
Kehidupan baru Zoya dan Nio berjalan dengan baik. Semakin hari keduanya semakin dekat, meski harus perlahan Nio mendekati istrinya. Bahkan sudah satu minggu ini lelaki itu membujuk untuk tidur di kamar yang sama, tetapi Zoya masih belum memberikan izin sebab ia masih belum siap. Nio pun hanya bisa sabar dengan sikap Zoya yang masih mood swing. Kadang ia menjauh kadan mendekat, seperti perasaannya masih bimbang.
"Aku pergi kerja dulu. Kamu baik-baik di rumah. Jika ada apa-apa langsung hubungi aku." Nio memeluk tubuh istrinya.
"Apa Mas hari ini keluar kantor?" tanya Zoya.
"Hhmmmm sepertinya tidak. Kenapa?"
"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin membawakan makan siang untuk Mas nanti siang. Boleh, 'kan?" tanya Zoya dengan mata berbinar.
"Tentu saja, Sayang. Lakukan apa pun yang membuatmu bahagia. Tapi, jangan masak lagi, ya. Bukan aku tidak suka masakanmu, aku hanya tidak mau tanganmu terluka lagi," ujar Nio mengusap pipi istrinya.
"Baiklah, aku akan ke sana bersama Rasya," kata Zoya kembali.
"Aku akan menunggumu," jawab Nio tersenyum. "Oh ya, apa kamu sudah selesai membaca novel itu?" tanyanya.
"Sudah, novelnya keren. Aku—"
Bibir Zoya ditutup oleh jari Nio. "Jangan menceritakan sekarang. Nanti siang aku tunggu untukmu bercerita. Kini, aku harus pergi karena pagi ini ada meeting dengan semua staff dalam film baru," katanya dengan membetulkan kancing lengannya.
"Oke, hati-hati di jalan." Zoya mencium tangan suaminya, tak lupa mencium pipi juga.
"I'll miss you, Cheriè," bisik Nio yang membuat Zoya merona.
Kini, Nio selalu memanggilnya seperti itu. Zoya merasa berbunga dengan perlakuan manis Nio. Semakin hari rasanya sangat ketergantungan dengan sikap manis suaminya itu.
"See you, Mas."
Akhirnya Nio masuk mobil SUV miliknya. Ia buka kaca mobil lalu melambaikan tangan pada sang istri dan anaknya. Setelah itu, mobil melaju meninggalkan rumah mewah itu. Zoya pun masuk setelah suaminya pergi.
Langkah wanita itu terhenti melihat mertuanya yang kini berkacak pinggang. Sejak kemarin wanita paruh baya itu datang dan menginap lagi. Seperti sebelum-sebelumnya, ia selalu mencari masalah dengan menantunya.
"Enak ya jadi istri anakku. Hanya diam di rumah, terus meras uangnya," sindir Samantha pada menantunya.
"Ya mau gimana lagi, Mam. Mas Nio tuh sayaaangggggggg banget sama aku. Jadi, katanya diam saja di rumah baik-baik, hidup bahagia dan biar Mas Nio yang kerja keras," jawab Zoya dengan senyuman manisnya, membuat sang ibu mertua kesal.
"Kamu tidak pantas menjadi istri anakku. Lihat saja, akan aku buat dia menceraikanmu! Dasar tidak tahu diri, sudah selingkuh terus dengan gampang sekarang mendekati balik anakku saat tahu kekasih gelapmu tak bisa apa-apa." Samantha pergi dari hadapan Zoya dengan terus menggerutu.
Sedangkan Zoya hanya bisa tersenyum dan menggeleng mendengar ocehan ibu mertuanya. Ia sendiri berusaha untuk tidak terpancing dan memang sadar diri, karena sikapnyalah sang ibu mertua seperti itu. Melupakan Samantha yang terus mengomel dan menyinggung, Zoya membawa sang anak menuju ruang bermain. Setelah bocah itu duduk anteng, Zoya kembali meraih buku novel yang diberikan Nio. Ia membuka halaman 150 yang membuatnya jatuh cinta dengan dialog di sana.
"Membuatmu merana sampai tepian hatimu dan juga membuatmu menangis. Menyulitkanmu dengan cara menimbulkan luka, lalu kemudian menjadi keselamatanmu. Siapakahitu?" Zoya tersenyum membaca teka-teki dalam buku tersebut tanpa tahu jawabannya.
"Kata-kata yang sungguh dalam. Tapi, apa maksudnya, ya?" Zoya terus berpikir sampai kepalanya pusing pun tak mendapat jawaban. "Penulis ini penuh teka-teki. Tapi, aku suka cerita di dalamnya. Setiap untaian katanya, memiliki makna yang dalam. Apalagi karakter wanitanya yang lemah lembut, tetapi memiliki kekuatan luar biasa. Mas Nio memang benar-benar seorang pembaca yang berkelas. Bahkan memiliki koleksi buku-buku yang berbobot."
"Saat pagi datang, senyumanmu memeluk pikiranku. Saat siang datang, kau bagaikan payung yang selalu membuatku teduh. Dan saat malam kau adalah kehangatan yang selalu membuatku jauh dari kedinginan." Kembali Zoya membaca kutipan kata yang terulis di sana. "Oh Tuhan, manis sekali kata-katanya. Entah seromantis apa Mr. Zorro ini." Wanita cantik itu terus membaca ulang kutipan kata yang sangat ia sukai. Novel itu menunjukkan bahwa sebuah rasa yang bernama cinta efeknya begitu kuat untuk manusia.
Ada yang awalnya penakut menjadi pemberani hanya demi cinta. Ada juga yang awalnya kasar menjadi lembut saat merasakan apa itu cinta.
Cinta memanglah anugerah terbesar yang Tuhan berikan. Saking besarnya, pikiran dan hati kita harus saling terhubung untuk mengontrol rasa luar biasa itu.
Zoya terus menikmati paginya dengan membaca buku serta mengawasi sang anak hingga waktu berjalan dengan begitu cepat. Pintu ruang bermain diketuk, tak lama Jessica masuk.
"Nyonya, maaf mengganggu. Saya ingin bertanya, makanan apa yang harus disiapkan untuk dibawa ke kantor Tuan nanti siang? Apakah Anda ingin dibuatkan sesuatu?" tanya wanita berblazer hitam itu.
Zoya berpikir apa yang harus ia bawakan?
"Sushi saja. Mas Nio suka, 'kan?" tanya Zoya.
"Iya, Nyonya. Tuan suka dengan sushi. Baiklah, saya akan katakan pada chef untuk membuat sushi. Dua porsi, 'kan?" tanya Jessica.
Zoya beranjak dari duduknya. Ia raih Rasya lalu berjalan mendekati Jessica.
"Aku titip Rasya. Biar aku saja yang membuat." Zoya memberikan anaknya pada sang kepala pelayan.
"Loh, Tuan sudah melarang Nyonya memasak lagi, katanya takut Nyonya terluka," kata Jessica panik.
"Buat sushi enggak harus bermain dengan panggangan, Jessy. Aku bisa!" Zoya melangkah keluar dari ruangan bermain dan menuju dapur.
Para pelayan dan chef menunduk hormat saat Zoya masuk dapur.
"Maaf Nyonya, apakah Anda membutuhkan sesuatu?" tanya salah satu chef.
"Siapkan bahan membuat sushi. Saya akan membuatnya," jawab Zoya pada lelaki berpakaian koki itu.
"Anda akan membuatnya, Nyonya? Biar saya saja. Tuan sudah mengatakan bahwa Nyonya dilarang untuk membuat makanan lagi," sahut Chef bernama Ardian itu dengan takut.
"Hanya membuat sushi, apa sulitnya? Cepat siapkan," ujar wanita cantik itu kembali.
Chef itu menatap Jessica dengan wajah khawatir. Teringat perkataan Nio yang melarang keras istrinya itu untuk masak lagi. Cukup sekali Zoya melukai tangannya.
"Tapi, Tuan sudah melarang kami untuk mengizinkan Nyonya memasak. Saya mohon, biar saya saja yang membuatnya, ya, Nyonya." Chef itu terus membujuk sang nyonya agar tak memasak. Ia takut mendapat amarah tuannya.
"No, no, no. Aku akan membuatnya sendiri. Siapkan saja bahannya dan ajarkan aku untuk membuatnya. Soal Mas Nio, aku akan bertanggung jawab. Kalian tak usah takut."
Jessica pun mengangguk menatap chefnya. Akhirnya mereka menyiapkan segala yang nyonyanya mau. Dengan umurnya, Zoya memang Masih sering keras kepala yang membuat Di sekitarnya harus sabar menghadapi nyonya mudanya itu.