Another Chance

Another Chance
Bab 23



Nio menatap heran Zoya yang menarik piringnya. Wanita itu tampak melotot kesal pada sang suami.


"Kenapa?" tanya Nio bingung.


"Mas kenapa bilang begitu? Mas mau ninggalin aku? Mas mau ceraikan aku setelah bilang Mas mencintaiku? Are you kidding me?" tanya Zoya tak percaya. Wanita itu melipat tangan dengan memalingkan wajah. "Mas gak mau kan punya istri bekas orang. Aku sadar diri. Jika Mas memang ingin menceraikanku, aku terima."


Dengan hati yang sesak Zoya beranjak dan meninggalkan ruangan Nio. Lelaki itu kaget dengan reaksi Zoya. Ia hendak menyusul, tapi tiba-tiba Rasya menangis. Bocah itu memang sejak sampai di kantor papanya sudah terlelap. Akhirnya Nio meraih Rasya dan menggendongnya. Ia tatap pintu yang tertutup dengan perasaan bersalah.


"Apa kata-kataku salah? Aku hanya ingin merelakan dia bersama orang yang dicintainya. Tapi, kenapa reaksinya seperti itu?" tanya Nio bingung.


**


Di sebuah apartemen mewah, Zoya menatap sendu senja yang begitu indah. Sejak dua hari ini ia tinggal di sana untuk menenangkan diri. Ponselnya pun sengaja ia matikan. Hatinya teramat sakit ketika Nio mengatakan ingin berpisah dengannya, padahal kini ia mencoba membuka hati untuk suaminya.


Air mata wanita muda itu mengalir kembali. Bahkan ia sampai melupakan Rasya yang entah bagaimana keadaannya. Tapi ia percaya bahwa Nio akan merawatnya dengan baik. Bukankah memang sejak lahir Rasya bersama papanya? Pasti sekarang juga baik-baik saja.


'Dasar otak udang. Ngapain juga kabur begini? Kamu tuh benar-benar bodoh, Zoya! Kamu jatuh cinta pada Nio?' tanya bayangan Zoya dewasa pada dirinya yang nyata.


"Diamlah! Kamu tidak mengerti perasaan ini! Cintamu sampai mati kan hanya lelaki sialan itu!" ejek Zoya pada bayangannya itu.


'Sialan! Kita ini satu orang, tapi kenapa kau sangat menyebalkan begini sih? Seperti bukan diriku,' sahut Zoya dewasa.


"Aku masih memikirkan siapa orang yang menjebakku dengan Mas Nio malam itu. Seingatku, aku selalu sopan pada orang dan berusaha tak menyinggung orang. Tapi kenapa dia melakukan itu?" tanya Zoya berdecak.


'Aku juga sangat terkejut mendengarnya. Begitu jahat kita sudah berpikir buruk pada Mas Nio, padahal dia justru menolong. Hah! Kenapa penyesalan selalu datang di akhir sih?' umpat Zoya dewasa kesal. 'Andai dulu aku mau mendengar, mungkin kita bertiga akan hidup bahagia tanpa perlu Ada laki-laki mokondo itu.'


"Penyesalan pasti datang di akhir lah, kalau di depan namanya pendaftaran!" ejek Zoya menjulurkan lidahnya lalu berjalan masuk dan menutup pintu kaca penghubung ke balkon.


'Dasar, jika bukan karena kamu adalah diriku sendiri, aku pasti menyeretmu ke dunia lain.' Sekali menjentikkan jari, Zoya dewasa pun pergi. 'Jangan gampang main kabur, jika Nio benar-benar meninggalkanmu habis sudah segalanya!'


Zoya hanya bisa menggeleng. Wanita cantik itu menatap lemari kaca yang menyimpan semua penghargaan yang didapatnya selama delapan tahun menjadi seorang artis. Ia raih salah satu piala dan memeluknya. Sungguh, Zoya sangat merindukan masalalunya. Ia merindukan sibuknya set, riuhnya para penggemar yang memanggil namanya, serunya syuting dengan berbagai karakter lain yang ia perankan.


Perasaannya masih seperti gadis berusia dua puluh satu tahun. Dibalik kesuksesannya, orang tak pernah tahu bahwa untuk meraih pencapaian itu Zoya berjuang melawan semua penghalangnya, termasuk ....


Zoya menoleh ke arah pintu. Bell apartemennya berbunyi pertanda seseorang datang. Ia pun menaruh kembali pialanya, lalu melangkah untuk membuka pintu.


"Sayang."


Melihat siapa yang datang, buru-buru Zoya menutup pintu, tetapi langsung ditahan Jordan.


"Sayang, jangan seperti ini. Aku mohon, buka pintunya. Aku kangen sama kamu, Yang."


"Pergi, sialan! Ngapain sih ke sini segala? Sudah aku bilang, aku tidak mau melihat wajahmu lagi!" seru Zoya dengan kesal.


"Sayang, aku baru keluar rumah sakit loh. Kamu tega sekali padaku. Suami sialanmu itu hampir merenggut nyawaku," ujar Jordan dengan nada manjanya. Sungguh, jika saja Zoya tak tahu busuknya lelaki itu, ia pasti akan memeluk Jordan sekarang Dan berusaha membujuk sang kekasih yang merajuk. Namun sekarang, ia sungguh jijik mendengarnya.


"I miss you, Baby. I really miss you."


Jordan tak berbohong bahwa ia merindukan Zoya. Sejak wanita itu menjauh, ada rasa aneh yang ia rasakan seakan dunianya begitu sunyi. Manjanya Zoya, tawanya Zoya selalu terkenang di hatinya. Sehingga ia tak sanggup berjauhan dengan kekasihnya itu.


"Lepas, sialan!" Zoya memberontak, tetapi Jordan justru semakin erat memeluknya.


"Kamu kenapa menghindariku? Apa salahku padamu, Sayang? Kenapa tiba-tiba kamu berubah? Aku kehilanganmu, Baby," lirih Jordan.


"Kehilanganku, atau ATM berjalanmu, hah!" seru Zoya kesal. Mendengar itu Jordan membelalak. "Kamu pikir aku bodoh seperti dulu? Kamu mendekatiku untuk harta Mas Nio, 'kan? Kamu hanya mau menumpahg hidup padaku dan kamu selalu menghamburkan uang yang aku berikan untuk wanita lain! Kau pikir aku bodoh!"


"Sa-Sayang ... apa yang kamu katakan?"


"Lepaskan aku!" seru Zoya.


"No, aku cinta padamu, Zoya. Aku tidak mau melepasmu. Kamu satu-satunya wanita yang aku cintai. Aku akui aku bahagia hidup bersamamu, tapi demi Tuhan, tidak ada wanita lain di hatiku selain kamu."


Apa yang dikatakan Jordan menang benar. Di masa sekarang Jordan benar-benar mencintai Zoya. Lelaki itu mulai bermain dengan wanita lain satu tahun setelah ini. Rasa cinta Jordan yang sekarang memanglah murni untuk Zoya. Namun, setelah Zoya tahu kebusukan Jordan, sungguh ia tak ingin bersama lelaki itu.


Jantung Zoya berdebar hebat melihat Nio yang menatap padanya. Kini, lelaki itu dihadapan Zoya dengan wajah terkejut, lalu ia berbalik dan pergi.


"I really love you, Sayang. Aku tidak akan meninggalkanmu bahkan sampai aku mati."


"Lepas, brengsek!" Dengan penuh emosi ia tendang tulang kering Jordan hingga lelaki itu memekik dan melepaskan pelukannya.


"Mas Nio!" Zoya berlari mengejar suaminya, meninggalkan Jordan yang terus memanggil namanya.


Terlihat Nio masuk ke lift. Dengan buru-buru Zoya pun meringsek masuk. Wanita cantik itu terengah-engah mencoba menormalkan napasnya yang habis gara-gara berlari kencang menyusul sang suami. Sedangkan Nio membalikkan badan, tak ingin melihat Zoya. Hatinya sangat sakit melihat istri yang dicintainya dipeluk laki-laki lain.


"Mas ...." Setelah napasnya mulai kembali, Zoya mencoba mendekati suaminya. Ia sentuh lengan Nio agar lelaki itu berbalik untuk menatapnya. "Kenapa Mas pergi? Kenapa Mas gak menolongku dari laki-laki itu? Kalau dia melakukan sesuatu padaku bagaimana?"


Mendengar itu Nio tertawa sinis. "Bukankah kamu suka apa pun yang dia lakukan padamu? Kenapa aku harus menolongmu?" tanyanya dengan mata menyalang.


"Mas! Aku istrimu, kenapa kamu membiarkan istrimu bersama laki-laki lain?"


"Are you sure ask like that? Ini bukan pertama kali aku melihat kalian berpelukan, bahkan lebih dari berpelukan pun pasti sudah kalian lalui, 'kan? Kenapa baru sekarang kamu berkata seperti itu? Kata-kata itu sudah aku ucapkan berulang kali padamu, Zoya! Bahkan aku sampai merendahkan diriku hanya untuk mendapat cintamu! Lalu kini, saat aku mencoba merelakanmu untuknya, kamu menganggap aku seakan tak peduli padamu?" tanya Nio tersenyum sinis. "Kau memang layak mendapat penghargaan sebagai pemeran utama wanita terbaik, Zoya! Aktingmu sungguh luar biasa."


Dengan rasa kecewa Nio keluar dari lift setelah terbuka. Sedangkan Zoya menatap nanar kepergian suaminya hingga pintu lift tertutup kembali.


"Bahkan aku sampai merendahkan diriku hanya untuk mendapatkan cintamu!"


Air mata Zoya terjatuh begitu saja saat kembali mengingat kata-kata itu. Hatinya sangat sakit mengingat dulu bagaimana Nio berusaha memintanya untuk tidak memiliki hubungan dengan Jordan. Nio bahkan sampai berlutut memohon supaya Zoya tidak merusak diri dengan laki-laki itu. Namun, makian dan kata-kata kasar yang dibalas Zoya untuk suaminya.


"Maafkan aku, Mas." Zoya bersandar dengan air mata terus berjatuhan.