
"Ngapain sih ke sini!" sewot Zoya menatap lelaki tampan yang kini menggenggam tangannya dengan wajah memelas.
"Sayang, kamu kenapa sih? Kok jadi galak gitu?" tanya Jordan dengan tatapan sedihnya.
"Lepas!" Zoya menarik paksa tangan yang digenggam lelaki itu.
"Yank, kamu ngapain bunuh diri gini? Apa yang kamu rencanain? Kamu minta cerai tapi dia gak wujudin?" tanya Jordan. "Kan aku bilang juga kamu saja yang menggugatnya. Aku janji akan bantu kamu lepas darinya, terus kita nikah dan hidup bahagia," ujarnya dengan mata berbinar. "Jangan lupa harta gono gini biar hidup kita sentosa."
"Idih, siapa yang mau hidup dengan mokondo sepertimu? Dalam mimpi pun no way!" sentak Zoya dengan tatapan jijik.
"Sayang, kamu kenapa sih? Kok melihatku seperti jijik gitu? Ah, aku tahu, kamu pasti sedang akting baik-baikin Nio agar dapat kartu kredit lagi, 'kan? Oke, aku rela kamu maki-maki demi kelangsungan hidup enak kita," kata lelaki menyebalkan itu tanpa malu.
'Dasar mokondo! Kenapa aku bodoh sekali tergila-gila dengan lelaki gak berguna seperti dia.' Zoya dewasa merasa jijik melihat mantan kekasih yang ia kencani selama 4 tahun itu.
'Baru sadar kalau kamu bodoh?' ejek Zoya pada bayangan dirinya.
"Sayang, aku merindukanmu." Jordan mendekat dengan tatapan yang dulu Zoya sukai tapi sekarang sangat menjijikan.
Zoya dorong wajah Jordan yang ingin menciumnya. Namun Jordan justru menarik tangan kekasihnya itu. Lelaki itu tahu bahwa Zoya sangat suka dipaksa hingga dia memaksa untuk menciumnya.
"Menjauh, sialan!" pekik Zoya terus mendorong wajah Jordan yang memaksa mendekat.
"Come on Baby. I know you miss me too." Pantang menyerah, Jordan semakin mendekat.
"Menjauh!" Dengan kesal, Zoya menjambak rambut tebal bagian belakang milik Jordan.
"Awww! Sayang, lepas!" pekik Jordan yang merasa kepalanya perih.
"Mas Nio! Mas, tolong aku!" teriak Zoya berharap suaminya ada di luar dan masuk lalu menolongnya.
Benar saja, tak lama Nio masuk. Ia berlari dengan tangan mengepal dan wajah penuh amarah.
"Tolong aku, Mas!" pekik Zoya dengan mata berkaca-kaca.
"Lepaskan istriku sialan!" Dengan penuh amarah Nio menarik kerah belakang Jordan hingga lelaki itu terpental dan langsung dihajar, membuat Zoya terkejut tak percaya melihat amarah seorang Arsenio.
Selama menikah, ia tak pernah melihat Nio marah. Lelaki penyabar itu hanya akan menatap dingin seberapa buruknya Zoya. Tak pernah sekalipun melihat lelaki itu meledak seperti sekarang.
Zoya terperanjat kaget saat tubuh Jordan dibanting ke meja kaca hingga pecah. "Mas, cukup!" teriak Zoya menatap ngeri keadaan Jordan yang mangap-mangap seperti ikan di daratan.
"Mas, berhenti!" Kembali Zoya berteriak panik Karena Nio seperti orang kesetanan.
Karena tak kunjung berhenti, Zoya pun menekan tombol perawat dan langsung turun dari ranjang, dengan membawa tiang infusnya.
"Mas, berhenti." Zoya mencoba menarik tangan Nio yang terus menghajar lelaki itu tanpa ampun.
"Mas! Dia bisa mati!" pekik Zoya. "Aww!"
Mendengar ringisan Zoya, Nio berhenti dan menoleh ke belakang. Alangkah terkejutnya dia melihat tangan sang istri yang berdarah. Suntikan infusnya terlepas hingga darah terus keluar. Nio panik langsung melepaskan cekalannya di kerah Jordan dan menghampiri Zoya.
"Zoya, kamu tidak apa? Maafkan aku," ujar Nio panik karena tanpa sengaja ia mendorong tubuh Zoya hingga terjatuh.
Tak lama perawat datang. Mereka terkejut melihat ruangan VIP itu kini berantakan seperti kapal pecah, belum lagi melihat lelaki yang terkapar penuh luka.
"Bawa dia ke IGD dan bersihkan ruangan ini," ujar Nio dengan tatapan dingin pada perawat, lalu ia mengangkat tubuh Zoya dan mendudukkan di ranjang. "Suster, tolong perbaiki infusan istri saya."
Salah satu suster pun mendekat dengan tatapan ngeri. Tak ada yang tak tahu skandal hubungan diantara mereka bertiga. Pasti Nio habis menghajar selingkuhan istrinya itu.
"Saya harap tak ada seorang pun yang membocorkan masalah ini," ujar Nio pada para suster dengan tatapan dinginnya.
Para perawat pun hanya bisa bungkam. Setelah selesai memperbaiki infus Zoya dan mengobati luka Nio atas perintah Zoya, para perawat keluar.
"Pak Arsenio mengerikan, ya. Itu selingkuhan istrinya sampai babak belur gitu," ujar salah satu perawat.
"Hush, jangan bicara lagi. Kamu gak lihat tadi ancaman dia?"
Dua perawat itu pun berlalu.
Dalam ruangan rawat yang sudah dibersihkan itu kini menyisakan sepasang suami-istri yang saling diam sejak tadi.
"Kenapa kamu turun dari ranjang, hmmm? Kamu gak tega melihat selingkuhanmu itu mati?" tanya Nio dengan tatapan dingin. Zoya pun menatapnya dengan rasa yang berbeda. Ada luka terlihat di manik hitam suaminya.
"Mas, aku bukan memikirkan keadaan lelaki sialan itu, aku hanya tidak ingin Mas mengotori tangan Mas itu dengan menyentuh tubuhnya yang menjijikan itu. Aku takut juga kalau dia mati nanti Mas dipenjara gimana?"
Nio menegakkan tubuhnya menatap tak percaya dengan perkataan istrinya.
"Kamu bilang apa? Lelaki sialan? Apa kamu terbentur? Bukankah aku yang selalu kamu bilang laki-laki sialan dan dia adalah lelaki yang kamu cintai?" tanya Nio tersenyum sinis.
Zoya pun salah tingkah dengan tatapan suaminya. "I-itu kan dulu saat aku tersesat. Percayalah, aku kini sudah sadar bahwa dia laki-laki bajingan," ujar Zoya pada suaminya.
"Beberapa hari lalu kalian masih bersenang-senang di apartemenmu. Lalu sekarang kamu berkata bahwa dia bajingan? Ada apa, Zoya? Apa dia ketahuan berselingkuh?" tanya Nio dengan wajah mengejek.
"Mas nyebelin banget, sih!" Dengan perasaan kesal, salah tingkah dan malu, Zoya berbaring menutup kembali tubuhnya dengan selimut.
"Love is blind 'kan? Itu yang kamu katakan," ujar Nio membuat Zoya mencebik dibalik selimutnya.
'Suami menyebalkan!' rutuk Zoya dalam hati.