
Zoya dan Nio tertawa berjalan masuk kediamannya. Mereka tengah membahas hal lucu yang membuat keduanya terbahak. Hingga Zoya terkejut melihat pemandangan di depannya.
"Rasya!" pekik Zoya berkaca-kaca melihat sang anak perlahan sudah bisa berjalan. Bocah itu melangkah tertatih menghampiri ibunya.
"Mamahhh." Sepasang tangan gembul itu terangkat meminta ibunya untuk memeluk.
Dengan pelan, Zoya berjongkok lalu ia memeluk anaknya dengan rasa haru. Pertama kali untuknya melihat Rasya berjalan sehingga ada rasa bahagia yang tak dijabarkan. Apakah semua ibu begitu? Atau hanya Zoya dan Author saja yang begitu? Selalu terharus dengan perkembangan anak-anak kita.
"Ya Tuhan, anakku berjalan," ujar Zoya dengan berderai air mata, yang membuat Nio terkekeh.
Laki-laki itu pun berjongkok mengusap punggung istrinya yang masih memeluk sang anak. "Sejak kamu hilang Rasya seakan memaksa untuk berjalan. Mungkin ia gemas ingin mencarimu. Dia begitu mencintai mamanya, sehingga rela melakukan apa pun untukmu," ujar Nio yang membuat hati Zoya menghangat.
Wanita cantik itu melepaskan pelukannya. Ia tatap bocah tampan yang memiliki paras perpaduan dirinya juga sang suami.
"Rasya sayang sama Mama?" tanya Zoya pada anak itu.
"Mah, yang." Rasya kembali menyandarkan kepalanya di dada sang mama.
"Mama sayang banget sama Rasya. Juga sama Papa Rasya." Mendengar itu, Nio pun memeluk sang istri juga anaknya.
"Papa juga sayang pada Rasya dan Mama Rasya."
"Ish, ish, ish, so sweet sekali keluarga kecil ini. Aku jadi nganan," ujar Saira yang sejak tadi melihat pemandangan manis itu. "Jadi pengen nikah juga."
"No! Kalau kamu nikah muda, bisa disingkirkan calon suamimu oleh papa," tolak Samantha yang tiba-tiba datang.
"Ck! Begini amat ya jadi anak kesayangan Papa. Boro-boro punya suami, laki-laki ada yang dekati saja, Papa sudah mengeluarkan tanduk. Bisa-bisa aku jadi perawan tua kalau begini caranya." Saira melangkahkan kakinya pergi meninggalkan semuanya, meratapi nasib yang begitu menyedihkan.
"Cepat sekali kencannya," sahut Samantha mengambil alih cucunya.
"Zoya kepikiran Rasya terus, Ma. Katanya dia gak enak sama Mama yang selalu menjaga Rasya. Takut merepotkan," ujar Nio yang tiba-tiba disikut Zoya.
"Kamu ini, orang Rasya cucu Mama kok. Sudah, gak usah diambil pusing gitu. Mama paham perasaan kalian. Nikmati saja waktu yang sudah berlalu itu. Kini, kalian fokus saling mengenal kembali. Soal Rasya tidak perlu khawatir."
Nio tersenyum bahagia mengangkat jempolnya pada sang mama. Setelah itu, Samantha pergi membawa Rasya.
"Aku masih kangen Rasya," rengek Zoya menatap suaminya.
"Mending sama papanya dulu. Bagus-bagus kalau bisa kasih Rasya adik. Awww!" pekik Nio saat perutnya dicubit kencang oleh sang istri.
"Rasya satu tahun saja belum, sudah mau nambah," omel Zoya.
"Yeay! Aku menang!" seru Zoya saat suaminya kalah dalam bermain game. Untuk yang satu ini juga Zoya benar-benar ahli. Wanita cantik itu memiliki kelebihan yang banyak.
"Ok, kamu memang terbaik, Zoya," puji Nio tak segan-segan.
**
"Rani, tunggu!" Arsen mengejar istrinya dengan sekuat tenaga. Saat marah, wanita memang jauh lebih kuat dari laki-laki. Begitu pun dengan Rani yang begitu marah, hancur, terluka dan kecewa melihat suami yang sangat ia cintai berselingkuh dengan kakaknya.
Hati Rani seperti dikoyak merasakan sakit yang teramat sakit. Segalanya sudah ia berikan untuk Arsen, tetapi justru pekhianatan yang diberikan lelaki itu.
"Rani!" Arsen terus berteriak mengejar istrinya. Melihat wanita itu terluka, ia merasa bersalah atas apa yang dilakukannya. Ia terlalu lemah untuk tak tergoda oleh Sherina—kakak kandung dari Rani, istrinya.
"Rani, berhenti!" Lelaki itu panik saat istrinya naik ke pembatas jembatan yang sangat tinggi juga di bawahnya terdapat sungai yang begitu deras. Ia sungguh takut istrinya akan terjun.
"Berhenti, Brengsek!" teriak Rani dengan air mata yang mengucur deras. "Apa kurangnya aku, hah? Sehingga dengan tega kamu mengkhianatiku seperti ini. Bahkan kau selingkuh dengan kakak kandungku sendiri." Wanita itu tampak frustasi berdiri di pagar pembatas tersebut menatap suaminya yang ketakutan.
"Maafkan aku, Rani. Demi Tuhan aku menyesal. Maafkan aku yang terlalu lemah ini," isak Arsen yang benar-benar takut istrinya melompat.
"Kenapa harus Sherina, Arsen! Kenapa harus dia?" tanya Rani dengan putus asa.
Apa yang tak ia berikan pada suaminya itu? Bahkan ia rela dikucilkan oleh seluruh penduduk hanya karena ia menolak pinangan anak seorang raja dan memilih Arsen, yang seorang pedagang biasa. Ia bahkan rela diusir keluarga kerajaannya karena ia lebih memilih lelaki miskin itu. Hanya satu tahun, baru satu tahun mereka bersama, tiba-tiba ia menerima kenyataan yang begitu menyakitkan. Tanpa sengaja, ia melihat suaminya tengah memadu kasih dengan kakaknya sendiri. Hatinya begitu hancur berkeping-keping.
"Demi Tuhan, aku tidak akan pernah memaafkanmu sampai seribu tahun lamanya! Aku tidak akan pernah melupakan rasa sakit ini, Arsen! Dan setiap kali kau bereinkarnasi, hanya luka dikhianati yang akan kau terima selama seribu tahun lamanya. Itulah sumpahku padamu!"
Tubuh Rani melayang terjatuh setelah mengucap sumpah itu.
"Rani!"
Nio terbangun dari tidurnya. Wajahnya terlihat terkejut dengan napas yang terengah-engah. Ia usap wajahnya dengan kasar, menatap sang istri yang masih terlelap tidur.
Air matanya kembali jatuh. Dendam Rani benar-benar terjadi. Selama seribu tahun hingga berulang-ulang mereka hidup kembali, Nio mendapat kutukan di mana ia selalu dikhianati oleh istrinya sendiri. Ia diselingkuhi bahkan diabaikan setiap ia kembali hidup.
Tahun ini benar-benar tahun ke seribu di mana ia mendapat maaf dari istrinya, Rani yang berreinkarnasi menjadi Zoya. Ia genggam tangan Zoya dengan sangat erat. Apa pun yang terjadi kini, ia tak akan pernah mengulang kesalahannya dulu. Kini, ia sudah mendapat maaf dari wanita yang dicintainya, ia tak akan menyia-nyiakannya.
Ribuan kali hidup, ribuan kali juga mendapat rasa sakit, ia tak pernah menyesali ketika maaf itu datang untuknya. Semua sumpah itu Nio terima disetiap kehidupan barunya. mencintai tetapi dikhianati. Beribu kali diduakan, ia tak pernah sekalipun menceraikan istrinya sampai ia mati dan kembali berreinkarnasi. Semua ia tanggung demi menunjukkan bahwa ia benar-benar menyesal.
"Rani, aku janji akan setia padamu sampai kapan pun. Aku tidak akan pernah mengulang kesalahan yang sama. Aku akan hancurkan semua yang menyakitimu. Inilah janjiku padamu, Sayang."
Nio kembali membaringkan tubunya. Ia peluk Zoya dengan begitu erat. Entah kenapa, mimpi itu kembali datang, apalagi ia melihat senyuman misterius dari ... Sherina.