
Satu minggu sudah berlalu. Semua orang kembali ke kegiatan masing-masing. Keluarga Angkasa pun telah kembali ke pulau. Begitu juga Nio yang mulai masuk kantor. Untuk sementara, Samantha juga Saira akan tinggal di kediaman Nio untuk menemani Zoya yang masih belum sehat seratus persen. Sedangkan Qalas pun sudah balik ke Jepang untuk mengurus bisnisnya.
Zoya tengah berada di kamar. Ia tersenyum melihat pesan sang suami. Sejak satu jam, mereka begitu asyik berbalas pesan. Rasya sendiri tengah bersama sang tante di ruang bermain.
Buaya darat jago merayu
Buaya air nyelam membisu
Sungguh berat rasa rindu
Waktu sehari bagai sewindu
Zoya tergelak melihat pantun yang dikirim Nio. Lelaki itu semakin hari semakin absurd saja jika merayu istrinya. Wanita cantik itu pun tersenyum membalas pesan suaminya.
Kalau rindu pulang, dong.
Zoya mengusap dahinya dengan senyum malu. Semakin hari, Nio tak segan menunjukkan rasa cintanya. Lelaki itu bahkan selalu mengiriminya bunga mawar setiap pagi untuk mewarnai hidup sang istri. Terkadang juga ia kembali tengah Hari hanya untuk makan siang bersama.
Maunya sih pulang. Tapi aku ada meeting dengan para artis juga kru series baru. Sepertinya aku juga akan pulang telat.
Zoya lemas saat melihat balasan pesan sang suami. Padahal ia ingin sekali makan bareng dengan lelaki yang sangat ia cintai itu.
Padahal aku ingin makan bersamamu.
Hanya itu yang dibalas Zoya, hingga tiba-tiba pintu kamarnya diketuk, lalu tak lama Samantha masuk membawa nampan makanan.
"Makan siang dulu," ujar Samantha duduk di bibir ranjang.
"Mama repot-repot sekali. Aku bisa ke ruang makan kalau mau makan," ujar Zoya tak enak hati. Memang sejak tahu masalah menantunya, Samantha benar-benar memperlakukan Zoya dengan spesial. Ia sering mengurus menantunya itu dengan sangat telaten, yang terkadang membuat Zoya merasa tak enak.
Samantha pun selalu tak suka saat Zoya menolak perhatiannya. Ia selalu tak menggubris ucapan sang menantu.
"Nio tidak pulang?" tanya wanita berambut pirang itu sembari menyuapi Zoya.
"Nggak, Ma. Katanya ada meeting dengan Artis juga kru series terbarunya. Mungkin juga akan pulang telat," jawab wanita muda itu menerima suapan dari mertuanya.
Samantha pun hanya mengangguk mendengar jawaban sang menantu.
"Kamu gak mau balik lagi ke dunia hiburan?"
Zoya menoleh menatap ibu dari suaminya itu dengan tatapan bingung. "Memang boleh?" tanya Zoya.
"Kenapa tidak? Kamu memiliki kemampuan yang bagus dalam bidang akting. Jika PH lain tak ada yang mau merekrutmu, kan ada suamimu. Bahkan PH milik Nio menjadi salah satu yang terbaik," jawab Samantha.
"Mama seperti tidak tahu anaknya saja, jangankan bermain film dengan lelaki lain. Ada laki-laki yang menatapku saja Mas Nio sudah berwajah menyeramkan," sahut Zoya tertawa kecil.
"Ah, iya juga. Bocah itu benar-benar mengikuti gen papanya. Pencemburu sekali," ujar Samantha. "It's okay, jadi ibu rumah tangga saja sudah cukup menyenangkan. Atau kamu mau ikut arisan mama agar tak bosan di rumah?"
Zoya yang sedang mengunyah makanan menghentikannya. Menjadi salah satu anggota sosialita bukanlah hal yang menyenangkan. Ia ingat sekali pernah diajak mertuanya untuk ikut arisan dan yang ia dapatkan adalah gunjingan di belakang dirinya. Tanpa sengaja, ia mendengar beberapa teman mama mertuanya menjelekkan Samantha juga dirinya. Mereka bahkan berkata kasar seperti tak memiliki adab.
Zoya tersenyum kaku pada sang mertua yang dibalas tawa. "Mama tahu kamu tidak nyaman dengan perkumpulan ibu-ibu sosialita itu. Mama paham," sahut Samantha.
Saat mertua-menantu itu berbincang, tiba-tiba pintu kamar Zoya terbuka. Terlihat Saira datang dengan wajah paniknya, yang membuat Zoya menatap bingung.
"Hah? Kericuhan apa?" tanya Zoya bingung.
"Ma, pegang Rasya." Saira pun memberikan keponakannya pada sang mama, lalu ia membantu Zoya untuk berdiri dan membawanya keluar kamar. Saira terus membawa kakak iparnya keluar rumah.
Alangkah terkejutnya Zoya saat melihat apa yang ia lihat sekarang.
"Mas Nio!" pekik Zoya.
"Hai, Cheriè." Nio berjalan mendekati istrinya. Lelaki tampan itu memeluk Zoya dengan begitu hangat.
"A-apa ini, Mas?" tanya Zoya dengan tatapan bingung sekaligus terkejut.
"It's a little gift for my beloved wife. Ayo ...." Dengan perlahan, Nio menuntun Zoya untuk melihat hadiahnya.
Sebuah mobil limousine putih yang sangat mewah menjadi hadiah kecil untuk Zoya. Sejak dulu, wanita cantik itu menginginkan mobil panjang tersebut. Bahkan, ia selalu meminta limousine hitam milik Nio, tetapi tak pernah suaminya berikan. Namun, kini justru ia mendapatkan yang lebih mewah dari milik sang suami.
Nio mengajak Zoya masuk mobil tersebut. Wanita itu memekik bahagia melihat begitu mewah interior di dalamnya dengan dominasi berwarna putih gading.
Zoya tampak berkaca-kaca melihat sekeliling mobil impiannya. Ini benar-benar persis seperti apa yang ia mau. Mereka juga memiliki privasi sebab bagian supir dan penumpang memiliki sekat yang bisa dibuka tutup.
"Apa kamu suka?" tanya Nio dengan menggenggam tangan istrinya.
"Apa yang bisa aku katakan, Mas. Ini kejutan yang indah," jawab Zoya dengan setetes air mata terjatuh.
"Jangan menangis dulu, ini masih kejutan awal." Nio mengusap air mata istri kesayangannya.
"Ada lagi?" tanya Zoya.
"of course," jawab Nio tersenyum. Lelaki itu mengambil sebuah remote. "Langit, kita jalan sekarang."
Tak lama, mobil mewah itu melaju. Zoya tersenyum sebab mesin kendaraan tersebut begitu halus sehingga ia tak merasakan mobil seperti melaju.
Perjalanan pun dirasa sangat menyenangkan. Sepasang suami-istri tersebut menikmati momen berdua yang jarang sekali mereka rasakan. Ada saja halangan semenjak mereka berbaikan.
"Cheriè, apa kamu sedang ingin mengunjungi sebuah tempat?" tanya Nio yang tengah mengusap lembut punggung Zoya.
"Hhhhhmmmm. Ada, sih. aku kepikiran tempat ini saat tadi tengah menyendiri," jawab Zoya.
"Ke mana?" tanya Nio.
"Makam orang tuaku," jawab Zoya. "Sebelum pernikahan kita adalah terakhir kali aku ke sana. Sekarang, tiba-tiba aku merindukan mereka."
Nio mengecup ujung kepala istrinya. "Setelah keadaanmu membaik, kita ke sana, ya. Kita harus membawa Rasya juga, supaya mereka melihat betapa menggemaskannya cucu mereka."
Zoya membenamkan wajahnya di dada sang suami. Air matanya terjatuh mengingat kedua orang tuanya. enam belas tahun ,lamanya ia telah ditinggalkan, tetapi rasa kehilangan itu masih terasa seakan ia baru kehilangan kemarin.
Samudera adalah sosok ayah yang lembut dan penyayang. Ia benar-benar mencintai Zoya melebihi apa pun. Semua keinginan putrinya akan ia turuti. Bukan hanya ayah yang baik, Samudera juga sosok suami yang luar biasa. Dengan lapang, ia memaafkan istrinya yang melakukan kesalahan. Setelah itu, ia memperlakukan Ken Ayu seakan ia seorang ratu.
Zoya benar-benar tak bisa melupakan rasa sakit kehilangan itu, apalagi ia mengalami banyak hal buruk sendirian tanpa ada yang membelanya.
Nio tahu perasaan sang istri. Lelaki itu terus mengusap punggung istrinya dengan kata-kata yang menenangkan.