Another Chance

Another Chance
Bab 37



Zoya tersenyum menatap Nio yang baru saja keluar dari kamar mandi. Setelah puas bermain di Pulau Santosa, mereka kembali pukul sembilan malam. Kini, sepasang suami-istri itu sudah berada di kamar. Rasya pun telah tertidur sejak satu jam lalu. Nio berjalan menghampiri istrinya yang tengah berbaring. Ia naik ke ranjang dan duduk bersandar di samping Zoya. Lelaki tampan itu menggeser tubuh sang istri lalu ia dekap dengan erat.


"Wangi," ujar Nio mencium aroma sampo dari rambut Zoya.


Wanita hanya tersenyum dengan mengusap dada suaminya.


"Jadi, setelah dari Singapura mereka akan ke London?" tanya Zoya membahas mengenai jalannya syuting film yang diperankan Aurora.


"Iya, Cheriè. Memang jadwalnya seperti itu," sahut Nio mengusap kepala istrinya.


"Mas gak ikut?" tanya wanita itu lagi.


"Tidak, aku harus mengurus kerjaan di kantor. Lagipula sudah ada yang bertanggung jawab. Jadi, untuk apa aku ikut? Aku ke sini juga karena ada masalah. Jika tidak ya tidak datang, " jawab Nio kembali. "Kenapa kita jadi bahas kerjaan? Lebih baik membahas tentang kita."


"Mau bahas apa?" tanya Zoya.


"Bagaimana kalau membahas malam ke dua yang tertunda," bisik Nio yang membuat wajah Zoya memerah. Ia tak paham apa yang dimaksud suaminya.


"Tapi tubuhku—"


"Aku akan menghapus jejaknya di tubuhmu. Jadi, biarkan aku menghapusnya, okey?" potong Nio yang tak ingin mendengar kata tak enak yang diucapkan istrinya.


"Tapi ... apa Mas benar-benar tidak masalah? Aku malu," ujar Zoya menunduk.


"Hey, lihat aku." Nio menangkup kedua pipi istrinya hingga kini saling tatap. "Jangan berpikir buruk dan berpikir aneh-aneh. Aku menerima segala kekurangan dan kelebihanmu. Sama sepertimu yang menerima kekurangan dan kelebihanku. Lagipula kita sudah sepakat untuk memulai dari awal, 'kan? Jadi, jangan melanggar kata-katamu, Cheriè."


"Are you sure?" tanya Zoya kembali dengan risau di hati. Ia takut Nio ingin menyentuhnya hanya karena kewajiban bukan dari hatinya. Ia takut Nio jijik sebab tubuhnya telah dijamah laki-laki lain.


"Astaga Zoya ...." Dengan gemas Nio mencium bibir istrinya. Ciuman gemas karena Zoya yang ada saja alasan untuk menolaknya.


Dengan sentuhan lembut, dan kata-kata manis akhirnya Zoya merelakan jejak laki-laki lain di tubuhnya dihapus oleh suaminya. Malam itu menjadi malam ke dua mereka bersatu dengan perasaan beda. Jika dulu karena dorongan obat, tetapi sekarang atas dasar cinta dan saling menginginkan.


Peluh yang bersatu dengan genggaman tangan saling bertaut keduanya mengejar kenikmatan dunia dengan senyum yang mengembang.


Napas keduanya memburu saat nirwana itu telah dicapai. Nio tersenyum mengecup kening istrinya. "You're mine. I love you, Cheriè. Terima kasih karena sudah memberikan dengan tulus."


"I love you too, Mas." Zoya memeluk leher suaminya dengan napas yang masih memburu. Wajahnya merona membayangkan perjalanan keduanya beberapa waktu lalu. Bagaimana Nio begitu memujanya dengan sentuhan lembut serta kata-kata penuh puja.


"Kita tidur, ya." Nio mengecup kening istrinya lalu mereka berbaring setelah mengenakan pakaian lagi. Lelaki tampan itu memeluk erat Zoya seakan tak ingin melepaskannya.


**


"Selamat datang kembali Tuan, Nyonya dan Tuan Kecil," sambut Jessica dengan para pelayan lainnya.


"Terima kasih, Jessy. Apa semua baik-baik saja?" tanya Nio pada kepala pelayannya itu.


"Semua aman terkendali, Tuan. hanya saja beberapa hari lalu ada Tuan Deon Maharaja datang ingin bertemu dengan Nyonya," ujar Jessica.


Mendengar nama itu, tubuh Zoya menegang. Deon Maharaja adalah kakak mendiang ibu Zoya. Sosok yang sungguh tak ingin ia dengar atau jumpai. Bagaimana bisa kini ia datang menemuinya setelah apa yang ia dan keluarganya perbuat.


Melihat perubahan wajah istrinya, Nio langsung menggenggam tangan Zoya.


"Lalu?" tanya Nio.


"Bagaimana?" tanya Nio pada istrinya. Ia merasa ada sesuatu yang Zoya sembunyikan tentang keluarganya.


"Tidak perlu! Aku tidak sudi melihat laki-laki itu. Jika dia menghubungi dan datang kembali, usir saja." Dengan wajah muram, Zoya berjalan menuju kandang harimaunya.


Zoya menatap harimau putih kecil itu dengan tatapan kosong. Perasaan bahagianya tiba-tiba menguap entah ke mana setelah mendengar nama pamannya.


"Wah, ini harimaunya? Yang bikin kamu lupa sama aku?


Zoya tersenyum menatap suaminya yang kini duduk di sampingnya.


"Sudah diberi nama?" tanya Nio.


Zoya menyandarkan kepalanya di bahu sang suami. "Belum. Aku bingung," jawab Zoya.


"Hmmmmm dia sangat gagah seperti Rasya," sahut Nio menatap bayi harimau putih yang tengah bermain di kandangnya.


"Iya dong. Rasya harus setangguh harimau. Menjadi pemimpin yang bertanggung jawab tapi tidak menyerang lawan dari belakang," ujar Zoya menutup matanya. Bersama Nio ia merasa begitu tenang. Perasaan tak enak itu perlahan hilang saat suaminya memberi perhatian luar biasa.


"Bagaimana jika namanya Niu-Niu? Sepertinya lucu," ucap Nio mengusap pipi istrinya.


"Niu-Niu? Hhhmmm lucu juga. Coba aku mau tanya dulu." Zoya beranjak melangkah masuk menuju kandang. Ia tersenyum pada Shenna dan meminta ditemani menemui peliharaannya itu.


"Hai. Bagaimana kabarmu? Maafkan aku yang tiba-tiba meninggalkanmu, ya. Aku ada urusan penting. Ada seekor kucing genit yang mau menggoda suamiku. Andai kamu sudah besar, ingin sekali aku membawamu dan memintamu untuk menyerangnya," ujar Zoya dengan tertawa kecil.


"By the way, suamiku berkata bahwa namamu Niu-Niu. Apa kamu suka dengan nama itu?" tanya Zoya pada harimau putih tersebut yang tiba-tiba mengaung dengan gemasnya.


"Wah, dia suka dengan namanya," sahut Shenna yang membuat Zoya tersenyum gembira.


"Mas, dia suka namanya," ujar Zoya sedikit berteriak dengan wajah berbinar kembali.


"Syukurlah ia kembali ceria," gumam Nio menatap sang istri yang sedang bermain dengan peliharaan barunya.


Lelaki itu pun beranjak melangkahkan kakinya mendekati sang istri. meski rada takut, Nio berusaha berani mendekati hewan pemburu itu. Tak lupa Nio berkenalan dengan Shenna dan mengucapkan selamat datang di kediamannya.


Shenna pun mengajari Nio untuk berinteraksi dengan Niu-Niu agar binatang itu tak kaget dan menyerangnya. Meski kecil, bibit harimau tetap saja menakutkan, 'kan?


Setelah puas bermain dengan Niu-Niu, Zoya dan Nio masuk ke rumah kembali. Keduanya tampak tertawa membahas harimau kecil yang menggemaskan itu. Hingga tiba-tiba Jessica menghampiri dengan wajah cemas.


"Tuan ... Nyonya ... ada Tuan Deon di luar. Beliau berkata ingin bertemu dengan Nyonya," ujar Jessica.


"Sudah aku katakan usir dia!" sentak Zoya yang membuat Jessica juga Nio terkejut.


"Begitu cara kamu menyambut pamanmu, Zoya Maharani!"


Zoya terlonjak kaget saat mendengar suara barito yang sangat ia tak ingin dengar lagi.


________


Woaahhh ada masalah apa ya antara Zoya dan pamannya?