
Zoya panik saat melihat seorang wanita memberikan minuman pada Nio. Dengan langkah sedikit cepat juga mengambil minuman, Zoya berjalan menghampiri suaminya.
"Mas, ini aku ambil minuman untukmu," ujar Zoya ketika Nio akan meraih gelas yang wanita lain berikan padanya.
"Zoya, sudah selesai ke toiletnya?" tanya Nio menurunkan tangannya, tak jadi mengambil minuman berwarna merah itu dan meraih jus jeruk yang dibawakan istrinya.
Zoya menatap wanita yang kini tengah berdecak sebal. Ia tersenyum merasa lega sebab jika Nio menerima minuman itu, semua yang terjadi di kehidupan sebelumnya akan terulang.
"Ah, Luna Natasha. Apa kabar?" tanya Zoya tersenyum pada wanita berparas imut tetapi memiliki otak licik.
"Zoya Lavani. Sudah lama ya kita tidak bertemu. Tumben sekali pergi bersama Pak Arsen, bahkan semua orang terkejut loh melihatmu yang datang bersama Pak Arsen dan Rasya. Ke mana kekasih tercintamu itu?" tanya Luna dengan senyuman manis tapi menatap dengan tatapan mengejek.
Zoya tersenyum lalu memeluk lengan kekar suaminya. "Ada yang salah kah jika aku pergi dengan suami dan anakku?" tanyanya dengan tersenyum pada Nio yang menatap terkejut sebab pelukan istrinya.
"Baguslah kalau sekarang kamu sadar bahwa lelaki di sampingmu itu jauh lebih baik dari kekasih gelapmu. Jangan sampai kamu meninggalkan sebuah berlian hanya untuk kerikil," ujar Luna, lalu mendekat pada Zoya. "Dan hati-hatilah, kalau kamu lengah sedikit saja, berlianmu akan dicuri orang," bisik Luna dengan menepuk bahu Zoya.
"Pak, saya pamit dulu. Sampai bertemu di lokasi syuting." Luna mengangguk kecil, berlalu dari sepasang suami-istri tersebut.
"Dasar ular! Omongan dan kelakuan beda jauh!" umpat Zoya kesal. "Mas jangan deket-deket dia! Dia suka sama Mas," omelnya pada sang suami.
Sejak tadi Nio tersenyum penuh arti pada istrinya, membuat Zoya menatap bingung. "Kenapa senyum-senyum begitu?" tanya wanita cantik itu heran.
"Kamu cemburu?" tanya Nio tersenyum menatap istrinya.
Zoya membulatkan mata mendengarnya. "Cemburu? Eng-enggak! Siapa yang cemburu. Aku cuma mau ingetin Mas aja gak semua perempuan yang terlihat baik itu benar-benar baik," sahut Zoya salah tingkah. Cemburu? Oh, come on! Tidak mungkin Zoya cemburu pada Luna.
Nio hanya tersenyum tak menimpali kilahan istrinya. Kini hatinya berbunga melihat bagaimana Zoya misuh-misuh tak jelas ketika tahu ada gadis yang mendekatinya.
Zoya sendiri bernapas lega sebab wanita ular itu benar-benar pergi. Kembali, Zoya teringat pesta ini di kehidupan sebelumnya. Saat itu Nio pergi sendiri menatap sedih Zoya yang justru datang dengan Jordan. Saat itu, Zoya memang memperhatikan suaminya yang didatangi Luna. Wanita licik itu memberikan minuman yang sama seperti malam ini. Zoya yang dulu tak acuh pada Nio pun tak peduli saat Luna membawa Nio yang sempoyongan.
Akhirnya mau tak mau Luna menjadi kekasih gelap Nio. Wanita itu kerap menghabiskan uang Nio dan membuat Nio sibuk dengan dunia Luna. Zoya sendiri dulu tak peduli, tetapi untuk sekarang, pasti dia peduli sebab Zoya sekarang bukanlah Zoya yang tak memiliki perasaan pada Nio. Jika kejadian itu terulang, hati Zoya pasti akan hancur. Luna bukanlah wanita baik-baik yang cocok untuk Nio.
Zoya menghela napasnya. Jika kejadian ini gagal, apakah Luna akan melakukannya di kemudian hari? Ia tahu betul bahwa artis kelas 3 itu rela melakukan apa saja untuk mencapai keinginannya. Apalagi Nio adalah lelaki sukses dengan pesona luar biasa.
"Dulu Mas Nio dekat dengan Luna karena tidak mendapat perhatianku dan si Ular itu cukup perhatian pada Mas Nio. Jika ingin membuat keduanya tak dekat, aku yang harus dekat dengan Mas Nio. Tapi, gimana caranya?" tanya Zoya di dalam kamarnya.
Tak berselang lama Luna pergi, mereka pun kembali ke rumah sebab Rasya mengantuk dan terus merengek.
Kini, Zoya bersama sang anak tengah berbaring. Ia tatap anak kesayangannya dengan penuh perasaan. "Sayang, apa yang harus Mama lakukan untuk menolong Papa? Mungkin Mama akan rela jika papa mendapat wanita yang jauh lebih baik dari mama. Tapi, untuk Luna, mama gak akan rela. Kasihan kamu nanti punya ibu tiri seperti Nenek Lampir," katanya pada bocah yang kini terlelap. Ah, rumit sekali mengubah keadaan, apalagi situasi mereka yang tak selayaknya suami-istri yang normal.
Dalam kekalutannya, tiba-tiba ia mendengar suara ketukan pintu. Zoya menoleh ke arah suara. Ia sedikit heran, siapa malam-malam begini yang mengetuk pintunya. Dilihat jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Para pelayan serta Jessica pasti sudah masuk paviliun. Lalu, siapa yang mengetuk pintu kamarnya?
Ketukan kembali terdengar, hingga akhirnya Zoya beranjak dan melangkahkan kakinya. Setelah itu, ia membuka pintu dan sedikit terkejut.
"Loh, Mas Nio. Ada apa?" tanya Zoya melihat sang suami di depan pintu kamarnya.
"Apa aku mengganggu? Kamu sudah tidur ya?" tanya Nio tak enak.
"Belum, Mas. Ada apa?" tanya Zoya kembali. Tak biasanya sang suami mengetuk pintu di tengah malam.
Nio berdeham untuk sesaat, sesekali menatap ragu istrinya. "Apa aku boleh tidur di kamarmu?"
___
Jangan lupa untuk memberi Bintang 5 dan ulasan, ya. Support kalian menjadi semangat untuk Author.