
Zoya menatap dirinya di depan cermin. Dengan mengenakan gaun a line berwarna hitam bahan kain sutra terbaik, wanita cantik itu tampak begitu memesona dengan riasana flawlessnya. Tak lupa ia mengenakan sepatu kaca yang sudah dipesan Nio jauh-jauh hari, membuat penampilan wanita muda itu semakin sempurna. Tak lupa juga ia sanggul rambutnya dengan hiasan jepitan manis.
Setelah dirasa penampilannya sempurna, Zoya pun keluar dari kamar. Jantungnya lumayan berdebar hebat sebab baru pertama kali ia menemani suaminya ke sebuah pesta. Sebelum-sebelumnya ia selalu menolak dan justru pergi ke pesta yang sama dengan Jordan. Dan ini menjadi momen pertama Zoya menemani Arsenio sebagai pendamping.
"Mas, aku sudah siap," ujar Zoya menghampiri suaminya yang tengah menggendong Rasya di ruang tamu.
Nio berbalik dan matanya membulat sempurna melihat penampilan sang istri. Wanita muda itu tampak begitu memesona. Wajah yang cantik, tubuh semapai dengan balutan gaun indah sungguh membuat Zoya tampak seperti seorang bidadari.
"Cantik," puji Nio dengan tatapan berbinar.
"Makasih," jawab Zoya tersenyum.
"Ah, anak mama tampan sekali," puji Zoya melihat sang anak yang mengenakan jas hitam dengan dasi kupu-kupunya.
"Kkhhhhmmm, sudah siap?" tanya Nio setelah tersadar kembali. Zoya pun mengangguk dengan senyuman yang sangat manis.
"Ayo," sahut Zoya. Ketiganya melangkah keluar. Terlihat sebuah mobil Rolls-Royce putih siap menunggu sang tuan. Zoya tersenyum gembira melihat mobil tersebut. Mobil yang dimodif menjadi limousine itu adalah mobil kesayangan Nio. Zoya selalu minta kendaraan tersebut tetapi selalu ditolak oleh suaminya. Namun, malam ini Nio menggunakannya, bahkan membawa beberapa pengawal.
"Mas kayak bawa orang penting saja dengan limousine dan pengawal," kekeh Zoya saat mereka duduk dalam mobil.
"Aku memang membawa orang penting yang harus dijaga dan dibuat nyaman," sahut Nio tersenyum.
"Anak mama memang orang penting yang harus dijaga," sahut Zoya menggenggam tangan bayi itu dengan memainkannya, membuat Rasya tertawa geli.
"Bukan hanya Rasya, istriku juga sangat penting," sahut Nio yang membuat Zoya menghentikan tangannya, lalu menatap Nio yang kini tersenyum sangat hangat. "Untuk pertama kalinya istriku mau diajak ke pesta. Jadi, aku harus menyiapkan segalanya agar istriku nyaman."
"Kkhhmmmm." Zoya menegakkan tubuhnya dengan wajah memerah. Entah mengapa, beberapa hari ini sikap Nio padanya terkesan berbeda. Lebih tepatnya selalu membuat Zoya salah tingkah. Ia sendiri bingung harus menanggapi seperti apa.
"Mamaaaa, Papaaa," celoteh Rasya yang tertawa dengan bertepuk tangan seakan ia gembira melihat orang tuanya yang begitu dekat.
Melihat tingkah Rasya, Zoya pun tersenyum dan meminta untuk menggendongnya, tetapi ditolak Nio.
"Nanti gaunmu kusut dan berantakan. Biarkan Rasya bersamaku," ujar Nio yang membuat Zoya mencebik.
**
Setelah melakukan perjalanan selama tiga puluh menit, sampailah mereka di salah satu hotel bintang lima. Mereka turun saat pengawal membukakan pintu mobil. Banyak tamu undangan serta wartawan yang menyoroti. Regan Walandou adalah salah satu artis senior terkenal. Jadi, tidak heran jika banyak wartawan yang meliput pesta megah itu.
Para wartawan menyoroti sosok yang baru turun dari limousine mewah itu. Mereka cukup kaget melihat sosok Zoya Lavani datang ke pesta bersama suami dan anaknya. Tak rela melewati kesempatan emas tersebut, para wartawan mengabaikan momen langka itu. Sudah menjadi rahasia umum kisah rumah tangga artis ternama dengan produser itu tak baik-baik saja, bahkan wartawan sering sekali membuat berita kisah cinta terlarang Zoya juga Jordan, sehingga mereka cukup terkejut melihat hubungan keduanya yang baik malam ini.
Banyak wartawan yang bertanya kepada sepasang suami-istri tersebut, tetapi keduanya bungkam dan melangkahkan kaki masuk ke hall bertemu sang pemilik pesta.
Sampai di dalam hall, seperti para wartawan tadi, semua orang cukup terkejut melihat keluarga Arsenio Bagaskara datang bersama, apalagi melihat Zoya yang seperti nyaman bersama dua lelakinya. Beberapa tamu saling berbisik membicarakan sosok wanita yang dulu terlihat luar biasa tetapi ternyata nakal itu dengan kata-kata yang kurang pantas.
Nio yang mendengar orang-orang membicarakan istrinya pun hanya bisa memberi semangat dengan menggenggam tangan Zoya seraya berkata, "Jangan pikirkan omongan mereka. Orang benci kita tak akan mau tahu tentang kita mau sebaik apa pun. Sedangkan orang yang menyukai kita, tak perlu kita mengatakan apa pun mereka akan tahu sendiri bagaimana kita," ucap Nio tersenyum pada istrinya.
Zoya pun tersenyum seraya mengangguk.
"Kita bertemu Pak Regan dan istrinya, ya," ajak Nio membawa istrinya bertemu sang pemilik pesta.
"Pak Regan, selamat atas hari jadi pernikahannya. Semoga bahagia selalu," ujar Nio menyalami Regan dengan istrinya.
"Pak Nio, terima kasih atas kehadirannya. Sungguh kehormatan seorang produser hebat datang ke acara kami," ucap Regan tulus.
"Terima kasih juga untuk Nyonya Arsenio yang hadir. Apa kabar, Nak? Sudah lama kita tidak bertemu. Kapan mau main film lagi?" ujar Regan pada Zoya.
Berbeda dengan Regan, Livy— istri Regan justru menatap tak suka pada Zoya. Wanita paruh baya itu beberapa kali tak sengaja bertemu Zoya saat bersama Jordan. Awalnya ia mengira bahwa perselingkuhan sang artis muda itu hanyalah gosip. Namun, ketika melihat mereka bermesraan, membuat Livy menjadi tak suka pada Zoya.
Melihat istrinya yang ditatap sinis, Nio pun pamit untuk berbaur dengan yang lain. Zoya sendiri sejak keluar dari dunia hiburan sudah tak pernah dekat dengan orang. Ia hanya akan datang ke pesta lalu pergi dengan cepat. Dunianya hanya ada Jordan, Jordan dan Jordan sebab dulu ia berpikir hanya lelaki itulah yang sayang tulus padanya ya g membuat dirinya menutup diri dengan siapa pun, hingga sekarang Zoya tampak canggung bertemu artis-artis yang dulu bahkan memiliki hubungan baik dengannya.
Nio sendiri menemui beberapa artis yang bermain di series juga film-filmnya. Mereka semua tampak menggoda Rasya yang begitu menggemaskan. Karena seringnya bocah kecil itu dibawa oleh papanya ke lokasi syuting, membuat para artis pun dekat dengannya.
"Makin besar makin mirip mamanya, ya," ujar Rania—salah satu artis wanita yang cukup terkenal sejak bermain series di rumah produksi milik Nio.
"Huum. Makin gemesin," sahut yang lain.
"Apa kabar, Zoya?" sapa Rania pada istri produser itu.
"Baik, Mbak," jawab Zoya sekenannya. Ia masih merasa canggung untuk kembali berkomunikasi dengan para artis itu.
"Kapan nih main film lagi? Dunia hiburan tanpa artis berbakat gak seru banget. Mas Nio bikin film untuk istrinya, dong," sahut artis lelaki bernama Jason pada Nio.
"Saya gak suka istri saya disentuh sembarang orang," jawab Nio yang membuat para artis itu memekik.
"Manis banget Mas Nio ini," ucap Rinjani salah satu artis wanita juga.
Mendengar obrolan mereka, Zoya merasa canggung, hingga akhirnya ia pamit pada Nio untuk ke toilet.
"Apa mau aku antar?" tanya Nio.
"Nggak usah, Mas di sini saja. Aku gak lama kok," sahut Zoya.
Akhirnya Nio mengizinkan istrinya untuk ke toilet sandiri. Sampai di toilet, Zoya menatap dirinya di cermin. Ia hanya bisa menghela napas dengan menenangkan diri ketika melihat banyak mata yang menatap sinis dirinya.
'Sudahlah, jangan dipikirkan kata-kata mereka. Lagian kamu datang sebagai istri Mas Nio bukan sebagai artis yang harus menjaga image,' ujar Zoya dewasa tiba-tiba muncul yang membuat Zoya terkejut.
"Dasar arwah! Kalau mau menampakkan diri bilang-bilang, dong!" omel Zoya kesal dengan mengusap dadanya.
'Lagian galau. Heloow, jangan buat malu aku, ya! Zoya Lavani adalah wanita hebat. Jangan insecure di depan mereka. Angkat dagumu dan tunjukkan bahwa kamu masih luar biasa seperti dulu,' ujar Zoya dewasa.
"Aku cuma merasa gak mau membuat Nama baik Mas Nio hancur gara-gara mengajakku ke pesta," lirih Zoya.
'Apa kamu tidak lihat betapa bahagianya Mas Nio membawamu. Ia bahkan tak malu mengajakmu untuk berbaur dengan orang lain. Mas Nio akan sedih kalau kamu justru tidak percaya diri kayak gini. Jadi, ayo, tunjukkan seberapa memesonanya Zoya Maharani Lavani.'
"Kamu benar, aku tidak boleh rendah diri hanya karena perselingkuhanku dulu. Kamu benar, Zoya Lavani bukan wanita insecure," ujar Zoya mengepalkan tangan dengan semangat.
'Kembalilah ke pesta. Apa kamu lupa apa yang terjadi saat pesta ini?' tanya Zoya dewasa.
"Memang apa?"
'Astaga, red alert!'
Zoya berusaha mengingat kejadian di pesta ini. Seketika matanya membulat. Ah, bagaimana bisa Zoya melupakan kejadian itu.
"Aku harus kembali ke pesta." Buru-buru Zoya melangkahkan kakinya dengan cukup cepat. Kejadian itu tidak boleh terulang lagi atau kehidupan akan tetap sama seperti kehidupan sebelumnya.
Mata Zoya membulat saat melihat hal yang paling ia takuti. Buru-buru ia menyusul suaminya dengan wajah panik.