Another Chance

Another Chance
Bab 30



Sosial media menjadi gempar atas postingan sepasang suami-istri. Siapa lagi kalau bukan Zoya dan Arsenio. Dua orang itu kini tak malu untuk memposting orang yang dicintainya. Seperti Nio yang langsung memposting foto Zoya saat mereka melihat sunset di tepi pantai dan tak lama, Zoya memposting foto Nio yang tengah menonton bersama Rasya.


Butuh waktu satu jam dan akun mereka ramai dengan komentar. Entah itu komentar hujatan atau sebuah dukungan. Bukan hanya netizen kalangan biasa, para artis pun ramai berkomentar di sana. Zoya sendiri sangat terharu dengan postingan Nio yang memberikan kutipan kalimat dalam buku Sang Kehidupan.


Zoya menatap suaminya yang tengah terlelap dengan tatapan bahagia. Ia tak menyangka bahwa Nio begitu mencintainya. Dulu, ia sangat bodoh mencampakkan bahkan membunuh anak dan suaminya.


Air mata Zoya menetes kala teringat kejadian sebelum dirinya dan Nio merenggang nyawa. Begitu hancur lelaki itu dengan pikirannya yang sudah tak waras sebab tak tahan dengan rasa sakitnya yang kehilangan Rasya dan dikhianati oleh cintanya.


Wanita cantik itu menghela napas. Ia usap air matanya dan tersenyum. Itu adalah dulu, dan kini ia takkan mengulangnya. Ia akan menulis kisah barunya bersama Nio dan Rasya. Kisah bahagia dengan saling mencintai.


Tangan lentik itu terulur dan hinggap di rahang berbulu suaminya. Ia usap penuh perasaan dengan senyuman yang mengembang. Zoya masih tak menyangka bahwa kesempatan lain yang ia dapatkan ini membuat hidupnya berwarna. Apalagi mendapat cinta Arsenio dengan begitu sempurna.


Nio adalah sosok lelaki yang lembut, penuh cinta, perhatian dan yang pasti pelindung luar biasa. ,Iya sangat beruntung bisa merasakan cinta besar itu. Sejak orang tuanya meninggal, tak ada yang tulus mencintainya. Namun kini, ada laki-laki yang bahkan bisa memberikan hidupnya untuk Zoya.


Mata Nio terbuka. Senyuman terlukis di bibir lelaki tampan itu. Sejak kejadian di pantai itu, Zoya akhirnya mengizinkan sang suami tidur satu kamar dengannya, meski belum bisa menyentuh Zoya sebab wanita itu masih merasa minder atas tubuhnya yang sudah disentuh laki-laki lain. Ia merasa tak memilih harga diri dan merasa tak pantas disentuh Nio yang sangat menjaga dirinya.


Nio pun hanya bisa sabar untuk meyakinkan Zoya bahwa dirinya sudah ikhlas dengan apa yang terjadi di masalalu. Ayah satu anak itu masih tetap bersyukur Karena sekarang hubungannya dengan sang istri semakin baik dan semakin dekat.


"Cinta adalah suatu misteri yang terselubung sepanjang zaman, mengendap-endap di balik penampilan dan menjadikan hati kita sebagai sarangnya. Selamat pagi Cintaku. Aku bahagia saat membuka mata hal pertama yang aku lihat adalah peri cantik yang selalu menjadi ratu di hatiku," ujar Nio dengan suara khas bangun tidurnya.


"Selamat pagi, Mas." Zoya mengecup lembut pipi suaminya.


"Uh, manis sekali istriku." Nio semakin mengeratkan pelukannya pada sang istri.


"Bangun, Mas. Ini sudah siang," kata Zoya mencoba melepas pelukannya.


"Ini hari libur, Sayang. Aku masih ingin bersamamu. Biarkan saja waktu berjalan," sahut Nio yang kembali menutup matanya. "Aku mau cium kamu." Dengan cepat Nio mengecup lembut bibir istrinya.


"Ish dasar. Belum gosok gigi sudah main cium saja." Dengan wajah meronanya Zoya memukul manja dada sang suami.


"Mas!" pekik Zoya saat tiba-tiba Nio menghisap leher putih istrinya. Tubuh Zoya tiba-tiba memegang merasakan sensasi yang sudah lama tak ia rasakan.


"I want you, Cheriè. I really want you," bisik Nio yang terus menjelajahi leher istrinya. Zoya sendiri hanya bisa mencengkram baju tidur sang suami.


"Ma-s."


"Please, Zoya. Kamu terlalu berharga untuk diabaikan." Dengan perlahan Nio melepas satu per satu kancing piyama ibu dari anaknya. Jantung lelaki itu berdebar hebat. Matanya tak berkedip melihat pahatan indah Tuhan yang begitu membuatnya memesona.


Dengan tangan gemetar Nio meraih keindahan itu. Ia usap sehingga menimbulkan sengatan listrik untuk Zoya. Rasa lembut itu sunggu membuat kepala Nio seakan ingin meledak. Ah, bagaimana bisa Tuhan menciptakan anatomi tubuh seindah itu untuk istrinya. Pasti Zoya adalah salah satu makhluk kesayang Tuhan sehingga apa yang ada pada diri wanita itu sungguh memesona.


"Mas!" Zoya mencengkram sprei saat tangan Nio mulai bergerak di area sensitifnya dengan perlahan tapi mampu membuat Zoya kalang kabut.


Jantung Zoya berdebar dengan hebat. Sentuhan Nio sungguh memabukkan untuknya. Gerakan tangan yang perlahan membuat Zoya kelimpungan dengan rasa yang sudah lama tak ia rasakan. Setiap inci tubuhnya dikecup dan dipuja oleh sang suami.


"Mas Nio," geram Zoya saat lelaki itu menggigit area sensitifnya. Nio sendiri hanya tersenyum melihat reaksi tubuh sang istri. Ia bersorak sebab wanita itu kini hanya pasrah dengan apa yang dilakukannya.


"You're so gorgeous, Cheriè. I love everything on you." Nio sudah tak tahan. Ia lepaskan pakaian atasnya dan melepas bagian bawah.


Wajah Zoya merona melihat bagaimana gagahnya tubuh sang suami. Ia tak menyangka bahwa Nio memiliki tubuh atletis apalagi ia meneguk ludah dengan kasar melihat inti tubuh suaminya.


"You're mine, you're mine, Sayang." Nio hendak menyatukan tubuh keduanya. Akan tetapi, tiba-tiba tangisan sang anak pecah hingga ia menghentikan gerakan.


"Mas, Rasya menangis," ujar Zoya menatap suaminya.


"Lalu ini gimana?" tanya Nio menatap melas bagian bawah.


"Kita lakukan lain kali saja. Kasihan itu Rasya." Zoya mendorong tubuh sang suami, lalu mengambil satu per satu pakaiannya yang tercecer di ranjang. Buru-buru wanita cantik itu kenakan dan menghampiri anak kesayangannya.


"Ini gimana, Zoya?" tanya Nio kembali.


Zoya hanya tersenyum kaku melihat kemalangan sang suami. Bukan lelaki itu saja, Zoya pun sudah kepalang pengen tapi tak mungkin juga melanjutkan dengan sang anak terus menangis histeris.


"Rasya, kenapa kamu bangun di waktu yang tak tepat, sih." Dengan rasa nelangsa, Nio berbaring dengan memukul-mukul ranjang.


"Pakai bajunya ih. Gak malu apa dilihatin Rasya!" omel Zoya dengan wajah memerah. Ia sunggu tak tahan melihat tubuh indah milik suaminya.


"Biar saja, biar kamu tergoda!" cecar Nio.


Zoya hanya menggeleng. akhirnya wanita cantik itu meninggalkan sang suami menuju kamar mandi untuk memandikan sang buah hati. Ia juga harus mengalihkan gelora yang dinyalakan oleh Nio. Itu juga membuat kepalanya pusing sama seperti yang dirasakan Nio.


"Zoya ...." Wajah Nio begitu menyedihkan menatap sang istri yang justru fokus pada anaknya dan meninggalkan dirinya dalam keadaan yang menyedihkan.


Huh, apes sekali nasibmu, Nio. Semesta masih tak berpihak padanya.


Bonus postingan Zoya dan Arsenio yang viral