Another Chance

Another Chance
Bab 36



Empat hari sudah keluarga kecil Nio berada di Singapura. Hari ini adalah hari terakhir mereka sebelum esok hari ketiganya kembali ke Tanah Air. Sejak semalam Nio sudah memberitahu Zoya bahwa mereka akan jalan-jalan ke Pulau Santosa. Karena itu, sejak pagi mereka sudah siap. Setelah sarapan, mereka pergi menuju pulau kecil tersebut dengan kereta gantung di stasiun Vivocity.


Hanya butuh waktu lima belas menit untuk mereka sampai di stasiun Vivocity. Nio membawa istri dan anaknya keluar dari mobil berjalan menuju kereta gantung yang akan membawa mereka ke Pulau Santosa.


Sampai di stasiun tampak begitu ramai. Nio memang sengaja membawa Zoya dan Rasya ke tempat umum agar merasakan keseruan yang berbeda. Akan tetapi suatu kejutan datang untuk Zoya. Tiba-tiba banyak yang menghampirinya dengan wajah berbinar.


"Oh my God! Are you Zoya Lavani?" tanya Salah satu yang menghampirinya.


Zoya menatap heran pada suaminya.


"A-ah, yeah. It's me," jawab Zoya tersenyum canggung.


"Oh God! Very lucky to meet you. I'm your fan!" serunya dengan bahagia. "I have watched your movie and you're amazing. Can we take a selfie?" tanyanya dengan antusias.


"Sure."


Akhirnya mereka berfoto bersama. Dan yang membuat Zoya dan Nio terkejut adalah begitu banyak yang meminta foto pada mantan aktris tersebut. Mereka tak menyangka bahwa di luar negeri banyak sekali yang mengenali Zoya.


Memang ada berapa film Zoya ditayangkan di negara tetangga. Namun, itu sudah berlalu dua tahun lalu. Tapi, masih begitu banyak yang mengenalinya. Beberapa orang juga bertanya kenapa dia tak bermain film lagi padahal mereka menunggu karya yang diberikan oleh wanita muda itu. Mereka juga bertanya kenapa Zoya menghilang di sosial media.


Zoya pun hanya bisa menjawab bahwa dia menikmati hidupnya sebagai istri juga ibu sehingga tak banyak menghabiskan waktu di sosial media.


Setelah acara meet & greet dadakan itu, akhirnya kereta gantung rombongan Nio datang. Zoya pamit pada penggemarnya. Dalam kereta Zoya masih tak menyangka bahwa begitu banyak orang yang tetap mencintainya, bahkan dari beberapa negara.


"Aku gak nyangka mereka kenal aku," ujar Zoya pada suaminya dengan tatapan berbinar.


"See? Tak semua orang membencimu, Cheriè. Lihatlah, masih begitu banyak yang menunggu kamu come back," ujar Nio mengusap rambut indah istrinya. "Kamu adalah aktris yang berbakat. Jadi, pasti banyak yang menyukai bakatmu itu."


Zoya tersenyum. "Apa aku masih ada harapan untuk berkarier lagi?" tanyanya.


"Pasti ada jika kamu ingin memulainya. Tak usah mendengar para haters yang selalu menjatuhkanmu. Lihatlah mereka yang masih setia mengidolakanmu. Karena pada dasarnya kalau kita mendengar apa kata orang, hidup kita tak akan pernah bahagia. Lakukanlah apa yang ingin kamu lakukan selagi itu hal baik dan tak merugikan orang lain," jawab Nio seperti biasa yang selalu menyejukkan hati Zoya.


Wanita cantik itu menyandarkan kepalanya di bahu sang suami. Ia genggam tangan lelaki itu dengan erat. "Terima kasih karena selalu ada untukku."


"Tentu, Cheriè. Bersamamu seperti aku memiliki dunia dan seisinya. Maka harus aku jaga baik-baik." Nio mengecup lembut punggung tangan istrinya dan mereka menikmati pemandangan indah dari ketinggian.


Tak butuh waktu lama, mereka sampai di pantai Sentosa. Kali ini keduanya dijaga betul-betul sebab di sana sangatlah ramai. Destinasi mereka pertama adalah berkunjung ke Museum Madam Tussauds. Keduanya tak memutuskan ke Universal Studio sebab pasti sangat ramai dan permainannya tak berubah. Jadi, mereka lebih memilih ke tempat yang belum mereka kunjungi.


Keluarga kecil itu melihat patung-patung artis ternama dengan beberapa kali berfoto. Zoya sendiri befoto dengan presiden pertama Indonesia Sukarno. Lalu berfoto dengan Jacky Chan, Bruce Lee, Muhammad Ali, Christian Ronaldo, Shah Rukh Khan dan masih banyak lagi. Hanya satu jam mereka di sana, lalu pergi menuju destinasi lainnya yaitu Trick Eye Museum.


Mereka begitu menikmati kegiatan hari itu. Bukan hanya ke Trick Eye Museum, mereka juga mengunjungi Sea Aqua hingga sore hari. Lalu menjalang senja, mereka duduk di tepi pantai menikmati matahari terbenam.


"Lihatlah, anak kita tertidur," ujar Zoya yang tengah menyandarkan kepala di bahu suaminya menatap sang anak terlelap dalam pelukan Nio.


"Iya, dia sangat bahagia hari ini. Bahkan sejak kita sampai dia tidak tidur. Baru sekarang ia tidur," sahut Nio mengecup ujung kepala istrinya.


"Cheriè, apa kamu bahagia?" tanya Nio.


Zoya tersenyum meraih tangan suaminya dan kedua tangan itu bertautan. "Sangat bahagia. Sudah lama aku tidak merasa sebahagia ini. Terima kasih, Mas."


"I'll keep your smile ever. So, bersiaplah menjalani hari dengan terus menyunggingkan senyuman." Nio semakin mengeratkan tautan tangannya.


Mereka duduk saling bersandar menikmati matahari terbenam dengan perasaan yang membuncah. Zoya sendiri merasa begitu bahagia seperti dadanya ingin meledak. Ia tak menyangka bahwa lelaki yang ia anggap pembawa sial itu ternyata sungguh lembut dan sangat perhatian.


Zoya menutup matanya, tersenyum melihat bayangan sang papa yang tersenyum. Sosok Nio mengingatkan pada cinta pertamanya. Lelaki yang rela memberikan apa pun untuk melihat senyuman di bibirnya.


Papa, aku menemukanmu lagi dari sosok suamiku, batin Zoya dengan senyuman di bibir.


**


Cukup satu jam untuk mereka makan malam. Setelah itu, semuanya berangkat menuju Wings of Time sebuah tempat wisata yang menyajikan pertunjukan air mancur kelas dunia dengan durasi kurang lebih 30 menit. Wings Of Time juga termasuk penyempurnaan dari Snow Songs Of The Sea.


Nio membawa istri dan anaknya duduk di tengah. Sengaja supaya bisa melihat lebih jelas dan nyaman. Petunjukan pun dimulai. Mereka disuguhkan oleh beberapa permainan air mancur yang telah dipadukan dengan lampu led, sinar laser, bola-bola api dan kembang api yang indah.


Semua orang menikmati pertunjukan indah di malam hari yang tampak cerah. Begitupun Zoya. Ia sangat bahagia melihat kembang api yang sejak lama tak ia lihat dengan perasaan bahagia. Pertunjukan hampir selesai. Hingga tiba-tiba mata Zoya membulat melihat beberapa penari membawa sebuah tulisan yang begitu membuat wanita itu terharu.


Ada lima penari yang kini tengah memberikan pertunjukan dengan kertas cukup besar mereka pegang.


Kata-kata itu tertulis ....


I love you more than any word can say. I love you more than every action I take. I’ll be right here loving you till the end. (Aku mencintaimu melebihi kata yang bisa aku ucapkan. Aku mencintaimu melebihi tidakan yang bisa aku lakukan. Aku akan di sini mencintaimu sampai akhir)


Every love story in this universe is beautiful. But, ours love story is my favorite. (Setiap kisah cinta di dunia ini indah. Tapi, kisah cinta kita adalah favoritku.)


Loving you never was an option. Because it is necessity. (Mencintai kamu tidak pernah menjadi sebuah pilihan. Karena itu adalah kebutuhan.)


You are the one that made me risk everything for a future worth having. (kamu adalah satu-satunya yang membuatku mempertaruhkan semua hal demi masa depan yang lebih berharga.)


Hey, I just wanna say something. I love you so much. Yes, that is all, My Zoya Maharani Lavani. (Hai, aku hanya ingin mengatakan sesuatu. Aku sangat mencintai kamu. Ya, itu saja. Zoya Maharani Lavani-ku)


Semua orang riuh bertepuk tangan di akhir kalimat yang tertulis ditunjukkan. Zoya sendiri menatap suaminya dengan tatapan terkejut. Bahkan air matanya menetes tanpa ia sadari.


"Mas ...."


Nio tersenyum menggenggam tangan istrinya. Lampu sorot pun menyoroti keduanya. Semua orang yang di sana pun menatap sepasang anak manusia yang sedang jatuh cinta itu.


"Apa kamu bahagia?" tanya Nio.


Zoya pun hanya mengangguk dengan air mata yang terjatuh bagai air terjun.


"Itu cukup untukku. Bahagialah selalu, Cheriè. Karena melihatmu bahagia, adalah kebahagiaan terbesarku. Lepaskan semua kesedihanmu. Bagilah kepadaku agar semua benar-benar hilang. Aku telah berjanji padamu, setiap waktu akan kubuat bibirmu terus menyunggingkan senyuman. Jadi, tetaplah menjadi Zoya yang selalu bahagia."


Zoya menangis dengan memeluk suaminya dan semua orang bertepuk tangan riuh melihat bagaimana Nio mencintai istrinya.


"I love you Mas Nio. I really love you."


Jantung Nio berdebar begitu hebat mendengarnya. Ia bahkan tiba-tiba blank seketika tak percaya dengan apa yang ia dengar.


Zoya menyatakan cintanya? Apa ia tak salah dengar?


Nio melepas pelukannya. Ia tatap Zoya dengan tatapan penuh keterkejutan. "A-apa kamu bilang?" tanyanya masih tak percaya.


"I love you. Aku cinta kamu. Saranghae. Wo ai ni, Arsenio Bagaskara," jawab Zoya tersenyum.


Jantung Nio hampir lepas mendengarnya. Bahkan tangannya sampai gemetar. Ia sungguh tak sangka bahwa akhirnya Zoya membalas cintanya.


"Ulangi sekali lagi."


Zoya terkekeh geli. "I love you Arsenio Bagaskara. I—love—you." Dengan lembut Zoya mengecup bibir suaminya. "Aku mencintaimu."


"Aku juga! Aku mencintaimu, sangat mencintaimu."


Pada malam itu, sepasang anak manusia tengah diberikan kebahagiaan yang begitu luar biasa. Namun, akankah kebahagiaan itu terus berlanjut, atau justru itu menjadi kebahagiaan pertama dan terakhir yang mereka rasakan?