Another Chance

Another Chance
Bab 61



Zoya tersenyum menatap makanan yang baru saja ia buat bersama para chef. Hari ini, ia akan mengunjungi lokasi syuting di mana Nio tengah berada. Lelaki itu meminta Zoya datang untuk menemaninya selama mengawasi jalannya syuting.


Zoya pun berpikir tak mungkin ia membawa tangan kosong ke sana. Bisa tengsin seorang istri eksekutif produser datang tanpa membawa apa-apa. Jadi, Zoya dengan chef juga pelayan membuat makanan yang cukup banyak untuk dibawa.


Waktu menunjukkan pukul sebelas siang. Zoya sudah siap dengan penampilannya yang tampak begitu cantik. Ia keluar dari kamar, menghampiri Jessica yang tengah menggendong Rasya.


"Loh, sudah rapi. Mau ke mana?" tanya Saira yang baru turun dari lantai atas.


"Mau ke lokasi syuting. Mas Nio memintaku untuk datang," jawab Zoya yang meraih sang anak dalam gendongannya.


"Ke lokasi syuting?" tanya Saira berbinar. "Boleh aku ikut? Aku bosan di rumah," bujuk gadis itu pada kakak iparnya.


Zoya melirik jam di tangannya. "Lima belas menit, aku tunggu," ujar ibu satu anak itu.


"Oke, hanya lima menit aku siap." Saira kembali berbalik dan berlari naik ke lantai atas di mana kamarnya berada.


"Hey, hati-hati," teriak Zoya yang melihat kaki adik iparnya tersandung. Gadis itu hanya tertawa dan melambaikan tangannya.


"Gadis itu, ada-ada saja," Zoya menggeleng melihat tingkah Saira.


"Nona Saira memang ceria orangnya, Nyonya. Cuma, beliau juga cukup kasihan." Jessica menyahut.


"Kasihan? kenapa?" tanya Zoya bingung. Secara Saira adalah anak kesayangan Qalas Bagaskara. Apa yang harus dilasihani?


"Sejak dulu, Nona tidak memiliki teman dekat. Nyonya bisa lihat Nona Saira selalu ada di rumah. Selain kuliah, kegiatannya tidak ada lagi," sahut Jessica yang membuat Zoya menoleh menatapnya.


"Apa karena keposesifan Papa?" tanya Zoya penasaran.


"Betul, Nyonya. Tuan Besar kurang suka anak-anaknya memiliki teman dekat. Karena beliau berkata tak ada orang yang dapat dipercaya. Dokter Zidane satu-satunya orang yang bisa menjadi sahabat Tuan Nio, itu pun karena beliau masih saudara jauh Tuan Qalas. Sangat sulit masuk di keluarga Bagaskara jika tanpa izin Tuan Besar," jawab Jessica lagi.


"Kasihan juga, ya. Pantas saja Saira tak pernah pergi ke mana saja. Kadang ia selalu mengikutiku atau Mama," ujar Zoya dengan tatapan sedihnya. Ia tak menyangka, dibalik statusnya yang seorang anak konglomerat, Saira harus hidup dalam bayangan orang tua, apalagi tak bisa menjadi apa yang dia mau. Memang tak ada yang sempurna di dunia ini.


Tak lama, Saira datang dengan penampilan kasualnya. Gadis itu benar-benar membutuhkan waktu selama lima menit yang membuat Zoya menatap sang adik ipar tak percaya.


Hanya mengenakan celana jeans hitam, kaus polos berwarna merah muda dan jaket levis hitam serta kupluk hitam, juga sepatu sneakers putih, gadis itu bahkan tak memoles wajahnya. Ia biarkan polos begitu saja. Berbeda sekali dengan sang kakak ipar yang harus berpenampilan paripurna.


"Kenapa bengong? Ayo!" Saira menarik tangan kakaknya menuju mobil yang sudah menunggu.


"Wah, yakin menggunakan limousine? Sepertinya terlalu mencolok, Kak," sahut Saira yang menatap mobil mewah itu menunggu di pintu utama.


"Kenapa? Jika tidak digunakan untuk apa dibeli?" tanya Zoya heran.


"Iya, sih. Tapi untuk ke lokasi syuting, itu sangat mencolok. Kita gunakan yang itu saja, lebih keren." Saira menunjuk mobil sport milik kakaknya yang berwarna hitam.


"Kamu banyak request," keluh Zoya.


"Aku yang akan menyetir. Ayolah, Kak. Limousine terlalu mewah. Kalau ada yang iseng lecetin gimana?" tanya gadis itu.


Wanita itu menghela napas saat melihat wajah memohon sang adik. Ia teringat kisah yang Jessica katakan bahwa Saira itu tidak bebas untuk melakukan sesuatu. "Baiklah, biar aku yang menyetir. Kamu pegang Rasya." Zoya pun memberikan sang anak pada Saira.


"You are my favourite, Kak!" seru Saira dengan memeluk erat keponakannya.


Setelah itu Zoya meminta kunci mobil tersebut pada Jessica. Awalnya kepala pelayan itu menolak sebab Nio tak mengizinkan istrinya menyetir sendiri. Namun, Zoya ini masih memiliki sifat kekanakan yang keras kepala hingga mau tak mau Jessica menghubungi tuannya dan saat diperbolehkan baru ia memberikan kunci mobilnya.


Tak lama, mobil sport itu melaju meninggalkan rumah. Saira tampak senang sebab bisa keluar rumah. Sejak mamanya pergi ke Jepang menyusul papanya, Saira benar-benar tak diizinkan keluar sendirian. Ia juga selalu sungkan jika ingin mengajak Zoya. Hubungan mereka tak sedekat itu sejak dulu, pikir Saira.


"Ra, kamu kuliah di jurusan apa?" tanya Zoya memulai perbincangan.


"Hubungan international, Kak," sahut Saira.


"Ah, I see," jawab Zoya. "Kamu beruntung bisa kuliah. Aku ingin sekali kuliah, tetapi tidak ada kesempatan," sahutnya sembari menyetir.


"Kan bisa sekarang, Kak. Namanya kuliah bisa dimulai kapan saja. Lagian Kakak masih muda, sayang juga memang kalau hanya menjadi ibu rumah tangga. Apalagi kakak punya passion," ujar Saira menatap Rasya yang tengah memainkan kukunya yang terlihat lucu dengan ornamen pernak pernik.


"Kakakmu mau aku jadi penyanyi. Dia juga sudah membuatkan studio rekaman khusus untukku," kata Zoya kembali.


"Oh ya? Ish, keren sekali. Kadang aku sangat salut pada kakakku. Dia adalah sosok suami sempurna di zaman ini. Ya, meski posesifnya sama seperti papa. Semoga saja dia tak semenyebalkan Papa jika memiliki anak perempuan," ujar Saira yang kadang suka malas dengan keposesifan papanya.


Zoya tertawa kecil mendengarnya. "Itu karena Papa sangat sayang padamu, Ra. Malah aku cemburu karena sudah tidak punya Papa," sahutnya yang membuat Saira tak enak hati. "Kamu harus bersyukur memiliki papa seperti Papa Qalas. Beliau benar-benar menjagamu dengan baik. Bahkan tidak rela anaknya disakiti."


"Tapi kadang menyebalkan. Setiap aku punya teman, pasti Papa selalu mengusir mereka dan berkata untuk menjauhiku. Sampai sekarang, aku benar-benar tak memiliki teman," keluhnya pada sang kakak ipar.


"Papa itu pengalamannya sudah banyak, jadi beliau bisa tahu siapa yang tulus dan yang tidak. Mungkin Papa merasa temanmu punya hal buruk padamu makanya beliau tak ingin kamu memiliki teman seperti mereka," ujar Zoya kembali.


"Benarkah begitu?" tanya Saira.


"Aku sudah mengalaminya, Ra. Sebelum kejadian buruk itu menimpaku, banyak sekali orang yang ingin berteman denganku. Tapi, lihatlah sekarang, apa ada satu saja temanku yang dulu tetap bertahan? Tidak," ujar Zoya tertawa miris. "Karena itu, Papa berbuat seperti itu padamu karena ingin melindungimu."


"Tapi terkadang aku butuh teman, Kak. Kadang ingin bercerita, jalan bareng, bukan pergi sama mama saja. Tahu sendiri bagaimana bedanya jalan dengan seumuran dan bersama ibu-ibu," keluh Saira.


Zoya tertawa geli mendengarnya. "Kamu bisa menganggapku teman," ujar wanita itu pada sang adik yang langsung menoleh.


"Benarkah?" tanya Saira berbinar.


"Tentu saja, kita sama-sama tak memiliki teman. Lagipula, bukankah bagus jika kita berteman? Aku tidak akan takut suamiku direbut teman sendiri jika temanku adalah adik iparku."


Kedua wanita muda itu tertawa mendengar ucapan yang keluar dari mulut Zoya.


"Bener ya, kita jadi teman sekarang?" tanya Saira dengan mata berbinar.


"No teman. Tapi sahabat." Zoya menunjukkan jari kelingkingnya.


"Best friend." Saira pun mengikat jari kelingkingnya dengan milik Zoya. Kini, dua wanita muda kesepian itu mengikrarkan tali persahabatan diantara keduanya.