
Zoya menatap khawatir suaminya yang tengah diobati oleh Zidane. Ia sungguh merasa bersalah karena dirinya sang suami terluka.
"Apa suamiku baik-baik saja?" tanya Zoya cemas.
"Wah suamiku. Apa telingaku gak salah dengar? Seorang Zoya Maharani Lavani memanggil Arsenio Bagaskara suamiku? Wah wah, Aku harus segera bertemu jodohku ini. Aku takut kiamat sudah dekat," canda dokter muda itu dengan tawa renyahnya.
"Mulutmu itu harus dijahit sepertinya!" Nio melempar bantal pada sahabatnya dengan kesal.
"Serius deh. Kalian benar-benar baikan? Postingan-postingan di sosial media itu bukan settingan saja?" tanya Zidane menatap suami-istri itu.
"Perlu sekali memberitahumu? Sudah, pulang sana!" omel Nio.
"Jahat sekali, aku baru mengobatimu, loh." Zidane berdecak. "Eh, by the way, katanya kalian memelihara harimau putih ya? Boleh aku lihat?"
"Aku tanya keadaan suamiku. Kenapa kamu bicara melantur?" gerutu Zoya kesal.
"Cantik-cantik galak!" ejek Zidane. "Suami tercintamu baik-baik saja. Itu hanya luka ringan. Berapa hari lagi juga kering. Asal sering dibersihkan saja," jawabnya. "Eh, boleh tidak aku lihat harimaunya? Apa jangan-jangan kalian berbohong? Miara kucing dibilang harimau mentang-mentang satu spesies."
"Pergi sana! Lama-lama kamu semakin menyebalkan saja," omel Nio kesal mendengar ocehan sahabat menyebalkannya itu.
"Jess, Jess, antar aku bertemu kucing milik mereka." Zindane menarik tangan Jessica tanpa peduli tatapan kesal wanita itu. Meski sudah usia kepala empat, Jessica sendiri belum menikah dan memiliki paras yang cantik seperti artis wanita Korea yang awet muda. Makanya cukup banyak laki-laki yang jauh lebih muda mendekatinya. Namun, ia masih enggan untuk memiliki pasangan.
"Wow! It's amazing. Gila, gila, gila, si Nio bener-bener ngasih istrinya harimau putih." Zidane berdecak kagum melihat bayi raja hutan itu.
Jessica sendiri hanya menatap heran dokter yang tak memiliki wibawa tersebut. Jika biasanya seorang dokter itu kalem, penuh pesona, beda dengan Zidane yang urakan dan ceplas-ceplos.
"Jess, aku bisa masuk tidak? Ada pawangnya, 'kan?" tanya Zidane menatap kepala pelayan cantik itu.
"Ada. Mari, Tuan." Jessica pun mengantar Zidane menuju ruang khusus yang mehyambung ke pintu kandang.
Jessica mengetuk pintu ruangan tersebut. Tak lama Shenna membuka pintunya.
"Tinker Bell!" seru Zidane terkejut melihat Shenna. Begitu juga dokter hewan itu terkejut melihat lelaki yang memanggilnya dengan sebutan aneh tersebut. "Astaga! Ini beneran kamu?" Dengan cepat lelaki itu menyentuh kedua lengan Shenna yang langsung ditepis.
"Heh! Jangan panggil-panggil aku seperti itu!" seru Shenna kesal.
"Shen! Ini beneran kamu, 'kan? Ya Tuhan, sudah lama sekali kita tidak bertemu."
"Shan, Shen, Shan, Shen! Kamu pikir aku uang receh apa!" gerutu Shenna melipat tangannya dengan kesal. "Ngapain kamu di sini?" tanyanya sewot.
Melihat dua dokter itu berdebat, Jessica berdeham membuat Shenna terdiam dan tersenyum mengangguk kecil pada kepala pelayan itu.
"Tuan, saya pamit kembali ke rumah. Mari, Dokter Shenna." Jessica tersenyum dan mengangguk pelan lalu pergi.
Setelah Jessica pergi, kembali Zidane menepuk bahu dokter hewan itu. "Gak sangka bisa ketemu lagi. Apa kabar?" tanya lelaki itu dengan senyum cerianya.
"Yang kamu lihat bagaimana?" tanya Shenna dengan tangan dilipat lalu tubuh bersandar di dinding.
"Masih saja galak," gumam Zidane. "By the way, kamu jadi pawang si Harimau Putih?"
"Namanya Niu-Niu," potong Shenna.
"Niu-Niu? Hahahaha nama apa itu? Siapa yang menamainya? Tidak aesthetic," ejek Zindane tertawa.
Dengan kesal Shenna menepuk kepala lelaki banyak bicara itu. "Nyonya yang menamainya. Jangan macam-macam kamu! Lagian ngapain kamu di sini? Jangan-jangan mau maling, ya?" tanyanya dengan menunjuk.
"Enak saja! Gini-gini aku direktur rumah sakit The Health, tahu! Untuk apa aku mencuri? Nio itu bestie aku. Jadi, ya aku di sini untuk bertemu my bestie. Katanya si mantan artis minta harimau makanya aku ingin melihatnya. Dan ternyata benar saja si Nio mengabulkan. Luar biasa memang. Apalagi memperkerjakan dokter hewan lulusan luar negeri." Zidane menaik turunkan alisnya dengan senyuman menyebalkan.
Shenna memutar bola malas mendengar omong kosong lelaki di depannya.
"Mau liat si Niu-Niu. Ish, kenapa aneh sekali sih namanya," sahut Zidane.
Shenna pun membawa lelaki itu masuk. Tak lupa disemprotkan cairan alkohol dan mencuci tangan agar harimau putih itu terbebas kuman.
"Sudah suntik anti rabies, 'kan? Aku tidak mau Niu-Niu tertular olehmu," ujar Shenna membuka pintu yang terbuat dari besi terbaik itu.
Zidane hanya tertawa mendengarnya. Kata-kata judes Shenna sudah menjadi makanannya dan tak pernah tersinggung. Lelaki itu berseru bahagia melihat bayi harimau putih yang menggemaskan. Sebelum menyentuhnya, Shenna membantu agar Niu-Niu tak terkejut melihat orang baru. Sang dokter spesialis penyakit dalam itu begitu antusias menyentuh harimau tersebut.
"Raya apa kabar?"
Zidane yang tengan mengusap Niu-Niu pun menoleh menatap Shenna. "Baik," jawab lelaki itu lalu kembali mengusap bagian dagu si harimau.
"Baguslah," jawab Shenna tersenyum. "Anak kalian lucu. Aku lihat di sosial media milik Raya."
Zidane menatap kembali Shenna dengan tatapan tak suka.
""Kenapa kau menatapku begitu?" tanya Shenna bingung.
. "Itu bukan anakku," jawabnya yang membuat si wanita terkejut.
"Bukan anakmu? Lalu? Bukankah kalian sudah menikah?"
"Siapa bilang? Raya iya sudah menikah, aku belum. Enak saja main bicara sembarangan. Aku masih perjaka!" sahut Zidane menyugar rambutnya dengan penuh gaya.
"Tapi bukannya waktu itu kamu—"
Ponsel Zidane berdering. Lelaki itu beranjak dan berjalan keluar kandang untuk menerima panggilan tersebut. Shenna sendiri menatap lelaki yang sejak dulu tak pernah berubah. Lelaki yang pernah ada di hatinya bahkan mungkin ... sampai sekarang.
Lelaki itu menatap Shenna dari luar kandang. "Shen, aku pergi dulu, ya. Lain kali kita mengobrol lagi. Di rumah sakit ada sedikit masalah dan aku harus segera kembali. Bye." Zidane melambaikan tangan dan berlalu masuk rumah untuk pamit pada Nio juga Zoya.
Shenna sendiri menatap kepergian lelaki yang sudah hampir enam tahun tak pernah berjumpa. Ia sentuh dadanya yang masih berdebar cepat seperti dulu saat mereka bersama.
Kenapa perasaan ini tak pernah hilang sejak dulu untuk laki-laki berisik itu, sih!" gerutu Shenna dalam hati.
Lamunan dokter hewan itu buyar saat ponselnya berdering. Buru-buru ia berjalan keluar kandang dan meraih benda persegi tersebut di mejanya.
"Hallo, Kak Vier," sapa Shenna tersenyum.
"Oh God! Akhirnya kau angkat juga panggilanku. Ke mana saja sih?" omel lelaki di ujung telepon.
"Aku sedang merawat harimau putih itu, Kak. Ada apa?" tanya gadis berusia menjelang kepala tiga itu.
"Apa aku tidak boleh menelepon kekasihku sendiri?" tanya Xavier.
"Boleh. Tapi mungkin tidak sekarang. Aku sedang waktu tugas. Bagaimana jika nanti malam aku hubungi Kakak lagi?" tanya Shenna.
"Hhhmmm, punya kekasih sibuk sangat menyebalkan. Baiklah, kekasihmu ini sangat penyabar jadi aku akan sabar menunggumu," ujar Xavier.
"Terima kasih atas pengertiannya, Dokter Xavier." Shenna tersenyum.
"Sama-sama, Dokter Shenna. Jaga kesehatan dan I love you."
"Jaga kesehatan juga, ya. Dan aku tahu Kakak mencintaiku," jawab Shenna.
Xavier berdecak tak dapat balasan ungkapan cinta. Namun, ia tak peduli. Yang penting Shenna adalah kekasihnya. Setelah cukup berbincang, mereka menutup panggilannya.
"Maafkan aku, Kak." Shenna menghela napas menatap layar ponselnya.