Another Chance

Another Chance
Bab 59



Zoya tampak kesal pada suaminya. Wanita itu tak bicara sejak Nio sadar dari pingsannya. Ayah satu anak tersebut memiliki fobia ketinggian. Sejak awal ia menahan rasa takut itu demi membahagiakan sang istri. Namun, ia sudah tak tahan saat melihat ke bawah gedung ketika mereka tengah menatap matahari terbenam sehingga Nio tiba-tiba pingsan dan mimisan.


"Maaf," lirih Nio pada istrinya yang terus mendiaminya. Kini mereka berada di rumah dan di kamar. Setelah Nio sadar dan selesai diperiksa dokter, mereka memutuskan untuk pulang saat tahu keadaan Nio baik-baik saja.


"Cheriè ...." Lelaki itu mengusap lengan sang istri yang berbaring memunggunginya. ia tak tahan didiami beberapa jam oleh Zoya. Ia juga merasa bersalah membuat istrinya menangis padahal ia sudah janji tidak akan membuat wanitanya meneteskan air mata. "Maafkan suamimu yang lemah ini, Sayang. Maaf membuatmu khawatir."


Bahu Zoya bergetar saat sang suami memeluknya dari belakang.


"Jangan buat aku takut." Akhirnya suara itu keluar juga setelah diam selama tiga jam.


Nio membalikkan tubuh sang istri hingga kini keduanya saling tatap. Ia usap air mata wanitanya dengan begitu lembut. "Maaf, lain kali aku tidak akan pingsan lagi saat berada di ketinggian seperti tadi," sahut Nio. "Sebenarnya aku tidak terlalu takut jika dalam ruangan. Seperti ruanganku yang di lantai 25 atau di dalam pesawat aku tidak takut. Tapi, kalau di luar seperti rooftop aku lumayan takut. Karena itu tadi aku coba melawan tetapi tetap kalah juga," ujarnya dengan membuang napas kasar.


Zoya menepuk pelan pipi suaminya. Ia peluk Nio dengan erat sembari menangis sesegukkan. "Aku sangat panik lihat Mas pingsan dan mimisan. Aku sangat takut sekali," ujar Zoya. "Jangan pernah membuatku bahagia tetapi membuat Mas celaka. Aku tidak suka itu."


"Tapi, aku sudah janji akan mengajakmu melihat matahari terbenam," sahut Nio yang masih memeluk istrinya dengan posesif.


"Kan bisa di tempat lain. Di jembatan penyebrangan pun aku bahagia. Di mana pun itu asal aku bersama Mas, aku pasti bahagia. Gak harus di rooftop," omel Zoya dengan kesal mencubit perut suaminya.


"Awww!" pekik Nio. "Iya, iya. Lain kali kita lihat di jembatan penyebrangan."


"Ih, Mas!" rengek Zoya yang membuat lelaki itu tertawa.


Keduanya terdiam saat saling pandang. Tangan Zoya mengusap dada sang suami dengan gerakan seduktif yang membuat Nio berdesir. Lelaki itu dengan tiba-tiba memeluk pinggang istrinya sangat erat. "Membangunkan singa yang tertidur, ya," bisik Nio yang hanya dibalas pelukan oleh istrinya.


"Aku ingin tahu seberapa tangguh singamu malam ini," bisik Zoya dengan kedipan nakal.


"Menantangku ini? Baiklah."


"Mas!" pekik Zoya saat tiba-tiba lelaki ikut mengungkung dirinya. "A-aku bercanda," ujarnya dengan gelagapan.


"Tapi singamu ini sudah terlanjur tertantang."


"Mmmhhh." Bibir Zoya dibungkam oleh bibir suaminya. Lelaki itu memberikan ciuman yang berbeda dari biasanya. Zoya sungguh kewalahan menyeimbangi sang suami.


Ciuman Nio pun turun ke leher. Ia sesap dan gigit hingga menimbulkan bekas sebagai tanda kepemilikan atas Zoya Lavani. Semakin lama, ciumannya semakin turun, membuat tubuh wanita itu semakin gelisah. Nio singkap gaun tidur istrinya hingga keindahan dunia terlihat dengan begitu menggoda.


Malam yang sunyi itu menjadi saksi keduanya menyelami surga dunia yang membuat mereka semakin dekat. Panggilan nama satu sama lain menjadi irama indah ketika mereka merasakan sensasi luar biasa yang hanya didapatkan ketika mereka bekerjasama.


"Aku cinta padamu, Zoya. Kamu adalah wanita satunya-satunya." Racau Nio ketika keduanya telah mencapai pelepasan yang membuat tenaga mereka habis.


Napas keduanya memburu dengan saling tertawa kecil menatap satu sama lain. Zoya mengecup pipi suaminya, begitu juga Nio yang mengecup kening sang istri. Lalu, ia lepaskan penyatuan mereka dan lelaki itu mengecup perut istrinya.


"Semoga jadi, semoga jadi."


Zoya menepuk punggung Nio dengan raut kesal. Keinginan lelaki itu semakin besar saja untuk memiliki anak lagi. Namun untuk Zoya, ia merasa belum waktunya sebab Rasya masih kecil. Apalagi ia masih sedikit trauma jika mengingat bagaimana sulitnya ia saat hamil Rasya dulu. Ia percaya Nio tidak akan seperti dulu, tetapi rasa trauma itu masih saja menggelayutinya. Ia hanya bisa berdoa pada Tuhan agar diberikan anak lagi saat ia benar-benar siap.


...****************...


"Itu ditaruh di sana saja," ujar Samantha saat memeriksa kesiapan pesta ulang tahun cucunya.


Hari ini tepat Rasya berulang tahun yang pertama. Karena itulah, kediaman Nio juga Zoya kini begitu ramai dengan dekorasi ala Boss Baby seperti kartun favorit Rasya. Bocah itu benar-benar mengikuti gen keluarga Bagaskara yang rata-rata menjadi seorang pengusaha hebat.


Di kamar, kini Zoya tengah bersiap-siap. Wanita cantik itu akan mengenakan pakaian formal kantor yang senada dengan suami juga anaknya. Hari ini ia akan menjadi seorang wanita kantoran yang tampak begitu cantik dan dewasa.


"Wow, Sekertaris Cantik," puji Nio menatap istrinya yang tengah mengenakan blazer putihnya. Nio memeluk sang istri dari belakang dengan mengecup leher wanita itu.


Zoya berdecak kesal saat ada tanda merah di leher yang Nio cium tadi. Padahal kini ia menata rambutnya dengan diikat tinggi sehingga leher jenjangnya tampak begitu menawan. Apalagi tulang selangka yang menonjol membuat penampilan Zoya semakin dewasa.


"Ih, merah kan!" omel Zoya melihat tanda merah itu. Suaminya kadang selalu membuat jengkel dengan hal-hal menyebalkan seperti ini. Meskipun tersangkanya Nio, tetap saja yang malu adalah Zoya. Bahkan pernah di salah satu acara award yang mereka datangi, Nio dengan sengaja memberikan tanda merah yang cukup banyak di area leher sehingga susah payah Zoya menutupi dengan menggunakan foundation lebih tebal di bagian-bagian mengerikan itu.


Nio memang gemar sekali membuat Zoya kesal. Dan sekarang, lelaki itu berulah lagi.


"Mas bikin aku buang-buang waktu deh." Kembali Zoya meraih foundationnya, lalu ditempelkan di bercak merah itu. Belum selesai menyamarkan, tiba-tiba Nio menyesap lagi di bagian leher istrinya yang lain. "Arsenio Bagaskara!" teriak Zoya kesal saat suaminya kabur dengan tawa yang renyah. Ia benar-benar jengkel jika begini caranya.


"Untung cinta, kalau nggak sudah aku tenggelamkan di Laut Mati!" omel Zoya dengan kembali memoleskan foundation di lehernya. "Kan, leherku jadi belang!" Dengan kesal Zoya melempar foundationnya. Ia hentakkan kaki berjalan menuju walk in closet dan mencari dalaman dengan kerah leher yang bisa menutupi cap kepemilikan sialan itu. Bisa-bisa Nio mengerjai dirinya di saat ulang tahun anak mereka.


"Hancur sudah penampilanku!" rutuk Zoya menatap nanar penampilannya. Dengan pasrah, akhirnya ia berjalan keluar kamar karena acara akan dimulai segera.