Another Chance

Another Chance
Bab 38



Tubuh Zoya menegang. Tangannya gemetar melihat sosok lelaki berpostur tinggi manatapnya. Amarah kembali ia rasakan melihat paman yang seharusnya sayang padanya justru menghancurkan mentalnya.


Melihat reaksi sang istri, buru-buru Nio menghampiri Deon. "Apa kabar, Om," sapa Nio menjabat tangan lelaki paruh baya itu.


Deon tersenyum membalas menjabat tangan Nio. "Om baik-baik saja. Beberapa hari lalu Om kemari dan katanya kalian tengah ke Singapura, makanya setelah mendengar kalian sudah pulang Om langsung datang," ujar Deon.


"Iya, kebetulan ada sedikit masalah di lokasi syuting, makanya saya datang untuk melihat. Kebetulan Zoya tidak ada kegiatan makanya saya ajak, sekalian liburan," jawab Nio. "Ah, mari duduk Om."


"Mas!" omel Zoya pada suaminya.


Nio memberi isyarat untuk Zoya tak melakukan hal buruk.


"Mari, Om." Nio membawa sang paman ke ruang tamu untuk duduk. Tak lupa menyuruh Jessica membawa minuman dan makanan ringan.


Dengan terpaksa pun Zoya mengikuti sang suami yang sejak tadi menarik tangannya. Akhirnya ketiganya duduk. Zoya menatap tajam sang paman yang duduk begitu santai. Lelaki itu masih saja memuakkan untuk Zoya. Tak pernah berubah.


"Kkhhhhhmmm. Jadi, ada apa Om ke sini? Apa ada sesuatu yang penting?" tanya Nio memecah keheningan.


"Tidak apa-apa. Om hanya ingin mengunjungi keponakan Om ini," ujar Deon menatap keponakannya yang berdecak sebal.


"Bulshit!" gumam Zoya kesal. Nio pun menggenggam tangan istrinya dan menggeleng. "Cepat katakan, urusanmu. Jangan banyak basa-basi. Kau pikir aku percaya kau datang hanya untuk mengunjungi keponakanmu? Aku nasih ingat sekali apa yang kau dan keluargamu lakukan!" sentak Zoya.


"Zoya, kenapa kamu bilang seperti itu? Sejak orang tuamu meninggal, keluarga Om loh yang mengurusmu. Apa kamu lupa? Di saat keluarga ayahmu yang kaya itu membuangmu justru kami yang membawamu," sahut Deon dengan wajah sendu.


Tangan Zoya terkepal. Mengurus? Bahkan mereka merebut harta yang ditinggalkan mamanya hingga tak tersisa. Wanita muda itu hanya tersenyum sinis menatap pamannya yang begitu memuakkan.


"Pergilah jika tak ada urusan. Hubunganmu denganku sudah berakhir sejak kalian mengusirku dan berkata bahwa aku adalah aib untuk keluarga Maharaja." Zoya berdiri menatap penuh emosi pada pamannya itu.


"Sayang, tenanglah." Nio menarik tangan Zoya untuk duduk kembali. Wanita cantik itu mencengkram tangan suaminya karena menahan kesal pada lelaki tua di depannya.


Hingga tiba-tiba ....


"Hai, Zoya. Lama tidak bertemu."


Zoya dan Nio menoleh. Semakin emosilah Zoya melihat siapa yang kini datang. Seorang wanita cantik yang sedikit lebih tua dari Zoya beberapa tahun itu melangkah mendekat. Lalu ia tersenyum menujulurkan tangan pada pemilik rumah.


"Hai, adik ipar. Senang bertemu denganmu lagi."


Nio berdiri begitu juga Zoya. Lelaki itu hendak membalas uluran tangan, tetapi ditahan oleh istrinya. "Jangan pernah berani menyentuh tangan Siluman ini," sentak Zoya dengan tatapan menyalang.


"Adikku sayang, kenapa kamu kasar begini pada kakak sepupumu? Sudah lama loh kita tidak bertemu," ujar Leticia Maharani, anak sulung dari Deon yang adalah kakak sepupu Zoya.


"Untuk apa kalian datang ke sini, hah! Pergi!" teriak Zoya dengan penuh amarah.


Leticia hanya berdecak. "Tenanglah, Zoya. Kami ke mari hanya ingin bertemu denganmu. Apa salah mengunjungi keluarga sendiri?" tanyanya.


Nio sendiri merasa bingung dengan apa yang terjadi. Sungguh, ia tak tahu bahwa hubungan sang istri dengan keluarganya separah ini. Ia hanya tahu bahwa Zoya tak dekat dengan keluarga dari sang ibu.


"Mas! Usir mereka!" Zoya menatap suaminya dengan berkaca-kaca.


"Hah?" Nio bingung harus berbuat apa. Jika ia mengusir paman istrinya takut dianggap tak sopan, tapi melihat kesedihan di mata Zoya pun membuatnya terluka.


"Om, Leticia, maaf sekali. Sepertinya Zoya harus istirahat." Akhirnya Nio memutuskan untuk mengusir tamu tak diundang itu dengan cara halus.


Deon pun beranjak dari duduknya. Ia mendekat pada sang keponakan. "Jangan sombong, Zoya. Ingatlah bahwa rahasiamu bisa kapan saja terbongkar," bisik lelaki paruh baya itu tersenyum lalu menepuk bahu Zoya.


"Kau pikir aku takut? Apa yang sudah kau lakukan lebih parah hanya sekadar informasi omong kosong itu! Pergi sekarang juga!" sentak Zoya menunjuk ke arah pintu keluar.


"Somboh sekali. Ayo, Papa, kita pergi." Leticia memeluk lengan papanya. "Bye, Nio. Lain kali kami datang lagi."


**


"Aaahhhhhhh brengsek! Aku benci kalian!"


Nio sangat panik melihat istrinya mengamuk. Sejak kedatangan Deon juga Leticia, wanita muda itu masuk kamar tamu lalu mengamuk di sana.


"Cheriè, buka pintunya. Jangan buat aku takut, Sayang." Nio terus menggedor pintu dengan wajah panik. Istrinya sengaja memilih kamar yang jarang digunakan di lantai dua. Nio sendiri baru mengetahui Zoya di sana saat seorang pelayan mendengar amukan sang nyonya.


Setelah Deon pergi, Zoya meminta ke kamar untuk melihat Rasya Nio pun mengantarnya dan sempat menenangkan sang istri hingga ia memutuskan untuk ke ruang kerja sebab ada dokumen penting yang harus ia periksa.


Hampir dua jam berselang tiba-tiba Jessica mengatakan bahwa Zoya mengamuk di lantai atas membuat Nio panik tak terkira.


Suara barang pecah belah yang dibanting dan dilempar Zoya sungguh membuat Nio panik tak terkira. Lelaki itu pun berteriak agar Jessica mencari kunci cadangan dengan cepat. Ia takut terjadi sesuatu buruk pada sang istri.


"Ini, Tuan." Jessica menyerahkan kunci cadangannya pada sang tuan setelah mencari cukup lama.


Dengan buru-buru Nio membukanya. Alangkah paniknya Nio melihat snag istri yang tak terkendali. "Zoya!" Ia berlari menahan tubuh sang istri. Namun, sayangnya ia tak berhasil menghentikan istrinya yang melempar pajangan ke arah cermin besar di kamar itu. Dengan sigap Nio memeluk wanita itu dan berbalik. Ia meringis saat pecahan kaca menusuk punggung juga lehernya.


"Mas," lirih Zoya dengan air mata yang terjatuh menatap suaminya.


"Sayang, kamu tidak apa-apa, 'kan?" Dengan panik Nio memeriksa tubuh istrinya. Ia bernapa lega sebab tak ada luka di tubuh wanita cantik itu. Kembali ia peluk Zoya dengan erat. "Jangan seperti ini, Sayang. Kamu membuatku takut."


Zoya membalas pelukan sang suami, tetapi tiba-tiba Nio meringis. Buru-buru Zoya melepas pelukannya, lalu membalikkan tubuh suaminya. Alangkah terkejutnya Zoya melihat pecahan kaca begitu banyak tertancap di leher juga punggung suaminya. Bahkan kemeja biru langit yang dikenakan Nio berubah warna menjadi merah karena darah yang keluar dari luka pecahan kaca.


"Mas. Maafkan aku," ujar Zoya panik.


"Sayang, tidak apa-apa. Ini hanya luka kecil." Nio mengusap kepala istrinya yang terlihat panik.


"Jessica! Panggil dokter!" teriak Zoya dengan perasaan khawatir.