
Samantha dan Qalas begitu bahagia mendengar bahwa menantunya kini tengah hamil lagi. Keduanya bahkan langsung terbang untuk menemui mereka. Seperti sekarang, Samantha tengah menyiapkan sarapan untuk menantunya. Makan sehat yang cocok untuk ibu hamil.
"Merepotkan sekali, Ma," ujar Zoya yang diberikan makanan oleh ibu mertuanya.
"Tidak, kok. Dulu neneknya Nio juga membuatkan makanan ini saat Mama hamil. Kamu harus makan juga," sahut Samantha yang memberikan sayur capcay juga tuna bakar untuk sarapan menantunya. Tak lupa Nio membuatkan susu hamil juga.
Zoya menatap haru makanan di depannya. Kehamilan kali ini, ia benar-benar tak sendirian. Banyak orang yang begitu memperhatikannya, apalagi Nio. Lelaki itu benar-benar tak pergi ke kantor dan hanya tinggal di rumah menjaga istri dan anak lelakinya.
"Di makan, Nak," ujar Qalas yang membuat Zoya sangat terharu.
"Ih, enak apa makan begitu?" sahut Saira yang melihat menu makanan ibu hamil tersebut.
"Hush, bukan enak atau tidak, tapi bagus atau tidak untuk tumbuh kembang janin," ujar Samantha. "Jangan dengarkan adikmu itu."
Zoya hanya tersenyum menatap keributan ibu-anak itu. Beruntung Zoya memang terbiasa makan makanan sehat. Jadi, ia Sama sekali tak merasa kepayahan memakan makanan yang rasanya hambar. Rasa mual juga ia hanya merasakan saat subuh hari dan setelah minum pereda mual keadaannya membaik.
"Mas pergi ke kantor saja, kan di rumah juga ada Mama, Papa juga Saira. Belum lagi para pelayan. Aku baik-baik saja," ujar Zoya ketika mereka berada di kamar.
"No, aku ingin menemanimu," jawab Nio yang enggan melepas pelukannya. "Lagian ada Langit yang menggantikan. Kamu tenang saja."
"Astaga, kasihan Langit, dong," sahut Zoya yang membuat Nio memicingkan mata.
"Kamu perhatian sekali padanya. Aku gak suka, Zoya," ujar Nio dengan wajah datar.
"Ish, cemburuan. Aku kasihan saja dia kerja keras eh bosnya enak-enakan di rumah meluk istri," kekeh Zoya mengusap rahang sang suami.
"Dia kan aku gaji besar, jadi sepadan dengan kerjanya. Sudahlah, lupakan itu. Kamu mau makan sesuatu? Biasanya ibu hamil suka ngidam," ujar Nio pada istrinya.
"Sebenarnya aku mau sesuatu, tapi aku ragu mintanya," ujar Zoya menunduk.
"Katakan, kamu mau apa?" tanya Nio.
"Mau nasi Padang, tapi di Padang langsung," jawab Zoya yang membuat Nio melongo.
"Kota Padang Sumatera Selatan?" tanya Nio yang tak percaya dengan ucapan istrinya.
"Eh, Sumatera Barat, Mas," sahut Zoya yang membenarkan kesalahan suaminya.
"Ah, iya maksudnya itu. Beneran ke sana?" tanya Nio lagi. "Gak di Sederhana saja?"
Zoya menggeleng. "Aku pernah ke Padang dan makan di salah satu restoran terenak di sana. Entah kenapa sejak kemarin ingin sekali makan di sana. Tapi, itu terlalu berlebihan," sahut Zoya memainkan jarinya di dada sang suami.
Nio mengangkat dagu istrinya agar mereka saling pandang. "Mau banget?" tanyanya.
"Gak perlu dibahas lagi, Mas. Masa mau makan nasi padang harus ke sana beneran. Gak usah, itu terlalu berlebihan," kata Zoya tertawa kecil. Padahal sebenarnya ia sungguh-sungguh ingin makan di sana. Entah mengapa, keinginannya terlalu kuat bahkan ia sendiri tak pernah merasakan sepengen itu.
Nio mengecup kening istrinya. Ia tersenyum mendengar keinginan calon anaknya itu. Bisa-bisanya meminta makanan yang jaraknya jauh sekali.
Nio pun meraih ponselnya, lalu menelepon Langit.
"Tolong pesankan tiket pesawat ke Padang. Cari jadwal yang paling cepat dan pesankan untuk pulang esok siang," ujar Nio yang membuat Zoya terkejut.
"Baik, Tuan." Langit hanya bisa patuh dengan apa yang diminta atasannya itu.
"Mas?"
"Ayo, kita siap-siap ke Padang. Apa pun yang kalian mau selagi aku mampu penuhi, aku akan wujudkan." Nio menarik tubuh istrinya untuk siap-siap.
"Ke Padang? Mau ngapain?" tanya Samantha yang bingung saat anak-mantunya minta dirinya untuk menjaga Rasya sebab mereka ingin pergi.
"Zoya ngidam mau makan nasi padang tapi di Padang," jawab Nio yang membuat Zoya menunduk malu.
Mendengar itu, Saira terbahak. "Hahahaha astaga, ngidam si Dedek kenapa luar biasa sekali. Gak sekalian pengen makan sushi tapi di Jepang?"
Zoya meringis mendengar ledekan adik iparnya itu.
"Hey, perlu kamu tahu, ya! Saat Mama hamil kamu, ngidam sticky rice langsung di Thailand. Kamu lebih merepotkan," ejek Nio.
"Hah? Yang benar, Ma?" tanya Saira menatap ibunya.
"Iya, bukan hanya itu, Mama bahkan ngidam lihat Menara Eiffel, tapi bukan di Paris," sahut Samantha.
"Loh, terus di mana?" tanya Saira.
"Di Michigan," jawab Samantha. "Hamil kamu ini paling merepotkan. Untung papamu kaya raya, jadi semua bisa dikabulkan," katanya lagi. "Ya sudah, kalian pergi saja, tapi harus hati-hati, ya." Samantha mengusap kepala Zoya. "Repotkan suamimu, jarang-jarang kan bisa begini."
"Makasih, Ma," ujar Zoya memeluk ibu mertuanya.
"Sudah, sana pergi. Pesawat kalian akan terbang dua jam lagi, 'kan?" tanya Samantha yang melepas pelukan menantunya.
"Tahu gitu aku ikut," ujar Saira dengan wajah cemberut.
"Kamu bantu Mama jaga Rasya," ujar Nio yang membuat Saira memajukan bibirnya.
"Beneran gak apa-apa Rasya dititip Mama?" tanya Zoya lagi. Ia benar-benar tak enak hati menitipkan sang anak pada ibu mertuanya.
"Tenang saja, Zoya. Mama sudah biasa mengurus cucu Mama bahkan saat kamu tersesat dulu," kekeh Samantha yang membuat Zoya meringis.
"Ya sudah, kita pergi sekarang, takut pesawat meninggalkan kita," ujar Nio mengenakan tas ransel yang berisi keperluan keduanya. "Kita pamit dulu, ya. Salam sama Papa juga, maaf tidak pamit langsung."
"Tidak apa-apa, nanti Mama sampaikan. Kalian hati-hati di jalan. Kalau sudah sampai jangan lupa hubungi kami."
Akhirnya sepasang suami-istri itu pergi menuju bandara. Wajah Zoya tampak begitu bahagia sebab keinginannya benar-benar diwujudkan sang suami.
"Makasih ya, Mas," ujar Zoya memeluk lengan suaminya.
"Baru keluar rumah, belum sampai dan makan apa yang kamu mau," kekeh Nio mengecup ujung kepala istrinya.
"Tetap saja, Mas mau mewujudkan aku sangat gembira," sahut Zoya semakin mengeratkan pelukannya.
"Aku sudah katakan, selagi aku mampu dan keinginan masih dalam hal wajar, aku akan kabulkan. Entah itu keinginan kamu atau anak kita," ujar Nio mengusap perut istrinya. "Asal jangan minta ke luar angkasa saja, ya. Prosesnya susah soalnya."
Zoya tertawa mendengarnya. Cukup ngeri juga jika janin dalam kandungannya minta ke Mars.
"Jangan minta yang aneh-aneh ya, Sayang. Kasihan sama mamamu yang pemalu kalau minta sesuatu sama Papa. Minta yang mampu Papa wujudkan saja, apalagi minta ketemu Taehyung. Papa gak setuju."
Zoya terbahak mendengar ucapan suaminya. Lelaki itu memang pencemburu akut. Bahkan ia cemburu dengan Bias sang istri.
"Hanya Papa laki-laki tertampan di hati Mama," ujar Zoya mengusap perutnya.
"Ahhhhh, aku merona dibilang tampan." Nio menangkup kedua pipinya yang membuat Zoya tertawa kencang.