Another Chance

Another Chance
Bab 18



Pagi hari datang. Zoya dan Nio masih menutup mata dengan begitu damai. Suara tawa bocah kecil terdengar di kamar besar tersebut. Beberapa kali Rasya menepuk-nepuk wajah kedua orang tuanya dengan riang.


"Mamaaa, pah! Pah!" tawa gemas dengan tangan mungil yang terus menepuk wajah kedua orang tuanya berhasil membangunkan sepasang suami istri itu. Perlahan, mata Zoya dan Nio terbuka.


"Mmah, Pah!" Kembali Rasya tertawa seakan bahagia melihat pemandangan indah sejak ia bangun.


Zoya sendiri entah mengapa merasa begitu hangat dan nyaman seakan enggan untuk terjaga. Begitu juga dengan Nio, lelaki itu merasa begitu damai dengan tangan memeluk guling ternyaman yang pernah ia peluk.


Tapi, tunggu. Kenapa rasanya-rasanya ada yang janggal. Kedua orang itu cepat-cepat membuka mata hingga mereka saling tatap.


"Aahhh!" teriak Zoya ketika tahu bahwa Nio memeluknya. Dengan reflek, wanita cantik itu mendorong dan menendang suaminga hingga terjatuh ke lantai.


Nio terkejut dengan apa yang dilakukan Zoya. Begitu juga Zoya yang tak sadar langsung mendorong Nio. Tatapan lelaki itu tampak begitu dingin. Ia beranjak, lalu keluar dari kamar Zoya tanpa berkata apa pun, membuat sang pemilik kamar terdiam.


"Apa aku terlalu berlebihan?" tanya Zoya dengan cemas. Ia menatap Rasya yang kini menatap dirinya juga.


"Papa marah," ujarnya pada sang anak.


"Pah?" tanya bocah itu dengan memiringkan kepalanya.


Jika Zoya merasa bersalah, berbeda dengan Nio yang merasa sedih. Apa sebegitu tak inginnya Zoya disentuh sampai harus menendang dan mendorongnya? Awalnya ia ingin meminta maaf karena tak sengaja memeluknya. Namun, reaksi Zoya benar-benar menyakiti hatinya.


Melupakan rasa sakit yang selalu ia rasakan, Nio pun bergerak menuju kamar mandi. Ia harus buru-buru berangkat bekerja.


**


Zoya keluar kamar setelah dirinya dan Rasya tampak segar. Keduanya berjalan menuju ruang makan untuk sarapan.


"Selamat pagi, Nyonya," sapa Jessica tersenyum seraya menunduk hormat.


"Pagi, Jess. Apa Mas Nio belum turun?" tanya Zoya mendudukkan sang buah hati di kursi makan khususnya dengan tawa bocah itu yang membuat Zoya gemas.


"Tuan sudah berangkat, Nyonya. Sekitar tiga puluh menit lalu, bahkan tidak sarapan," jawab Jessica yang membuat Zoya menghentikan aktivitasnya lalu mengangguk.


Tak lama para pelayan datang menyiapkan sarapan untuk sang nyonya dan tuan mudanya. Seperti biasa, makanan yang dihidangkan adalah makanan sehat yang sudah terjadwalkan dengan baik oleh ahli gizi di kediaman Nio. Meski kini bukan artis lagi, Zoya selalu ingin tampil sempurna apalagi dengan bentuk tubuhnya. Seperti sekarang, ia tengah memakan telur rebus,. juga oatmeal yang dimasak dengan ikan tuna ditambah wortel dan brokoli. Tak lupa jus jeruk elixir. Begitu juga dengan Rasya yang memang masih harus makan makanan halus.


Zoya menatap sendu makanan di depannya. Apa Nio benar-benar marah padanya? Bahkan dia tak pamit ketika berangkat bekerja.


"Apa Mas Nio jijik memeluk tubuhku ya? Secara tubuh ini selalu disentuh laki-laki sialan itu," gumam Zoya sendu.


"Apa Anda bicara sesuatu, Nyonya?" tanya Jessica.


Zoya menatap sang kepala pelayan lalu menggeleng.


Dengan hati sedikit nyeri, Zoya memakan makanannya. Bahkan makanan itu tak terasa enak di saat perasaannya gundah seperti sekarang.


"Jess," panggil Zoya.


"Iya, Nyonya, ada apa?" tanya Jessica. "Apa Anda membutuhkan sesuatu?"


"Hhmmmm, kalau boleh aku tahu, apa ya makanan kesukaan Mas Nio? Kamu pasti tahu, 'kan?" tanya Zoya.


"Makanan kesukaan Tuan?" tanya Jessica yang dijawab anggukan oleh Zoya. "Tuan suka makan apa saja asal itu buatan rumahan, Nyonya," jawabnya.


"Lebih spesifik?" tanya Zoya lagi.


"Steak wagyu a5 adalah makanan favorit Tuan, Nyonya. Beliau sejak kecil suka itu," jawab Jessica.


"Apa dagingnya ada? Aku ... aku ingin membuatnya untuk Mas Nio," jawab Zoya ragu. Ingin memasak? Oh come on. Bahkan masuk dapur saja dia hanya lewat atau iseng.


"Nyonya mau membuat steak untuk Tuan?" tanya Jessica tak percaya.


"Iya. Tolong siapkan semua bahannya. Aku akan membuatkan untuk makan siangnya," jawab Zoya antusias. Hanya memanggang, 'kan? Pasti mudah, pikirnya.


Akan tetapi, semua itu tak semudah yang ia bayangkan. Beberapa kali ia mengaduh saat tangannya terkena pemanggang. Belum lagi hawa panas panggangan membuat tangan putih halusnya memerah.


"Nyonya, biar saya lanjutkan saja, ya," ujar chef rumah merasa kasihan pada sang nyonya yang terluka dan kini tengah diobati oleh Jessica.


"Tidak perlu. Sebentar lagi matang, kan. Biar aku saja." Zoya beranjak setelah tangannya diperban dan juga kembali menggunakan sarung tangan karet yang baru.


Zoya benar-benar berusaha membuat makan siang untuk Nio sebagai permintaan maaf karena pagi tadi dia menendangnya. Ia tak ingin hubungan dirinya dan sang suami kembali dingin.


Zoya tersenyum bahagia melihat hasil masakannya. Steak wagyu kwalitas terbaik itu sungguh terlihat menggugah selera meski sedikit gosong. Apalagi dengan saus lada hitam serta sayuran rebus yang membuat cacing dalam perut memberontak.


Dengan hati gembira, Zoya menata semuanya di kotak makan. Ia hias dengan begitu cantik.


"Jess, beri aku pena dan sticky notes," ujar Zoya pada kepala pelayannya.


Tak lama Jessica datang dan menyerahkan benda tersebut. Dengan wajah tersenyum Zoya menuliskan sesuatu.


"Siap!" seru Zoya bahagia.


"Jess, aku titip Rasya. Aku akan bersiap. Tubuhku bau daging panggang," kata wanita cantik itu dengan tertawa kecil, lalu melangkahkan kakinya menuju kamar dengan bernyanyi riang.


Jessica tersenyum menatap nyonyanya yang kini sungguh berbeda. Wanita muda itu sekarang terlihat ceria, tak seperti dulu yang hanya menunjukkan wajah datar dan sangat pemarah.


"Tuan Muda, Anda pasti bahagia melihat mama yang seperti sekarang, 'kan? Semoga saja hubungannya dengan Tuan juga bisa lebih baik lagi," ujar Jessica menatap tuan mudanya yang tertawa riang menepuk bahu Jessica.