
Satu minggu sudah berlalu. Tim SAR masih tak kunjung menemukan Zoya. Nio sendiri setiap hari mencari keberadaan sang istri ke pulau-pulau terdekat dari lokasi tenggelamnya kapal, tetapi masih nihil. Lelaki itu tak kunjung pulang meski orang-orang terdekat membujuknya. Ia hanya pulang untuk melihat keadaan Rasya, setelah itu kembali ke dermaga.
Samantha sendiri merasa sedih dengan keadaan sang anak. Ia tak menyangka bahwa anak sulungnya itu teramat mencintai wanita yang dulu sering sekali menyakitinya. Ia sedikit terbuka bahwa mungkin Zoya memang memiliki sesuatu yang membuat anaknya itu benar-benar mencintainya. Nio bukanlah laki-laki yang mudah jatuh cinta dan Samantha pun berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak memisahkan Zoya dan Nio lagi, apalagi melihat cucunya yang begitu terpuruk juga kehilangan sang mama. Bocah kecil itu mengalami demam seharinsetelah sang ibu dinyatakan hilang dan terus rewel memanggil mamanya yang membuat Samantha sangat sedih.
Hari ke depalan Nio masih mencari dan kini ditemani sang adik—Saira di pulau ke tiga yang dikunjunginya. Pulau itu pulau terpencil dan lokasi terjauh dari dermaga. Butuh sekitar tiga jam untuk sampai di sana dengan speed boat. Ia terus bertanya kepada orang yang dijumpai di jalan atau di tepi pantai. Sama seperti hari-hari sebelumnya, tak seorang pun yang melihat atau menemukan istrinya.
Hari itu cuaca begitu terik, tetapi tak mengurungkan Nio untuk tetap mencari wanita yang dicintainya.
"Kak, kita istirahat dulu. Lihat, wajah Kakak begitu pucat," ujar Saira menyerahkan sebotol air mineral dingin pada kakaknya.
"Tidak, Ra. Kita harus tetap mencari Zoya," sahut lelaki itu duduk dan meminum airnya.
"Wajah Kakak merah sekali. Demam Kakak juga masih tinggi. Kita kembali ke hotel, ya. Besok kita cari lagi," bujuk gadis dua puluh tahun itu merasa khawatir melihat keadaan kakaknya.
"Jika kamu lelah, kamu duluan saja ke hotel. Kakak akan tetap mencari Zoya." Nio beranjak dan kembali melangkahkan kakinya mencari sang istri.
Tanpa lelah Nio terus bertanya pada penduduk atau turis yang berlalu lalang di pualu tersebut. Namun mereka tak ada yang melihat sosok dalam foto yang ditunjukkan Nio atau Saira. Hingga sore datang, masih tak ada hasil. Perasaan lelaki itu semakin hancur dan bingung harus mencari ke mana lagi.
Saat hendak mencari lagi, tiba-tiba Nio merasakan kepalanya yang sangat pusing. Tubuhnya limbung yang buru-buru ditahan oleh sang adik. Saira pun panik ketika kakaknya pingsan.
"Tolong!" teriak Saira.
Gadis cantik itu mencari keberadaan seseorang di pantai sepi itu, tetapi nihil. Mereka memang pergi cukup jauh dari hotel juga pemukiman penduduk. Kini, Saira bingung bagaimana mengangkat tubuh kakaknya yang begitu besar.
"Aku udah bilang buat istirahat ngeyel banget. Sekarang gimana coba gak ada yang nolongin," gumam Saira yang bingung harus bagaimana. Mobil mereka pun berada di jalan yang cukup jauh dari tepi pantai.
Hingga tiba-tiba seorang gadis remaja menghampiri mereka.
"Ada apa, Kak?" tanya gadis yang menghampiri Saira. "Oh astaga, apa yang terjadi pada kakak ini?" Gadis itu terkejut melihat Nio yang pingsan.
"Kakakku pingsan, tapi aku tidak sanggup membawanya ke mobil. Mobil kami ada di jalan utama," jawab Saira dengan wajah khawatir.
"Ya Tuhan. Kita bawa ke rumahku saja, ya. Rumahku ada di sana." Gadis berambut panjang itu menunjuk rumah yang memang tak jauh. Hanya berjarak dua ratus meter dari pinggir pantai.
Saira pun setuju dan akhirnya mereka membawa Nio ke rumah gadis remaja itu.
"Lily, apa yang terjadi?" Seorang wanita dewasa berjalan cepat menghampiri sang anak yang membawa seseorang.
"Ma, kakak ini pingsan di tepi pantai, jadi aku bawa ke sini. Kasihan sekali dia," sahut gadis yang ternyata bernama Lily itu.
"Ya Tuhan, ayo bawa masuk." Buru-buru wanita dewasa itu mempersilahkan Saira juga Nio yang tengah pingsan masuk ke rumah sederhana tersebut. Mereka membaringkan lelaki itu di sofa dan Saira pun duduk dengan terengah-engah.
Tak lama wanita dewasa itu membawakan minuman untuk Saira.
"Terima kasih, Tante." Saira pun meminum air kelapa muda yang terasa segar di tenggorokannya. "Segar sekali," ujarnya tersenyum.
"Namamu siapa? Lalu ini kakakmu atau suamimu? Kenapa dia bisa pingsan?" tanya wanita dewasa itu.
"Nama saya Saira, Tante. Ini kakak saya Nio," ujar Saira mengulurkan tangan.
"Nama Tante Seena. Dan ini anak Tante namanya Lily." Seena menjabat tangan Saira begitu juga Lily.
"Kakak saya sedang demam, Tante. Tapi bandel sekali, dibilang kita kembali ke hotel saja tetapi dia ngeyel. Akhirnya pingsan begini," jawab Saira.
"Ah, begitu. Lily, ambilkan tas Mama. Mama mau periksa kakak ini," ujar Seena pada sang anak yang langsung beranjak pergi.
"Tante seorang dokter?" tanya Saira.
"Kebetulan, iya. Saya dokter spesialis penyakit dalam," jawab Seena tersenyum.
"Wah sangat beruntung kami bisa bertemu dengan Tante. Sekali lagi, terima kasih karena sudah membantu," kata Saira tulus.
Tak lama Lily datang dengan tas yang menaruh alat medis milik Seena. Wanita itu dengan telaten memeriksa keadaan Nio. Dari tensi darah, detak jantung, denyut nadi, dan lainnya. Ia memastikan bahwa Nio mengalami dehidrasi juga kelelahan. Karena itulah ia pingsan.
Tak lama Langit pun datang dengan beberapa pengawal yang membuat Seena juga Lily terkejut. Saira pun menjelaskan bahwa mereka bukan orang jahat dan para pengawal itu memang bertugas melindungi mereka.
"Maaf, Nona. Karena saya tidak menjaga Tuan," sesal Langit merasa bersalah melihat tuannya tumbang.
"Ini bukan salahmu, Kak. Lagian Kak Nionya juga bandel," sahut Saira.
"Kita bawa ke rumah sakit saja?" tanya asisten itu lagi.
"Iya. Tante Seena bilang, Kakak dehidrasi jadi harus segera mendapat cairan," jawab Saira yang diangguk Langit.
Sebenarnya Seena bisa saja menginfus Nio, tetapi indusannya habis dan kini suaminya tengah membeli ke kota sehingga Nio harus dibawa ke rumah sakit.
Akhirnya mereka pun pamit pada Seena juga Lily. Saira berjanji akan datang lagi lain kali setelah kakaknya sehat. Seena pun berkata untuk segera membawa Nio ke rumah sakit terdekat sebab keadaannya cukup memprihatinkan.
Nio pun diangkat oleh dua pengawal bertubuh besar dan dibaringkan di mobilnya. Setelah selesai, Langit dan Saira pamit pada penolong itu.
"Sekali lagi terima kasih, Tante. Jika tidak ada Tante, entah bagaimana keadaan kakakku," ujar Saira menggenggam tangan wanita itu.
"Sama-sama. Tidak perlu sungkan. Semoga kakakmu kembali sehat."
Setelah itu Saira pamit dan masuk mobil dan tak lama melaju meninggalkan rumah sederhana itu.
"Mereka pasti orang kaya, ya. Mobilnya mewah sekali, mana bawa pengawal," sahut Lily pada ibunya.
"Mungkin. Tapi, kamu cepat mandi sana. Badanmu bau acem. Untung Kak Saira tidak pingsan mencium baumu," ujar Seena yang membuat anaknya kesal.
"Orang gak bau juga!" gerutu Lily berjalan kesal menuju kamarnya.
Seena hanya tersenyum melihat anaknya yang mengomel.
Lily masuk ke salah satu kamar setelah mandi. Ia menatap sekeliling berharap tak ada yang melihat dirinya masuk ke sana. Ia mengendap-endap masuk dengan berharap sang mama tak memergokinya.
Ia duduk di salah satu kursi dekat brankar. Ruangan itu ternyata adalah ruangan perawatan yang terlihat cukup canggih dengan beberapa alat medis. Dan kini, seseorang tengah berbaring di sana dengan beberapa alat terpasang di tubuhnya.
"Hai, Kakak Cantik. Bagaimana keadaan kakak sekarang? Kenapa kakak masih belum sadar juga?" tanya Lily pada wanita yang kini berbaring tak sadarkan diri.
"Tahu gak, Kak? Tadi ada laki-laki tampan sekali. Dia pingsan sepertimu. Andai kalian sadar, ingin sekali aku mengenalkan kalian. Kalian benar-benar cocok jika jadi sepasang kekasih," kekeh Lily yang terus berceloteh.
"Adiknya juga sangat cantik. Mereka pasti orang kaya. Mobilnya saja mewah, belum lagi membawa pengawal banyak sekali," ujarnya lagi terus berbicara meski tak dijawab.
"Kakak ingin tahu siapa namanya tidak? Namanya—"
"Lily ...."
Lily menoleh ke arah pintu. "Ups. Mama ...." Gadis itu tersenyum kikuk melihat sang mama yang melipat tangannya di dada.
"Mama sudah bilang kan jangan sering masuk sini." Seena memicingkan mata pada anaknya yang cekikikan. "Keluar sekarang, sebentar lagi papa pulang."
"Iya, iya." Lily pun beranjak, tetapi ia bungkukkan tubunya dan berbisik di telinga wanita yang kini tak sadarkan diri. "Lelaki tadi namanya Nio. Ingat itu, Kak."
"Lily ...." Kembali Seena memanggil anak tunggalnya itu.
"Aku pergi dulu. Cepat sadar, Kak." Lily mengecup pipi wanita cantik itu dan berlalu.
Tak lama Lily keluar tangan wanita itu bergerak, lalu bergumam "Ni-Nio ...."