Another Chance

Another Chance
Bab 6



Nio sibuk dengan tabletnya selama perjalanan menuju kantor. Rasya sendiri begitu anteng di kursi khususnya dengan memainkan mainan karet. Hingga tiba-tiba Langit mendapat telepon. Lelaki itu menautkan alis ketika melihat nama Kepala Pelayan Jessica yang menghubungi. Tanpa menunggu lama, lelaki berkacamata itu menerima panggilan. Wajahnya memias mendengar apa yang dikatakan Jessica.


"Pak, kembali ke rumah Tuan!" seru Langit dengan wajah panik pada supir.


Mendengar itu, Nio menatap sang asisten yang terlihat tak baik-baik saja.


"Ada apa? Kenapa kembali ke rumah? Kau tahu kan Kita ada meeting pagi ini," ujar Nio dengan tatapan tak suka.


"Nyonya, Tuan. Kepala Pelayan Jessica mengatakan Nyonya mengamuk," jawab sang asisten menoleh ke belakang dengan wajah panik.


"Lalu, apa harus kita meladeninya? Dia selalu melakukan hal ajaib kau tahu itu, 'kan? Sudahlah, hiraukan saja dia dan kita pergi ke perusahaan," sahut Nio tak peduli.


Bukan tanpa alasan lelaki tampan itu berkata seperti itu sebab Zoya memang sering mengamuk karena hal-hal sepele sehingga Nio merasa jengah ketika mendengar istrinya berulah lagi. Apalagi sekarang ia berkata tak masuk akal.


"Ta-tapi Tuan, Kepala Pelayan mengatakan bahwa Nyonya memotong lehernya sendiri," ujar Langit dengan wajah panik.


Nio yang tadinya abai, tiba-tiba menoleh menatap Langit. "Jangan bercanda kamu!" serunya menatap tajam.


"Bagaimana saya bercanda dalam hal serius ini, Tuan. Saya tidak berani," sahut Langit.


"Drama apa lagi yang kau perankan, Zoya!" umpatnya kesal dengan jantung berdebar hebat. Wajah tampan itu tiba-tiba pias mendengar bahwa Zoya memotong lehernya sendiri.


"Pak, cepat!" sentak Nio pada supirnya yang sama tegang mendengar nyonyanya mencoba bunuh diri.


Beruntung mereka belum jauh sehingga dalam waktu beberapa menit mereka sampai di rumah megah itu. Sebelum mobil berhenti sempurna, Nio langsung membuka pintu dan berlari meninggalkan sang anak yang masih duduk anteng. Sedangkan ia berlari masuk rumah.


"Zoya!" pekik Nio melihat istrinya terbaring dengan darah yang terus mengalir dari lehernya. "Zoya, Zoya, apa yang kamu lakukan?" Dengan cepat ia menggendong tubuh sang istri yang sejak tadi dalam pangkuan Jessica. "Siapkan mobil, cepat!" teriaknya panik.


Langit pun menyiapkan mobil lain dan dia sendiri yang akan mengendarai.


"Jaga Rasya. Harus kamu yang memegangnya," ujar Nio pada Jessica.


"Baik, Tuan," jawab wanita itu dengan air mata yang masih menetes. Ia sungguh tak menyangka bahwa nyonyanya akan bunuh diri di depan matanya. Bahkan tangan wanita empat puluhan tahun itu masih gemetar membayangkan Zoya yang seperti merasa kesakitan tanpa bicara apa pun. Meski masih sadar, wanita itu tak bisa berkata apa-apa.


"Kepala Pelayan ...."


Jessica menoleh dan menatap pelayan yang menggendong bayi satu tahunan itu dengan tatapan sedih. "Semoga Nyonya baik-baik saja. Jangan sampai Tuan Kecil kehilangan ibunya yang mulai mencintainya."


Sang kepala pelayan pun meminta pelayan yang menggendong Rasya membawanya ke dalam. Sedangkan dia akan membersihkan diri sebab tubuhnya berlumuran darah milik Zoya.


"Yang cepat, Langit!" sentak Nio panik. Lelaki itu sungguh tak menyangka bahwa Zoya bisa melakukan hal nekad seperti ini. Apakah wanita itu tak tahu, apa yang dilakukannya ini membuat Nio ketakutan.


"Kenapa kamu lakukan ini, Zoya!" murka Nio dengan dadanya yang terasa sesak. Hatinya sungguh sakit melihat ibu dari anaknya itu tak berdaya dengan darah terus bercucuran yang ditahan oleh sapu tangan Nio.


"M-Mas, be-beri aku kesempatan," lirih Zoya menatap suaminya dengan setengah sadar. "Bi-biarkan aku men-jadi i-bu yang ba-ik untuk Ras-Rasya," katanya terbata.


"Langit, cepat!" teriak Nio lagi karena merasakan tangan Zoya mulai dingin.


"Ma-afkan a-aku, Mas. A-ku mohon, ja-ngan pisahkan a-ku dari Rasya." Napas Zoya mulai terengah-engah membuat Nio panik.


"Berhenti bicara, Zoya!" sentak Nio ketakutan. "Please berhenti bicara." Lelaki itu mulai merasa takut kehilangan. Hatinya sungguh terasa sakit melihat Zoya dalam keadaan seperti ini. Ia lebih baik melihat istrinya dengan laki-laki lain daripada tergeletak lemah seperti sekarang. Ia tak bisa membayangkan sehancur apa jika Zoya pergi.


"Pe-percaya padaku, Mas. A-aku sudah berubah. A-ku bersumpah tak akan me-nyakiti kalian lagi," ujar Zoya dengan mata yang mulai tertutup. "Be-ri aku ke-sempatan, Mas."


"Diam, Zoya! Diam." Nio memeluk kepala istrinya dengan parasaan yang kacau.


Akhirnya mereka sampai di rumah sakit. Dengan cepat Langit membukakan pintu untuk sang tuan, lalu Nio membawa istrinya dengan berlari menuju UGD. Para perawat pun buru-buru memberikan brankar dan langsung membawa Zoya masuk ke ruang penanganan. Nio sendiri merutuki dirinya. Ia merasa bersalah dengan apa yang terjadi. Andai ia mengizinkan Rasya di rumah atau mengizinkan Zoya ikut ke kantor, pasti kejadian ini tak ada terjadi.


Tuhan, jangan ambil istriku. Aku mohon, aku berjanji akan menjaganya. Aku mohon beri kesempatan untuk memperbaiki segalanya. Doa Nio dengan mata yang terus menatap ke arah pintu unit gawat darurat.


Nio terus mondar mandir di depan pintu UGD. Lelaki itu sungguh cemas, khawatir juga takut dengan keadaan istrinya. Sudah hampir setengah jam dokter belum memberitahu keadaan Zoya.


"Tuan, duduklah dan minum dulu untuk menenangkan perasaan Anda," ujar Langit memberikan sebotol air murni yang ia beli di supermarket rumah sakit.


Nio pun meraih botol tersebut dan duduk lalu meminumnya. Hingga tak lama, dokter keluar dan memanggil perwakilan pasien bernama Zoya Arsenio Bagaskara. Nio pun beranjak dan menghampiri sang dokter dengan keadaan kalut.


"Saya suaminya, Dok," ujar Nio saat berhadapan dengan wanita berjas putih.


"Keadaan Nyonya kritis, Tuan. Sayatan di lehernya cukup dalam dan hampir memotong arteri karotisnya. Jika terpotong mungkin beliau benar-benar tidak tertolong," ujar dokter yang membuat Nio lemas seketika hingga Langit buru-buru menopang tubuh sang tuan.


"Tolong selamatkan istri saya, Dok. Saya rela membayar berapa saja agar dia selamat," ujar Nio mulai meneteskan air mata.


"Kami akan melakukan semaksimal mungkin, Tuan. Hanya saja, Nyonya kehilangan banyak darah dan butuh transfusi darah. Yang mengkhawatirkan adalah golongan darah Nyonya sangatlah langka yaitu O negatif. Kami hanya memiliki satu kantung sedangkan Nyonya membutuhkan sekitar 3 sampai 4 kantung untuk mengganti darah yang terus keluar. Kami juga sudah berusaha menghubungi bank darah dan kini mereka tengah berusaha untuk mencarinya. Jika Tuan bisa mendapatkan lebih cepat alangkah baiknya sebab keadaan Nyonya sangatlah kritis dan membutuhkan darah," sahut dokter menjelaskan.


Nio hanya mengusap wajahnya frustasi. Ia baru tahu bahwa sang istri memiliki golongan darah langka yang sulit dicari sebab Rasya sendiri mengikuti golongan darah Nio. Ia tak boleh menyerah dan harus mendapatkan darah itu untuk menolong Zoya.


"Dokter! Pasien atas nama Zoya jantungnya berhenti berdetak," kata suster yang berteriak di depan pintu UGD, membuat dada Nio seakan ikut berhenti berdetak.