
"Kak, berhenti! Lihat tanganmu berdarah!" Saira berlari mengejar sang kakak yang pergi begitu saja melupakan tangannya yang berdarah karena melepas paksa infusan. Bukan hanya Saira, Langit pun mengejar sang tuan. Ia sungguh tak menyangka bahwa tuannya akan melakukan tindakan berbahaya hanya karena ia berkata bahwa Jordan telah ditemukan dan masih hidup.
Mendengar itu, emosi Nio memuncak. Dia milikku yang tengah dirawat pun tanpa peduli melepas suntikan infus dan pergi keluar ruang rawatnya. Kebetulan Nio dan Jordan dirawat di rumah sakit yang sama. Kini, lelaki itu tengah berjalan menuju ruang rawat Jordan.
Braakkkk!
Pintu dibuka secara kasar. Dengan penuh amarah Nio berjalan cepat menghampiri lelaki yang kini berbaring.
"Pa-k Nio." Romi tampak panik melihat lelaki itu dengan membawa amarah. Ia tahu apa yang akan dilakukan Nio pada Jordan.
"Brengsek! Di mana istriku!" Satu pukulan melayang di wajah Jordan. Bahkan lelaki itu terjatuh dari brankah membuat infusannya tertarik dan punggung tangannya berdarah.
"Pak, tenang Pak." Romi mencoba menahan Nio yang terus memukuli Jordan tanpan ampun.
"Kakak!"
"Tuan!"
Saira dan Langit serentak berlari lalu menarik tubuh Nio yang tanpa kendali memukul Jordan yang sudah babak belur.
"Lepaskan aku! Aku ingin membunuhnya. Karena dia, aku kehilangan istriku!" teriak Nio mencoba melepaskan pelukan Saira juga Langit.
"Kak, tenang. Jangan lepas kendali seperti ini," ujar Saira.
"Di mana Zoya!" teriak Nio pada Jordan. "Di mana istriku!"
Jordan pun hanya bisa diam dengan air mata terjatuh. Setelah sadar dari pingsang selama tujuh hari, akhirnya Jordan sadar. Hal pertama yang ditanyakan lelaki itu adalah Zoya. Namun, jawaban Romi membuat hidupnya seakan rubuh saat tahu bahwa Zoya hilang sampai sekarang.
"Bangun, Brengsek! Atau aku akan membunuhmu!" teriak Nio kembali.
Jordan masih bergeming. Ia hanya terus menangis dengan tubuh ditahan Romi.
"Tuan, tolong ampuni Jordan," mohon sang manager. "Dia telah mendapatkan karmanya. Kini, ia tak bisa berjalan karena kecelakaan itu. Saya berjanji akan menjauhkannya dari Zoya."
"Aku pikir aku peduli dengannya? Dia harus mempertanggung jawabkan atas menghilangnya istriku!" sentak Nio. Ia yang telah tenang pun dilepaskan oleh Langit tetapi tidak dengan Saira. "Langit, laporkan dia atas apa yang dilakukannya!"
Setelah mengatakan itu, ia menarik tangan sang adik, lalu pergi. Begitu juga Langit yang mengikutinya. Jordan sendiri masih terdiam. Ia tak peduli dengan apa yang dilakukan Nio. Yang ia pikirkan sekarang bagaimana keadaan Zoya? Ia menyesali apa yang terjadi. Andai ia tak membawanya naik kapal, pasti kini wanita itu tak hilang.
"Nio masih mengampunimu. Jangan pernah mendekati Zoya lagi, Dan. Dia bukan Zoya yang dulu." Romi akhirnya membantu Jordan untuk kembali berbaring di brankar.
Di dalam kamarnya kembali Nio meluapkan emosi. Ia sungguh merasa tak adil. Kenapa justru Jordan yang ditemukan selamat? Kenapa tidak istrinya saja?
"Tuhan, Zoya wanita yang baik. Aku mohon lindungi dan selamatkan dia."
Saira dan Langit hanya bisa menatap sedih lelaki itu. Mereka sungguh tak tega melihat Nio yang begitu terpuruk kehilangan belahan jiwanya.
**
Lily tengah berlari kecil dengan bersenandung ria. Gadis remaja itu memegang sebuket bunga lily berwarna merah yang baru ia beli di toko bunga. Ia berencana akan memberikan pada kakak cantiknya dan berharap dia bisa sadar segera setelah mendapatkan bunga secantik dirinya.
"Bunga yang cantik untuk Kakak Cantik." Lily tersenyum membuka gerbang rumahnya, lalu ia berjalan masuk. Gadis itu masih menggunakan seragam sekolah dan langsung masuk ke ruang rawat di mana kakak cantiknya dirawat.
"Hai, Kak," sapanya duduk di bibir ranjang. "Ah, masih belum bangun juga, padahal aku Sudan membawakan bunga lily untukmu. Kutaruh di vas, ya." Gadis berlesung pipi itu menaruh tiga tangkai bunga lily tersebut, lalu kembali duduk.
"Kak, gak bosen tidur terus? Ini sudah hampir sepuluh hari loh," ujar Lily menatap wanita yang beberapa tahun lebih tua darinya. "Kakak halus sekali kulitnya. Pasti sering perawatan, ya? Ah, aku juga ingin sekali memiliki kulit sehalus ini." Ia genggam tangan wanita itu. Hingga tiba-tiba ia merasakan tangan tersebut bergerak.
"Mama! Papa! Kakak bangun!" teriak gadis remaja itu dengan hebohnya.
Mendengar sang anak berteriak, Seena pun menghampiri Lily.
"Lily, kenapa berteriak gitu, sih!" omel Seena pada buah hatinya.
"Ma! Kakak sadar. Ayo cepetan periksa," ucap Lily dengan wajah berbinar.
"Apa?!" Buru-buru Seena menghampiri brankar. "Oh, Tuhan! Akhirnya dia sadar," pekik wanita itu.
Buru-buru ia ambil alat medis untuk memeriksa keadaan sang wanita itu. Sedangkan si wanita tampak kebingungan dengan apa yang terjadi padanya.
"Hei, apa kamu bisa mendengar saya? Anggukkan kepala jika mendengar," ujar Seena yang diangguk wanita tersebut. "Ah, syukurlah dia tidak apa-apa."
Setelah pemeriksaan, keadaan wanita itu terbilang baik. Tak ada bagian vital yang mengalami cidera. Hanya tangan kanan dan kaki kirinya saja yang mengalami patah tulang, beserta memar juga luka di tubuhnya.
Tak lama, datanglah seorang laki-laki menggunakan kacamata menghampiri kamar tersebut. Ia melangkah mendekat, lalu merangkul anak tunggalnya.
"Gimana keadaannya?" tanya lelaki tersebut pada sang istri.
"Dia baik-baik saja, Yank. Soal bagian patah tulang itu tugasmu," jawab Seena pada lelaki yang adalah suaminya.
"Hai, bagaimana keadaanmu? apa kamu merasakan sakit?" tanya lelaki tersebut pada si wanita.
"Ha-haus," sahut wanita itu yang langsung dengan cepat Lily mengambil minum, lalu menyerahkan pada sang papa. Lelaki itu pun mengangkat sedikit brankar bagian atas agar si pasien bisa setengah duduk dan meminum air.
"Sa-saya di mana?" tanya wanita itu.
"Kamu ada di rumah kita. Tidak perlu khawatir, Kami bukan orang jahat," sahut Seena tersenyum. "Perkenalkan, nama saya Seena. ini suami saya Angla, juga anak saya Lily." Gadis remaja itu tersenyum melambaikan tangan. "Namamu siapa?" tanya Seena pada si wanita.
"Zoya. Namaku Zoya," jawabnya lirih.
"Zoya?" Angla menatap wanita itu dengan seksama.
"Ah, indah sekali nama Kakak. Sama seperti wajah Kakak yang cantik," puji Lily dengan cerianya.
Zoya hanya tersenyum mendengar ucapan itu.
"Sudah, jangan ganggu kakaknya dulu. Dia harus istirahat," sahut Seena pada sang anak. "Zoya, kamu istirahatlah. Lily akan menjagamu di sini. Jika membutuhkan sesuatu, katakan padanya," sahut wanita cantik berambut hitam itu.
"Terima kasih, Tante," ujar Zoya dengan lemah.
"Lily, ingatlah, jangan mengajak Kak Zoya berbicara dulu. Dia harus istirahat," pesan Seena pada anak gadisnya dengan tegas.
"Siap, Nyonya." Lily mengangkat tangan memberi hormat.
Setelah itu, Seena mengajak suaminya untuk keluar ruangan tersebut. Angla sendiri tampak terus menatap Zoya, seperti ia memikirkan sesuatu yang mengganjal di hatinya.
Apa dia? Ah, tapi nama Zoya bukan hanya satu orang yang memiliki. Lagipula Zoya-ku sudah meninggal, batin Angla membuang napas secara kasar.
_______
Hai readers. Ada yang kangen author gak? eh, Zoya maksudnya. Maafkan Author yang telat up, ya. Hari ini dan besok Author akan sibuk sekali dan mungkin bisa up 1 Bab itu pun waktunya gak tetap. Ingat, jangan lupa kasih like, Komen, beri bintang dan kasih ulasan, ya. Karena support kalian itu menjadi semangat untuk author.