lantai teratas. Zoya masih mode diam yang justru bikin Nio tak henti menggodanya. Tak lama, pintu lift terbuka. Nio mengajak istrinya menuju lantai teratas yang dimiliki hotel tersebut. Hingga sampai di sana, Mata Zoya membelalak melihat pemadangan di depannya.
"M-Mas?" tanya Zoya menatap suaminya dengan tatapan tak percaya.
"Berhubung matahari masih agak lama terbenamnya, jadi aku berpikir untuk mengajakmu melakukan hal yang menyenangkan terlebih dahulu. Bagaimana?" tanya Nio dengan senyuman manisnya.
"Aku mau!" seru Zoya gembira.
pisual sekalian