Another Chance

Another Chance
Bab 24



Hubungan Zoya dan Nio kembali dingin. Setelah beberapa hari tinggal di apartemen, Zoya kembali ke kediaman Nio ketika diberi kabar bahwa Rasya demam dan terus mencarinya. Sungguh, ia sangat merasa bersalah meninggalkan bocah itu. Ia pikir, keberadaannya tak dibutuhkan Rasya, tetapi kedekatannya beberapa hari bersama batita itu membuat mereka justru semakin dekat.


Kini Zoya tengah menggendong Rasya yang menangis. Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas dini hari tetapi wanita cantik itu masih dengan sabar membuat sang anak terlelap setelah tadi terbangun dan merengek.


"Maah! Huwaaa Mah!" rengek bocah itu terus menangis.


"Mama di sini, Sayang. Jangan menangis." Zoya akhirnya membawa sang anak ke ruang bermainnya. Ia dudukkan Rasya di karpet halus dan memberikan beberapa mainan. Bocah itu akhirnya berhenti menangis dan bermain. "Kamu mau main? Ya ampun, Sayang. Ini sudah malam, Nak."


"Mah! Mah!" Rasya memberikan mobil-mobilannya pada sang mama.


Zoya tersenyum, lalu mengambil mainan beroda empat itu.


"Bruummm bruummm. Rasya pergi ke sekolah pakai mobil sport. Bruumm bruummm." Rasya tertawa riang saat mamanya ikut bermain. Meski mengantuk, Zoya berusaha terus menemani sang anak. Sesekali ia menguap dengan menggelengkan kepala merasakan sedikit pusing karena beberapa hari ini merawat Rasya, sehingga waktu istirahatnya berkurang.


"Jadi ibu berat juga, ya. Pantesan Mama selalu marah kalau aku gak patuh," ujar Zoya yang kembali menguap. Wanita cantik itu menyandarkan tubuhnya di bawah sofa sambil menatap anaknya yang masih terlihat segar bermain puzzle. Perlahan mata indah itu tertutup merasa tak tahan lagi melawan kantuknya.


Tak lama Zoya terlelap, Nio masuk. Ia terkejut melihat sang anak tengah bermain sedangkan Zoya tertidur dengan posisi duduk kepala mengadah ke atas. Ia tersenyum sembari menggeleng melihat istrinya yang terlelap tanpa tahu mungkin posisi itu akan membuat lehernya sakit.


"Hey, kamu senang sekali mengerjai mamamu. Lihat, dia sangat lelah," bisik Nio pada anaknya yang tertawa karena dikelitik oleh papanya.


"Papahh!" Rasya menunjukkan mobil. "Buumm bumm." Bocah itu mengikuti apa yang ibunya lakukan tadi, membuat sang papa tertawa.


"Kita pindah, ya. Rasya bobo, ini sangat larut, kasihan mama," ujar Nio mengangkat Rasya dulu membawanya ke kamar Zoya dan dibaringkan di baby box lalu diberi botol susu sehingga Rasya anteng.


Setelah itu, Nio mengangkat tubuh istrinya dan membawa ke kamar. Sepanjang jalan ia tersenyum menatap wajah polos sang istri yang tampak imut. Jantungnya berdebar hebat merasakan cinta yang masih begitu besar untuk Zoya. Sampai di kamar, ia baringkan tubuh semapai itu. Nio tersentak kaget saat bola mata Zoya terbuka. Keduanya saling tatap, hingga desiran darah Nio naik begitu cepat.


Nio hendak menghindar, tetapi tangan Zoya melingkar di leher, sehingga ia tak bisa bergerak. "Hey, kamu bilang, kamu mencintaiku. Tapi kenapa mau menceraikanku, hhmm? Apa kamu jijik melihatku? Wanita bekas sentuhan laki-laki lain?" tanya Zoya.


"Zoya, bukan—"


"Ssstttttt! Diamlah. Dengar kata-kataku. Di sini, aku yang berkuasa!" seru Zoya. "Arsenio Bagaskara, aku katakan padamu, bahwa kau tidak akan bisa menceraikanku! Kita berdua sudah terhubung satu sama lain, meski ada sejuta si brengsek Jordan atau si Ular Kadut Luna, kita tidak akan berpisah. Aku, kamu dan Rasya, akan tetap menjadi keluarga bahagia! Titik!" ucap Zoya dengan senyuman manisnya.


"Apa kamu sadar dengan apa yang kamu katakan, Zoya?" tanya Nio menatap lekat mata istrinya.


"Tentu saja! You are mine and I'm yours. You and me to be us," jawab Zoya tegas.


"Benarkah? Jangan menarik kata-katamu, Zoya. Aku anggap perkataanmu ini mengajakku untuk memiliki hubungan suami-istri yang sesungguhnya, bukan hanya demi Rasya, tetapi demi aku juga," ujar Nio kembali dengan debaran dada yang begitu cepat. Ia tak menyangka bahwa Zoya mengatakan itu. Apa ia mimpi?


Mata Nio membulat saat tiba-tiba Zoya menekan lehernya hingga kini bibir keduanya menyatu. Jantung ayah satu anak itu berpacu dengan cepat mendapatkan serangan dari istrinya. Bukan sekadar kecupan, Zoya bahkan bermain dengan bibir suaminya. Desiran halus Nio rasakan sehingga akhirnya ia membalas ciuman itu. Keduanya saling memuja dengan penyatuan saliva yang membara.


"Zoya." Rahang Nio mengeras saat tiba-tiba Zoya menciumi lehernya. Wanita itu bahkan menyesapnya secara perlaha membuat tubuh Nio meremang. "Zoya, jangan bangunan singa yang telah tertidur lama," bisiknya menahan gejolak yang siap meledak.


**


Zoya terbangun dengan napas terengah. Ia menatap sekitar lalu mengusap wajahnya. Mimpi apa dia semalam? Sungguh, itu adalah mimpi terliarnya apalagi bersama Nio. Bagaimana bisa ia mencium lelaki itu terlebih dahulu dan terus mencumbu tanpa peduli rasa malu. Astaga, untung saja itu hanyalah mimpi. Apalagi saat mengingat kata-katanya yang berikrar bahwa Arsenio Bagaskara adalah miliknya. Jika itu nyata, sungguh ia akan menggali kuburannya sendiri dan masuk ke sana.


"Mamaaa! Mamaa!" Tawa bayi lelaki itu menggema membuat Zoya begitu bahagia mengawali hari.


"Ayo, kita mandi dan sarapan." Zoya mengangkat tubuh bocah menggemaskan itu. "Rasya makin berat saja. Anak Mama sayang," katanya dengan membawa sang anak ke kamar mandi.


***


Zoya melangkah dengan riang bersama Rasya. Setelah mandi, ia membawa sang anak menuju ruang makan. Wanita itu terdiam saat melihat Nio telah duduk di sana. Tiba-tiba wajahnya merona membayangkan mimpi semalam yang memalukan itu.


'Astaga Zoya, itu hanya mimpi. Ayolah, Mas Nio juga gak akan tahu,' gumam Zoya dalam hati. Dengan menetralkan perasaannya, wanita cantik itu berjalan menuju meja makan. Dengan cepat Jessica menerima Rasya dan mendudukkan di kursi khususnya.


"Selamat pagi, Nyonya. Apa semalam Anda tidur dengan nyenyak?" tanya Jessica seperti biasa. Namun, entah mengapa mendengar kata nyenyak wajah Zoya kembali merona. Terbayang betapa hangat tubuh Nio semalam memeluknya dalam mimpi. "Nyonya, apa Anda baik-baik saja?"


"Ah, a-aku baik-baik saja, Jess." Zoya berdeham dan menghela napasnya.


"Pagi, Zoya."


Zoya menggigit bibir bawahnya mendengar suara barito itu. Bahkan jantungnya berdebar hebat. Kembali ia mengingat suara itu yang mengatakan bahwa ia tak akan melepaskannya. 'Oh Tuhan, sadar, Zoya! Kenapa kau selalu terbayang-bayang mimpi memalukan itu?' rutuk Zoya pada dirinya sendiri.


"Zoya?"


"Ah, kenapa?" tanya wanita itu salah tingkah.


"Are you okay?" tanya Nio khawatir.


"A-aku baik-baik saja," jawab Zoya tersenyum kaku.


"Beneran? Wajahmu merah, Zoya."


"Hah?" Zoya menyentuh kedua pipinya. "Ti-tidak. Aku baik-baik saja. Ini mungkin karena krim wajahku saja yang membuat terlihat merah," jawab Zoya kembali.


Setelah percakapan itu, pelayan memberikan sarapan. Dengan lahap Zoya memakannya. Ia sangat lapar dan merasa lelah dengan perasaan aneh pagi ini. Wanita cantik itu melirik sang suami yang entah mengapa sejak tadi menatapnya dengan tersenyum malu.


"Ini Tuan." Pelayan memberikan teh herbal hangat untuk Nio.


"Uhuk! Uhuk! Uhuk!" Tiba-tiba Zoya tersedak saat melihat 'hal mengerikan' di tubuh suaminya.


Melihat Zoya tersedak, dengan reflek Nio beranjak mendekat dan memberi minum. "Pelan-pelan, Zoya." Nio mengusap punggung istrinya dengan raut khawatir.


Setelah minum, kembali ia menatap leher Nio. Ada tanda merah di sana? Tubuh Zoya tiba-tiba merasakan panas dingin. Bukankah dalam mimpi semalam ia menghisap leher Nio tepat di area yang kini ia lihat? Dengan reflek tangan lentik itu menyentuh leher Nio, tetapi tangannya justru langsung ditahan.


"Jangan buat singa itu terbangun lagi, Zoya. Cukup semalam kau kerjai dia," bisik Nio yang membuat Zoya seakan terhempas ke jurang.


'Tuhaaaan, bawa aku kembali ke sisimu!' teriak Zoya dalam hati.