
Malam telah datang. Zoya dan Nio kini tengah berbaring di perpaduan setelah menidurkan sang anak. Zoya sedikit khawatir dengan luka yang dialami suaminya, tetapi Nio berkata bahwa ia baik-baik saja.
Tak ada percakapan, hanya ada genggaman tangan dengan sentuhan lembut. Kondisi Zoya sendiri masih syok dikunjungi orang yang sangat ia benci. Wanita itu jadi lebih sering diam membuat suaminya merasa khawatir.
"Zoya," panggil Nio.
"Hhhmmm? Iya, Mas. Kenapa? Apa punggung Mas sakit?" tanya Zoya khawatir.
"Tidak, Cheriè," jawab Nio dengan mengecup lembut kening sang istri. "Aku ingin bertanya sesuatu. Hhmmmm tapi aku takut kamu gak nyaman," ujarnya hati-hati.
"Soal hubunganku dengan keluarga Mama?" tebak Zoya.
"Sebenarnya bukan aku ingin kepo, tapi melihatmu bersedih begini aku pun ikut sedih dan khawatir. Jika kamu ingin bercerita, katakanlah, Sayang. Kamu punya aku sekarang yang akan terus di sampingmu dan mendengarkan keluh kesahmu." Nio mengusap pipi istrinya yang masih diam tanpa menjawab.
"Tapi, jika kamu tidak mau bercerita juga tidak apa-apa. Kita istirahat, ya. Bukankah besok kamu mau pergi menemui Raina?"
"Mas ...." Akhirnya wanita itu mengeluarkan suaranya.
"Kenapa, Cheriè?" tanya Nio.
"Kalau mereka datang lagi, tolong usir, ya. Aku sungguh tidak mau bertemu mereka." Kini tangan Zoya gemetar membuat Nio beranjak dan menatap istrinya yang meneteskan air mata.
"Hey, kenapa?" tanya Nio.
"Aku benci mereka, aku tidak mau melihat mereka lagi," lirih Zoya dengan air mata terus menetes.
Dengan cepat Nio memeluk istrinya yang terisak. "Okey, aku akan menyuruh pengawal dan Jessica untuk menolak mereka jika datang lagi. Tenanglah, Sayangku. Aku tidak akan membiarkan mereka menemuimu. Aku tidak akan membiarkan orang menyakitimu, termasuk keluargamu sendiri. Tenang, ya." Nio mengusap punggung istrinya dengan sedih. Meski ia belum tahu kisah sang istri, ia bisa menebak bahwa Zoya memiliki luka begitu dalam yang ditorehkan keluarganya.
Nio membiarkan Zoya mengeluarkan kesedihannya. Ia hanya mengusap punggung istrinya atau mencium kepalanya. Saat isakannya mereda, Nio meraih gelas pppair minum dan memberikan pada wanita kesayangannya.
"Makasih, Mas." Suara Zoya tampak serak setelah menangis. Nio menyingkirkan anak rambut yang menutupi area wajah istrinya.
"Jangan menangis lagi, ya. Lihat, suaramu jadi setengah hilang gitu. Nanti juga kamu bisa pusing. Kita hadapi segalanya bareng-bareng, ya. Jangan merasa sendiri sebab aku ada bersamamu." Nio mengusap dahi Zoya yang masih mengerut dan ia usap agar sang istri melepas ketegangannya.
"Makasih." Zoya memeluk suaminya kembali.
"Bagaimana perasaanmu sekarang?" tanya Nio.
"More better."
"Great." Nio mengecup lembut kening istrinya.
"Aku lapar," sahut Zoya.
"Mau makan apa, Sayang?" tanya Nio.
"Kalau aku mau makan di luar boleh tidak?" tanya wanita itu lagi.
"Boleh. Mau makan di mana?"
**
"Yakin mau makan di sini?" tanya Nio setelah sampai di tempat tujuan yang diinginkan Zoya.
"Yupz. Sudah lama sekali aku tidak ke sini. Ayo." Wanita cantik dengan hoodie biru tua itu menarik suaminya masuk ke tenda pecel lele pinggir jalan.
"Mas Sapto!"
"Wah, Neng Zoya. Ke mana saja? Sudah lama gak ke sini," sahut seorang laki-laki kisaran empat puluh lima tahun tampak berbinar menatap wanita di depannya.
"Aku sibuk ngurus anak, Mas. Mas apa kabar? Makin ramai saja tendanya," ujar Zoya mengedarkan pandangan menatap tenda itu kini menjadi lebih luas dari terakhir kali ia datang.
"Kabar Mas baik. Neng Zoya makin cerah saja," puji pemilik tenda itu.
"Ah, bisa aja, Mas. Oh ya, kenalkan, ini suamiku. Gimana ganteng, 'kan?" pamer Zoya merangkul lengan suaminya.
"Wes cocok!" Sapto mengancingkan jempolnya.
"Arsenio." Nio menjabat tangan tangan Sapto. Begitu juga sebaliknya.
"Duduk, duduk. Mau pesan seperti biasa?" tanya Sapto.
"Semua menu di tenda ini. Aku mau mukbang," kekeh Zoya.
"Siap, Tuan Putri." Sapto memberi hormat pada wanita cantik itu.
Zoya pun mengajak suaminya untuk duduk. Ada beberapa orang menatap ke arah Zoya juga Nio, lalu bisik-bisik. Sepasang suami-istri itu tak memedulikan dan memilih duduk lesehan di tempat yang tak terlalu ramai.
"Ini restoran favoritku, Mas. Bahkan aku pernah bekerja di sini sebelum jadi artis," sahut Zoya tersenyum pada suaminya.
Mendengar itu Nio terkejut. Pernah bekerja sebelum jadi artis? Zoya sendiri mulai berkarier di usia empat belas tahun, lalu bekerja di tenda itu di usia berapa?
"Kamu serius?" tanya Nio tak percaya. "Maaf, tapi kamu ini anak Samudera Lavani dan Ken Ayu Maharahi. Bagaimana bisa di usia belia bekerja di tempat seperti ini? Kita tahu sekaya raya apa orang tuamu," sahutnya masih terkejut tak percaya.
Zoya tersenyum miris mendengarnya. "Mas benar-benar ingin tahu apa yang terjadi padaku di masa lalu? Aku takut Mas gak menerimanya," ujar Zoya menatap sedih sang suami.
Nio menggenggam tangan wanita itu dan menegcupnya. "Jika kamu tidak ingin bercerita juga tidak apa-apa, Sayang. Apalagi jika menorehkan luka lagi. Aku tidak mau," jawabnya.
Zoya tersenyum, lalu mengecup tangan suaminya. "Tidak apa-apa. Aku hanya ingin mengeluarkan rasa sakitku melalui Mas. Boleh, 'kan?" tanyanya.
"Tentu, Cheriè. Kamu bisa membagi segala hal padaku. Aku akan bahagia saat kamu percaya padaku," jawab Nio dengan wajah seriusnya.
Zoya tersenyum dan mengangguk.
"Aku bukan anak kandung Samudera Lavani."