
Saira terbangun dari tidurnya. Ia mengerjap menatap langit yang sudah gelap. Buru-buru gadis itu terduduk menatap sekeliling. Ia terkejut melihat Clayton yang juga menatapnya.
"Kamu ngapain?" tanya Saira yang menutup tubuh depannya.
"Heh, kamu kira aku bisa melakukan asusila di tempat umum seperti ini?" tanya Clayton yang berdiri lalu memutar tangannya yang terasa pegal dijadikan bantal oleh gadis itu. "Makasih kek, sudah bikin tanganku pegal begini."
Saira ikut berdiri. "Makasih," sahut gadis itu masih dengan mode jutek.
Clayton pun hanya berdecak sebal.
"Astaga, jam sembilan?" pekik Saira melihat jam di tangannya. Ia menatap sekeliling dengan panik. Ia tak menyangka telah pergi begitu jauh dari rumah kakaknya. Kini ia bingung harus pulang bagaimana sebab tak membawa apa-apa selain tubuhnya sendiri.
"Kenapa? Tidak bisa pulang?" tanya Clayton.
"Bukan urusanmu!" Saira berlalu begitu saja.
"Hey, ini sudah malam, aku antarkan pulang saja, ya," ujar Clay yang mengikuti Saira.
"Gak perlu!" sahut Saira judes.
"Hey, hati-hati." Tubuh gadis itu membeku saat tiba-tiba pinggangnya dipeluk. Saira tersandung hingga hampir saja ia mencium tanah jika Clay tak memeluknya.
Lelaki itu pun melepaskan pelukan saat Saira berdiri dengan kokoh.
"Terima kasih," jawab Saira masih dengan mode jutek.
"Senyum kenapa, pasti cantik."
Saira hanya memutar bola mata malas mendengar gombalan receh itu. Kembali, ia melangkahkan kakinya keluar taman. Ia menoleh kanan-kiri dengan kebingungan. Apa yang harus ia lakukan? Minta dijemput pun ia masih marah pada kakaknya. Tapi, ia bingung juga harus ke mana, secara ia tak punya tempat tujuan.
"Ngapain sih ngikutin terus!" omel Saira melihat Clay yang terus berada di belakangnya.
"Aku hanya mau melindungimu. Ini sudah malam, kalau kamu kenapa-kenapa gimana?" tanya Clay.
"Ya biarkan saja, lagian apa urusannya denganmu? Pergilah! Kau benar-benar membuatku tak nyaman," usir Saira dengan kesal.
"Are you sure?" tanya Clay dengan wajah khawatir.
"Pergi!" usir Saira kesal.
"Oke, as you wish." Clay pun akhirnya pergi meninggalkan gadis itu sendiri. "Menyebalkan sekali gadis itu," omelnya kesal.
Saira pun akhirnya jalan sendiri. Ia berharap arah yang ia pilih benar menuju kediaman kakaknya. Saking jarang keluar rumah, ia tak tahu jalan pulang, karena biasanya ia pergi bersama keluarga.
Sudah satu kilometer ditempuh Saira. Ia berjongkok merasakan kakinya yang pegal. Ia bingung kenapa tak sampai juga? Padahal saat ia keluar tadi serasa tak begitu jauh. Mana semakin berjalan, semakin gelap juga arah yang dituju.
"Aduh, gimana ini?" gumamnya bingung menatap jam yang sudah hampir pukul sepuluh.
Hatinya teramat sakit. Apakah kakaknya tak peduli? Bahkan sampai sekarang Nio tak mencarinya. Air mata gadis itu kembali terjatuh. Ia merasa hidupnya benar-benar menyebalkan. Andai bisa memilih, ia lebih baik dilahirkan dari keluarga sederhana yang bisa mengerti dirinya. Bukan keluarga konglomerat dengan ayah super posesif yang menurutnya menyebalkan. Apalagi punya kakak satu-satunya yang sangat bucin pada istrinya.
"Percuma punya harta melimpah kalau hidup seperti di penjara!" teriak Saira kesal. "Punya kakak jahat sekali. Demi istri sampai membentakku seperti itu, padahal kan bisa bicara baik-baik!" gerutunya kesal. "Kalian memang jahat! Kalian egois!"
"Langit!" seru Saira.
"Syukurlah, akhirnya saya menemukan Anda. Sejak siang saya mencari Anda, Nona," ujar Langit bernapas lega. Ia sungguh bersyukur akhirnya Saira ditemukan. "Kita pulang, ya. Tuan dan Nyonya sangat mencemaskan Nona."
"Kau mencariku?" tanya Saira.
"Betul, Nona. Tuan Nio sangat khawatir saat tahu Anda pergi. Nyonya Zoya juga. Mereka sempat mencari Anda, tetapi tiba-tiba Nyonya pingsan lagi, sehingga hanya saya yang mencari Anda," sahut Langit yang membuat Saira terkejut.
"Mereka mencariku?" tanya gadis itu lagi.
"Tentu saja, Nona. Mereka sangat khawatir dan panik Anda menghilang," jawab Langit kembali. "Sebaiknya kita pulang sekarang. Mereka tengah menunggu Anda kembali."
Saira pun hanya mengangguk, lalu mengikuti Langit yang menarik tangannya. Ada kelegaan yang Saira rasakan saat mendengar bahwa kedua kakaknya ternyata mengkhawatirkannya.
Jika Saira merasa lega, berbeda dengan Clayton. Ia memukul stang motornya karena kesal rencananya gagal. Sejak tadi laki-laki itu terus mengikuti Saira. Ia yakin, jika terus dibujuk pasti gadis itu mau diantar pulang. Namun, sebelum ia kembali beraksi, tiba-tiba asisten itu datang, membuat rencananya gagal. Ia sungguh kesal dengan apa yang terjadi.
"Tenang, Clay. Masih banyak waktu menaklukannya." Akhirnya dia berlalu meninggalkan tempat itu.
Saira sampai pukul sebelas malam. Dengan ditemani Langit, ia melangkah masuk. Gadis itu terkejut saat tiba-tiba kakak iparnya memeluk dengan sangat erat. Bahkan wanita itu sampai menangis dan meminta maaf.
"Syukurlah kamu pulang dengan selamat." Nio mengusap punggung adiknya dengan perasaan lega. "Maafkan Kakak sudah membentakmu tadi. Kakak sungguh menyesal," ujarnya memeluk dan mengecup lembut ujung kepala adiknya.
Saira yang kesal pun akhirnya menangis memeluk kakaknya. "Kakak jahat!" Ia memukul dada sang kakak dengan perasaan campur aduk.
"Maaf, Kakak memang jahat." Nio mengusap punggung adiknya. Ia sungguh merasa bersalah telah menyakiti adik satu-satunya itu, bahkan sampai gadis itu melarikan diri. Andai terjadi sesuatu padanya, pasti Nio akan sangat merasa bersalah.
"Maafkan aku, ya. Gara-gara aku, kamu jadi dibentak Mas Nio," ujar Zoya menangis sesegukkan. Ia sungguh merasa bersalah pada adik iparnya itu. Andai tidak karena takut pada mobil itu, pasti sang adik tidak akan diomeli suaminya.
Saira sendiri hanya menangis dalam pelukan Zoya. Ia juga merasa bersalah karena sudah membuat kakak iparnya itu ketakutan. "Maafin aku, Kak. Aku gak tahu kalau Kakak punya fobia," ujar Saira dengan sesegukkan.
"Ini bukan salahmu, Ra. Ini salah Mas Nio. Sudah sering aku katakan untuk menjual mobil itu, tapi dia tetap menaruhnya di sana. Aku hanya memiliki kenangan buruk dengan mobil itu," ujar Zoya mengusap punggung adik iparnya.
Setelah itu, Zoya mengajak Saira untuk ke ruang makan. Ia tahu adiknya itu pasti belum makan. Terlihat bagaimana pucatnya Saira.
Sehabis mengurus adiknya, Zoya juga Nio kembali ke kamar. Keduanya berbaring dengan Zoya merebahkan kepalanya di dada sang suami. Kembali, Nio memikirkan apa yang terjadi pada istrinya. Kenapa Zoya begitu takut melihat mobil itu?
"Cheriè," panggil Nio.
"Iya," jawab Zoya
"Aku boleh tanya sesuatu?" tanya lelaki itu mengusap lengan istrinya.
"Tanya apa?" tanya wanita cantik itu.
"Kenapa kamu begitu takut melihat mobil itu? Apakah kamu pernah mengalami hal buruk dengan mobil jenis itu?" tanya Nio hati-hati.
Zoya sendiri terdiam mendengar pertanyaan suaminya. Bagaimana ia menjelaskan bahwa di kehidupan sebelumnya ia mati dengan mobil tersebut? Hah! Itu tidak mungkin. Bisa jadi Nio akan menganggapnya gila.