
"Zoya!" pekik Raina saat melihat istri pemilik rumah produksi film itu melangkah mendekatinya. Gadis cantik itu berdiri menyambut sang teman lalu memeluknya. "Akhirnya datang juga. Kukira kamu gak akan datang," ujarnya tersenyum. "Ayo, duduk."
Keduanya duduk bersama. Setelah bertahun-tahun menutup akses untuk semua orang, akhirnya Zoya mau membuka diri lagi. Orang pertama yang ia percaya adalah Raina. Zoya melihat bahwa Raina memang tulus dekat dengannya. Meski di masalalu mereka tak dekat, tetapi memang sejak dulu gadis cantik itu sangat baik juga menghormati Zoya yang sudah duluan masuk dunia hiburan.
"Gimana syutingmu? Sudah selesai?" tanya Zoya yang meraih cangkir kopi yang sudah dipesan Raina.
"Sudah. Syuting di Singapura itu yang terakhir," sahut Raina. "Syukurnya juga gak ada yang kurang jadi tinggal tunggu nanti gala premier."
"Aktingmu gak bisa diragukan, lah. Lagipula kenapa kamu menerima tawaran ini? Bahkan kamu hanya mendapat peran pendukung. Biasanya kamu jadi pemeran utamanya," ujar Zoya pada Raina.
"Ini karya terbaik Mr. Zorro setelah novel Sang Kehidupan. Dan ini spesial Mr. Zorro buat untuk Pak Nio. Siapa yang gak mau jadi salah satu karakter di sana, meski itu sebagai peran pendukung. Apalagi suatu kehormatan bisa main film bareng Naomi Aurora," balas Raina dengan ceria.
Mendengar nama itu Zoya berdecak sebal, membuat Raina tertawa geli. "Kamu cemburu banget sama Aurora."
"Ya gimana gak cemburu, sih. Dia mau rebut suamiku. Coba kalau Vino digoda Aurora, apa kamu gak cemburu?" sahut Zoya dengan menggebu.
"Wah, insecure aku kalau Aurora deketin Ayank Mbeb. Tapi, aku lihat Aurora gak niat merebut Pak Nio. Dia memang suka isengin kamu saja, tapi saat tidak ada kamu justru Aurora sangat professional dengan Pak Nio selayaknya artis dan produser," kata wanita cantik berusia 23 tahun itu.
"Kamu tidak tahu saja ibu mertuaku yang baik itu selalu menjodohkan anaknya dengan dia," gerutu Zoya yang langsung menutup mulutnya. Bagaimana bisa dia bercerita begitu dalam pada Raina.
"Hahahaahahhahaha. Astaga, jahat sekali ibu mertuamu," ujar Raina yang tertawa.
"Sudahlah, lupakan tentang mertua." Zoya mengibaskan tangannya.
"By the way, kapan kamu come back? Kamu harus come back, Zoya! Sekarang banyak artis baru yang hanya mengandalkan wajah tapi kemampuan zero besar. Aktris-aktris yang memiliki kemampuan sudah beranjak dewasa dan untuk peran-peran anak sekolah semua payah. Wajahmu ini cocok peran anak sekolah," kekeh Raina pada Zoya.
"Astaga, anak sekolahan. Aku ibu satu anak loh," jawab Zoya tertawa.
"Anak satu juga mama muda. Yang kalau dipakaikan seragam putih-biru masih cocok," sahut Raina kembali.
"Hahahaha ngaco!" Zoya kembali tertawa dengan ucapan temannya itu.
Tiba-tiba Raina mendekatkan badannya, lalu menyuruh Zoya mendekat. "Zoya, memang benar kau akan bermain untuk film Sang Kehidupan?" tanya wanita itu berbisik.
"Kau tau darimana?" tanya Zoya.
Brakkk!
Zoya terlonjak kaget saat Raina menggebrak meja. Untung saja restoran tengah sepi hingga hanya beberapa orang yang menoleh.
"Raina! Apa-apaan sih! Bikin kaget saja!" gerutu Zoya mengusap dadanya.
"Demi apa? Jadi itu benar?" tanya Raina dengan tatapan berbinar.
"Itu projek rahasia, kenapa kamu tahu?" tanya Zoya masih heran.
"Aku pernah mendengar Pak Nio bicara dengan sutradara Zaky Ahmad. Katanya kamu akan berperan sebagai Zahra, tapi peran Angkasa masih dirahasiakan. Ah, aku penasaran lelaki mana yang diizinkan Pak Nio untuk bermain denganmu. Apa Gaza Al-Khatiri? Kayaknya cuma dia yang selalu menolak sentuhan fisik dalam film apa pun. Secara dalam novel saja diceritakan bahwa Angkasa mencintai Zahra diam-diam." Raina tampak berpikir.
"Sudahlah, itu kejutan. Tapi ingat, sebelum ada pengumuman resmi kamu jangan menyebarkan. Diblacklist suamiku tahu rasa kamu!" ancam Zoya.
"Ish serem diblacklist Bapak Arsenio Bagaskara."
Kedua wanita muda itu saling berbincang hal seru. Mereka membahas dunia hiburan yang semakin lama semakin banyak hal yang aneh. Banyak orang-orang yang melakukan hal konyol hanya untuk menjadi terkenal tanpa memiliki kemampuan.
"Padahal kita berjuang dari awal, ya. Sampai menjadi trainer untuk mematangkan bakat. Sekarang, hanya goyang di depan kamera atau mencari sensasi sudah naik daun," ujar Raina yang sedikit menyayangkan dengan dunia entertainment masa kini. Banyak orang-orang yang tak layak justru dinaikkan.
"Sejak teknologi canggih ya orang pasti mencari keuntungan. Meski memang kadang aku juga miris dengan apa yang mereka lakukan. Rela melakukan segala cara untuk terkenal," sahut Zoya melahap red velvet di depannya.
"Bukankah seperti kamu? Rela melempar diri pada lelaki kaya seperti Arsenio Bagaskara?"
Zoya dan Raina menoleh ke belakang ketika ada yang menyahut mereka. Zoya memutar bola mata malas melihat siapa yang berbicara.
"Kenapa? Tersinggung? Itukan kenyataan. Setelah bosan, selingkuh dengan laki-laki lain," ejek Leticia dengan melipat tangan di dada. "Karena takut dicerai akhirnya meninggalkan kekasih gelap dan kembali pada suaminya. Luar biasa." Wanita itu tertawa menatap sepupunya.
"Lalu, apa itu merugikanmu?" tanya Zoya dengan santai.
Leticia tertawa sinis. "munafik! Dulu selalu berkata "Aku bukanlah artis yang mengandalkan sensasi." Tapi nyatanya hamil di luar nikah, lalu selingkuh dengan santai. Hahahaha apa kamu tidak dejavu, Zoya?" Leticia mendekati sang adik sepupu lalu membisikkan sesuatu. "Seperti ibumu, 'kan? Haaaa apa jangan-jangan Rasya juga bukan anak Nio? Sama sepertimu bukan anak Samudera Lavani. Ck! Ck! Ck! Ibu dan anak sama saja."
"Lepas, sialan!" pekik Leticia membuat Raina pun ikut berdiri dan terkejut dengan apa yang dilakukan Zoya.
"Jangan pernah menjelekkan orang tua dan anakku, Leticia! Atau aku akan merobek mulutmu! Jangan buat emosiku naik atau aku akan membalas apa yang telah kau dan orang tuamu lakukan padaku! Ingat, aku memiliki Arsenio Bagaskara yang siap menjadi tamengku! Jangan biarkan rasa hormatku pada keluarga Maharaja itu hilang!" Dengan sekali hentakan, Zoya melepas cengkraman tangannya di rambut belakan Leticia.
"Na, aku pamit dulu," ujar Zoya menatap teman barunya itu.
Raina pun hanya mengangguk tanpa berkata apa pun. Sedangkan Leticia dengan kesal menghentakkan kaki, lalu pergi.
"Daebak! Zoya keren sekali." Raina berdecak kagum. "Si Lettuce itu emang harus diberi pelajaran. Modal cantik doang mau ngalahin Zoya."
**
Zoya masuk rumah. Ia tersenyum melihat Rasya yang berusaha ingin digendong olehnya. "Rasya kangen Mama?" tanya Zoya yang langsung menggendong sang anak yang sebelumnya digendong Jessica. Lalu kepala pelayan itu pergi.
"Mah, ntu, bo," ujar bocah yang sebentar lagi satu tahun itu.
"Apa? Rasya mau apa, Sayang?" tanya wanita cantik itu mencium gemas pipi Rasya.
"Mama, aku mau susu dan bobo dengan Mama."
Zoya menoleh ke belakang. Ia tersenyum bahagia melihat suaminya telah pulang. Ia berjalan cepat menghampiri lelaki tampan yang kini memenuhi isi kepalanya.
"Tumben pulang cepet," sahut Zoya setelah Nio mencium keningnya juga Rasya.
"Kangen sama ... Rasya." Lelaki dengan jas biru tua itu mengambil sang anak lalu mengangkat tubuh kecil itu tinggi-tinggi membuat Rasya tertawa riang.
"Kangen Rasya doang." Zoya melengos pergi dengan wajah cemberut membuat Nio terkekeh geli. Ia kejar sang istri yang menuju kamar.
"Sya, Mama cemburu," ujar Nio yang membuat Zoya semakin keki. "Jangan cemberut gitu, kamu makin gemesin kalau merajuk." Ia mencubit pipi istrinya tetapi tangannya ditepis.
"Wah, gawat, Sya. Maharani ngambek." Buru-buru ia taruh sang anak di box bayi.
Setelah Rasya anteng, Nio mendekat pada istrinya. Ia peluk wanita cantik bergaun putih itu dengan erat. Ia kecup juga tengkuknya, membuat Zoya merinding. "I more miss you, Cheriè. Sepanjang hari aku tak fokus di kantor. Kepalaku hanya mengingat Zoya Maharani Lavani saja. Saking gak tahannya, aku langsung pulang. Untung kerjaan gak banyak," bisik Nio di telinga istrinya.
Zoya sendiri akhirnya tersenyum lalu menyandarkan tubuhnya di dada sang suami.
"Gimana pertemuan tadi dengan Raina? Kamu senang?" Nio mengajak istrinya untuk duduk di sofa dekat box bayi sang anak.
Zoya kembali menyandarkan tubuhnya di dada sang suami, sedangkan Nio memeluknya dari belakang.
"Awalnya sih menyenangkan, sampai Leticia datang," jawab Zoya. Kini ia benar-benar terbuka pada suaminya. Ia rasa, sang suami harus tahu apa pun yang terjadi padanya.
"Apa yang dia lakukan, hhhmmm? Perlu aku tangani dia?" tanya Nio.
"Tidak perlu, jika dia berbuat lebih dari ini, baru akan aku balas. Aku hanya jadi bad mood," jawab Zoya murung.
"Mau balikin mood jadi baik lagi, gak?" tanya Nio.
"Bagaimana?"
"Di sana." Nio menunjuk ranjang yang membuat Zoya merona.
"Masih sore loh. Itu Rasya juga bangun." Wanita cantik itu menepuk paha suaminya.
"Ya namanya juga usaha. Soal Rasya bisa dititipkan Jessica," bisik Nio dengan menciumi leher serta meniup telingan Zoya.
"Mas," lirih wanita itu dengan hasrat yang tiba-tiba naik.
"Ayolah Sayang." Nio terus menggoda Zoya yang akhirnya gelisah.
"Bawa Rasya keluar dulu," jawab Zoya merona. Nio benar-benar tahu cara membangkitkan gairah istrinya.
"Yeess!" Nio bersorak. Ia beranjak meraih sang anak. "Sayang, sama Onty Jessy dulu ya, lihat Niu-Niu. Jangan rewel please, sampai dua jam ke depan," bisiknya di telinga sang anak. Dengan riang, ia membawa bocah itu keluar kamar.
Sedangkan Zoya, buru-buru lari menutup pintu balkon dan jendela. Mumpung moodnya lagi ambyar dan harus segera diobati, batin Zoya.