Another Chance

Another Chance
Bab 62



Setelah menempuh perjalan selama hampir satu jam, sampailah mereka di salah satu studio khusus untuk syuting. Zoya tersenyum saat keluar mobil melihat sang suami yang tengah menunggunya. Dengan berjalan begitu penuh pesona, Nio menghampiri istrinya. Ia peluk wanita cantik itu lalu mengecup lembut kening Zoya.


"Bisa tidak sih, tidak menunjukkan keromantisan di depanku?" keluh Saira menatap kesal kakak lelakinya.


"Kasihan jomlo." Nio pun memeluk bahu adiknya dan mengecup ujung kepala gadis itu.


"Ish, tak sudi aku dicium suami orang." Saira melepas pelukan kakaknya yang membuat Nio tertawa.


"Hey, Jagoan. Tampan sekali." Nio meraih tubuh bocah itu dan menggendongnya.


"Mas, bisa minta tolong sama kru? Tadi aku membuat makanan untuk yang berada di sini," sahut Zoya yang membukan pintu mobil dan meraih makanan yang ia bawa.


"Merepotkan sekali, Sayang. Kan bisa beli di luar," sahut Nio yang khawatir pada sang istri.


"Tidak apa-apa. Lagian hanya buat camilan saja," jawab Zoya mengusap lengan lelaki kesayangannya.


Akhirnya Nio memanggil salah satu asisten kru dan meminta ia menaruh makanan untuk dimakan para artis dan kru lainnya. Lelaki itu pun mengajak istri juga adiknya untuk masuk. Saira berbinar melihat bagaimana studio yang biasa dipakai untuk syuting. Ia yang seorang adik pemilik PH film pun tak pernah melihat pemandangan dibalik layar.


"Ternyata begini jalannya syuting film," ujar Saira yang menatap setiap sudut studio buatan itu.


"Belum pernah melihat?" tanya Zoya.


Saira pun hanya menggeleng. "Selama ini kan aku tinggal di Jepang, jadi mana tahu tempat begini, meski kakakku seorang pemilik PH film," sahutnya.


"Kasihan sekali. Lain kali aku ajak ke studio rekamanku, okey." Zoya merangkul bahu Saira yang membuat suaminya heran. Sejak kapan mereka akur?


"Kkhhmmmm, akur sekali ... tumben."


"Sekarang kan kita bestie." Saira pun merangkul balik bahu kakak iparnya.


"Astaga, duo bocah bersatu bisa gawat ini," gumam Nio yang membuat dua wanita itu melotot.


Mereka memasuki ruang tunggu para artis. Semua pemain menyapa Zoya juga Saira. Berbeda dengan satu orang yang sejak tadi menatap sinis pada sang nyonya Bagaskara.


Zoya pun terkejut melihat sepupunya ada di sana. Apa Leticia bermain di series ini juga?


"Mas, kenapa Leticia di sini?" tanya Zoya berbisik pada suaminya.


"Dia pemeran ke dua antagonis di sini," sahut Nio yang tengah melahap puding yang dibuat istrinya.


"Kenapa bisa?" bisik Zoya tak suka.


"Mau gimana lagi? Om kamu waktu itu datang ke kantor dan minta aku untuk memasukkan Leticia dalam projek film atau series. Aku gak enak nolaknya," jawab Nio menatap sang istri. "Lagian dia ikut juga tetap melalui casting. Jadi, peran ini memang milik dia."


Zoya mendengkus kesal mendengarnya. Bagaimana bisa sang suami menerima musuh bebuyutan yang sangat ia benci itu.


"Jangan marah, Cheriè. Di sini aku harus profesional. Kalau aku menolak dia karena urusan pribadi nanti orang berpikir aku tidak profesional," bujuk Nio yang melihat red alert di wajah istrinya.


"Nanti malam sampai seminggu ke depan, libur!" Dengan jengkelnya Zoya meninggalkan sang suami yang terbengong.


"Satu minggu? Astaga! Bisa spaneng kepalaku." Lelaki itu mengacak rambutnya frustasi. "Sayang, tunggu." Nio mengejar istrinya dengan membawa sang anak.


Di area danau, Saira menatap gembira tempat yang baru pertama kali ia kunjungi itu. Sang gadis tengah duduk menatap air yang begitu tenang dengan semilir angin. Ah, andai saja ia juga bisa jadi artis, mungkin menyenangkan. Setiap hari bertemu banyak orang dengan berbagai tempat yang berbeda-beda dikunjungi. Tapi, mana mungkin Tuan Qalas Bagaskara mengizinkan?


Saira membuang napas kasar jika mengingat betapa menyebalkan papanya itu.


"Hai."


Saira menoleh. Satu alisnya terangkat menatap lelaki yang kini tersenyum padanya. Sepertinya ia familiar dengan wajah itu.


"Saira, apa kabar?" tanyanya.


"Kamu kenal denganku?" tanya Saira menunjuk dirinya.


"Siapa yang tidak tahu adik pemilik PH film terkenal dan anak kesayangan dari pemilik perusahaan batu bara?"


Saira berdecak mendengarnya. Apakah tidak ada yang mengenalinya tanpa embel-embel papa atau kakaknya?


"Apa ada tulisan dilarang duduk?"


Judes.


Itulah sosok Saira pada laki-laki asing yang mencoba mendekatinya.


"Ya takutnya kamu tidak nyaman jika aku duduk di sini," jawab laki-laki itu mengusap tengkuk lehernya.


Saira hanya mengedikkan bahu.


Sang lelaki pun duduk di samping Saira. Ia menjulurkan tangannya. "Clayton," ujarnya.


Saira hanya menatap tangan itu, tetapi enggan membalasnya. Hingga akhirnya Clayton menarik tangannya lagi.


"Tadi ke sini dengan Zoya?" tanya lelaki itu sok akrab.


"Kepo!" Hanya itu yang dijawab Saira.


"Galak sekali," gumam Clayton yang membuat Saira menoleh dengan tatapan tak sukanya. "Oke, sorry."


Saira pun kembali menatap danau yang begitu tenang.


"Apa kau lupa denganku? Aku lelaki yang menghampirimu saat pesta ulang tahun Rasya."


Saira mengingat sosok lelaki itu. Ia pun ber-oh ria saat mengingat lelaki menyebalkan sok akrab malam itu.


"Aku rasa, kamu sangat suka menyendiri, ya. Tidak waktu itu, tidak hari ini, kamu selalu duduk sendirian dengan melamun. Apa enak duduk—"


"Bisa diam, tidak? Kamu laki-laki tetapi mulutnya seperti perempuan," omel Saira yang kesal sejak tadi mendengar ocehan lelaki itu.


"Ups, sorry." Clay pun menutup mulutnya. "Tapi sangat sepi jika kita—"


Dengan kesal Saira beranjak dan berlalu meninggalkan lelaki banyak bicara itu. Ia sungguh kesal mendengar ocehan tak jelas laki-laki itu.


Clayton tersenyum melihat kepergian Saira. Ia sudah cukup tahu apa yang harus dilakukan untuk mendekati tipe wanita jutek seperti anak kesayangan Qalas Bagaskara itu.


"Lihat saja, tak lama lagi, kau akan jatuh cinta padaku." Clayton mengecup punggung tangannya, lalu menunjuk Saira yang berjalan menghampiri kakak-kakaknya.


"Hey, dari mana?" tanya Zoya menatap adik iparnya yang kini memeluk dirinya dari belakang.


"Habis dari danau. Lagi enak-enak duduk di sana, eh, ada laler yang berisik," gerutunya yang langsung pindah duduk di samping sang kakak ipar.


"Kamu ini." Zoya terkekeh mendengar ucapan sang adik.


"Kak, aku main film juga, dong. Pengen deh ngerasain syuting," sahut Saira pada kakak laki-lakinya.


"Boleh," sahut Nio yang membuat Zoya dan Saira menoleh.


"Serius?" tanya Saira berbinar.


"Asal dapat izin Papa ya gak masalah."


Mendengar itu, Saira berdecak sebal. Hal mustahil mendapat izin dari laki-laki tua itu.


"Kakak deh yang minta izin ke Papa. Bilang kalau ada karakter yang cocok untukku. Ayolah, Kak. Aku ingin sekali memiliki pengalaman seru," bujuk gadis dua puluh tahun itu merengek.


"No! bisa digantung aku menyuruh anak kesayangannya bermain film," tolak sang kakak yang membuat Saira kesal.


"Kakak sama Papa sama! Sama-sama menyebalkan!" sungut Saira kesal.


"Ck! seperti dirinya tidak menyebalkan saja," cibir Nio yang membuat Zoya terkekeh geli.


"Kalian berdua itu lucu," sahut Zoya.


"Lucuan juga kamu, Sayang." Nio mencubit gemas pipi sang istri yang membuat Saira pura-pura mual. "Jomlo iri." Lelaki itu mencibir adik satu-satunya.