Another Chance

Another Chance
Bab 19



"Wah, Nyonya cantik sekali," puji salah satu pelayan ketika Zoya keluar kamar.


Wanita itu memang terlihat begitu cantik menggunakan gaun berwarna biru langit dengan motif bunga sakura selutut lengan tiga perempat. Rambut curly cokelatnya dicepol dengan anak rambut menjuntai di sisi wajah. Tak lupa merias wajah dengan gaya flawless hingga kecantikannya terpacar indah tak berlebihan.


"Anda selalu tampil cantik, Nyonya," puji Jessica.


"Kalian bisa saja," ujar Zoya tersenyum. "Apa supir sudah siap? Sebentar lagi jam makan siang." Zoya menatap jam tangan mewahnya.


"Pak Sammy sudah siap, Nyonya," jawab Jessica.


"Baiklah. Sini lunch boxnya." Jessica pun memberikan kotak makan empat susun itu pada sang nyonya. Mereka pun berjalan keluar rumah dan mobil sedan putih keluaran Eropa itu telah menunggu.


Melihat sang nyonya keluar, Pak Sammy—supir pribadi kediaman Arsenio buru-buru membukakan pintu. Zoya pun masuk, lalu Jessica membantu menaruh tuan mudanya di kursi khususnya. Setelah itu mobil berlogo T itu melaju meninggalkan hunian mewah tersebut.


Perjalanan dari rumah menuju PH film milik Nio menempuh perjalanan sekitar tiga puluh menit jika tak macet. Beruntung Zoya keluar saat waktu jam kantor operasional sehingga perjalanannya lancar dan sampailah mereka di kantor milik suaminya dengan nama Nio's Entertainment. Gedung tinggi berlantai tiga puluh itu tampak begitu gagah dengan warna dominan merah dan hitam. Zoya keluar mobil setelah Pak Sammy membukakan pintu.


Petugas pembuka pintu utama menghampiri istri pemilik perusahaan tersebut untuk menyapa dan membantu membawa kotak makan siangnya. Siapa yang tak tahu Zoya Maharani Lavani? Meski hubungannya dengan Nio buruk sejak lama, ia masih tetap dihormati sebab Nio akan sangat murka jika ada karyawannya yang berkata atau bertidak tidak baik pada ibu dari anaknya tersebut.


"Nyonya," panggil seseorang hingga Zoya menoleh ke arah suara.


"Langit, kenapa ada di sini?" tanya Zoya heran dihampiri asisten suaminya.


"Jessica tadi menelepon katanya Nyonya datang dengan membawa Tuan Muda. Anda pasti kesusahan apalagi tangan Nyonya tengah terluka," ujar Langit. "Biar saya gendong tuan mudanya." Lelaki berjas cokelat itu menerima Rasya yang diberikan Zoya. Sedangkan pengawal depan pintu tadi menyerahkan kotak makan siang setelah diminta Zoya. Tak lupa wanita cantik itu berterima kasih.


Zoya sendiri sering mengunjungi perusahaan meski dulu hanya ingin meminta uang atau sekadang mengomel pada suaminya. Namun hari ini, wanita cantik itu datang untuk membawa makan siang dengan perasaan baik. Ia berjalan menuju lift khusus. Para karyawan mengangguk hormat apalagi melihat Zoya yang dikawal Langit juga membawa sang tuan muda.


"Kamu gak bilang Mas Nio aku ke sini, 'kan?" tanya Zoya pada Langit saat mereka berada dalam lift.


"Saya belum bilang, Nyonya."


"Baguslah," jawab Zoya tersenyum. Ia memang ingin memberi kejutan pada suaminya.


Tak lama, pintu lift terbuka di lantai dua puluh lima, yang adalah ruangan milik Nio dengan beberapa asisten juga sekertarisnya. Mereka bertiga melewati beberapa ruangan hingga sampailah mereka di pintu dengan tulisan Produser eksekutif.


"Silahkan masuk, Nyonya," ujar Langit membukakan pintu setelah mengetuknya.


Zoya pun masuk terlebih dahulu. Wajahnya yang ceria tiba-tiba berubah saat melihat pemandangan di depannya. Tangannya mengepal hebat ketika menatap Luna yang kini seperti memijat bahu suaminya. Nio sendiri terkejut melihat istrinya yang datang.


"Zoya. Kamu datang," ujar Nio berdiri lalu menghampiri istrinya, tak peduli dengan Luna yang memanggilnya.


"Maaf, Nyonya, Tuan, saya lupa kalau Luna ada di dalam," ujar Langit tak enak hati. Ia benar-benar tak ingat bahwa artis kelas 3 itu kini tengah bertemu atasannya.


"Maaf, sepertinya aku ganggu," ujar Zoya tersenyum pada Nio, meski hatinya dongkol melihat si Ular Kadut itu mencoba menggoda suaminya.


"Nggak ganggu, kok. Ayo, masuk." Nio membawa istrinya masuk, tak lupa meminta Rasya dari Langit dan diajak duduk. Sedangkan Luna menatap tak suka melihat saingannya justru datang.


"Itu makan siang untuk Mas. Aku yang masak sendiri, loh," jawab Zoya tersenyum sesekali menatap sinis Luna yang berdecak pinggang.


"Kamu yang masak? Beneran?" tanya Nio tak percaya.


Zoya cemberut mendengarnya. "Gak mau?" tanya wanita cantik itu.


"Mau lah, masa gak mau," jawab Nio cepat dengan wajah berbinar.


"Langit, tolong bawakan piring tiga," ujar Zoya.


"Baik, Nyonya."


"Loh, Pak. Terus makanan yang aku bawa gimana?" tanya Luna tak terima. Ia sudah jauh-jauh datang membawa makanan, justru tak diacuhkan gini.


"Maaf, Luna. Istri saya sudah membawakan. Saya tidak mau mengecewakan dia. Jadi, kamu bawa lagi saja makanannya. Dan sekalian, kalau tidak ada urusan lagi kamu boleh pergi," ujar Nio menatapan dingin Luna yang kini tampak kesal meraih kotak makannya dan berlalu meninggalkan ruangan besar itu.


Tak lama Langit datang dengan membawa piring serta gelas. Lalu ia mengambil air minum dalam botol kaca untuk atasannya itu.


"Langit, ambillah." Zoya menyerahkan satu piring berisi steak juga sayuran dan saus untuk asisten suaminya itu.


"Ah, tidak perlu, Nyonya. Untuk Anda dan Tuan saja," tolak Langit merasa tak enak.


"Aku membawa tiga porsi loh ini. Aku membuatnya susah. Kamu tidak mau menghargainya?" tanya Zoya dengan wajah sedih. "Aku tahu rasanya mungkin sedikit aneh dan tak seenak hotel bintang lima. Tapi, aku tulus membuatnya dan aku berikan padamu sebagai rasa terima kasih karena kamu sudah menjaga Mas Nio juga Rasya dengan baik selama ini," ujarnya yang membuat Langit serta Nio tak percaya dengan kata-kata wanita itu.


"Ambil, Langit." Nio menatap tajam asistennya.


"Terima kasih, Nyonya. Saya jadi speechless gini. Nyonya tidak perlu sungkan, karena saya melakukan itu semua atas nama pekerjaan," ujar Langit menerima piring yang diberikan oleh Nio.


"Apa pun itu, kamu sudah membantu Mas Nio di masa sulitnya dan aku sangat berterima kasih untuk itu," kata Zoya tulus.


Mendengar itu semua, hati Nio begitu menghangat. Bahkan matanya berkaca-kaca. Apakah benar yang berbicara itu Zoya istrinya yang dulu begitu membencinya? Nio benar-benar tak bisa berkata-kata lagi. Bahkan Langit pun merasa terharu dengan apa yang dikatakan nyonyanya.


"Kkhhmmm, kalau begitu saya permisi, Tuan dan Nyonya. Sekali lagi terima kasih atas makanannya. Saya sangat tersanjung untuk kebaikan Nyonya."


Setelah itu, Langit pamit keluar meninggalkan sepasang suami-istri tersebut.


"Kamu belum menjelaskan kenapa dengan tanganmu itu. Kenapa diperban?" tanya Nio menatap istrinya khawatir. Sejak tadi ia sudah melihat, tetapi ia masih bungkam sebab istrinya itu sibuk memindahkan makanan ke piring.


"Oh, ini?" Zoya menunjukkan tangan kanannya yang diperban. "Beberapa kali telapak tanganku terluka, jadi diperban," jawab Zoya santai.


"Karena masak makanan ini?" tanya Nio menunjuk steak di depannya.


"Iya. Aku sebenarnya tidak bisa masak, Mas. Tapi, aku ingin masak untukmu. Jadi, aku mencoba dan ternyata lumayan sulit," jawab Zoya tertawa kecil. "Ini sebagai tanda maafku sebab tadi pagi reflek menendang Mas Nio. Aku minta maaf, ya. Aku cuma kaget dan reflek melakukan itu. Mas jangan marah lagi," katanya dengan wajah sedih. "Maaf juga ya, Mas, kalau makanannya gak enak ini pertam—" Belum selesai Zoya berbicara, tiba-tiba bibirnya dibungkam ciuman oleh Nio yang membuat wanita itu terkejut dengan debaran jantung yang luar biasa.