
Nio tengah menggendong Rasya yang terus menangis. Sejak kepergian mamanya, bocah itu menjadi sangat rewel dan beberapa kali mengalami demam. Itu juga yang membuat Nio sangat merasa semakin sedih. Sudah hampir dua minggu istrinya masih belum ada kabar, bahkan tim SAR sudah menghentikan pencarian. Nio sendiri sejak awal memang tak memedulikan itu sebab ia mencari istrinya sendiri.
"Sayang, jangan menangis." Nio terus menimang sang anak yang tak berhenti merengek.
"Mamma, Mamma." Bocah itu terus berceloteh memanggil mamanya.
"Iya, Sayang. Kita akan menemukan Mama, ya. Rasya jangan menangis lagi. Cup, cup, cup." Nio terus berusaha menenangkan bocah itu. Namun, ia tetap menangis mengarah ke pintu utama. Bahkan tubuhnya terus berusaha mengarah ke sana. "Jangan keluar, Nak. Di luar gelap. Ini sudah malam."
"Mamaa, mamaa."
"Besok kita cari Mama lagi, ya. Papa janji akan—" Tiba-tiba Nio menghentikan perkataannya. Tubuhnya menegang mendengar seseorang memanggil nama sang anak. Suaranya begitu ia kenali dengan jelas.
"Rasya ...."
Air mata Nio turun mendengar suara itu, meski ia belum melihat siapa yang memanggil.
"Mamaaa, mamaaaa."
Dengan perlahan Nio berbalik. Tangisannya luruh saat melihat istrinya berdiri di depan pintu utama.
"Mas Nio," lirih Zoya dengan air mata yang sama derasnya.
"Che-Cherié. Benarkah itu kamu?" tanya Nio berjalan perlahan menghampiri wanita yang masih menggunakan arm bag dan kruk itu.
"Rasya, mama kangen, Nak." Zoya merentangkan tangannya yang tak luka berharap bisa memeluk anaknya.
Nio akhirnya berjalan cepat saat sadar bahwa itu benar-benar Zoya. Lelaki itu memeluk tubuh semapai istrinya dengan tangis yang pecah. Begitu pun dengan Zoya. Sepasang suami istri itu merasakan perasaan yang begitu bahagia karena bisa saling bertemu kembali.
Mendengar suara tangisan, Saira dan Samantha berlari menghampiri. Keduanya terkejut saat melihat Nio memeluk seorang wanita yang terluka. Mereka tahu bahwa itu adalah Zoya. Dua wanita beda generasi itu sama-sama meneteskan air mata melihat pemandangan di depannya. Akhirnya, penderitaan Nio dan Rasya kini hilang. Penyemangat mereka telah kembali dengan keadaan masih hidup.
"Ya Tuhan, terima kasih." Hanya itu yang bisa Nio katakan dengan terus memeluk istrinya.
Samantha pun meraih Rasya, hingga Nio bisa benar-benar memeluk Zoya. Tangisnya benar-benar menyayat hati. Rasa sedih, khawatir, takut itu Nio tumpahkan semuanya. Bahkan terdengar isakan yang membuat Samantha tak bisa menahan sedihnya. Baru kali ini ia melihat anak lelaki yang begitu kuat terlihat lemah tak berdaya hanya karena seorang Zoya. Ia benar-benar bisa melihat betapa cintanya Nio pada wanita itu.
"Jangan tinggalkan aku, Zoya. Aku takut," lirih Nio yang membuat perasaan Zoya begitu sakit.
"Aku tidak akan pergi, Mas. Aku bersamamu."
Nio melepas pelukannya. Ia tatap wajah cantik yang dua minggu ini membuatnya seakan mau mati. Ia kecup seluruh bagian wajah istrinya, lalu kembali memeluknya.
Hingga tanpa sadar, Saira menatap ke belakang di mana ada tiga orang yang ia merasa tak asing. Gadis cantik itu berpikir siapa orang-orang itu, sepertinya ia kenal.
"Oh, astaga! Tante Seena? Lily!" panggil Seena tiba-tiba membuat Samantha juga Nio dan Zoya menoleh pada gadis itu.
"Kamu kenal dengan mereka?" tanya Samantha.
"Ma! Mereka-lah yang aku ceritakan. Mereka yang menolongku juga Mas Nio saat di pulau."
Nio pun menatap ketiga orang yang berada di belakang istrinya.
"Astaga, mari masuk. Maaf, saya jadi terbawa suasana begini." Nio mempersilahkan masuk tamunya dengan mengusap air mata.
Akhirnya mereka semua duduk di ruang tamu. Nio masih saja posesif terus mendekap istrinya. Zoya sendiri malu dilihat keluarga mereka hingga terus meminta dilepaskan.
"Aku takut kamu hilang lagi kalau aku lepaskan." Begitulah jawaban yang diberikan Nio pada istrinya, yang membuat keluarga mereka tertawa geli.
Akhirnya lelaki itu melepas Zoya sebab kini harus berbicara dengan sang penolong istrinya. Waktu itu juga menjadi kesempatan Zoya mendekap sang anak. Ia peluk bocah itu dengan air mata yang luruh. Rasya tampak bahagia bisa melihat mamanya lagi.
"Mama kangen Rasya," ujar Zoya yang hanya bisa memeluk dengan satu tangan saja.
Zoya pun mendapat penyambutan hangat dari adik ipar juga ibu mertuanya. Zoya sedikit terkejut saat Samantha memeluknya, meski tak berkata satu kata pun. Setelah acara peluk-memeluknya selesai, akhirnya mereka berbincang dengan keluarga Angkasa.
"Kkhhmmm, sebelumnya perkenalkan, nama saya Arsenio Bagaskara. Ini ibu saya Samantha Bagaskara dan adik saya Saira Putri Bagaskara. Dan itu adalah anak saya juga Zoya, Rasya." Nio memperkenalkan keluarga.
"Salam kenal. Saya adalah Angkasa Lavani, ini Seena istri saya juga Lily anak kami. Dan saya adalah paman dari istri Anda."
Ketiga orang di depan Angkasa terkejut. Mereka menatap satu sama lain, lalu menatap Zoya.
"Kecelakaan ini ada hal baik yang aku terima, Mas. Aku menemukan pamanku yang telah hilang," ujar Zoya tersenyum. Ia akhirnya menceritakan apa yang terjadi. Nio begitu bersyukur bahwa keluarga istrinya yang dirindukan ditemukan juga. Ia genggam erat tangan Zoya.
"Padahal saat itu kita ke rumah Om dan Tante, ya. Tapi justru tidak bertanya soal keberadaan Kak Zoya," sahut Saira yang mengingat hari di mana ia dan kakaknya berada di tempat yang sama bersama Zoya tetapi tak saling tahu.
"Itulah jalan Tuhan. Andai saat itu kalian menemukan Vani lebih dulu, mungkin kita tidak akan tahu bahwa kami ini keponakan dan paman," sahut Angkasa yang diangguk lainnya.
"Ah, hari ini sangat membahagiakan. Sepertinya kita harus merayakan ini," ujar Nio pada yang lain.
"Kami harus pamit setelah ini kembali ke pulau," ujar Angkasa.
"Om, jangan begitu, Om harus tinggal dulu di sini. Lagipula ini sudah malam. Aku tidak mau tahu!" rengek Zoya dengan cemberut.
"Tapi ...."
"Ayolah, Papa. Kak Zoya juga bilang dia punya harimau putih di rumahnya, aku ingin lihat. Lagipula aku mau bermain dengan Rasya," bujuk Lily.
"Om, Tante, aku harap kalian bisa tinggal beberapa saat di sini. Zoya pasti senang ada Om, Tante, juga Lily. Dia sudah sangat menderita kehilangan keluarganya." Nio menggenggam tangan istrinya dengan erat, membuat Zoya terharu.
Angkasa menghela napasnya pelan, menatap Seena yang mengangguk.
"Baiklah, kami akan tetap di sini, tapi hanya dua hari, sebab warga pulau membutuhkan kami," ujar Angkasa.
"Terima kasih, Om. Aku sangat senang mendengarnya," ujar Zoya dengan mata yang berkaca-kaca.
Samantha tersenyum dengan mata berkaca-kaca juga. Ia teringat saat Nio begitu hampir gila kehilangan Zoya. Saat itu dengan teganya Samantha berkata bahwa Nio tinggal melupakan saja Zoya dan menikah lagi dengan Aurora. Di situ Nio sangat marah pada ibunya dan akhirnya bercerita kisah hidup Zoya juga kesalahpahaman antara dirinya dan Zoya. Samantha pun terkejut mendengar kisah hidup menantu yang ia anggap tak tahu diri itu. Ia tak menyangka wanita itu mengalami hal berat. pantas saja Zoya melakukan itu semua dulu.
Sejak saat itu, hatinya melunak untuk Zoya. Ia berjanji akan lebih baik pada menantunya, apalagi sejak kecil wanita muda itu sudah kehilangan kasih sayang dari keluarganya.