
"Aku bukan anak Papa Samudera."
Jantung Nio hampir copot mendengarnya. Ia bahkan sampai menutup mulutnya saking tak percaya.
"Hah?" Hanya itu yang bisa keluar dari bibir lelaki itu.
Melihat wajah terkejut suaminya, Zoya tertawa geli.
"Bagaimana bisa? Kamu jangan bohong," sahut Nio masih syok mendengarnya.
Tak lama Sapto datang dengan pelayan lain membawa semua menu yang ada di sana. Zoya sendiri sampai melupakan percakapannya dengan sang suami yang masih digantung dengan perkataan wanita itu.
**
Tepat pukul sebelas malam mereka sampai di rumah. Nio dan Zoya pun mengganti kembali pakaian mereka dengan piyama lalu berbaring. Nio menodong sang istri untuk menjelaskan semuanya karena dia kepalang tanggung.
"Kata Opa Regi, pamannya Papa, aku bukan anak Papa, karena ...." Zoya menghela napas. "Aku bukan ingin membuka aib Mama, aku hanya ingin bercerita pada Mas, karena mungkin akan ada masalah tentang hal ini," ujarnya kembali. Nio pun masih menatap sang istri fokus tanpa memotong cerita Zoya.
"Papa dan Mama dulu menikah dijodohkan. Mama dulu tidak suka pada Papa karena sudah memiliki kekasih. Setelah menikah pun mereka masih berhubungan bahkan melewati batas. Lalu, saat Mama hamil aku, perselingkuhannya terbongkar dan keluarga Papa mengira bahwa aku bukanlah anak papa. Namun, Papa meyakinkan bahwa aku adalah anaknya. Papa pun meminta keluarganya untuk tidak membahas soal ini semua," ujar Zoya.
Keluarga Lavani pun tak berani untuk melawan seorang Samudera. Karena lelaki itu adalah pewaris utama keluarga Lavani dan semua anggota keluarga tunduk akan ucapannya. Mereka menganggap Zoya memang anak Samudera. Hingga kematian Samudera dan Ken Ayu datang di usia Zoya lima tahun karena kecelakaan. Saat itu bukan hanya orang tua Zoya yang tiada. Angkasa—adik satu-satunya Samudera pun—hilang sampai sekarang sudah 16 tahun tak ada kabar sedikit pun.
"Hilangnya Om Angkasa menjadi senjata keluarga Lavani mengusirku dan memberikan pada Om Deon," ujar Zoya kembali. "keluarga Maharaja menerimaku juga karena aku membawa harta Mama."
Tinggal di rumah Deon adalah petaka terbesar untuknya. Zoya kecil mendapat perlakuan buruk dari keluarga om-nya itu. Ia ditempatkan di kamar yang dulunya adalah gudang. Hanya ada mantras kecil juga satu bantal serta selimut tipis. Pakaian pun ia mengenakan bekas Leticia yang sudah usang. Sedangkan pakaian bagusnya diambil sang kakak sepupu yang memang kebetulan tubuh mereka sama.
Zoya yang selalu diperlakukan seperti tuan putri pun sempat trauma dan ia menjadi bisu untuk beberapa tahun. Ia hanya diam dan tak memberi respon pada orang-orang. Deon sendiri tak memedulikan keadaan keponakannya. Ia hanya peduli dengan harta mendiang adiknya. Semua yang Ken Ayu tinggalkan dikuasai oleh dia.
Beruntung ada Bastian, anak bungsu Deon yang sangat baik pada Zoya. Lelaki seumurannya itu selalu menghibur Zoya, memberi makan bahkan kadang memberikan hadiah atau cokelat. Hanya Bastian yang baik padanya. Perlahan Zoya pun kembali bangkit atas bantuan semangat dari sepupunya itu.
Semakin lama perlakuan keluarga Deon semakin parah. Bahkan Zoya sudah tak diberi makan. Setiap hari ia hanya menunggu Bastian yang memberinya makanan. Hingga suatu hari anak lelaki itu ketahuan selalu memberi makan serta membantu Zoya dan akhirnya Deon mengirim Bastian sekolah ke luar negeri, menjauhkannya dari Zoya.
Sejak kepergian Bastian hidup Zoya semakin merana sampai ia lulus sekolah dasar. Bukan melanjutkan ke sekolah menengah, Zoya justru mencari kerja hanya untuk makan. Hingga ia bertemu tenda milik Sapto dan memohon pada lelaki itu untuk menerimanya sebagai pelayan di sana. Mendengar cerita bocah sebelas tahun itu akhirnya Sapto menerima Zoya bekerja. Sebenarnya ia tak keberatan memberikan seporsi ayam bakar dan uang jajan. Namun, Zoya menolak dan ingin bekerja untuk mendapatkan uang.
Sapto pun memberikan pekerjaan mencuci alat makan. Zoya bekerja dari jam empat sore sampai jam sembilan malam. Sapto memberikan uang dua ratus ribu per minggu dan setiap malam mendapat seporsi makan. Semua berjalan dua tahun, sampai akhirnya ia bertemu Jingga di tenda itu juga. Jingga yang seorang manager artis junior pun tertarik dengan kecantikan Zoya yang sedikit kebulean dari darah Samudera.
Zoya yang ditawari uang besar dan keluar dari keluarga Deon pun menerima. Ia sudah muak tinggal di kediaman Deon dan berharap sejak lama pergi dari neraka itu. Meski begitu, jalan Zoya tak semudah itu. Deon yang menjadi wali Zoya pun melarang bocah itu keluar dari kediamannya.
Zoya terus memohon untuk diizinkan, bahkan ia rela melakukan apa pun demi diizinkan untuk menjadi seorang artis. Deon yang memiliki otak iblis pun meminta Zoya untuk tanda tangan di selembar kertas. Anak usia tiga belas tahun tak mengerti apa-apa itu pun menurut saja tanpa tahu kertas yang ia tanda tangani adalah surat pemindahan harta milik Ken Ayu yang diwariskan pada Zoya berpindah ke Deon. Zoya hanya berpikir ia harus keluar dari rumah itu tanpa ia tahu haknya telah diambil.
"Setelah itu aku akhirnya keluar dari neraka itu, meski harus kehilangan peninggalan Mama. Saat aku paham, sungguh aku merasa sedih. Rumah masa kecilku dijual, semua butik Mama juga dijual tak tersisa," ujar Zoya mengusap air matanya. "Tapi aku beruntung karena saat pelelangan butik itu aku sudah cukup usia yaitu delapan belas tahun. Akhirnya aku membeli butik Mama dengan uang hasil menjadi artis selama empat tahun," katanya lagi.
"Padahal itu milikku, tapi aku harus membelinya." Zoya tertawa miris.
Jantung Nio terasa nyeri mendengarnya. Kisah hidup Zoya begitu tragis. Ia tak menyangka bahwa Putri Mahkota keluarga Lavani justru tumbuh dengan luka yang sangat dalam. Nio memeluk istrinya. Air matanya terjatuh membayangkan bagaimana sulitnya hidup Zoya saat kecil hingga remaja. Dadanya terasa sesak dan ia sungguh berharap bisa kenal Zoya lebih awal.
Nio bungkam seribu bahasa. Ia masih syok dengan apa yang ia ketahui dari kehidupan istrinya. Dadanya bahkan terasa nyeri. Bagaimana istrinya bisa sekuat itu menjalani hidup yang sulit? Tanpa orang tua, keluarga yang membuangnya, bahkan untuk makan saja sulit. Ia tak bisa membayangkan jika ia berada di posisi Zoya. Sejahat itukah kedua keluarga pada seorang gadis? Tangan Nio mengepal dengan kuat. Pantaslah Zoya begitu membenci Deon dan keluarga. Bahkan wanita itu terlalu baik tak membalas apa yang mereka lakukan dulu.
Kini, Nio berjanji akan menjaga Zoya dari orang-orang yang berniat jahat pada wanitanya. Ia tak akan membiarkan istrinya mengalami hal sulit lagi seperti dulu.