Another Chance

Another Chance
Bab 8



Zoya terpaku menatap sekeliling. Wajahnya tampak bingung dengan pertanyaan di mana ia berada? Sebuah ruangan serba putih dengan kain-kain putih menjuntai di mana-mana membuatnya terasa asing. Zoya berjalan melihat sekeliling yang tampak begitu sepi hanya ada dirinya.


"Dasar bodoh!"


Zoya berbalik mencari suara yang terus mengatainya bodoh berulang kali. Ia tak terima dengan perkataan tersebut. Enak saja dia dibilang bodoh. Apa orang itu tidak tahu seberapa luar biasanya Zoya Maharani Lavani!


"Heh! Siapa kamu! Berani sekali mengataiku bodoh!" teriak Zoya dengan raut kesalnya. "Astaga!" Ia terlonjak melihat seorang wanita di belakangnya saat ia berbalik. "Loh, kamu ...."


"Apa?" Wanita itu mengetuk kepala Zoya dengan tatapan kesalnya.


"Sakit!" seru Zoya mengusap dahinya. "Kenapa kau menyakiti dirimu sendiri!"


Ya, wanita yang memukul Zoya adalah dirinya sendiri di usia 24 tahun. Zoya yang mati karena kecelakaan bersama Nio.


"Malu aku mengatakan kamu adalah bagian di diriku," cibir Zoya dewasa. "Dasar otak udang! Apa isi kepalamu kosong, hah? Bisa-bisanya bunuh diri setelah aku berusaha untuk meminta hidup kembali!" Kembali Zoya dewasa mengetuk kepala Zoya mudanya. "Kau tahu, mendapat kesempatan untuk kembali itu hal mustahil. Saat aku mendapatkan itu, justru kau ingin mengakhiri sebelum memulai? Astaga ...." Zoya dewas hanya bisa menggeleng.


"Lagian Mas Nio tidak mau memberiku kesempatan! Dia bahkan menjauhkanku dari Rasya!" seru Zoya muda tak terima dimaki.


"Heh, Bodoh! Apa kamu tidak ingat apa yang kita lakukan pada bocah itu? Amnesia? Pasti nggak, 'kan?" tanya Zoya dewasa menatap kesal. "Kamu pikir dengan apa yang kita lakukan di masa lalu Mas Nio akan dengan mudah memberikan Rasya? Itu sama saja memberikan Rasya pada singa yang tengah lapar. Apa yang dia lakukan sekarang itu tak ada salah sama sekali."


"Tapi semalam dia mau memberikan Rasya padaku!" seru Zoya muda.


"Itulah Mas Nio. Dia terlalu lembek pada kita. Dia tidak tega melihatmu yang terus memohon sehingga dengan berat hati memberikan Rasya," sahut Zoya dewasa.


"Kau tahu semuanya?" tanya Zoya muda terkejut.


"Of course! Aku bisa mengawasimu dari sini. Jadi, jangan macam-macam atau aku akan menghukummu. Sekarang, kembalilah ke dunia nyata. Buat Mas Nio percaya padamu untuk menjaga Rasya. Lakukan setulus hati." Zoya dewasa tiba-tiba menepuk bahu Zoya muda.


**


Nio menggenggam tangan istrinya dengan tatapan sedih. Sudah tiga hari wanita itu masih belum sadarkan diri, padahal dokter mengatakan bahwa keadaan Zoya membaik, bahkan sudah dipindahkan ke ruang rawat. Namun, wanita bermata indah itu masih belum mau membuka mata. Nio sendiri hanya menatap tanpa bersuara. Rasa cemas dan takut masih terasa begitu kuat karena istrinya masih belum sadarkan diri juga.


"Gak capek kah tidur terus? Kamu gak kangen marah-marah sama aku? Atau gak kangen sama baj— ah, maksudku Jordan? Dia sering cari kamu loh," ujar Nio dengan senyuman miris. Siapa yang tak sakit mengatakan itu. Sebagai seorang suami, harga dirinya telah jatuh saat istrinya jauh lebih bahagia bersama laki-laki lain. Namun, dilarang pun justru Zoya selalu meminta cerai dan dia tidak mau itu. Akhirnya ia hanya bisa pasrah dengan perselingkuhan sang istri.


Mungkin orang menganggapnya bodoh, tetapi Nio hanya ingin merasakan apa yang Zoya rasakan. Nama wanita itu hancur karenanya, maka dari itu ia hancurkan juga nama baiknya agar ia bisa merasakan sakit di posisi sang istri. Ya, segitu cintanya Nio pada Zoya, meski wanita itu tak pernah memandang cintanya. Apalagi saat ia tahu bahwa hubungan Zoya dan Jordan sudah melewati batas. Nio mengalami patah hati luar biasa saat istrinya disentuh laki-laki lain saat dirinya bahkan tak bisa memeluknya. Beruntung ada Rasya yang menjadi kekuatan untuknya bertahan hingga ia bisa menjalani hidup dengan bahagia menjalani hari kelamnya.


Lamunan Nio buyar begitu saja saat tangannya merasakan pergerakan. Lelaki itu menatap tangan istrinya yang bergerak.


"Zoya ...." Nio menatap Zoya dengan tatapan berbinar apalagi saat matanya perlahan terbuka.


Dengan perasaan bahagia, Arsenio pun memencet tombol untuk memanggil suster dan dokter.


"Zoya, syukurlah kamu sudah sadar," ujar Nio antusias dengan mata berkaca-kaca.


"M-Mas Nio ....," lirih Zoya.


"Iya, Zoya. Aku di sini," ujar Nio.


"R-Rasya ...."


"Keadaan Nyonya Zoya sudah lebih baik. Tak ada masalah besar dan hanya butuh pemulihan saja," ujar dokter yang membuat Nio bernapas lega.


"Terima kasih, Dok," jawab Nio tersenyum.


"Ini sudah menjadi tugas kami, Pak," kata dokter tersenyum. "Sebentar lagi perawat akan memberikan makanan untuk Nyonya. Untuk saat ini beliau hanya bisa makan makanan lembek dulu," ujarnya lagi. "Jika tidak ada pertanyaan, kami permisi." Dokter serta perawat pun berlalu dari ruang rawat Zoya.


Nio melangkahkan kakinya mendekat. Ia kembali duduk dengan menggenggam tangan istrinya. Begitu juga Zoya menatap suaminya.


"Apa ada yang sakit?" tanya Nio.


Zoya menggeleng, tetapi tiba-tiba ia meringis. Ah, lehernya terasa sangat sakit dan perih.


"Apa itu sakit?" tanya Nio panik. "Aku akan memanggil dokter." Lelaki itu hendak beranjak tetapi ditahan oleh Zoya.


"Tidak usah, ini hanya karena aku bergerak," ujar Zoya dengan suara yang sedikit serak.


"Benarkah? Aku panggil dokter saja, ya," kata Nio masih khawatir.


"Tidak usah, Mas," jawab Zoya.


Nio pun hanya mengangguk dan mencoba membetulkan posisi sang istri agar merasa nyaman.


'Lihatlah, dia benar-benar manis, 'kan?'


Zoya mengerjap mendengar suara Zoya dewasa yang ternyata kini ikut dengannya dan berdiri di belakang Nio.


'Untuk apa kau ikut!' seru Zoya menatap tajam wanita bergaun putih yang kini berdiri melipat tangan.


'Tentu mengawasimu agar tidak melakukan hal bodoh lagi.'


Zoya hanya memicingkan mata. Bahkan ia mengepalkan tangan seakan ingin menonjok dirinya di masa depan itu.


"Zoya, ada apa?" tanya Nio.


"Tidak apa-apa, Mas," jawab Zoya lirih. "Bisa tolong ambilkan minum? Tenggorokanku kering."


"Ah, baiklah. Tunggu sebentar." Nio pun beranjak dari duduknya, lalu melangkah menuju dispenser di ruangan tersebut untuk mengambil air hangat.


"Pergi sekarang juga!" tekan Zoya berbisik pada wanita yang duduk di bibir ranjangnya.


'Tidak, aku ingin mengawasimu,' sahut Zoya dewasa menatap suaminya yang sibuk dengan gelas di tangannya.


"Pergi, Zoya! Kesempatanmu memilikinya sudah hilang," ejek Zoya pada bayangannya itu.


'Ah, kau benar-benar tidak asik. Padahal aku hanya ingin melihat suamiku. Ternyata dia sangat tampan, ya. kenapa juga aku bodoh justru tergila-gila pada lelaki sialan itu. Heh, ingatlah menjauh dari si brengsek. Dekati Mas Nio. Dia sangat mencintaiku, eh kita. Aduh, aku bingung harus memanggil apa padamu. Pokoknya jangan mengulangi kesalahan yang sama.' Dengan menjentikkan jari, Zoya dewasa pun hilang.


Astaga, kenapa hidupku jadi begini? Dihantui arwah diri sendiri, batin Zoya merasa ngeri dengan dirinya sekarang.