
Zoya begitu berbinar melihat sebuah helikopter di depannya. Nio memang sengaja menyewa transportasi udara itu untuk kencan anti-mainstream bersama wanita kesayangannya. Ia ingin memberikan pengalaman baru untuk sang istri.
Nio membawa Zoya untuk mendekat. Beberapa orang memberi salam pada keduanya yang adalah pilot serta co-pilot. Setelah berbasa-basi, Nio membantu istrinya untuk naik ke helikopter. Setelah itu Nio pasangkan juga sabuk pengaman serta headphone untuk berkomunikasi. Setelah semua siap, co-pilot pun memberi intruksi bahwa heli akan lepas landas.
Zoya menggenggam tangan Nio dengan antusias. Mungkin ia sering terbang dengan peswat, tetapi dengan helikopter, ini adalah yang pertama kalinya. Wanita itu sangat gembira menatap ke bawah saat perlahan transportasi udara itu terbang.
"Indah sekali," pekik Zoya gembira.
"Apa kamu suka?" tanya Nio.
"Suka! Terima kasih, Sayang." Nio terdiam mendengar panggilan Zoya padanya. Apa kata wanita itu tadi? Sayang? Astaga, jantung Nio sudah hampir copot mendengarnya.
"Kamu panggil aku apa tadi?" tanya Nio.
Zoya terdiam. Ia baru sadar sudah tak sengaja memanggil suaminya sayang. Namun, bukankah wajar panggilan itu disematkan untuk laki-laki yang sudah berjuang membahagiakannya?
Wanita cantik itu berbalik menatap suaminya. Ia tersenyum lalu mengecup pipi Nio. "Terima kasih, Sayang, karena selalu menghujaniku dengan cinta dan kebahagiaan. Aku begitu beruntung memilikiku di hidupku." Zoya mengusap rahang suaminya dengan begitu lembut.
Nio meraih tangan sang istri, lalu mengecupnya dengan lembut. "Aku jauh lebih beruntung memilikimu, Cheriè. Tetaplah bersamaku dengan kebahagiaan. Aku janji, akan selalu membuatmu tersenyum bagaimana pun caranya." Ia merengkuh tubuh semapai istrinya masuk dalam dekapannya.
Keduanya menikmati momen membahagiakan berdua di udara dengan pemandangan indah. Nio tak henti memuji istrinya yang terlihat begitu cantik dan menggemaskan saat antusias melihat pemandangan di bawah. Zoya berseru riang saat melihat mobil tampak kecil dari atas. Lalu, melihat gedung pencakar langit dari atas.
Nio juga mengajak Zoya sampai ke Puncak. Mereka turun untuk sejenak di salah satu villa mewah milik kerabat Nio yang memiliki helipad. Lelaki itu menuntun istrinya untuk turun. Keduanya berjalan masuk villa. Seorang pelayan dengan jas hitam menyapa mereka dengan hormat.
"Selamat datang, Tuan Nio dan Nona Zoya," sapa lelaki dengan name tag Max.
"Apa kabar, Max?" tanya Nio ramah.
"Baik, Tuan. Terima kasih," jawab pelayan itu menunduk hormat. "Mari, Tuan, Nona." Max membawa dua tamu kehormatan itu untuk masuk.
"Sayang, siapa dia?"tanya Zoya berbisik. "Kenapa dia kenal denganku?"
"Loh, siapa yang tidak tahu Zoya Lavani yang istri dari Arsenio Bagaskara?" tanya Nio dengan tawa kecil.
Zoya berdecak mendengarnya. Siapa yang tidak tahu istri tak tahu diri milik Arsenio Bagaskara itu?
Keduanya dibawa ke ruang keluarga. Setelah sampai di sana, mereka duduk dan tak lama para pelayan datang membawa dua cangkir teh dengan banyaknya makanan ringan yang disediakan. Lalu, Nio meminta Max juga pelayan lain untuk meninggalkan mereka berdua.
"Mas, ini villa siapa?" tanya Zoya saat semua pelayan telah pergi.
"Milik Arbecio Ivar," jawab Nio.
"Arbecio Ivar?" tanya Zoya. Ia seperti familiar dengan nama itu. Tapi siapa?
"Pemilik hotel yang tadi kita kunjungi saat naik heli, 'kan?" tanya Zoya terkejut. Ia baru ingat laki-laki kebangsaan Eropa itu salah satu pengusaha terkaya di negara ini.
"Yes, betul Sayang." Nio menoel hidung Zoya.
"Kok dia bisa kasih villanya ke Mas? Bukannya dia terkenal cukup tertutup dengan orang lain, ya?" tanya Zoya.
Arbecio memang memiliki imej sangat tertutup untuk orang lain. Ia hanya akan berkomunikasi dengan rekan bisnis dan keluarganya saja. Maka dari itu, Zoya sedikit heran saat Nio bisa dengan mudah mendapatkan ini semua.
"Masa keponakan sendiri meminjam tidak dikasih," sahut Nio dengan santai melahap red velvet.
"Keponakan?" tanya Zoya bingung.
"Loh, kamu lupa kalau Tante Clara itu istrinya Uncle Arbecio?" tanya Nio.
"Apa? Tante Clara adiknya Papa itu istrinya Arbecio Ivar?" tanya Zoya tak percaya.
"Astaga, iyalah. Apa kamu lupa kalau mereka datang saat pernikahan kita?" tanya Nio.
Zoya meringis. Iya juga, saat mereka menikah ia sempat melihat pengusaha sukses itu datang. Ia pikir lelaki berkebangsaan Skotlandia itu rekan bisnis papa mertuanya. Yang justru kini ia baru tahu kalau Arbecio Ivar adalah om suaminya sendiri.
Melupakan status keluarga suaminya, Zoya meminta Nio mengajaknya untuk berkeliling. Dari udara tadi, ia melihat begitu banyak hal menarik di villa yang memiliki luas dua hektar itu. Ia juga melihat Ada perkebunan, juga peternakan. Karena itulah Zoya ingin melihat-lihat.
"Stroberinya manis," puji Zoya saat salah satu petani di sana memberikan beberapa buah stroberi.
"Stroberi yang ditanam di sini adalah stroberi berkwalitas premium. Bibitnya ada yang dari Korea, Jepang, bahkan Palestina. Belum lagi, kami menanamnya dengan cara khusus sehingga rasanya cukup berbeda dari rasa stroberi yang dijual di luar," sahut salah seorang insinyur pertanian yang bertugas di sana.
"Waw, real sultan."
"Dasar kamu ini." Nio tertawa mengacak rambut istrinya.
Keduanya begitu bahagia menikmati momen bersama di villa luas itu. Bukan hanya ke perkebunan stroberi, mereka juga mengunjungi perkebunan anggur, lalu sayuran juga ke peternakan sapi juga kuda. Zoya benar-benar bahagia dengan kencan anti-mainstream yang diberikan suaminya itu.
Waktu menunjukkan pukul empat sore. Nio memutuskan mengajak Zoya untuk ke tempat lain. Keduanya pamit pada Max lalu berjalan menuju helipad. Nio membantu Zoya untuk naik ke helikopter. Seperti tadi, setelah siap, mereka lepas landas.
Kali ini Zoya tak seantusias saat pergi. mungkin efek lelah, wanita muda itu justru tertidur di bahu suaminya. Nio pun hanya tersenyum memeluk Zoya yang terlelap.
Perjalanan tampak begitu syahdu dengan pemadangan indah di sore hari. Hanya butuh satu jam setengah, mereka sampai di gedung yang sama saat mereka datang tadi. Nio mengusap lembut pipi istrinya, mencoba membangunkan wanita cantik itu.
"Kita sudah sampai?" tanya Zoya yang sudah membuka mata tapi enggan untuk beranjak dari pelukan suaminya.
"Iya, ayo kita turun," ajak Nio melepas pelukannya. Ia turun terlebih dahulu, lalu membantu istrinya.
Setelah itu mereka pergi dari hotel tersebut dengan mobil. Zoya kembali terlelap dalam perjalanan. Ia merasa lelah setelah berkeliling perkebunan juga peternakan siang tadi. Hingga akhirnya Nio membangunkan istrinya kembali.
"Maaf aku bawa ke kantor, ya. Ada urusan sebentar di sini," ujar Nio setelah mereka keluar dari mobil.
Keduanya berjalan masuk gedung berlantai dua puluh tujuh itu. Zoya sendiri tak mempermasalahkan dibawa ke sana. Sampia di lift, Nio menekan tombol lantai yang dituju. Beberapa kali wanita itu menguap sebab masih mengantuk yang membuat suaminya tertawa geli.
"Ngantuk," ujar Zoya bersandar pada suaminya.
"Kasihan istriku capek." Nio mengusap lembut kepala istrinya.
"Tapi aku bahagia dengan kencan kita," sahut Zoya tersenyum.
Ting! Pintu lift terbuka. Nio mengajak istrinya untuk keluar dan membawanya ke tempat yang ingin dituju. Nio buka pintu, yang membuat Zoya terdiam.
"Kenapa aku dibawa ke atap?" tanya Zoya. "Bukannya Mas Ada pekerjaan?"
Nio tersenyum, membalikkan tubuh sang istri. Zoya terkejut melihat pemandangan di depannya. bahkan wanita itu menutup mulut saking tak percayanya.
"Pekerjaan yang belum aku selesaikan, menemanimu melihat sunset, bukan?"
"Mas ...." Zoya menatap sang suami dengan berkaca-kaca. Ada saja kejutan yang diberikan Nio untuknya hari ini. Setelah terbang dengan heli, lalu bermain di perkebunan juga peternakan, kini, Nio mmeberiksn candlelight dinner di atap dengan pemadangan indah ibukota.
"Ayo ...." Nio mengajak Zoya untuk mendekat pada meja dan kursi yang disediakan. Tak lupa lelaki itu juga mendekor sekitar dengan banyaknya kelopak Bunga mawar serta lampu-lampu hias yang membuat atap itu menjadi indah.
Nio mengajak Zoya terlebih dahulu menikmati matahari terbenam. Keduanya begitu larut merasakan ketenangan dengan semilir angin menyejukkan perasaan mereka.
"It's wonderful day I ever had," ujar Zoya menatap suaminya. "Terima kasih, Karena selalu memberikan yang terbaik untukku, Mas. Aku sungguh bahagia."
Nio tersenyum ia melepaskan pelukannya, lalu melepas jaket, lalu mengenakan di bahu istrinya. "Your happiness is enough for me." Kembali lelaki itu memeluk istrinya.
Zoya menatap Nio dengan tatapan mendamba. Entah mengapa, sore itu Nio tampak begitu tampan dengan wajah tegasnya. Tanpa ia sadari, ia mendekat dan mengecup ujung bibir suaminya, yang membuat Nio menoleh menatap sang istrinya.
"Entah apa yang bisa aku katakan untuk mengeksoresikan betapa aku bahagia. Aku mencintaimu, Arsenio. Sekarang, bahkan sampai seribu tah—" Mata Zoya membelalak saat tiba-tiba Nio mencium bibirnya. Lelaki itu bukan hanya menempelkan bibirnya, tetapi ******* bahkan menghisap bibir Zoya. Wanita itu pun hanya bisa mencengkram kaus yang dikenakan suaminya. Ia mencoba membalas ciuman Nio, tetapi lelaki itu begitu bergairah menciumnya, sehingga membuat Zoya kewalahan.
Zoya menepuk-nepuk bahu Nio agar lelaki itu melepaskan ciumannya. Napas keduanya terengah setelah Nio melepas pungutannya. "Jangan berkata seperti itu, Cheriè. Katakanlah bahwa kamu akan mencintaiku sampai di kehidupan keabadian. Aku mohon," lirih Nio menyatukan kedua dahi mereka. Ia tak ingin setelah seribu tahun, cinta Zoya akan sirna seperti apa yang ia rasakan selama seribu tahun ini. Ia tak mau kehilangan Zoya lagi. Ia hanya ingin dan tetap menjadi pendamping Zoya hingga di keabadian.
Zoya tersenyum mengusap pipi sang suami. "Aku mencintaimu hingga di keabadian, Sayang."
Nio tersenyum hingga tiba-tiba tubuhnya limbung, yang membuat Zoya hampir terjatuh.
"Mas Nio!" pekik Zoya saat tiba-tiba tubuh suaminya terjatuh dalam pelukannya. Ia semakin kaget saat melihat hidung sang suami yang mengeluarkan darah. "Mas, Mas Nio!" Dengan panik Zoya menepuk pipi suaminya yang tak sadarkan diri. "Apa yang terjadi padamu, Mas?"