Another Chance

Another Chance
Bab 60



Acara ulang tahun Rasya pun dimulai. Cukup banyak yang diundang oleh Nio juga keluarga Bagaskara. Untuk undangan dari Zoya hanya keluarga Angkasa saja, karena memang hanya mereka yang dekat dengan wanita itu. Sepanjang pesta pun Zoya hanya duduk menatap suami juga keluarganya sibuk menyapa tamu. Sungguh, ini seperti bukan pesta untuk anaknya, tetapi justru seperti pertemuan bisnis. Cocok memang dengan tema Boss Baby.


Nio menghampiri istrinya. Zoya pun menoleh ketika dipanggil.


"Temani aku bertemu tamu," sahut Nio meminta istrinya berdiri dan langsung memeluk pinggang Zoya dengan posesif. Wanita itu benar-benar menemani suaminya bertemu para tamu. Mereka tampak menatap kurang suka pada Zoya sebab track record-nya dulu bersama Jordan. Mereka berpikir bahwa Nio terlalu bodoh mempertahankan wanita seperti Zoya. Padahal, ia bisa mendapat wanita yang jauh lebih baik dari Zoya.


"Apa kabar, Zoya," sapa Aurora tersenyum.


Melihat wanita itu, buru-buru Zoya memeluk lengan suaminya. Aurora sendiri memutar bola malas melihat reaksi Zoya. Dengan sengaja, ia mencium pipi Nio yang langsung diomeli lelaki itu.


"Jaga tingkahmu, Rora. Ini pesta anakku, jangan kau hancurkan," omel Nio pada sahabatnya.


"Oke, oke, dasar pasangan bucin!" Aurora berlalu meninggalkan suami-istri tersebut dengan kekehan geli, lalu berbaur dengan tamu lainnya.


"Sudah, jangan kesal. Ingat, ini hari spesial anak kita." Nio mengajak istrinya untuk ke area sepi terlebih dahulu. Ia tak ingin orang-orang melihat wajah cemberut sang istri yang pasti akan membuat mereka berpikir aneh soal Zoya. Nio tak akan pernah membuat orang-orang tak menyukai istrinya.


"Wanita itu menyebalkan sekali. Seenaknya menciummu! Lihat, ada bekasnya." Mata Zoya berkaca-kaca melihatnya. Ia sungguh sensitif ketika melihat Aurora yang selalu saja mencium suaminya.


"Sayang ...." Nio memeluk istrinya yang menangis. Entah mengapa sejak beberapa hari ini Zoya begitu mudah menangis dan tersinggung. Bahkan hanya Karena Nio telat pulang, wanita itu menangis seperti ditinggal lama.


"Aku sudah mengomelinya, 'kan? Sudah, jangan menangis. Aku hanya milikmu saja." Nio terus mencoba menenangkan perasaan istrinya yang serentan kaca itu.


Zoya melepas pelukan suaminya, ia tangkup kedua pipi Nio, lalu menciumi pipi yang tadi dikecup Aurora berulang-ulang. Lelaki itu pun hanya tersenyum melihat betapa posesifnya Zoya saat ini. Ia juga akhirnya menangkupkan tangan di pipi sang istri, lalu ia kecup bibir menggoda itu. "Takut lipstick-mu pindah ke aku," kekeh Nio yang membuat Zoya tersenyum.


"My Lady, please." Nio mengulurkan tangan yang langsung diterima istrinya. Mereka kembali berjalan menuju ruang tengah yang menjadi tempat utama. Keduanya saling berbincang hingga sampai di sana. Zoya meraih tubuh anaknya yang terus menjulurkan badan ingin digendong sang mama.


"My Baby Boss." Zoya mengecup pipi sang anak yang tertawa riang.


Acara tiup lilin pun dimulai. Semua keluarga Bagaskara berada di panggung kecil untuk menyampingi Nio juga Zoya. Semua orang bertepuk tangan dengan riuh saat lilin ditiup. Lalu acara potong kue yang pertama diberikan untuk Zoya, lalu Nio. Yang pasti ibu harus selalu nomer satu, apalagi satu tahun lalu Zoya-lah yang berjuang hidup dan mati melahirkan bocah menggemaskan itu.


Dengan rasa haru, Nio mengecup lembut kening istrinya. "Mungkin sebelumnya aku belum pernah mengucapkan terima kasih padamu. Terima kasih, ibu hebat, karena telah mempertahankan anak kita di saat semua orang menyerangmu juga dalam kesendirianmu. Terima kasih karena telah berjuang melahirkannya yang pasti sangat menyakitkan. Terima kasih karena sudah kuat menjalani hari yang berat sendirian, terima kasih juga telah memberiku juga Rasya kesempatan menjadi bagian terpenting di hidupmu," ujarnya menatap sang istri.


"Hari ini, bukan hanya hari spesial untuk anak kita, tetapi menjadi hari spesial untuk wanita yang telah melahirkannya juga. Jadi, bahagialah sama seperti Rasya yang bahagia hari ini. Maafkan aku yang telah mengabaikanmu di saat Rasya dalam kandungan. Maafkan aku yang tak peka. Tapi, percayalah, bahwa sejak dulu sampai sekarang, aku selalu bangga menjadi suamimu. I love you, Zoya. I really love you."


"Mas ...." Zoya tak bisa berkata-kata. Perasaannya begitu berbunga mendapat ucapan terima kasih dari ayah anak yang ia lahirkan. Wanita itu hanya bisa memeluk Nio dengan perasaan harunya.


"Terima kasih, Mas. Terima kasih." Zoya begitu tersentuh dengan apa yang dilakukan suaminya. Lelaki itu selalu tahu apa yang bisa membuatnya meleleh. Nio sosok laki-laki yang sangat peka terhadap apa yang dilakukan istrinya, sehingga rasa cinta semakin tumbuh di hati Zoya untuk lelaki itu.


Melihat begitu romantisnya sang anak, Samantha menyandarkan kepalanya di bahu sang suami. "Dia sepertimu, Sayang," ujarnya bangga pada Qalas.


Mendengar itu, Qalas memeluk bahu sang istri dan mengecup ujung kepala istrinya.


"No! Kamu masih kecil," sahut Qalas.


"Astaga, aku sudah dua puluh tahun, Papa! Di usia ini Kak Zoya sudah melahirkan tuh," omel Saira.


"Kamu bukan Zoya. Kamu princessnya papa."


Saira hanya menghentakkan kaki dengan kesal, lalu pergi meninggalkan tempat itu, daripada dia iri kan melihat orang tua dan kakaknya bermesraan. Lebih baik dia ke kandang Niu-Niu.


"Kamu ini, selalu saja membuat anakmu kesal," gumam Samatha yang gemas melihat betapa posesif suaminya terhadap Saira.


Gadis dengan blazer hitam dan celana panjang hitam itu menatap Niu-Niu yang tengah duduk sendirian. "Nasib Kita sama, Nyu. Jomlo. Sepertinya aku harus meminta Kakak untuk memberimu pasangan, agar tak sepertiku yang nelangsa begini," ujarnya menatap Niu-Niu yang mengeong seperti kucing.


"Kkhhmmm."


Saira berbalik menatap seorang laki-laki tampan yang mendekatinya. "Kamu adiknya Pak Nio, 'kan?" tanya lelaki itu.


"Kenapa? nyasar di rumah ini? tuh, acara di sana," ujar Saira jutek menunjuk ruang tengah di mana pesta berlangsung.


"Ah, tidak. Aku hanya lihat kamu sendiri di sini, jadi—"


Saira pergi begitu saja sebelum laki-laki itu menyelesaikan ucapannya. Ia tersenyum sinis menatap gadis itu.


"Saira Putri Bagaskara, anak kesayangan keluarga Bagaskara. Sepertinya dia cocok menjadi umpannya," ujar lelaki itu tersenyum sinis.


Saira kembali ke pesta. Wanita itu memeluk Nio dari belakang yang tengah duduk. Namun, justru papanya seakan cemburu dan meminta anak kesayangannya itu duduk sampingnya.


"Papa posesif banget dengan Saira," bisik Zoya pada suaminya.


"Tentu saja, dia anak yang diidamkan oleh Papa. Aku justru seperti anak yang tak diharapkan karena lahir berjenis kelamin laki-laki," ujar Nio yang langsung dipukul kepalanya oleh Qalas. "Bercanda, Pa." Nio mengusap kepalanya dengan meringis.


"Kamu sih, bicara sembarangan," kekeh Zoya mengusap kepala suaminya yang membuat Nio tertawa malu.


Kehangatan keluarga itu tak lepas dari pemandangan seseorang. Lelaki tampan yang mendekati Saira tadi terus mengawasi gerak gerik keluarga Bagaskara, terutama Saira. Lelaki itu bertekad akan memasuki keluarga Bagaskara melalui Saira.


"Kau harus berhasil, Clay. Kau bisa menghancurkan Arsenio juga Qalas melalui gadis itu," ujar seseorang yang duduk di samping lelaki yang tak melepaskan pandangannya dari gadis cantik itu.


"Tenang saja, jangan panggil aku Clayton Lesmana jika tidak bisa menaklukannya. Kau harus menyiapkan uangnya segera," ujar Clay pada sosok di sampingnya itu.