
Sepanjang hari itu Zoya menemani Nio di kantor. Sesekali ia keluar untuk menghilangkan jenuh. Banyak artis yang cukup terkejut melihat keberadaan Zoya. Memang kabar kedekatan Zoya dan Nio menjadi buah bibir di dunia entertainment. Apalagi kini Nio sering sekali memposting foto Zoya yang tengah bercengkraman dengan sang anak. Banyak yang akhirnya tersenyum terutama yang begitu kenal dengan Nio. Rasa cinta lelaki itu akhirnya menang dan kini hidup bahagia dengan wanita yang selama ini ia perjuangkan.
Waktu menunjukkan pukul lima sore. Jam pulang pun datang. Nio membereskan barang-barang dan melangkah mendekat pada istrinya yang kini bermain dengan sang anak.
"Sayang ...."
Zoya menoleh dan tersenyum. "Sudah selesai?" tanyanya.
"Sudah. Ayo ...."
Nio meraih tubuh sang anak dan menggendongnya. Tangannya yang lain pastinya menggenggam tangan sang istri.
Langit menunduk hormat pada atasannya, lalu berjalan di belakang mereka. Sepanjang jalan, banyak karyawan dan artis yang menyapa mereka atau sekadar menunduk hormat. Sampai di lobby, dua mobil datang.
"Langit, saya titip Rasya. Kamu bawa dia pulang dan berikan pada Mama. Saya akan keluar sebentar dengan istri saya," ujar Nio pada sang asisten.
"Baik, Tuan." Langit menerima bocah menggemaskan itu dan menggendongnya.
"Loh, kita mau ke mana, Mas?" tanya Zoya bingung.
"Melihat sunset," jawab Nio tersenyum. "Ayo ...." Lelaki tampan itu membukakan pintu mobil dan mempersilahkan istrinya masuk.
"Titip Rasya, ya. Kalau menangis hubungi kami saja," ujar Zoya pada Langit dengan tatapan khawatirnya.
"Tenang saja, sebelum makan malam kita sudah kembali," sahut Nio yang kini duduk di kursi kemudi.
Setelah melihat Rasya baik-baik saja, akhirnya mobil SUV putih milik Nio melaju meninggalkan kantor. Sepanjang jalan keduanya berbincang membahas projek film Nio yang diperankan Aurora. Ia telah menunjukkan naskahnya pada sang istri dan Zoya sangat suka dengan alur ceritanya yang sangat menarik.
"Jadi penulis naskah itu Mr. Zorro?" tanya Zoya saat melihat siapa script writernya.
"Yup. Ini adalah naskah khusus yang memang hanya diberikan pada kita," jawab Nio yang matanya fokus ke jalanan.
"Sepertinya rata-rata film dan series di PH Mas dia yang buat ya? Berarti Mas tahu dong bagaimana seorang Mr. Zorro?" tanya Zoya dengan wajah berbinar.
"Tentu saja, bahkan kita sangat dekat," jawab Nio tersenyum sekilas pada istrinya.
"Oh ya? Kalau begitu aku bisa dong ketemu dia juga? Aku suka sekali dengan karya-karyanya. Apalagi novel Sang Kehidupan yang Mas berikan. Itu adalah novel terbaik buatannya. Di novel itu benar-benar menceritakan bagaimana kuatnya sebuah cinta. Kata-kata yang dituangkan begitu menyentuh hati. I really love it," ucap Zoya.
"Apa kamu ingat kata-kata di dalam buku itu yang kamu suka?" tanya Nio.
"Banyak. Tapi aku sangat penasaran dengan teka-teki kalimat Membuatmu merana, sampai tepian hatimu dan membuatmu menangis. Menyulitkanmu dengan cara menimbulkan luka. Lalu kemudian menjadi keselamatanmu. Apakah itu?" ujar Zoya pada suaminya. "Apa Mas tahu jawabannya?" tanyanya.
Nio tersenyum membelokkan mobilnya masuk ke sebuah gerbang dan setelah itu kendaraan berhenti.
Ternyata Nio mengajak Zoya ke pantai. Lelaki itu membawa ke area sepi yang jarang pengunjung. Lalu Nio mengajak Zoya duduk di bangku yang terlindungi dari sinar matahari.
"Sudah lama aku tidak ke sini," ujar Zoya menatap air laut yang tampak tenang. "Dulu—"
"Kamu sangat sering ke sini. Bahkan setelah pulang syuting di tengah malam. Aku tahu itu, Zoya," potong Nio yang tersenyum menatap hamparan laut.
Zoya menoleh pada suaminya dengan tatapan tak percaya. Bagaimana bisa dia tahu kebiasaannya?
Nio pun tersenyum menatap Zoya. "Aku fans beratmu, Zoya. Aku tahu segalanya tentang kamu. Tidak suka bawang putih, suka makanan pedas, suka makanan dan minuman manis, suka warna-warna yang lembut, suka donat rasa oreo, suka makanan Italy. Aku tahu segalanya," katanya lagi.
Zoya terkejut bahkan tangannya sampai menutup mulut yang terbuka.
"Iya, sebesar itu aku mencintaimu. Bahkan, jika kamu ingin tahu, aku memiliki PH film itu semata-mata ingin dekat denganmu. Masuk ke duniamu. Aku sadar aku tak bisa akting atau bernyanyi, tapi aku cukup pandai dibalik layar. Karena itu, setelah lulus kuliah aku langsung membuat rumah produksi dan berharap suatu hari kamu bermain dalam salah satu filmku," tambah Nio.
Lelaki itu menggenggam tangan istrinya. "Sayangnya, sebelum impianku terwujud, kita dihadapkan dengan kejadian yang mendekatkan kita, tapi membuatmu semakin jauh dariku."
Nio menghela napas dengan kasar. Jika mengingat itu semua ia sangat merasakan sakit luar biasa. Lelaki itu menutup mata merasakan genggaman tangan yang begitu erat dari istrinya.
"Jika kamu bertanya hal terindah apa yang aku dapatkan selama hidup adalah mengenalmu, melihatmu dari dekat meski aku tak bisa menyentuhnmu. Bisa bertatapan dengan matamu seperti sekarang adalah keberuntunganku, Zoya." Nio kembali tersenyum dengan genggaman tangan semakin erat.
"Bagaimana bisa? Bagaimana bisa Mas begitu mencintaiku padahal aku selalu jahat pada Mas?" tanya Zoya dengan setetes air mata terjatuh. Hatinya bergetar mendengar seberapa besar rasa cinta suami yang ia sia-siakan itu.
Nio mengangkat tangannya dengan mengusap air mata di pipi sang istri.
"Membuatmu merana sampai tepian hatimu dan membuatmu menangis. Menyulitkanmu dengan cara menimbulkan luka. Lalu kemudian menjadi keselamatanmu. Apakah itu?" tanya Nio. "This is love, Zoya. Jawabannya adalah cinta," katanya dengan tangan yang tak lepas dari kedua pipi istrinya.
"Rasa cinta itu begitu kuat. Jika cinta memiliki bentuk, mungkin kekuatannya lebih dahsyat dari nuklir. Karena cinta bisa merubah apa pun yang mustahil," ujar lelaki tampan itu. "Cinta itu menyakitkan melebihi rasa sakit di muka bumi ini. Tapi hebatnya dia juga sebagai obat. Itulah yang aku rasakan, Zoya. Aku merasa sakit saat melihatmu dengan laki-laki lain. Bahkan lebih sakit dari luka fisik. Tapi, rasa sakit itu juga sirna karenamu. Hanya melihatmu tersenyum sungguh membuatku bahagia."
"Aku jatuh cinta dengan keberaniannya, ketulusannya, dan harga dirinya yang berapi-api. Hal-hal inilah yang aku yakini, bahkan jika seluruh dunia terlibat dalam kecurigaan liar bahwa dia tidak seperti yang seharusnya. Aku mencintainya dan ini adalah awal dari segalanya," ucap Zoya dengan air mata yang luruh.
"Iya, Zoya. Correct!"
Dengan tangisnya Zoya memeluk Nio. Ia terisak mencengkram kemeja suaminya.
"Novel Sang Kehidupan adalah perasaanku padamu. Semua kata yang tertulis di sana adalah isi hatiku untukmu, Zoya. Isi hati yang tak pernah bisa aku utarakan. Karena itulah aku tuangkan dalam novel yang ditulis oleh penulis favoritmu. Dan novel itu juga adalah hadiah untukmu. Aku akan menjadikannya film dan kamulah yang akan menjadi tokoh Khaira dan aku akan menjadi tokoh Angkasa.
"Kita berdua akan bermain di film itu dan menunjukkan pada dunia bahwa cintaku sangat besar untukmu, bahkan saat dunia ingin menghancurkan kita, Sang Kehidupan yang akan tetap membuat kita kuat menjalani kehidupan yang jahat ini."
"Mas jahat! Kenapa bikin aku nangis gini sih." Zoya memukul dada suaminya cukup keras hingga Nio meringis.
"Cinta adalah kekuatan yang tidak dapat dijinakkan. Ketika kita mencoba mengendalikan, dia menghancurkan kita. Ketika kita mencoba untuk memenjarakannya, justru dia memperbudak kita. Ketika kita mencoba memahaminya, dia membuat kita merasa tersesat dan bingung. Cinta seaneh itu, Cheriè. Jangan salahkan aku yang sama anehnya."