
"Cheriè, kenapa kamu diam?" tanya Nio yang membuat lamunan Zoya buyar. "Jika kamu belum mau bercerita jangan dipaksa, Sayang. Aku ingin tahu agar selanjutnya hati-hati untuk menjagamu," sahutnya dengan mengusap pipi Zoya.
"A-nu. Itu karena a-aku pernah bermimpi kecelakaan dengan mobil itu. Ki-kita bertengkar dalam mobil itu, terus kita mengalami kecelakaan hingga nyawa kita tak tertolong. Entah kenapa mimpi itu seperti nyata, hingga saat melihat mobil itu aku seperti sangat takut dan teringat mimpi itu," jawab Zoya akhirnya. Meskipun ia harus berkata bahwa itu hanyalah mimpi. Tidak mungkin juga ia menjawab pertanyaan Nio dengan mengatakan bahwa ia reinkarnasi.
"Mimpi?" tanya Nio.
"Iya. Sudahlah, jangan dibahas lagi. Aku takut membayangkannya," ujar Zoya yang langsung membenamkan wajahnya di dada sang suami.
Nio tampak diam memikirkan apa yang diucapkan Zoya. Ia merasa mimpi itu seperti familiar. Namun, ia juga tak ingat. Apa ia pernah bermimpi itu juga?
Di kehidupan sekarang, Nio memang tak ingat bahwa dia kembali ke masalalu bersama Zoya. Berbeda dengan reinkarnasi sebelumnya, lelaki itu justru tak merasa bahwa ia telah mati bersama Zoya dalam kecelakaan. Berbeda dengan Zoya yang justru bisa mengingat reinkarnasi sekarang daripada reinkarnasi sebelum-sebelumnya.
Tak ingin memikirkan hal tersebut, akhirnya Nio membawa Zoya dalam dekapannya. Ia peluk dengan erat dengan terus menciumi wajah sang istri yang membuat wanita itu geli.
"Mas," lirih Zoya.
"Apa, Sayang?" tanya Nio menatap sang istri.
Wanita cantik itu menggigit bibir bawahnya. Ia merasakan ingin disentuh Nio, tapi ia malu untuk memintanya.
"Kenapa? Mau apa, hhmmm?" tanya Nio mengusap lembut wajah Zoya, lalu jarinya turun ke leher hingga ke dua bongkahan kenyal milik wanita cantik itu.
"Jangan menggodaku!" omel Zoya memukul dada suaminya.
"Hmmmm baiklah." Nio pun menghentikan gerakannya, hingga membuat Zoya kecewa.
Oh, astaga! Ini hari ulang tahun Mas Nio. Zoya tiba-tiba teringat bahwa tadinya ia ingin memberi kejutan di tengah malam untuk merayakan hari jadi suaminya. Gara-gara fobia itu muncul juga hilangnya Saira, ia jadi lupa membeli kue.
Zoya menatap suaminya yang tengah berbaring dengan menutup matanya. Wanita cantik itu menggigit bibirnya merasa bingung harus melakukan atau tidak. Tapi, ini hari spesial suaminya. Masa ia tak memberikan sesuatu?
Ibu satu anak itu beranjak dan turun dari ranjang. Ia berjalan menuju walk-in-closet untuk mencari sesuatu. Nio sendiri membuka mata merasakan pergerakan istrinya.
"Mau ke mana?" tanya Nio.
"Toilet," jawab Zoya.
Kamar mandi mereka memang terhubung dengan walk-in-closet, sehingga Zoya bisa leluasa ke sana dengan alasan ingin buang air kecil.
Zoya menatap ragu pakaian di depannya. Sebuah lingerie berwarna merah menyala kini ia sentuh. Apakah ia harus menggunakan itu? Ah, tapi ia sangat malu.
"Demi Mas Nio," ujarnya menyemangati diri.
Akhirnya ia raih gaun super seksi itu, lalu mengenakannya. Tak lupa ia memoles wajahnya agar terlihat semakin menggoda.
Zoya menatap ngeri penampilannya. "Kenapa aku seperti wanita penghibur?" gumamnya. Ia bingung harus keluar atau tidak. Ia takut Nio berpikir macam-macam dengan penampilannya malam ini.
"Cuma di depan Mas Nio, Zoya! Bahkan dia sudah melihat tubuhmu. Kenapa harus malu sekarang?" tanyanya pada diri sendiri.
Dengan menghela napas dan membuangnya, Zoya akhirnya memutuskan untuk keluar dari walk-in-closet. Ia terkejut saat tiba-tiba melihat suaminya sudah ada di depan itu. Wajah Nio pun sama terkejutnya. Lelaki itu merasa khawatir karena sang istri yang tak kembali juga hampir tiga puluh menit. Karena itu, ia menyusul. Namun, saat ingin membuka pintu, justru ia dikejutkan dengan penampilan istrinya yang sangat ... seksi.
"Mas, jangan lihat aku seperti itu." Wajah Zoya sudah memerah melihat bagaimana Nio menatapnya.
Nio melipat tangan dengan bersandar di pintu. "Ada apa ini seorang Zoya Maharani Lavani berpenampilan seperti ini?" tanyanya dengan senyuman yang mengembang.
"Ke-kenapa? Gak boleh pakai pakaian seperti ini?" Dengan melempar rambut, Zoya berjalan dengan Angkuh menuju ranjang.
Nio pun terkekeh geli melihat tingkah istrinya.
Wanita cantik itu duduk dengan sesekali menurunkan rok super pendek itu. Ia benar-benar tak nyaman mengenakannya.
"Kalau tidak nyaman kenapa dipakai, Cheriè?" tanya Nio yang duduk di samping istrinya.
You can do it Zoya!
Wanita itu menaruh tangannya di kedua bahu sang suami. Lalu, ia coba dorong, berharap suaminya terjatuh di atas ranjang. Namun, badan Nio tak bergerak sama sekali meski berulang kali di dorong.
"Ish!" Zoya melepas tangannya dengan kesal.
"Mas!" pekik Zoya ketika tiba-tiba tubuhnya didorong hingga kini berbaring di atas ranjang.
"What you wanna do, Baby?" tanya Nio kembali dengan jari mengusap wajah istrinya. "Kenapa kamu berpenampilan paripurna seperti ini, heemm?"
Dengan mencoba berani, Zoya menatap suaminya. Ia peluk leher Nio dengan tersenyum. "Happy birthday, my husband. It's your first gift," ujar Zoya dengan cepat mengecup bibir suaminya.
Nio sedikit berpikir. Memang ini tanggal berapa?
"Oh, astaga, aku bahkan lupa hari ini ulang tahunku," ujar Nio tertawa kecil. "So, kamu berpenampilan seperti ini karena hari ini hari kelahiranku?"
"Hu'um. Tadinya aku mau memberi kejutan, tetapi semua gagal gara-gara kejadian hari ini. So, gantinya dengan ini saja, ya," ujar Zoya tersenyum. "You can do how much you wanna to do," bisik Zoya yang membuat Nio tersenyum sumringah.
"Jangan tarik lagi kata-katamu, Honey." Dengan cepat, Nio menarik selimut menutupi tubuh keduanya.
...****************...
"Huek! huek! huek!"
Mendengar seseorang muntah, Nio terbangun dari tidurnya. Ia menatap sisi ranjang tak menemukan sang istri di sana. Dengan langkah terburu-buru, Nio berlari menuju kamar mandi.
"Sayang, are okay?" Nio memijat leher belakang Zoya dengan perasaan khawatir. Istrinya muntah tapi tak mengeluarkan apa-apa. Pasti itu sangat menyakitkan.
"Kita ke rumah sakit saja, ya. Sudah satu minggu kamu begini terus," ujar Nio sangat khawatir.
Zoya menggeleng. "Aku gak apa-apa. Ini mungkin karena kecapean. Mas tahu sendiri hampir sebulan ini aku sedang mempersiapkan album baru," ujarnya dengan mengusap wajahnya dengan handuk setelah dibasuh air. "Gendong."
Nio pun menggendong Zoya ala bridal. Ia baringkan sang istri di atas tempat tidur. Waktu menunjukkan pukul lima pagi. Lelaki itu menekan interkom yang terhubung ke ruangan Jessica.
"Selamat pagi, Tuan. Apakah Anda membutuhkan sesuatu?" tanya Jessica.
"Antarkan teh herbal seperti biasa. Zoya muntah lagi," sahut Nio.
"Nyonya muntah lagi, Tuan? Ah, baiklah. Saya akan antar segera."
Setelah itu interkom terputus.
"Sini, peluk aku," rengek Zoya dengan manja.
Nio pun ikut berbaring dan memeluk istrinya.
"Masih mual?" tanya Nio mengusap punggung sang istri.
Zoya hanya menggeleng dengan mencium aroma tubuh Nio yang membuatnya tenang. "Mas wangi," pujinya yang membuat Nio tersenyum.
"Tumben sekali, biasanya suruh buru-buru mandi kalau sudah bangun."
"I feel so comfy." Zoya tersenyum dengan terus memeluk istrinya.
Tak lama, pintu kamar diketuk. Nio melepaskan pelukannya dan berjalan untuk membuka pintu.
"Tuan, apa Nyonya baik-baik saja?" tanya Jessica khawatir.
"Tadi dia muntah lagi, tapi tidak keluar apa-apa. Hanya sekarang sudah membaik," ujar Nio meraih nampan yang dibawa Jessica.
"Tuan, apa tidak sebaiknya Nyonya dibawa ke rumah sakit? Ini sudah satu minggu keadaannya tak membaik," sahut Jessica khawatir.
"Dia tidak mau, Jess. Saya harus gimana?" tanya Nio.
"Tuan, bukan saya sok tahu, tapi melihat keadaan Nyonya saya merasa kalau Nyonya ... hamil."
Mata Nio membulat mendengar ucapan kepala pelayannya.