Another Chance

Another Chance
Bab 68



Zoya dengan langkah percaya diri memasuki perusahaan suaminya. Wanita cantik itu kini akan melakukan konferensi pers opening series baru Di PH film Nio sebagai penyanyi soundtrack yang baru. Seperti rencana Nio, istrinya benar-benar diorbitkan sebagai penyanyi. Dengan ditemani Saira, dua wanita cantik itu memasuki ruang khusus di mana para wartawan berkumpul.


"Aku gugup," ujar Zoya pada adik iparnya.


Bagaimana tidak gugup? Ini adalah kali pertama ia berhadapan lagi dengan wartawan setelah kasusnya dulu. Melihat sang istri yang sedikit pucat karena gugup, Nio pun menjemputnya. Ia genggam tangan Zoya dengan memberikan kata-kata semangat.


"Jangan gugup, percaya dirilah. Kembalikan Zoya Lavani yang confidence serta penuh semangat. Kan, ada Adek yang bersamamu," ujar Nio mengusap perut Zoya dengan senyuman hangatnya.


Zoya pun ikut tersenyum menggenggam tangan sang suami serta mengangguk.


"That's my beautiful wife." Nio mengecup kening istriny.


"Hey, ingat ada aku di sini," protes Saira yang sebal sekali melihat kemesraan kakaknya.


"Oh, ada orang ternyata. Kukira pamflet," kekeh Nio yang membuat adiknya melotot.


Tak lama Salah satu staff datang. "Pak, sudah mau dimulai," ujarnya sopan.


Nio pun membawa sang istri ke panggung konferensi pers, sedangkan Saira menunggu di balik layar.


"Hey, Kita bertemu lagi."


Saira menoleh dan satu alisnya terangkat.


"Kenapa kamu di sini?" tanya Saira pada Clay.


"Aku Salah satu pemain dalam series ini." Lelaki tampan itu menunjukkan kaus berjudul series terbarunya.


"Jadi figuran?" tanya Saira meremehkan.


Clay tersenyum mendengarnya. "Pemeran utama laki-laki," sahutnya bangga.


Saira pun hanya ber-oh-ria tak peduli.


"Kenapa kamu tidak ke sana?" tanya Saira heran. Bukankah semua pemain harusnya di panggung? Lalu kenapa si pemeran utama laki-laki justru malah berdiri di sampingnya?


"Tunggu dipanggil," jawab Clay tersenyum dengan mengedipkan satu mata pada adik pemilik PH film itu.


Tanpa Clay ketahui, ada sosok laki-laki lain yang mengepalkan tangan melihat bagaimana ia sok akrab dengan Saira. Lelaki itu menatap dengan tatapan dingin dan tak suka. Lelaki itu berjalan menghampiri Saira sebab melihat gerak gerik artis baru itu yang tercium ingin mendekati Saira.


"Nona Saira ...."


Saira menoleh menatap Langit di belakangnya.


"Ada apa, Kak?" tanya Saira pada asisten sang kakak.


"Sebaiknya Anda duduk sembari menunggu Tuan dan Nyonya. Mari ...." Langit merentangkan satu tangan dengan menunduk mengarah ke ruang tunggu khusus.


Saira pun mengangguk dan meingkuti Langit. Sedangkan Clay tampak begitu kesal sebab asisten itu kembali menghancurkan rencananya. Hingga tak lama nama Clayton Lesmana dipanggil sebagai pemeran utama laki-laki juga seorang artis baru. Para wartawan memotret laki-laki tampan tersebut.


Zoya sendiri tersenyum pada wartawan. Ia mencoba percaya diri dan beranggapam bahwa ia kini memulai kariernya dari nol lagi. Ia harus fokus dan sungguh-sungguh meskipun tengah mengandung buah hatinya bersama Arsenio.


"Untuk pertanyaan ini, saya yang akan jawab," sahut Nio yang membuat Zoya tersenyum. "Sayalah yang memutuskan untuk istri saya menjadi seorang penyanyi. Bisa dikatakan bahwa saya adalah tipikal laki-laki pencemburu luar biasa, sehingga saya tidak mengizinkan istri saya berdekatan dengan lawan jenis meskipun itu hanya peran," ujar Nio menatap hangat istri tercintanya.


"Jadi, Pak Arsenio mengizinkan untuk Mbak Zoya untuk bernyanyi?" tanya wartawan lain.


"Sebenarnya sayalah yang memberi ide untuk istri saya comeback ke dunia hiburan. Bagaimana pun juga, dunia entertainment adalah dunianya dulu. Meski kini ia sudah berkeluarga, saya ingin ia tak melupakan dunia yang membuatnya bahagia. Sekalian untuknya memiliki kegiatan selain menjadi ibu rumah tangga," sahut Nio kembali.


"Memang semua atas izin suami saya. Jadi, apa pun itu, selagi dia mendukung, saya akan lakukan." Zoya menatap suaminya penuh dengan cinta, begitu juga sebaliknya.


Kini, orang-orang tahu bahwa kedekatan mereka selama hampir satu tahun ini adalah nyata, bukan hanya akting seperti dulu. Bahkan Zoya sudah tak pernah terlihat jalan bersama Jordan. Lelaki itu pun kini menghilang entah ke mana. Awalnya Nio ingin memenjarakannya, tetapi Zoya melarang dan mengatakan untuk memaafkan laki-laki itu. Bagaimana pun, Jordan-lah yang dulu menemani kesendirian Zoya. Bukan karena masih mencintainya, bukan sama sekali. Ia hanya memaafkan apalagi kini lelaki itu sudah tak bisa berjalan lagi.


Nio pun memberi kesempatan untuk Jordan, tetapi dengan syarat menjauh dari Zoya. Melihat keadaannya yang seperti itu pun Jordan sadar diri sehingga ia benar-benar pergi dari hidup Zoya.


...****************...


...Praaaangggg! Benda pecah belah berserakan Karena dilempar dengan emosi oleh Leticia. Setelah kembali dari acara konferensi pers dan melihat betapa bahagia hidup Zoya, ia sungguh tak terima. Sepupunya itu tak boleh memiliki hal yang lebih baik darinya....


Deon juga Lena menghampiri kamar sang anak dengan tergopoh-gopoh. Keduanya sungguh panik saat mendengar amukan anak gadisnya.


"Cia, apa yang terjadi?" tanya Lena memeluk anak kesayangannya.


"Aku tidak terima! kenapa hidup wanita sialan itu sangat beruntung! Aku benci melihatnya bahagia, Mama!" teriaknya dengan penuh amarah. "Lihatlah, bahkan keuangan Kita semakin menurun. Harta Tante Ken pun sudah hampir habis, sedangkan Zoya hidup dengan kemewahan! Aku tidak terima!"


"Pa, bagaimana ini? Bukankah masih ada aset perusahaan perhiasan milik Ken Ayu? kenapa Papa tidak menjualnya?" tanya Lena yang membuat Leticia terkejut.


"Perusahaan perhiasan? Memang Tante Ken punya? Kenapa aku tidak tahu?" tanya Leticia menghapus air matanya.


"Papa juga baru tahun dari pengacara. Satu bulan lalu dia datang mencari Zoya di sini, tetapi tidak ada. Dia berkata bahwa Ken Ayu memiliki sebuah perusahaan perhiasan dengan jumlah kekayaan sampai tiga puluh triliun," ujar Deon.


"Apa! tiga puluh triliun? Papa gak bercanda, 'kan?" tanya Leticia berbinar. "Kita semakin kaya!" pekik gadis itu.


"Tapi, harta itu berbeda dengan harta yang kita ambil dari Zoya. Perusahaan ini adalah perusahaan yang dibangun oleh Ken dan Samudera. Jadi, selain milik keluarga kita, ada juga milik keluarga Lavani. Dan pewaris utamanya otomatis milik Zoya," ujar Deon yang membuat Leticia melemah.


"Mi-milik wanita sialan itu lagi?" tanyanya dengan emosi. "Kita harus memilikinya, Papa! Papa pasti punya rencana, 'kan?" tanya gadis itu penuh harap.


Deon hanya membuang napas secara kasar. "Kita tidak bisa memiliki harta itu kecuali Zoya menyerahkan seperti dulu. Dan yang pasti, kita akan sulit mendapatkannya sebab keluarga Lavani pun pasti kini tengah mengincar Zoya! Sialan memang! mereka sudah menikmati kekayaan milik Samudera, kini menginginkan yang ini juga," keluhanya.


"Hanya ada satu cara untuk mendapatkannya," ujar Deon dengan senyuman misteriusnya.


**Bonus visual


Langit**



Clayton