
Arsenio menatap sendu ruang ICU di mana Zoya kini terbaring lemah. Setelah berjuang menyelamatkan Zoya, para dokter bisa bernapas lega ketika keadaan wanita muda itu kembali normal. Nio yang panik mendengar detak jantung istrinya berhenti pun sedikit lega saat dokter berkata keadaannya kembali normal.
Dengan perjuangan mencari darah untuk sang istri, Nio berhasil mendapatkan dari negara Singapura dan dengan cepat langsung dikirim dari sana, sehingga keadaan Zoya pun mulai melewati masa kritisnya.
Nio menyentuh jendela yang memisahkan keduanya. Hatinya begitu sakit dan rasa bersalah masih menggelayuti diri atas apa yang terjadi pada Zoya. Ia tak menyangka bahwa istrinya bisa melakukan hal nekad hanya karena dipisahkan dari Rasya.
"Apa maumu, Zoya? Bukan aku tak ingin kamu dekat dengan anak kita, tetapi perubahanmu ini sungguh membuatku bingung. Aku hanya ingin menjaga Rasya dari hal buruk," gumam Nio menatap sang istri yang terbaring lemah.
"Tuan ...."
Nio menoleh pada asisten yang memanggilnya.
"Ada apa?" tanya Nio menatap Langit.
"Kepala Pelayan Jessica menghubungi saya dan berkata bahwa Tuan Muda Rasya sejak pagi terus menangis dan hanya berhenti saat terlelap. Ketika terbangun menangis lagi dan selalu bergumam," ujar Langit pada atasannya.
Nio hanya mengangguk. "Saya akan pulang sebentar lagi. Saya ingin bertemu istri saya dulu. Siapkan mobil," ujarnya pada sang asisten. Langit pun undur diri untuk mengambil mobil dan akan menunggu di lobby.
Lelaki tampan dengan kacamata itu menatap lagi istrinya. Ia berjalan menuju meja perawat dan berkata ingin masuk menemui Zoya. Salah satu perawat wanita pun membawa Nio untuk mengenakan pakaian khusus, tak lupa menyemprotkan disinfekta sebelum masuk ruang ICU. Setelah selesai, lelaki tampan itu masuk dan berjalan mendekat ranjang. Ia duduk di kursi dekat brangkar.
Nio menyentuh tangan yang lemah dengan sebuah alat terjepit di jarinya. Ia genggam, lalu membawanya menyentuh pipi. "Jangan tidur terlalu lama, Zoya. Lihatlah, Langit berkata bahwa Rasya terus menangis sejak pagi. Mungkin dia sangat khawatir pada ibunya," ujar Nio mengusap wajah sang istri yang pucat.
Nio teringat saat pertama kali ia bertemu dengan seorang Zoya Maharani Lavani, artis muda yang memiliki bakat luar biasa. Bukan hanya seorang pemain film dan series, Zoya juga seorang penyanyi soundtrack, meski ia sendiri tak fokus pada dunia tarik suara. Saat itu karier Zoya sedang di atas dan menjadi salah satu artis remaja yang sangat bersinar. Film-filmnya selalu masuk blockbuster dan seriesnya selalu mendapat rating tinggi, membuat remaja akhir itu begitu digandrungi banyak fans. Sosok Zoya adalah Artis remaja panutan entah itu untuk sesama usianya atau yang lebih tua darinya.
Zoya sendiri sangat pemilih dalam mengambil sebuah peran. Ia tak suka mendapat peran yang merusak moral remaja seperti series yang menyuguhkan adegan-adegan tak pantas untuk usianya. Di saat banyak artis seumurannya sibuk dengan berita romancenya, Zoya lebih disorot atas prestasi yang didapatnya. Seperti meraih medali emas di kejuaraan karate se-Asia Tenggara, lalu mendapat penghargaan di ajang award perfilman atau award stasiun televisi. Zoya menjadi panutan sebagai remaja yang patut dicontoh banyak orang.
Akan tetapi, ketenaran dan sanjungan itu runtuh saat khalayak umum mengetahui bahwa Zoya Maharani Lavani hamil di luar nikah. Semua orang akhirnya menghujatnya dengan kata-kata munafik dan tak pantas menjadi panutan. Nama baik yang Zoya jaga sejak lama hancur begitu saja dalam satu malam. Agensi yang menaunginya memutus kontrak, film-film yang menunggu dirinya pun ditarik kembali, belum lagi merek-merek yang menjadikannya brand ambassador memutus kontrak begitu saja. Karier yang ia dibangun dari nol itu hancur dan musnah begitu saja.
Arsenio menghela napasnya yang terasa sesak. Semua perlakuan Zoya padanya memanglah pantas. Karena dirinya, gadis berprestasi itu terjatuh ke jurang kehancuran dan merubah gadis ceria itu menjadi wanita yang sangat mudah tersulut emosi apalagi jika mengenai dirinya juga Rasya.
"Cepatlah sadar dan sehat, aku janji akan mencoba percaya padamu untuk menjaga Rasya. Jangan lakukan hal ini lagi, Zoya. Aku sungguh takut." Nio mencium dan menggenggam erat tangan istrinya dengan perasaan masih menyesal.
Setelah puas, Nio pamit pada Zoya untuk pulang sebentar melihat anaknya yang rewel di rumah. Ia juga berkata pada perawat untuk menjaga sungguh-sungguh istrinya. Setelah itu, ia berjalan menuju lobby sebab Langit sudah menunggu di sana.
"Tuan ...." Langit membukakan pintu mobil untuk Nio, tetapi justru pintu belakang itu ditutup kembali.
"Langit, saya akan pulang sendiri. Kamu tinggalah di sini untuk menunggu istri saya. Saya akan tenang jika seseorang menjaganya," ujar Nio pada asistennya.
"Baik, Tuan," ujar Langit yang tak bisa membantah.
Setelah itu Nio melangkah menuju kursi kemudi dan masuk. Mobil sedan putih itu pun melaju meninggalkan rumah sakit.
Bonus visual cast novel Another Chance
Zoya Maharani Lavani
Arsenio Bagaskara
Rasya Galendra Bagaskara