
Nio melangkahkan kakinya mendekati dua wanita yang sangat ia cintai. Ia berdeham hingga wanita-wanita cantik itu melepas pelukannya.
"Mas," panggil Zoya menghapus air matanya, begitu juga Samantha.
"Ada suamimu, Mama masuk dulu." Samantha kembali mengecup kening Zoya yang menutup matanya, merasakan kasih sayang seorang ibu yang sudah lama sekali tak ia rasakan.
Setelah itu Samantha berlalu dan Nio duduk di samping sang istri yang langsung merebahkan kepalanya di bahu suaminya. Perasaan Zoya begitu sangat tenang setelah menerima banyak hal yang yang tak terduga.
"Aku bahagia, Mas," ujar wanita muda itu menutup matanya.
Nio tersenyum mendengar itu. Ia raih tangan istrinya dan dikecup. "Aku juga bahagia melihatmu bahagia. Tetap seperti ini, Cheriè. Senyumanmu menjadi alasanku untuk hidup," sahut lelaki tampan itu memeluk erat wanita yang sangat ia cintai.
"Aku bahagia menjadi istrimu, Mas. Bahkan jika harus mengulang kehidupan, aku hanya ingin menjadi istrimu." Zoya mengusap dada suaminya. Ia tak main-main akan ucapannya. Seperti sekarang yang sudah mengalami kehidupan kedua dan ia sangat beruntung masih diberikan kesempatan menjadi istri dari seorang Arsenio Bagaskara.
"Sejuta kehidupan pun kamu tetap menjadi istriku, Zoya. Tidak ada yang lebih berhak selain kamu." Nio memeluk erat istrinya. Ia benar-benar bahagia melihat wajah ceria Zoya.
Hari itu mereka nikmati dengan baik. Zoya juga berada di depan kandang Niu-Niu bersama Saira juga Lily. Mereka bertiga seakan seperti teman yang sangat dekat.
"Kak, hebat sekali bisa punya harimau. Aku jadi ingin punya juga," ujar Lily yang duduk di samping kakak sepupunya itu.
"Memang papamu mengizinkan? Papaku saja menolak. Sepertinya kita harus menikah dulu biar nanti minta izi pada suami saja," sahut Saira yang membuat Zoya tertawa.
"Memang suamimu nanti akan sebaik suamiku? Sepertinya kau tidak akan menemukan suami sebaik kakakmu itu," ujar Zoya yang membuat Saira memutar bola mata malas.
"Dasar bucin. Lihat saja, aku akan mendapatkan suami yang jauh lebih baik dari Kak Nio! Suami yang rela melakukan apa pun bahkan mengambil ikan piranha di hutan Amazon," ucap Saira yang membuat Zoya juga Lily terbahak. Gadis itu sungguh percaya diri saat mengatakannya.
Ketiga wanita muda itu saling berbincang banyak hal, apalagi tentang dunia Zoya saat menjadi artis ternama. Lily bahkan tidak tahu bahwa kakak sepupunya itu salah satu aktris paling hitz bahkan menerima banyak penghargaan.
"Lalu kenapa Kakak sekarang berhenti berkarya? Apa bosan?" tanya Lily.
"Kan Kakak sudah punya anak, jadi lebih fokus mengurus Rasya. Lagipula, Kakak sudah punya suami kaya raya, buat apa bekerja lagi?" tanya Zoya tersenyum.
"Iya juga, ya. Kasihan sekali kalau Rasya berjauhan dengan Kakak. Pekerjaan sebagai artis kan menyita banyak waktu," sahut Lily berpikir.
"Kkhhmmm, kalau kamu bercita-cita jadi apa? Menjadi dokter seperti orang tuamu?" tanya Zoya.
Lily menggeleng. "Aku mau jadi pilot," jawabnya.
"Pilot? Wow!" pekik Saira.
"Kenapa mau jadi pilot?" tanya Zoya.
"Karena aku ingin keliling dunia, melihat bagaimana indahnya dunia ini. Sejak aku lahir, aku selalu berada di pulau, jarang sekali keluar pulau. Aku bahkan tidak tahu banyak hal tentang dunia ini. Jadi, aku ingin sekali tabu banyak hal dari banyaknya tempat," jawab Lily dengan wajah berbinar.
"Lalu, Mama Papamu mengizinkan?" tanya Saira.
"Ya, mereka sangat mendukung. Setelah lulus SMU aku akan langsung mebdaftar di akademi pilot," jawab Lily dengan gembira.
"Semoga saja cita-citamu tercapai." Zoya mengusap kepala adik sepupunya.
Keluarga Deon Maharaja-lah yang datang. Ketiga orang itu berjalan begitu santai seakan rumah itu tak asing untuknya.
"Hai, Zoya," sapa Leticia dengan senyuman yang sangat menyebalkannya.
"Untuk apa kalian datang, hah!" seru Zoya dengan wajah penuh amarah.
"Sayang, kami ke sini untuk menjengukmu. Kami sangat khawatir saat kamu hilang," sahut Lenna—istri Deon.
"Cih! Jangan perkigatkan wajah menjijikanmu itu!" sentak Zoya dengan emosi membara.
"Sayang ...." Nio menggenggam tangan istrinya
"Ada apa ini?" tanya Angkasa datang dengan yang lainnya saat mendengar Zoya berteriak.
"Wah, ternyata benar bahwa Angkasa Lavani telah kembali," ujar Deon dengan senyuman miringnya.
Angkasa tersenyum dengan membenarkan kacamatanya. "Deon Maharaja. Semaki tua saja kamu," cibir lelaki itu yang membuat emosi Zoya sedikit mereda.
"Setelah enam belas tahun, baru sekarang kamu muncul? Saat keponakanmu ini sudah menikahi pengusaha besar. Ada apa? Apa hidupmu menderita sampai ingin menumpang pada keponakan yang tak kamu anggap?"
"Jaga bicaramu, Deon Maharaja!" sentak Zoya dengan emosi.
"Hey, tenanglah." Angkasa mengusap bahu keponakannya.
"Kamu benar-benar tidak tahu berterima kasih, Zoya. Di saat semua orang membuangmu termasuk dia, kamilah yang menampung dan mengurusmu. Tapi lihat, bagaimana kamu menghormati kami?" tanya Lenna dengan wajah pura-pura sedih.
"Oh, come on! Kalian mengurusku tidak gratis. Kalian dibayar oleh semua harta ibuku," cibir Zoya.
"Apakah begini sambutan untuk kami, Nio?" tanya Deon pada sang pemilik rumah. "Bahkan kami tak dipersilahkan untuk duduk," sahutnya lagi.
"Maaf sebelumnya, apa tujuan Om sekeluarga datang?" tanya Nio yang mulai hilang rasa hormat setelah tahu apa yang mereka lakukan pada istrinya.
"Kami ingin menengoki keponakan kami. Apa tidak boleh?" tanya Lenna.
"Maaf, tapi Zoya harus beristirahat. Ia belum boleh ditemui siapa pun," jawab Nio dengan tegas.
"Kami keluarganya, bahkan mereka boleh di sini, kenapa kami dilarang?" tanya Leticia dengan kesal.
"Aku muak melihat kalian. Apa kalian tidak punya muka? Setelah apa yang kalian lakukan padaku, kalian pikir bagaimana hubungan kita?" tanya Zoya.
"Aku tidak menyangka bahwa kamu begini. Padahal sejak kecil saat semua orang membuangmu, kami-lah yang mengurusmu. Apalagi saat keluarga Lavani berkata bahwa kamu bukanlah anak Samudera Lavani," ujar Leticia terisak.
"Jaga bicaramu! Zoya adalah anak dari Samudera Lavani!" sentak Angkasa yang tak terima. Ia berjalan mendekati Deon. "Jangan pernah berkata yang tidak-tidak, atau kalian akan mendapatkan akibatnya. Aku akan membuat perhitungan pada kalian atas apa yang kalian perbuat pada keponakanku! Camkan itu!" Dengan menahan amarah, Angkasa menunjuk wajah Deon yang justru tertawa.
"Dasar munafik! Berakting seperti seakan kau adalah paman terbaik untuk Zoya. Aku tahu, kau mendekati dia hanya karena ingin hartanya, 'kan? Kau dan Si Tua Regi itu sama saja! Jangan munafik, Angkasa!" Deon tersenyum miring, lalu menepuk bahu Angkasa. "Ingatlah, kehadiranmu, justru akan menjadi petaka untuk Zoya," bisiknya.