
Dengan napas terengah, Nio sampai di lantai tujuh. Ia tetap berlari mencari Zoya yang dibawa laki-laki itu dengan perasaan kacau. Ia tak ingin hidup indah Zoya hancur karena seseorang yang tak suka dirinya. Ia sangat tahu perjuangan Zoya untuk terus menjadi artis yang tak memiliki skandal. Ia sangat tahu bagaimana berjuangnya Zoya berada di titik ini tanpa harus menggunakan tubuhnya untuk berada di puncak. Kini, saat semua telah diraih, Nio tak akan membiarkan orang lain menghancurkannya.
Wajah Nio memerah penuh amara melihat lelaki itu menciumi wajah juga leher Zoya di lorong hotel. Lelaki itu hendak membawa sang gadis ke kamar. Namun, saat mereka akan masuk, sebuah tangan menarik kerah belakang lelaki tersebut dan menghajarnya.
"Brengsek! Apa yang kau lakukan!" umpat lelaki itu pada Nio.
"Lepaskan Zoya, sialan! Akan aku habisi kau jika berani menyentuhnya!" teriak Nio dengan penuh amarah menghajar lelaki itu.
Ia memang terlihat culun dengan sikap pendiam dan kacamatanya. Namun, dibalik itu semua, Nio adalah lelaki hebat yang jago beladiri dengan banyaknya prestasi. Melawan lelaki itu saja bukan apa-apa untuk Nio. Setelah dihajar, lelaki tersebut berlari dengan memberi peringatan pada Nio bahwa ia akan balas dendam. Nio sendiri tak memedulikan itu. Yang ia pedulikan adalah keselamatan Zoya.
"Zoya, kita harus pergi," ujar Nio menggendong tubuh gadis yang kini mulai terlihat aneh.
"Tubuhku panas," kata Zoya. "Aku sungguh tidak nyaman," ujarnya lagi dengan mencengkram jas milik Nio.
"Tenanglah, aku akan membawamu pergi dari sini. Kamu tidak boleh disakiti," ujar Nio yang terus berlari mencari jalan tanpa banyak orang melihat.
"Aku tidak tahan, tubuhku sangat panas. Tolong aku," lirih Zoya dengan kini menyentuh leher Nio dan menciumnya. Lelaki itu pun dengan sekuat tenaga menahan gejolak di dalam dirinya untuk tidak tergoda dengan apa yang Zoya lakukan.
Sampailah mereka di salah satu kamar yang adalah milik Nio. Ia membawa masuk Zoya dan membaringkan gadis itu di ranjang. Rencananya, ia ingin memberitahu Jingga soal keadaan Zoya. Namun, si gadis terus menarik tubuh Nio hingga lelaki itu kelimpungan.
"Zoya, tenanglah. Aku harus memanggil managermu," ujar Nio mencoba menahan Zoya yang hampir menyentuh inti tubuhnya.
"Tolong aku, tolong sentuh aku. Aku sudah tidak tahan, tubuhku terasa tak nyaman," mohon Zoya pada Nio.
"Tidak, Zoya. Aku tidak akan menghancurkan hidupmu dengan melakukan ini." Nio pun terus menolak, tetapi alangkah terkejutnya dia saat tiba-tiba Zoya membuka gaunnya.
Nio langsung menjauh tak ingin tergoda. Namun, entah kenapa tiba-tiba kepala Nio pun terasa pusing. Hawa panas mendera tubuh Nio. Ia menatap begitu menyalang pada Zoya yang kini mendekat padanya.
"Apa yang terjadi padaku?" tanyanya mencoba menahan gejolak yang tiba-tiba membuncah. Ia sendiri membuka pakaiannya satu per satu. Tubunya terasa tak nyaman apalagi melihat Zoya yang terus mendekat.
Rasa itu tak bisa ia tahan lagi. Ia berjalan menghampiri Zoya dan memeluk tubuh wanita itu. Ia ciumi wajah Zoya dengan membara. Keduanya saling mendamba dengan sentuhan dan ciuman panas, hingga hal naas itu terjadi.
Zoya menangis mendengar penjelasan suaminya. Ia tak menyangka bahwa justru dirinya yang melakukan itu pada Nio. Zoya sempat berpikir bahwa Nio menjebaknya sebab mereka melakukan itu di kamar Nio hingga ia selalu mengira Nio-lah yang menjebakknya. Air mata wanita itu terus menetes. Rasa bersalah pada sang suami sangatlah besar.
"Jangan menangis, Zoya." Nio mengusap air mata istrinya yang mengalir bak air terjun.
"Ma-af. Aku sudah salah sangka pada Mas," ujar Zoya menangis sesegukkan.
"Ini bukan salahmu, Zoya. In kesalahanku juga yang tak bisa menahannya. Sungguh, malam itu aku tak berniat menyentuhmu, tetapi tubuhku sendiri terasa sangat aneh. Setelah aku selidiki, ternyata lelaki itu menyemprotkan parfum khusus yang membuat orang yang menciumnya akan terangsang. Belum lagi, setelah diselidiki dalam kamar itu ada dupa perangsang hingga kita berdua semakin tak bisa mengendalkan diri. Karena itulah aku sendiri tak bisa menahannya," kata Nio kembali menjelaskan.
"Ada orang yang berniat sekali menghancurkan kita, hingga foto-foto kita berdua malam itu tersebar. Kariermu hancur, PH filmku juga hancur. Kita berdua menjadi korban seseorang," ujar Nio menatap istrinya.
"Siapa dia, Mas? Kenapa dia melakukan itu pada kita?" tanya Zoya.
"Aku belum menemukannya, Zoya. Aku tidak menemukan bukti. Mereka benar-benar mempersiapkan dengan sangat matang. Bahkan lelaki yang membawamu saja aku tidak menemukannya lagi," ujar Nio menunduk. "Maafkan aku, Zoya. Maaf, karena andai malam itu aku langsung pergi, mungkin kejadian itu tak akan terjadi. Maafkan aku yang telah menghancurkan hidupmu. Maafkan aku yang membawamu dalam kegelapan. Maafkan aku." Air mata Nio terjatuh. Ia sungguh merasa bersalah sampai sekarang dengan apa yang menimpa istrinya.
Zoya yang melihat Nio menangis pun langsung turun dari sofa. Ia peluk Nio dengan erat. "Aku yang harusnya meminta maaf. Aku yang harusnya meminta ampun pada Mas. Selama ini aku telah salah paham. Aku telah menyakitimu dan Rasya. Maafkan aku."
Sepasang suami-istri itu menangis saling memeluk. Kenyataan sesungguhnya telah terungkap. Kebencian Zoya pun seakan meluap dengan rasa bersalah yang tersisa.
Setelah puas berpelukan, Nio menatap sang istri yang masih sesegukkan. Ia hapus air matanya dengan begitu lembut. Ia kecup kening Zoya cukup lama.
"Aku bahagia kamu mau mendengarkan penjelasanku. Aku harap, rasa bencimu sedikit berkurang. Kamu boleh membenciku, Zoya. Aku paham itu. Tapi, janganlah benci Rasya. Dia tidak salah, bahkan dia juga korban. Aku akan melakukan apa pun untuk menebus semua yang telah hilang darimu. Kamu katakan saja apa yang kamu mau, aku akan melakukannya. Termasuk ...." Nio menghela napas dengan menutup mata. "Termasuk bercerai," katanya lirih.
"Dulu aku tak ingin menceraikanmu karena kamu tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Aku juga ingin terus melindungimu dan tanggung jawab atas apa yang aku perbuat. Namun, setelah melihat bagaimana kamu bahagia bersama Jordan, aku sadar bahwa mengikatmu dalam pernikahan tanpa kebahagiaan sama saja aku memenjarakanmu. Jika kamu ingin kita berpisah, aku akan mengabulkannya." Nio berusaha tersenyum dengan napas yang terasa berat.
Nio pun duduk kembali, dan meraih garpu melahap makanan yang Zoya bawakan. Meski rasanya sedikit aneh, tapi Nio bahagia sebab makanan itu dibuat oleh tangan Zoya bahkan hingga terluka.
"Terima kasih atas hadiah terindah yang kamu berikan. Rasya, dan makanan ini adalah hal terindah yang aku terima selama hidupku." Nio tersenyum sembari melahap steak di depannya. Air matanya kembali terjatuh dan dadanya terasa sakit membayangkan ia harus berpisah dengan Zoya ... wanita yang sangat dicintainya. Namun, ia juga tak boleh egois. Jika Zoya tak ingin hidup dengannya, kenapa dia harus memaksakan? Kabahagiaan Zoya adalah hal yang terpenting, meski bukan dengan dirinya.
Berulang kali Nio menarik napasnya yang terasa berat. Mencoba melupakan rasa sakit itu.